
Pintu rumah terbuka setelah beberapa kali mengetuknya. Perempuan itu berlari keatas menuju kamar bertanda nama sang buah hati.
Handle pintu dibuka perlahan, netranya menangkap sosok yang dia rindukan. Hampir lima jam dia meninggalkan laki-laki kecil itu. Di angkatnya tubuh mungil itu kedalam dekapannya. Dia sangat merasa bersalah. Air matanya jatuh tak terbendung, menetes di pipi Hafiz yang masih di pelukannya.
Mata bulat itu terbuka, "Umma, sudah sembuh!" ucapnya riang melihat ummanya telah ada dihadapannya.
"Kenapa, Umma menangis? Mana yang sakit umma, biar Hafiz tiup!" ucap anak laki-laki itu polos. Menghapus air mata ummanya.
"Maafin Umma ya, Nak! Umma sudah ninggalin Hafiz sendirian!" ucap Mila melankolis.
"Gak apa-apa, Umma. Hafiz enggak sendirian kok! Kan ada nenek Tri!"
"Yang penting Umma cepat sembuh, supaya gak ninggalin Hafiz lagi. Kalau Umma pergi Hafiz muroja'ahnya sama siapa? Tadi nenek Tri bilang gak bisa!" tutur Hafiz menceritakan. Hafiz ingin mengulang hafalannya, tapi bi Lastri tak bisa menyimaknya, selain matanya yang sudah rabun, sebenarnya dia juga masih terbata dalam membaca Al-Qur'an.
"Nanti, kalau Umma pergi, Hafiz muroja'ahnya sama Abi saja! Jangan berhenti menghafal ya, Nak!"
"Tapi, Hafiz maunya sama Umma! kalau sama Abi beda! gak enak!" ucap Hafiz sambil menggelengkan kepalanya.
"Kalau gak enak, ya kasi kucing aja!" ucap Dzaki ikut campur. Sebenarnya Dzaki dari tadi sudah berdiri di depan pintu kamar Hafiz, tapi mengurungkan niatnya untuk masuk. Membiarkan dua harta berharganya melepas rindu. Aneh memang, hanya lima jam saja berpisah tapi sudah rindu seperti bertahun tak bertemu. Tapi tidak akan aneh, bagi seorang ibu rumah tangga tulen seperti Mila. Dimana ada Mila disitu ada Hafiz, kecuali saat di kamar mandi.
"Kenapa memangnya, kalau mengulang hafalannya sama Abi?" tanya Dzaki seolah-olah Iri.
"Abi gak sabaran, ada marah-marahnya!" ucap Hafiz melipat tangannya didada.
"Ya beda dong! cara Abi mengajar memang begitu! ucap Dzaki, yang juga melipat tangannya di dada.
"Eh... kok, jadi gini!" Mila menarik Hafiz dalam dekapannya lagi.
"Gak boleh seperti itu sama Abi, Nak! Hafiz tau gak, kalau Hafiz bisa menghafal Al-qur'an pahalanya untuk Umma dan Abi juga loh! Hafiz sayang Abi dan Umma kan? kata Rasulullah Orang yang paling utama dari Ummatku ialah orang yang hafal Qur'an. Begitu haditsnya! Memangnya Hafiz gak mau jadi orang yang paling utama?"
"Mau umma! Pokoknya Hafiz mau jadi ummat nabi yang paling utama! nanti kita masuk surga sama-sama ya Umma!" ucap Hafiz tanpa celat sedikitpun.
Mila menciuminya, matanya terus berkaca-kaca. "Ya Allah, izinkan hamba lebih lama lagi bersama mereka!" Do'anya lirih.
__ADS_1
Dzaki melihatnya, mengelus pundak istrinya.
"All is Well!" ucapnya memberikan senyum terbaik. Berusaha bercanda. Dengan menggunakan kalimat yang selalu diucapkan Amir khan dalam salah satu film terbaik Bollywood. Ia tau, pantangan bagi penderita kangker adalah setres. Sebisa mungkin dia berusaha untuk menghibur istrinya yang tengah baper tingkat dewa.
Kruk... kriuk
"Dalam perut mas apa ada ayamnya, ya?" tanya Mila mendengar suara perut Dzaki yang meronta minta di isi.
"Laper!" ucap Dzaki memegang perutnya.
"Hafiz juga lapar, Ma!" menirukan gaya Abinya yang memegang perut.
"Ikut aja!" seru Dzaki merasa gerak-geriknya ditiru.
"Biarin, ini Umma Hafiz!" Hafiz memeluk Mila, seakan tak rela Abinya juga ikut bermanja.
\=\=\=\=\=
"Iya lah, Bang! Nanti ku ceritakan lah sama Mai. Cemana bagusnya aja lah. Tapi abang gak apa-apa kutinggalkan?" ummi Ana masih ragu meninggalkan suaminya sendiri.
"Alhamdulillah aku sudah sembuhnya. Kan ada Hasan di sini. Tenang saja lah! saat ini Mila membutuhkan kedua ibunya, dan Hafiz juga butuh teman." buya Latif merebahkan badannya di pembaringan.
Ummi Ana mengambil Hanphonenya, menggulir nama dalam kontak. Setelah yang dicari ditemukan, Ana mendapati nomor yang sedang sibuk. Namun tetap mencobanya lagi.
Dirumah Arpin
"Besok Zain transfer ya, Mak! gak usah mamak jual gelang mamak!" Mai mendengarkan ocehan anaknya.
"Mamak gadaikan sama kau saja lah ya, Zain!" ucap Mai.
"Apanya mamak ini! kayak sama siapa aja!"
"Kalau enggak gini aja, kita semua berangkat lah, ayah, Zain dan Maya juga kesana!" ucap Zain memberi ide.
__ADS_1
"Jangan lah, Amang. Makin susah la si Mila nanti. Jangan membebankan pikirannya. Jangan nanti dia jadi merasa bersalah, karena dia suaminya, ayahnya, abangnya jadi tak kerja! udahla, kok mau kau pinjamkan mamak duitpun gak apa-apalah. Nanti mamak ganti!" ucap Mai panjang lebar.
"Iya, Mak. Besok Zain transfer ya!" Zain meng-iyakan saja apa kata Mai. Kalau didebat terus tak akan selesai.
Telepon ditutup. Belum sempat beranjak dari tempat duduknya, hape yang dipegang Mai berbunyi lagi. Panggilan dari besannya.
"Assalamu'alaikum, besan!" sapa Mai.
"Wa'alaikumsalam, sibuk kali nampaknya ini Mak Zain, dari tadi ku telepon tak bisa-bisa!" ucap Ana, memang dari tadi dia mencoba menelfon tapi nomor yang anda tuju sedang sibuk kata operator.
"Iya, tadi Zain menelepon! Cemana jadinya Ummi?" tanya Mai.
"Begini, Mak Zain bla... bla... bla" Ana menjelaskan panjang lebar, ide yang tadi dibahasnya dengan suaminya.
"Ha, begitupun jadi!" ucap Mai menyetujui.
"Kalau begitu, nanti kita kabar-kabaran lagi, Ya!" ucap Ana menutupnya dengan salam.
Dua perempuan paruh baya itu sedang gundah. Bagaimana tidak, setelah Dzaki menelepon memberitahu tindakan yang harus dilakukan Mila beberapa hari lagi.
Disatu sisi mereka ingin ada disamping anak menantunya. Disisi lain mereka ingin menjaga cucunya.
\=\=\=\=\=
Malam semakin larut, bintang semakin nampak terang. Mata Mila menatap keatas. Kepalanya ia rebahkan pada ujung kursi diatas balkon. Hafiz sudah tertidur. Entah kenapa malam ini Hafiz merengek ingin tidur bersama dengan Abi dan Ummanya.
"Sudah malam! Ayo tidur!" ajak Dzaki menghampiri istrinya. Membelai pucuk kepalanya yang masih tertutup jilbab.
"Mas...." Mila menghentikan omongannya.
Dzaki menyela ucapan istrinya, dia tau kemana arah pembicaraan akan berlanjut, melihat dari bulir air mata yang sudah jatuh beberapa butir.
"All is Well, Sayang! Insya Allah" ucapnya menggenggam tangan istri manisnya.
__ADS_1