
Masak... masak sendiri
Makan... makan sendiri
Cuci baju sendiri
Tidurpun sendiri....
Lagu itu pasti sangat familiar untuk jomblo sejati. Bukan karena penggemar dangdut laki-laki itu hapal syair lagu yang dipopulerkan oleh Caca Handika, tapi syairnya yang memang benar-benar real kehidupannya.
Sudah hampir setengah jam laki-laki itu membolak-balik kemejanya di meja setrika. Ya, semua pekerjaan rumah dari memasak, menyuci, mengepel lantai Dzaki bisa melakukannya sendiri, tapi tidak dengan menyetrika. Setrika adalah barang yang paling menakutkan menurut Dzaki. Ada rasa trauma jika melihat setrika apalagi memegangnya, tapi hari ini Dzaki terpaksa melawan traumanya itu.
Itu semua karena bi Lastri tidak datang hari ini, makanya Dzaki harus turun tangan sendiri.
"Sini pak, biar saya saja yang setrika!" mang Asep datang dari arah belakang, sebenarnya dari tadi dia sudah melihat kelakuan Dzaki yang kesusahan merapikan baju kemejanya, tapi dia sungkan.
"Maafkan istri saya pak, kalau saja Lastri masuk hari ini, pasti bapak tidak menyetrika sendiri!" mang Asep meminta maaf.
Bi Lastri bekerja sebagai tukang cuci dan setrika dirumah itu. Kalau memasak Dzaki masak sendiri, telur goreng... itu makanan sehari-harinya, yang sedikit rumit maksudnya memasak dengan bumbu-bumbu yah, paling cuman sambal goreng. Kalau sayur... satu jenis sayurpun Dzaki tidak ada yang suka. Mungkin itu sebabnya kenapa badannya kurus tinggi menjulang.
"Tidak apa-apa mang, namanya juga sedang sakit, kalau dipaksakan masuk kerja nanti malah tidak fokus, jadinya ada masalah." Dzaki memberikan setrikaan nya dengan senang hati kepada mang Asep.
Diare? apa bi Lastri diare karena memakan masakan Winda kemarin? Astaga... apa yang dimasaknya sebenarnya! gumam Dzaki
tring... tring
Notivikasi Handphone seperti suara sihir peri
Dzaki melihat foto sahabatnya di Masjid kubah hijau, senyum bahagia terpancar di tiap-tiap wajah mereka. Ayah... mamak. Betapa bahagianya anak bisa melihat senyum kedua orangtuanya.
[ Banyak-banyak do'akan aku ya,pak citen. Semoga aku bisa kesana membawa adikmu ] tulis Dzaki dengan emoji senyum
[ Asiaap....] balas Zain
[ Kalau saja sebelum kami berangkat kalian sudah menikah, aku dan ayah tidak akan was-was seperti ini memikirkan Mila yang sendirian dirumah ] tulis Dzaki dengan senyum yang dikulum, ah... tepatnya tertawa yang ditahan. Dzaki sengaja mengirim pesan itu, untuk melihat seberapa pedulinya Dzaki kepada adiknya.
[ Kan ada mamanya Aisyah! ] balas Dzaki
[ Mama Aisyah dan Papanya sedang di Jakarta Ki, mengantar Aisyah pindah ]
__ADS_1
Deg... Dzaki tiba-tiba khawatir, bagaimana bisa seorang gadis sendirian dirumah selama 14 hari, tanpa Mahrom. Kalau ada tamu atau temannya yang datang kerumah bagaimana. Keluarga Zain disanakan cuma keluarga Aisyah. Apa dia minta temani tetangga? tapi kan tetangga sebelah kanan dan kiri ayah punya anak laki-laki yang sebaya dengan Mila. Iya kali mereka gak ikut datang kerumah, kalau ikut bagaimana? kalau mereka suka Mila gimana?
Dzaki mengetik pesan secepat kilat
dert...deeert
Hape Zain bergetar
[ Aku boleh telepon Mila ] Zain memegang kuat perutnya tak kuasa menahan tawa. Dia paham betul karakter sahabatnya itu. Pasti dia sedang panik memikirkan Mila, bagaimana Mila disana.
[ Silahkan pak ustadz... hati-hati nanti makin cinta hahaha ] tulis Zain
Dzaki membacanya, tak menunggu lama dia mencari nomor kontak dengan nama wanita yang akan di khitbahnya itu.
"Halo... Assalamu'alaikum, halo... hallooo, siapa ini? " jawab perempuan diseberang sana
Alhamdulillah suaranya sepertinya dia baik-baik saja eh, Dzaki tersentak
"Ini aku... Dzaki!" ucapnya ragu
"Mila gak apa-apa dirumah sendiri, dek? kata Zain ibu dan bapak sedang di Jakarta, jadi Mila sama siapa dirumah? gak apa-apa sendirian? ayah mamak perginya lama loh, masih ada 12 hari lagi! atau abang minta tolong Amira kesana menemanimu ya! atau Mila saja yang kerumah Amira, Hasan juga lagi di Mekah, gimana dek, mau yang mana?"
"Mila sekarang ada di desa, Mila sedang KKN, satu bulan lagi, Mila baru pulang kerumah. Disini Mila banyak teman kok bang, kami satu kelompok ada 8 orang. Terimakasih sudah mengkhawatirkan Mila, alhamdulillah, Mila baik-baik saja kok,bang! "
"Oh... KKN, Alhamdulillah kalau begitu, ya sudah jaga diri baik-baik ya dek, Assalamu'alaikum". Malu..., Zain pasti sengaja umpatnya
[ Zaaaaaaaaaiiiiiin!!!, sengaja buat aku malu ya ]
Zain membaca pesan dari Dzaki, matanya sampai berair menertawakan sahabatnya itu.
[ Biar ada gunanya nomor Mila kau simpan, untuk apa dulu kau tanya nomor Handphonenya kalau tak pernahnya kau telepon, mubajir hahaha ] balas Zain
Mang Asep yang sedari tadi melihat gerak-gerik Dzaki senyum-senyum sendiri.
Bunga-bunga di taman mini rumah Dzaki bermekaran, semekar cinta yang semakin tumbuh dihati dua insan yang saling menjaga kesucian cintanya.
\=\=\=\=\=
" Aku save lah nomornya, dibuat apa ya nama kontaknya? Hm.... DOSEN " Mila menyimpan kembali telepon genggamnya.
__ADS_1
Perempuan bergamis coklat dengan almamater kuning itu melanjutkan perjalanannya menuju sekolah, teman-temannya sudah duluan meninggalkannya karena tadi Mila menghentikan keretanya mengangkat telepon.
"Siapa yang telepon tadi,Mil?" tanya Erna
"Dosen"
"Dosen kok dipanggil abang?"
" Iya, Dosennya abang-abang, abang tukang bakso! " Jerit Mila dari balik helmnya.
Senyumnya merekah memperjelas lesung pipinya. Telepon dari Dzaki menambah semangatnya mengabdikan diri di desa kecil,dipinggir kotanya.
\=\=\=\=
Laki-laki paruh baya masuk keruangan Dzaki, kebetulan hari itu Dzaki sedang tidak ada kelas.
"Permisi ustadz Dzaki boleh saya masuk? " ucap laki-laki itu sopan.
"Ya allah..., tentu boleh buya, ayo masuk buya! " Dzaki mempersilahkan laki-laki yang di panggilnya dengan sebutan buya itu untuk duduk.
"Kenapa tidak buya telepon saja,Dzaki!, biar Dzaki saja yang keruangan buya! "
"Tidak apa-apa ustadz, saya memang sengaja kemari, ada hal serius yang ingin saya sampaikan!, begini ustadz... mungkin ustadz sudah tau hal ini dari dulu, sewaktu ustadz masih tinggal bersama saya. Winda anakku sangat berharap ustadz bersedia menikahinya, semenjak mengenal ustadz, banyak sekali perobahan pada diri Winda. Dulu, dia susah sekali disuruh memakai jilbab, alasannya belum siaplah, jilbapin hati dulu lah, tapi begitu beberapa bulan ustadz dirumah, dia langsung mengambil keputusan untuk memakai jilbab, bukan hanya sekedar jilbab tapi juga jilbab syar'i. Shalatnya juga sudah mulai terjaga. Sudah ada beberapa laki-laki yang melamarnya, tapi semua ia tolak. Winda memang tidak bicara langsung ke saya, kalau dia tertarik kepada ustadz, tapi sebagai ayah saya bisa melihatnya. Bagaimana ustadz?, apa saya bisa minta tolong ustadz, saya takut nanti Winda kembali lagi seperti dulu." ucap pak Yahya, matanya berkaca-kaca, ada rasa takut dalam hatinya mengingat anak gadis satu-satunya.
"Maafkan saya buya, memang cinta itu akan bisa tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Tapi maaf, maaf sekali buya, beberapa bulan lagi saya akan menikah, saya sudah punya pilihan sendiri. Dan ini juga sudah saya bicarakan dengan kedua orang tua perempuan yang akan saya nikahi. Mengenai Winda, saya rasa buya tidak perlu khawatir, kalau Winda merubah penampilannya, merubah kebiasaannya, hanya karena saya, ya buya harus siap menerimanya, karena memang Winda berubah bukan karena Allah. Tapi,kalau memang semakin kesini Winda merasakan kenikmatan beribadah pasti dia tidak akan berubah. Jangan mendahului kehendak Allah buya, maaf ana lancang." ucap Dzaki sopan
"Astaghfirullah... maafkan saya ustadz, saya terlalu takut, sampai melupakan Allah."
"Tolong buya jelaskan semua ini kepada Winda, saya hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Sekali lagi saya mohon maaf buya." Dzaki menangkupkan kedua tangannya.
"Terimakasih ustadz, saya yang harusnya minta maaf, selama ini mungkin ketenangan ustadz sudah terganggu karena sikap anak saya, kalau begitu saya permisi dulu!" Yahya meninggalkan ruangan Dzaki dengan senyum ikhlas. Bagaimanapun Dzaki berhak menentukan pilihannya, sekarang gilirannya menentukan sikap. Kali ini aku akan menerima lamaran ustadz Faruk, semoga nanti Winda bisa mencintai dan menerima Faruk sebagai suaminya.
\=\=\=\=
Perempuan yang memegang gawai tak kuasa menahan tangis, baru saja bahagia mengetahui bahwa Amira bukanlah istri Dzaki, sekarang malah mengetahui dua kebenaran sekaligus. Pertama Dzaki sedikitpun tidak pernah menaruh hati padanya, dan kedua Dzaki akan melamar seseorang yang dicintainya. Dia tak kuasa mendengar percakapan ayahnya melalui telepon, Yahya memang sengaja tidak mematikan sambungan teleponnya agar Winda mendengar sendiri pembicaraannya dan Dzaki di mulai.
Matanya terpejam, air matanya tak berhenti menetes membasahi bantalnya. Pasrah.... ia pasrah, semua keputusan diserahkannya kepada Allah. Hingga akhirnya Winda mengirimkan pesan singkat kepada ayahnya yang berisi
Ayah... aku siap menikah dengan ustadz Faruk.
__ADS_1
Semoga Faruk bisa membimbingku semakin dekat dengan Rabb-ku.