Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Sparing partner


__ADS_3

Langit mulai menghitam, angin pun seolah tak mau kalah bertiup kencang. Membuat perempuan yang mengintip disamping jendela semakin mengeratkan cengkramannya. Laki-laki yang sedari tadi menahan sakit tetap menyunggingkan senyum terbaiknya. Terkadang dia terlihat mengelus punggung tangan istrinya.


"Kumulonimbus mas!"


"Bukan, itu awan mendung biasa, kalau Kumulonimbus seperti yang itu... sebentar lagi kita lewatin, adek pegangan mas ya...,siap-siap, mungkin pesawat ini akan masuk kedalamnya dan tidak keluar lagi." Dzaki menampakkan wajah sedihnya menahan seyum.


"Ya Allah,mas...,kita harus apa!" Mila panik, matanya sudah membendung air yang sebentar lagi akan tumpah.


"Kalau tau gini, harusnya tadi kita dari Surabaya naik bus aja mas." ucapnya lagi


"Sayang, mas cuman bercanda, kalau bahaya pasti sudah ada pemberitahuan. Sebentar lagi kita sampai kok." Dzaki mendaratkan bibir tipisnya ke pucuk kepala istrinya.


Perjalanan berakhir setelah pesawat mendarat sempurna.


"Ayo naik!" ajak Dzaki setelah memasukkan koper kedalam bagasi mobil


"Ini mobil siapa,mas? sopirnya mana?" Mila melihat plat mobilnya, platnya hitam berarti bukan taxi,ucapnya dalam hati


"Ini mobil kita...," Dzaki membukakan pintu


Dzaki melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,meninggalkan Bandara Abdurrahman Saleh menuju rumah kesayangannya, kali ini dia tidak sendiri. Sudah ada istri yang menemani, kini semua rumah tak lagi sunyi, sudah ada sang bidadari.


Hadirmu tempat berlindungku


dari kejahatan syahwatku


Tuhanku merestui itu


dijadikan engkai istriku


engkaulah....bidadari surgaku


Perjalanan panjang mereka diiringi lagu legendaris dari almarhum ustadz Jefri al-bukhori.


*****


Sebelum Ashar mereka sudah sampai ketujuan. Mila turun dan berjalan kebelakang hendak membantu suaminya membawa barang-barang.


Gerimis mulai turun, secepatnya mereka menurunkan barang-barang bawaannya.


"Assalamu'alaikum" ucap Mila memasuki rumah berlantai dua itu


"Wa'alaikumsalam, masuk bu...,anggap saja rumah sendiri." jawab Dzaki


"Semoga betah disini ya,Sayang." ucap Dzaki mengunci pintu


Setelah membersihkan diri, mereka shalat bersama. Ini kali pertama Mila shalat berdua dengan suaminya. Karena hujan semakin deras Dzaki tidak shalat ke mesjid.


"Kita makan diluar, atau take a way aja dek?"


"Take a way aja lah, mas."


Dzaki memesan beberapa makanan, setengah jam kemudian pesanan sampai. Mila menyiapkannya di dapur.


"Enak ya punya istri, mau makan disiapin!"


"Hm..." Mila menelan cepat-cepat nasi dimulutnya. Satu sendok nasi masuk kedalam mulut kemudian disorong dengan air putih satu gelas.


"Adek,kenapa? kok makannya seperti minum obat."


"Gak papa,mas"


Dzaki melihat istrinya hanya memakan nasi putih saja, ikan dan sayuran yang bercampur menjadi satu tidak disentuh sama sekali.


"Kok ikannya gak dimakan, yank?"


"Maaf,mas...,Mila geli lihatnya. Mila tidak suka ikan lele." ucap Mila sangat pelan


"Loh...,kenapa gak ngomong dari tadi, ya sudah tunggu sebentar." Dzaki mencuci tangannya, membuka kulkas dan mengambil dua butir telur.

__ADS_1


Dengan cekatan dia memotong bawang dan cabai, kemudian mencampurkannya kedalam telur yang sudah dikocok lepas.


Dia tidak mengijinkan istrinya membantunya.


Tak butuh waktu lama, telur dadar siap disantap. Mila mengambil kecap yang ada diatas meja.


"Terimakasih,mas. Maaf merepotkan."


"Jangan berterimakasih saja, gak ada yang gratis disini!" jawab Dzaki menyeringai memandang istrinya


Wajah yang dipandang merona merah, dia paham maksud dari perkataan dan juga tatapan dari suaminya itu.


*****


Rasa kecewa bercampur sedih berpadu menjadi satu, ini kali ke dua gadis manis itu menggunakannya.


Tanpa semangat dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit rambutnya. Matanya mencari seseorang yang biasanya menunggu didepan pintu.


"Hah...!" dia membuang nafas, mencampakkan alat tes kehamilan ketempat sampah.


"Kalau Allah rasa kita sudah pantas menjadi orangtua, pasti nanti akan bergaris dua." ucap Dzaki masuk kedalam kamar. Mila yang masih melamun memandangi tempat sampah sedikit terkejut mendengar suara suaminya


Sudah hampir 3 bulan usia pernikahan mereka, namun belum ada tanda-tanda untuk Dzaki junior.


Mila merasa apa yang jadi ketakutannya selama ini benar.


"Mas, maafkan aku...."


"Tidak ada yang salah sayang, La Tahzan Innallaha ma ana."


"Ayo,mas antar saja kekampusnya." ucap Dzaki yang merasa khawatir membiarkan istrinya naik motor dalam keadaan seperti ini


Mila sekarang kuliah di Universitas Brawijaya, kuliahnya tidak setiap hari, karena Mila hanya tinggal menyusun skripsi. Paling beberapa hari dalam seminggu, itupun kalau ada keperluan menemui dosen pembimbing.


"Hari ini Mila cuman mau liqo' mas, apa tidak usah datang saja ya?" ucap Mila merasa malas untuk pergi


"Kenapa tidak datang, dari pada dirumah sendirian, lebih baik kepengajian saja. Ketemu teman-teman,ada manfaatnya lagi!, mas saja yang antar ya."


"Ya sudah,iya deh mas. Mila kekampus,tapi naik motor saja, nanti pulangnya Mila mau mampir dulu ke supermarket beli handbody"


Dzaki mengalah, karena sebenarnya dia juga harus secepatnya kekampus karena sedang ada ujian akhir semester, dan juga menjemput ummi Ana di bandara.


\=\=\=\=\=


Pohon-pohon rindang yang terlihat tinggi menjulang dengan batang pohon yang luar biasa besarnya,menimbulkan kesan seram.


Mila menghentikan motornya, melihat pemandangan tak biasa didepannya.


Perempuan bergamis dipaksa turun dari mobil oleh dua orang laki-laki berbadan besar dengan pakaian khas preman seperti disinetron. Perempuan itu menangis setelah di dorong oleh salah satu preman, perempuan itu didorong membentur pintu mobil.


Mila yang melihatnya tak tahan hanya diam saja melihat penindasan itu.


"Hei! Dasar tak punya malu, beraninya sama perempuan!" ucap Mila masih diatas motornya


"Wow.. ada satu mangsa lagi nih!" ucap satu preman


"Apa kau ikut-ikutan, Sini serahkan barang-barang berhargamu juga!" sergah preman yang satunya lagi, dengan logat Medan yang sangat kental


Mila mengkerutkan alisnya, orang Medan rupanya gumamnya.


"Heh...bikin malu saja kau, kalau mau punya duit kerja la kau, jangan seenaknya mengambil punya orang. Beraninya sama perempuan. Dasar Bencong!" ucap Mila terlanjur geram.


Preman bertubuh tegap itu terkejut mendengar logat perempuan yang sok pahlawan itu.


"Cari penyakit kau!" ucap preman itu, melayangkan tangan tegapnya ke arah Mila


Secepat kilat Mila menarik tangan preman itu dan memutarnya kebelakang, teknik kuncian. Kemudian mendorongnya kedepan, preman itupun tersungkur.


