Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Demi Baby


__ADS_3

Kembali terjadi, malam ini akan menjadi malam yang panjang. Dua insan yang ada dalam kamar tidur, dengan lampu yang temaram saling punggung-punggungan.


Keduanya bisu, diam, sunyi senyap. Masing-masing dari mereka berada dalam khayalannya. Masing-masing berada dalam keegoisannya.


"Kenapa jadi dia yang marah, udah jelas-jelas dia yang salah. Enak-enaknya nganterin istri orang. Lagian tu wanita apa suaminya jelek ya!" Mila terus teringat kejadian tadi sore.


"Kenapa dia jadi marah? padahal kan tadi aku menegurnya karena dia tidak sopan!" Dzaki mengingat kejadian dalam mobil.


"Bagaimana dengan hadits itu, percuma aja dipelajari kalau gak dipraktekin!" Mila serba salah.


Dari Abu Umamah r.a, Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallaam bersabda, "Ada tiga orang yang salatnya tidak akan diterima, yaitu (1) budak yang melarikan diri hingga ia kembali; (2) istri yang tidur pada malam hari, sementara suaminya marah kepadanya; dan (3) orang yang mengimami salat suatu kaum, tetapi mereka tidak menyukainya." (HR At Tirmidzi).


"Shalat tidak diterima, haduh... jangan ya Allah." Mila membalik badannya, biarlah aku mengalah saja, pikirnya.


"Mas!" Panggilnya pelan, tak ada jawaban. Perlahan dipegangnya bahu suaminya dari belakang. Tetap tak ada respon. Suara helaan nafas diselingi dengkuran mengehentikan keinginan Mila untuk meminta maaf.


"Ya, Allah. Hamba sudah hendak meminta maaf. Tapi suami saya sudah tertidur. Maafkan hamba ya Allah." ucap Mila seperti berbisik. Menepuk-nepuk bantalnya, kemudian menarik selimutnya.


Ada ukiran bulan sabit dibibir tipis laki-laki jangkung yang pura-pura mendengkur.


"Hm... tak sia-sia sering ikut pengajian!" ucapnya dalam hati.


Matahari mulai meninggi, biasan cahayanya masuk menembus tipisnya tirai didalam kamar yang sunyi.


Mata Dzaki mencari disekeliling, didapur, kamar, diteras, tak ada tanda-tanda keberadaan istrinya. Sedari pulang sholat subuh tadi, Dzaki tidur lagi. Sedangkan istrinya masih sholat didalam kamar itu.


"Mang, lihat istri saya gak?" tanya Dzaki pada mamang yang sedang membersihkan halaman rumah.


"Tadi pergi, Pak. Sepertinya jalan pagi sama istri saya." mamang melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa jalan pagi?, biasanya susah sekali kalau diajak jalan pagi." Dzaki menaikkan kedua alisnya.


"Assalamu'alaikum!" Mila bersama bi Lastri sudah berada di depannya. Dia memegang tangan Dzaki, dan mencium punggung tangannya. Tangan sebelahnya menenteng satu kantong plastik penuh berisi buah.


"Gak biasanya dek, lari pagi?" tanya Dzaki keheranan.


"Iya, Mas. Biar bayinya sehat!" Mila menjawab sambil berlalu naik menapaki tangga, badannya terasa lengket, ia hendak membersihkan diri.


"Hah! Bayi?"


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Laki-laki jangkung mengambil amplop putih bertuliskan nama salah satu klinik kesehatan di kotanya.


"YES" tulisan yang tertera didalam isi amplop itu, dengan simbol hati yang mengelilingi tulisannya.


Cekleek


Pintu kamar mandi terbuka. Perempuan itu mendapati suaminya sedang memegang alat tes kehamilan yang tadi diletakkannya diatas nakas.


"Kenapa, gak kasi tau mas kabar gembira ini?"


"Kemaren sudah mau kasi tau, cuman ada pemandangan yang merusak mood, jadi diurungkan saja. Malamnya mau kasitau, masnya sudah tidur."


"Maaf!" wajah Dzaki memelas. Merasa bersalah dengan apa yang terjadi kemarin.


"Mas janji, mas gak akan melakukan sesuatu yang adek gak suka. Adek harus happy terus, jangan marah-marah, jangan banyak pikiran." ucapnya mengelus perut Mila yang masih rata.


"Iya, Mila juga minta maaf. Sekarang semuanya terserah, Mas. Adek tidak akan marah-marah lagi. Silahkan mas lakukan apa yang menurut mas benar!" jawab Mila dengan penuh ketegasan.


