Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Merasa Aneh


__ADS_3

Kursi-kursi telah tersusun rapi, tinggal menunggu siempunya menjemputnya besok pagi.


Wajah-wajah lelah telah membaringkan diri, ada yang diruang tamu, bahkan ada yang didapur. Yang penting mata bisa terpejam dan capeknya pun hilang. Karena banyaknya keluarga dekat yang menginap disana, semua ruangan disulap jadi tempat tidur. Begitulah nikmatnya kalau mengadakan resepsi dirumah, yang tetap nyaman adalah sang pengantin baru.


Sepasang kekasih halal sedang melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, sesuai sunnah yang diajarkan dalam islam.


"Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat dibelakangmu" (Hadits riwayat Abu Bakr bin Abi syaibah).


Setelah selesai melaksanakan shalat, Mila mencium tangan suami dengan penuh rasa hormat. Ini kali kedua Mila memegang tangan suaminya. Dzaki tersenyum kepadanya, lalu memegang ubun-ubun istri manisnya itu.


Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta doakanlah dengan doa berkah seraya mengucapkan: “Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa“. (HR. Bukhari).


Dzaki mendaratkan bibir tipisnya diatas kening wanita yang sudah ada dihatinya selama ini. Tak lupa ia selalu bersyukur karena Tuhannya telah melancarkan segala impiannya.


Mata mereka saling bertemu. Ada rasa canggung dari keduanya. Mata Dzaki menangkap bayang merah dimata istrinya.


"Tidurlah... adik terlihat sangat lelah" Dzaki melihat tempat tidur mereka yang hanya bisa ditiduri satu orang saja, karena sudah dipenuhi dengan kado-kado dimana-mana.


Apa sekecamatan tamu yang datang membawa kado-kado ini! atau mungkin satu kabupaten! ucapnya dalam hati, merasa aneh melihat banyaknya bingkisan dari tamu undangan.


"Tapi, bang..." Mila memalingkan wajahnya, putus asa melihat tumpukan kado yang tergeletak secara acak diatas kasurnya.


"Abang tidur diluar saja atau disini!" Dzaki menunjuk lantai. Dia tau istrinya merasa tidak enak hati membiarkannya tidur diluar,apalagi dilantai.


"Mila... panggil abang mas saja" ucap Dzaki mendekati Mila yang tengah melipat sajadah. Tangannya dilingkarkannya ke pinggang istrinya yang ramping.


Mila merasa seperti kena serangan jantung, dan sedikit tersengat listrik.


"Kenapa harus Mas, bang? eh..mas." tanya Mila malu-malu


"Mas suka aja...,kalau abang rasanya Mila seperti manggil ke Zain, Mas mau beda!"


"Oke..,Mas" Senyuman merekah di bibir Mila, padahal kalau manggil mas aku teringat tukang bakso langgananku hihi..,ucap Mila dalam hati.


Tukang bakso langganan Mila asli dari Malang, makanya Mila memanggilnya dengan sebutan Mas


"Ya sudah, tidur gih!" Dzaki melepas pelukannya, menuntun Mila yang terus tersipu ketempat tidur.


"Tapi mas.." sebagai istri Mila merasa tidak enak, bukan hanya pada suaminya, tapi juga pada keluarganya. Apa kata orang nanti melihat Dzaki tidur diluar.

__ADS_1


Dzaki seperti mengerti isi hati Mila


"Mas masih belum mengantuk, tidurlah duluan matamu sudah sangat merah, wajah manismu ini juga sudah keliatan lelah, kita tidur bersama seumur hidup loh dek.., bukan cuma malam ini! mas tidak mau zhalim."


"Selamat malam istriku" Dzaki mencium kening Mila yang terus tersipu.


Laki-laki itu keluar meninggalkan istrinya. Dzaki duduk minum kopi bersama Zain dan Arpin yang masih belum tidur diteras.


"Sudah jam 10 malam, gak capek Ki? istirahatlah.." ucap Arpin


"Pengantin baru belum tidur" Zain menambahi


"Sebentar lagi Yah, Dzaki masih mau disini, memanfaatkan waktu, kapan lagi bisa cerita sama ayah. Kami disini tinggal besok, lusa sudah harus ke Medan, lagipun Dzaki sengaja keluar supaya Mila tidur duluan, tadi matanya merah Yah..,mukanya nampak capek kali!,(muka\=wajah)."


"Tolong jaga Mila baik-baik, dia memang gampang capek! agak lemah fisiknya itu sebenarnya, maklumlah kau..kata orang anak yang lahir prematur itu memang begitu, daya tahan tubuhnya lemah. Gampang capek,gampang sakit!, makanya dulu kalok dia maen-maen sama kawannya, maen bola macam anak laki-laki ku biarkan. Maksudku melatihnya biar jadi kuat fisiknya, eh..malah jadi macam jantan si boruku" Arpin sedikit tertawa mengingat masa kecil anak perempuannya itu.


Malam semakin larut, dinginnya angin malam membuat mata semakin mengantuk. Sesekali Arpin menguap, sedangkan Zain sudah dari tadi masuk kedalam. Dzaki merasa kasihan, mungkin ayah segan meninggalkan aku sendiri! fikirnya.


"Bbrrr...dingin ya Yah, kita masuk saja!" ajak Dzaki sopan disusul Arpin berdiri membawa cangkir kopinya.


"Biar Dzaki saja yang bawa." Dzaki mengambil nampan berisi beberapa cangkir kopi, membawanya kedapur.


Semua orang sudah tidur. Ruang tamu hampir penuh dengan saudara-saudara Arpin dari kampung, belampar istilahnya tidur beramai-ramai diruangan lebar,tanpa kasur, hanya bertilamkan tikar atau karpet dan bantal seadanya.


Dzaki membuka pintu kamar, berjalan mengendap-ngendap, takut istrinya terganggu tidurnya. Matanya menatap tempat tidur yang sekarang sudah rapi, bersih tanpa tumpukan kado yang tadinya menggunung.


Semuanya sudah tersusun rapi terbagi menjadi beberapa tumpukan. Kotak yang berukuran besar berada dibawah kolong, yang sedang diatas lemari sedangkan sisanya entah kemana.


"Kenapa tadi aku tidak berinisiatif menyusun kado-kado ini bersama-sama." ucap Dzaki mengutuk dirinya sendiri.Pasti Mila sangat kecapean mengerjakannya sendiri.


Dipandanginya wajah istrinya yang sudah tidak mengenakan jilbabnya.


"Manisnya istriku," ucapnya dalam hati, memegang tangan Mila yang tidur miring kesebelah kanan, mereka saling berhadapan.


Dzakipun tertidur dalam keadaan memegang tangan istrinya.


Malam itu malam kedua bagi Dzaki tidur dirumah keluarga Arpin, dulu sewaktu pertama tidur disana dia hanya bisa tidur diruang tamu bersama Zain dan Nando.


Lantunan suara murottal Al-qur'an membangunkan Dzaki yang posisinya sedikit lagi terjatuh dari kasur. Dia terbangun seperti orang linglung, dimana aku! ucapnya duduk memandangi kaca berdiameter besar yang ada didepannya.

__ADS_1


astaghfirullah...senyumnya mengembang, melihat kebelakang, Mila ada disebelahnya. Mila masih tertidur dengan posisi yang sama seperti saat Dzaki masuk kekamar tadi malam.


Dzaki yang lasak seumur hidupnya saat tidur,merasa ada kejanggalan yang terjadi pada istrinya. Jangan..jangan, fikirnya. Dia memegang tangan istrinya, mengecek denyut nadi ditangannya, mengarahkan jati telunjuknya kelobang hidung istrinya. Alhamdulillah...ucapnya.


Pelan-pelan laki-laki itu membuka pintu, keluar kamar. Kebetulan Nando lewat membawa handuk,


"Ndo..sini"


"Kenapa bang?" tanya Nando yang mau mandi


"Dari tadi malam, Kakakmu gak gerak-gerak! Tidurnya...." belum selesai Dzaki bertanya Nando langsung memotong pertanyaannya


"Tidurnya gitu aja, gak gerak-gerak dari pertama tidur sampek sekarang, terus gak ada bunyinya juga?" ucap Nando santai


"Kakak memang gitu bang, tidurnya kayak mati, gak begerak-gerak. Panggil aja namanya pasti langsung nyahut!" ucap Nando berlalu meninggalkan Dzaki yang tampak heran.


"Ada apa nak?" tanya Mai menghampiri setelah Nando pergi ke kamar mandi


"Hehe.., Dzaki tadinya takut,Mak. Mila kok gak gerak-gerak tidurnya, dari mulai tidur sampek tadi Dzaki bangun posisinya gitu aja." ucap Dzaki tersenyum mengingat istrinya.


"Oo...memang.." belum selesai Mai menjawab pintu kamar terbuka.


ckreeek


"Ada apa sih mak, kok serius kali kayaknya. Cerita apasih?" Mila memandang suaminya penuh tanya, sedetik kemudian merasa malu tak sadar dia belum memakai jilbabnya.


"Gak ada apa-apa kok dek, mas cuman heran aja, kok ada ya orang tidur gak gerak-gerak" Dzaki yang melihat perobahan wajah istrinyapun tersenyum, masuk kedalam kamar. Mila menyusulnya, cepat-cepat mengambil jilbab yang tergantung di balik pintu.


"Kenapa harus malu? kan mas sudah jadi suami adek! Mas boleh melihat semuanya!"


Pipi Mila memerah seketika, seperti tomat,tapi tidak busuk.


"Mas ke mesjid dulu!" tiba-tiba Dzaki mencium pipi Mila, dan berhambur keluar kamar dengan menggunakan baju koko.


"Mas belum mandi!" ucap Mila


"Gak sempat sayang, sudah mau adzan, Nando juga masih dikamar mandi dari tadi gak keluar-keluar, pinjam motornya ya. Ayah sepertinya sudah pergi ke mesjid duluan." Dzaki menyambar kunci kereta Mila yang tergantung dekat pintu.


Mila mengelus pipinya, mengucap kata sayang. Jantungnya dag dig dug tak karuan, senyum melengkung sempurna bak bulan sabit dibibirnya.

__ADS_1


Adzan subuh berkumandang, merdu mendayu menembus kesunyian pagi.


Ash-sholaatu khairum minan-naaum


__ADS_2