
Perempuan dengan bekas jarum infus di tangannya sedang memijat-mijat syaraf sekitar pergelangan tangannya. Tangan itu sedikit tampak gendut, bukan karena berat badan yang bertambah tapi karena jarumnya yang kesana kemari akibat si empunya tangan terlalu aktif. Mila tak lagi di infus, kondisi kesehatannya semakin baik saat ini.
"Bagaimana keadaannya, Adik?" sapa dokter ganteng yang masuk kedalam ruang inap Mila bersama suster bermata sipit.
"Alhamdulillah, Dokter. Luar biasa. Allahu Akbar!" ucap Mila seakan sedang ada dalam forum LDK nya dulu.
"Saya suka semangatnya. Alhamdulillah kalau begitu. Sudah siap untuk tindakan besok?" tanya dokter spesialis Kanker itu.
"Insya Allah, dokter! Saya siap. Tinggal satu kali lagi kan Dok?" Mila mengacungkan jarinya. Semangatnya memang lagi berkobar, mungkin dari banyaknya doa untuknya, dan yang pasti karena ada iming-iming dari Dzaki, yang membuatnya sangat bersemangat untuk sembuh. Siapa yang tak ingin kesana! Tempat itu memang selalu dirindukan, bukan hanya bagi yang
belum pernah berkunjung kesana. Tapi yang sudah pernah, juga merasakan hal yang serupa.
"Hebat! Dari awal saya sangat suka semangat adik. Semoga Allah mengangkat penyakit mu, dan tidak memberikan sakit yang seperti ini lagi." ucap Dokter Amir Shah menepuk bahu Mila pelan, mengucap salam lalu pergi meninggalkan Mila. Dokter itu memang punya perhatian lebih kepada Mila, entah ada daya tarik apa yang ada pada diri pasiennya itu. Bukan hanya semangatnya saja yang menggebu untuk sembuh, tapi juga kepribadiannya. Dia sangat menyukainya. Pasti anak ini anak yang baik, kesan pertama sang dokter saat pertama kali melihat Mila di antarkan kedua orang tuanya saat melakukan kemo.
Dokter dan suster itu keluar dari ruangan Mila. Di depan pintu sudah ada beberapa orang yang sepertinya mau membesuk pasiennya. Dokter itu menyapa salah seorang di antaranya.
"Terimakasih sudah menjadi support system untuk Mila, saya salut dengan ke gigihan anda. Semoga esok benar-benar tindakan terakhir, dan kalian bisa segera berkumpul dengan keluarga." ucap Dokter kepada Dzaki. Dzaki mengaminkan ucapan dokter itu.
"Kita masuk sekali semua?" tanya Ahmad.
"Bang, bagusnya kek mana?" Erwin mengerutkan keningnya, menatap Dzaki yang terlihat masih berpikir. Bagaimana memberikan kejutan ini pada istrinya. Dzaki sangat senang mendapat telepon dari Aisyah setelah dia selesai shalat jum'at tadi. Ternyata semua teman-teman akrab Mila dulu saat sekolah sudah berkumpul di sini untuk menjenguknya memberikan semangat.
"Alah... lama kali! Aku masuk duluan! Gak sabar aku mau menjitak kepala si Mitul ini!" Juna melewati kumpulan laki-laki di depannya. Sepasang mata dari tadi tak berhenti mengawasinya, yang tak berhenti mengumbar senyum. Kenapa semua yang ada pada dirinya aku suka, bahkan saat dia melakukan tindakan-tindakan bar-bar sekalipun. Laki-laki itu terus melihat Juna yang sudah bersiap masuk kedalam ruangan tempat sahabatnya dirawat.
Di dalam Kamar.
"Mas, kemana sih? Kok lama sekali. Sudah lewat jam lima. Biasanya sehabis Ashar, Mas kan terus kesini! Gak ada ngabarin juga." gerutu Mila memegang Hapenya, berbaring miring membelakangi pintu menghadap ke jendela yang tirai nya sengaja di buka lebar. Mila merasa menjadi burung dalam sangkar dalam beberapa hari ini.
\=\=\=\=\=
Ckleeek
__ADS_1
Pintu terbuka, derap langkah terdengar jelas memasuki ruangan bercat biru itu. Netra perempuan itu menangkap sosok perempuan yang sedari tadi sangat ingin di berikan nya omelan-omelan khasnya.
"Permisi ibu, selamat sore! Kita periksa dulu ya!" ucapnya menyadarkan perempuan di hadapannya. Mila membalikkan badannya spontan.
"Tadi kan, suster sudah datang kesini sama dokter Shah. Kok ada lagi yang datang, mau di apain lagi saya." gumam Mila membalikkan badannya. Matanya terbelalak, tak percaya dengan penglihatannya.
"Lo, kok! Ya Allah," ucap Mila menutup mulutnya.
"Loh kok, apa? Kenapa macam gak percaya gitu aku bisa sampe sini!" rutuk Juna mendekatkan dirinya ke brangkar.
"Kau anggap apa aku, Hah?" Juna mencubit Mila, disusul jeritan Mila yang dibuat-buat.
"Auw... is, teganya!" Mila cemberut.
"Tak butuh do'aku rupanya kau? udah gak di anggap lagi aku ya! mentang-mentang udah punya laki, punya anak, punya mertua! Harusnya tau lah kau, makin banyak yang mendoakan mu, makin cepat kau sehat!" Juna terus mengomel. Rasanya semua rasa kesalnya telah habis ia tumpahkan bersama dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.
"Sakit hatiku! Kenapa harus kau sembunyikan sakit mu!" Juna memeluk sahabatnya, Mila menyambutnya dengan senyuman. Begitulah Juna, sahabatnya yang begitu ceplas-ceplos, selalu meledak-ledak, tapi hatinya sangat lembut.
"Maafkan aku, aku gak mau menyusahkan mu, aku tak mau membebani pikiran mu. Calon pengantin ini, pasti sedang sibuk mengurusi pernikahannya kan? Aku juga tidak apa-apa, Alhamdulillah." