Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Tamu


__ADS_3

Matahari tertutup awan hitam. Kadang terlihat kilatan-kilatan petir menyambar. Mila yang sedari tadi berada di parkiran kereta mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia kembali berjalan menuju Masjid tempatnya shalat Ashar tadi.


Sambil bersandar Mila meluruskan kakinya. Dia teringat sesuatu, diambilnya Hanphone di dalam kantong jaketnya. Mila mengetik pesan dan mengirimkan kepada ayahnya. Kemudian Mila mematikan ponselnya karena petir semakin bersahut-sahutan seakan hendak menyambar semua yang ada di bumi.


"Alhamdulillah... tadi berjalan lancar, semoga apa yang ku sampaikan ada manfaatnya." ucapnya Lirih


Karena hujan tak kunjung turun Mila bergegas mengancingkan jaketnya memakai sepatunya dan berjalan ke parkiran kereta. Mila memutuskan untuk tetap pulang, siapa tau tidak jadi hujan, menghemat waktu, sedapatnya saja. Kalau belum sampai rumah sudah kehujanan ya tinggal cari tempat berteduh, semoga aja tempat berteduhnya di warung Bakso hehe fikirnya dalam hati.


Ternyata Rahmat Allah tidak turun ke kota kecil tempat Mila tinggal, mungkin angin membawa awan hitam itu ke atas laut, atau memang menunggu Mila sampai kerumah dulu.


"Mobil siapa ini? " Mila melihat ada mobil di depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam, cepat mandi Mil, udah mau buka puasa." ucap Mai sambil menata makanan di meja makan


Mila melihat laki-laki duduk di sebelah ayahnya. Semua sudah berkumpul di meja makan karena lima belas menit lagi waktunya berbuka puasa.


"Bang Dzaki!" ucap Mila dalam hati, melihat sosok yang duduk dengan ayahnya.


Adzan Maghrib berkumandang, bersamaan dengan hujan gerimis yang semakin lama menjadi semakin deras.


"Ya... hujannya deras, cemana kita ke Masjidnya!" ucap Arpin.


"Naik mobil saja yok, Yah " Arif memberi solusi.


"Ah... di rumah saja lah, ini kan udzhur hujan deras! ayo Shalat berjama'ah kita." ucap Zain.


Mereka pun shalat berjama'ah. Ini kali kedua Mila di Imami oleh Dzaki, suara Dzaki saat membaca ayat-ayat Alqur'an begitu merdu terdengar di telinga Mila. Ada rasa yang tak pernah dirasakan sebelumnya, jantungnya berdenyut kencang, mulutnya tak henti menyunggingkan senyum. Hah... seandainya ya Allah ucap Mila dalam lamunannya.


"Mila... Mila!" Mai menggoyang-goyangkan badan Mila.

__ADS_1


"Astaghfirullah...." ucap Mila tersadar dari lamunannya.


"Bukannya meng-aminkan do'a, kok malah melamun dek!" ucap Maya.


Mila hanya tersenyum dan tertunduk malu. Laki-laki itu memperhatikannya.


\=\=\=\=


"Bapak kemana ya, ummi! kok gak pulang-pulang?" tanya Zizi


"Hujan sayang, mungkin bapak masih di rumah temannya." ucap Amira


"Kan bapak naik mobil, kenapa takut hujan?" Zizi merengek


"Bahaya kalau mengemudi disaat hujan deras, Nak! bisa saja jalannya jadi tidak kelihatan karena hujannya sangat deras. Makanya bapak tinggal disana dulu sampai hujannya berhenti." jawab Amira dengan sabar


"Nanti aja deh Zi makannya, Ummi sama nenek makan aja duluan." ucapnya lagi


\=\=\=\=


"Assalamu'alaikum." laki-laki berbaju koko mengetuk pintu


"Wa'alaikumsalam!" jawab Mai sambil berjalan membukakan pintu


"Erwin!"


"Apa kabar, mamak?" Erwin mencium tangan Mai.


Mila yang mendengar Mai menyebut nama sahabatnya itu berlari meninggalkan ayah, Zain, dan Dzaki yang sedang makan. Dzaki memperhatikannya.


"Ewinawati, apa kabar? kapan pulang? kok gak ngabari aku, jadinya tugas dimana?"

__ADS_1


"Yang mana satu, yang mau dijawab ni?" ucap Erwin tertawa.


"Haha... Rindu!" ucap Mila


"Heh... jangan macam-macam bukan muhrim." ucap Mai


"Mamak ini ada-ada saja, ayok mak sini kawani Mila cerita sama Ewin." Mila menepuk kursi agar Mai duduk di sebelahnya.


"Lagi ada tamu juga, Mil?" tanya Erwin


"Iya, kawan Zain pesantren dulu mampir kemari." jawab Arpin menghampiri Mai, Mila, dan Erwin.


Erwin menelan ludahnya.


"Assalamu'alaikum, Pak. Saya Erwin kawan sekolah Mila dulu." Erwin mengulurkan tangannya


"Wa'alaikumsalam, oh... ini yang ngantarkan Mila pulang waktu kenak bola waktu itu kan! " jawab Arpin ramah.


Kemudian cerita terus berlanjut, Arpin sangat welcome ke Erwin. Mila berfikir mungkin ayah sudah mengijinkanku mengenal laki-laki lebih jauh.


Keceriaan diruang tamu membuat dua laki-laki di meja makan tidak tenang.


"Pacarnya?"


"Enggak tau, ana tidak kenal, Mila juga tidak pernah cerita masalah laki-laki kepada ana."


"Jangan lemas gitu la kau! belum di pinangnya adekku itu ( logat medannya kumat )"


"Sebelum ada khitbah masih boleh berharap lo, Rif. Tapi berharapnya sama Allah ya!" ucap Maya yang sedang mencuci piring


"Okelah, kalau gitu ana pulang dulu, selamat pengantin baru!" Dzaki beranjak keruang tamu.

__ADS_1


Dzaki berpamitan ia mencium tangan Arpin dan menyapa Erwin sekedarnya. Matanya melirik Mila yang dari tadi menunduk semenjak kedatangannya keruang tamu.


__ADS_2