Melihat temannya tiduran diaspal, satu preman lagi juga ikut menyerang.

__ADS_1


Aww.... jerit perempuan korban preman tadi. Mila spontan menoleh kearah suara, bagian bawah gamis perempuan itu sudah berlumur darah.


Bug.., bogem mentah mendarat di bahu pipi kanan Mila. Ujung bibirnya mengeluarkan sedikit darah, dia meringis menahan sakit.


Mila membalasnya dengan membabi buta, semua teknik yang dipelajarinya dulu di praktekkannya kembali, anggaplah ini sparing. Lebam sedikit biasa lah. Arae Ap Chagi, tepat pada sasaran, membuat lawan kaku tak berdaya. Sambil menjerit Mila meminta pertolongan warga sekitar atau yang melintas jalan sunyi itu.


Kedua preman itu lari setelah merasa kewalahan menghadapi perempuan bar- bar dan melihat beberapa mobil yang berhenti.


"Dasar bencong!, Jangan pulang kau ke Medan, bikin malu saja kau!" jerit Mila kepada dua preman yang babak belur


Mila lari menemui perempuan yang sedang menangis memegangi perutnya.


"Mba kok berdarah?" Mila memegang perempuan itu,memastikan tak ada luka tusukan.


Disusul beberapa orang yang turun dari mobil,


Perempuan itu kelihatan semakin lemah,


"Tolong teleponkan suami saya..," ucapnya lirih menunjuk tasnya yang dipegang Mila.


"Pak, tolong antar mba ini kerumah sakit!" ucap Mila panik,masih membuka tas milik perempuan yang saat ini dipangkuannya.


"Aih...pakai sandi pula, manala tau aku!" ucap Mila.


Mila dan beberapa orang yang datang membantu membawa perempuan itu kerumah sakit terdekat. Salah seorang dari mereka juga sudah menelepon polisi.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 19.30


Laki-laki yang sekarang sudah tidak kurus lagi itu tak berhenti menelepon,


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif


Perempuan paruh baya yang sedang duduk dikursi itupun tak kalah khawatir.


Deeerttt....derrrrttttt


Handphone Dzaki bergetar, ada panggilan telepon dengan nomor baru


"Halo, mas..., ini adek!"


"Alhamdulillah...,adek dimana?"


"Dirumah sakit,mas."


"Kenapa?"


"Ceritanya panjang, mas bisa jeput adek? Mila di RSUB."


"Oke, mas kesana. Tunggu mas, jangan kemana-mana."


Dzaki menyambar kunci mobilnya, bergegas pergi menjemput istrinya.


"Ya Allah ... lindungi istri hamba"


Dirumah sakit,


Mila memberikan Hp yang dipinjamnya kepemiliknya.


"Terimakasih pak."


"Saya yang harusnya berterimakasih, nak Mila sudah menolong anak saya."


"Mba ..., yang ikhlas ya, maaf saya tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Mila memegang tangan perempuan yang tadi hampir pingsan dipangkuannya.


Perempuan itu mengalami pendarahan, janinnya tidak bisa diselamatkan akibat benturan yang dialaminya tadi.


"Saya permisi dulu, suami saya sedang menuju kesini, ini nomor hape saya pak. Siapa tau nanti polisi membutuhkan kesaksian saya." Mila memberikan secarik kertas berisi nomor hapenya.

__ADS_1


Polisi memang telah mendalami kasus perampokan ini, bukan hanya sekali kejadian ini terjadi, sudah sangat meresahkan warga. Tidak perlu menunggu waktu lama, dua preman yang sudah lebih dulu babak belur itu,berhasil diamankan. Dan sekarang sedang menikmati denyutan-denyutan kelebamannya di sel tahanan.


Perempuan itu bukan makhluk lemah. Dia hanya mengalah, tapi jangan coba-coba kau buat dia marah.


__ADS_2