Subuh tadi


Mila keluar dari kamar mandi, setelah membersihkan diri, dia segera melaksakan shalat Subuh, dalam sujud terakhirnya, dia memohon kekuatan untuk bisa menjaga emosinya, demi kebaikan anak dalam kandungannya.


"Sehat-sehat didalam ya,nak! Hm... kata dokter umma harus rajin olahraga ringan, banyak makan buah, sayur, kalau gitu ayo kita jalan pagi, nanti sekalian kepasar beli buah dan sayur."


\=\=\=\=


Dzaki melajukan mobilnya menyusuri jalanan rindang, hari sudah semakin sore. Dia bergegas untuk pulang kerumah. Dzaki tak ingin melewatkan buka puasa bersama istrinya.


Ini adalah Ramadhan pertama Dzaki bersama istrinya, Mila yang sedang hamil memasuki usia kandungan tiga bulan memutuskan untuk tetap berpuasa.


Benar memang, setelah Dzaki mengetahui kehamilan istrinya,banyak perobahan yang terjadi pada istri manisnya itu. Tak ada lagi merajuk, marah atau sikap lainnya yang membuat Dzaki seperti rindu dengan kelakuan istrinya dulu. Sebenarnya menyebalkan, tapi seperti sudah terbiasa dan hafal dengan sifat-sifat itu.


Dipersimpangan jalan keluar dari gerbang kampus, Dzaki melihat Winda sedang menunggu taxi.


"Nunggu taxi Win?" tanya Dzaki menurunkan kaca mobilnya.


"Eh... iya,pak! ayah tadi ada urusan, masih lama katanya. Jadi,Winda pulang duluan saja."


Winda dari dulu memang selalu ke kampus ayahnya mengajar, walau hanya sekedar duduk-duduk diruangannya. Maklumlah, mereka sangat dekat, dan terbiasa kemana-mana bersama-sama.


"Ayo, saya antar." ucap Dzaki membuka kuncian mobil.

__ADS_1


Winda berjalan memasuki mobil, dia duduk dibelakang, seperti waktu itu.


"Maaf, pak! merepotkan."


"Tidak apa-apa, sekalian lewat." ucap Dzaki ramah, dia tak tega melihat Winda berdiri lama menunggu taxi lewat, dengan perut yang sudah sangat besar.


***


"Terimakasih, Pak! Mampir dulu ya, buka puasa dirumah saja, waktunya sudah sangat mepet nih!" Winda sedikit membungkukkan badannya berbicara dengan Dzaki yang tetap didalam mobil.


"Tidak apa-apa Winda, saya langsung pulang saja. Assalamu'alaikum." Dzaki melajukan kendaraannya.


"Wa'alaikumsalam," Winda masuk kedalam rumahnya.


Derrtttt... deerrrt.


"Ya, mas. Assalamu'alaikum, oh... ya,, tidak apa-apa. Oke!" Winda menghela nafas panjang, sedikit kecewa, karena harus berbuka puasa sendirian, suaminya akan pulang terlambat, karena ada temannya yang mengajak buka bersama.


\=\=\=\=


"Maaf, mas terlambat!" Laki-laki itu langsung menuju dapur setelah salamnya dijawab dari arah sana. Tangannya memegang satu botol minuman dingin.


"Sudah dibatalin puasanya, Mas?"


"Sudah."


"Mas, mandi dulu deh, nanti kita sholat berjama'ah ya, tak sempat untuk berjama'ah dimesjid!" ucap Dzaki


"Makan dulu kormanya, Mas!" Mila mendekatkan satu piring kurma.


"Kenapa terlambat pulangnya? ini sudah hampir akhir Ramadhan, baru kali ini mas terlambat."


"Em... tadi mas mengantarkan Winda pulang. Gak sengaja, tadi mas lihat dia menunggu taxi di pinggir jalan. Kasihan!" jawab Dzaki sedikit takut.


"Oh, ya sudah. Mba Winda belum lahiran,Mas?" ekspresi biasa saja.


"Belum, tapi sudah kelihatan sangat besar. Mungkin sudah dekat harinya." dengan ekspresi masih tak percaya dengan istrinya.


"Mudah-mudahan sehat, sampai harinya tiba ya, Mas." Mila duduk bersandar.


"Mandi lah, mas. Nanti waktu maghribnya habis. Ayo, Mila juga sudah selesai." Mila membereskan makanan, menutupnya dengan tudung saji.

__ADS_1


__ADS_2