
Pagi itu cerah secerah hati Mila yang sedari tadi mengingat mimpinya. Rasanya kalau saja bisa mimpi tadi diabadikan dalam vidio di handphone dia akan melakukannya. Mimpi itu membuatnya senyum-senyum sendiri.
Setelah selesai menyiapkan buku-buku kuliahnya Mila menghampiri Zain dan Dzaki yang sedang bercerita dengan Maya di teras rumah. Dzaki menyenggol kaki Zain tangannya menunjuk kearah Mila.
" Kami berangkat dulu " pamit Zain kepada Maya, Maya mencium tangan suaminya
Mila masuk ke mobil dan menutup pintu mobilnya.
" Abang mau kemana? kenapa Mila harus diantar ke kampusnya?" tanya Mila hati-hati
" Oiya... yang abang suruh udah kau siapkan dek? mana sini kasi ke abang! " Zain mengulurkan tangannya
Mila mengambil pelastik berisi foto copy Ktp orang tuanya, akta kelahiran dan beberapa berkas lain dalam tasnya.
" Ini!" Mila memberikannya kepada Zain yang duduk di depan.
" Abang mau ke travelnya Dzaki, mau daftar umroh sekalian jalan kebetulan kan dekat sama kampusmu " ucap Zain
" Abang mau umroh? Alhamdulillah... Mila ikut!" rengek Mila
" Bukan cuman abang yang umroh, tapi ayah mamak sama kakak ipar mu "
" Jadi Mila gak diajak? " Mila cemberut
__ADS_1
" Nanti Mila umrohnya sama suami Mila saja! iya kan Rif! " Zain menepuk bahu Dzaki
Mila teringat kembali dengan mimpinya. Matanya memberanikan diri melihat Dzaki yang sedang menyetir dari kaca yang ada di depan.
" Astaghfirullah..." Mila tak henti beristighfar matanya tiba-tiba berair, hatinya berontak. Rasanya ia ingin sekali egois membiarkan perasaan yang baru dirasakannya ini tetap dihatinya tapi dia tiba-tiba teringat Amira, teringat Zizi yang begitu manja jika bertemu dengannya.
Tak akan mungkin, aku tak akan sanggup menghancurkan hati kedua perempuan baik itu. Mila berbicara dalam hati
" Tadi malam si Erwin-erwin itu pacarmu dek?" tanya Zain
" Hah... enggak!, Ewin itu kawan sekolah Mila waktu Aliyah dulu, Erwin kuliah di Jakarta. Baru aja pulang, jadi mampir kerumah" Mila tersadar dari lamunannya mendengar pertanyaan Zain
" Tapi ada tadi malam abang dengar cerita-cerita melamar-melamar waktu sama ayah? " lanjut Zain
" Apanya Rif, macam terkejut kau ku tengok ( tengok maksudnya lihat ). Minum dulu minum " Zain menyodorkan air dalam botol di samping tempat duduknya.
" Puasa ini pak citen " Dzaki mengomel
Mila tersenyum melihat dua laki-laki di depannya, persahabatan mereka awet ya! gumamnya dalam hati
" Erwin memang mau melamar bang, mau melamar Aisyah " jawab Mila
Ada kelapangan di dada Dzaki mendengar penjelasan Mila.
__ADS_1
" O, cowoknya si Aisy nya rupanya. Abang pikir mau melamar Mila " goda Zain
" Kok ada yang mau melamar mu cemana Mil? kau terimanya? " tanya Zain lagi
" Terserah ayah bang, kalau ayah setuju Mila ikut saja. Asal..." Mila menggantung jawabannya
" Asal laki-laki itu lajang! Mila gak mau dibilang pelakor " Ada ketegasan di kata-kata terakhir.
Dzaki yang tengah menyetir tidak mengerti maksud perkataan Mila. Rasanya Mila seperti menyindirnya.
" Mila enggak pacaran? " Dzaki memberanikan diri bertanya setelah beberapa kali Zain memberikan kode agar Dzaki bertanya kepada Mila
" Enggak bang, Mila tidak pacaran, nanti saja setelah menikah. Katanya pacaran itu bukan cinta, tapi nafsu " jawab Mila tegas
" Maksudnya? " tanya Zain ikut menimpali
" Ada ustadz yang bilang, kalau pacaran itu bukan cinta tapi nafsu, nanti kalau sudah menikah baru namanya cinta. Contohnya kalau kita puasa sebelum berbuka kita pasti pengen beli kolak, beli es, beli kue, beli pudding dan lain-lain. Tapi setelah berbuka kita minum lalu memakan beberapa butir kurma sudah kenyang. Yang tadi kita bayangkan kolak ini enak ya, kue ini enak ya, setelah berbuka puasa gak selera lagi memakannya" bukan begitu pak ustadz ucap Mila melihat Dzaki
Dzaki tersenyum " ternyata acara seminar kemarin dia mendengarkan aku juga" gumamnya dalam hati
Zain mengangkat kedua alisnya sambil mengacungkan dua jari jempolnya di depan dadanya, seperti disembunyikan takut Mila melihatnya.
Dzaki mengangkat satu jempolnya. Rasanya dia sudah mantap dengan keputusannya.
__ADS_1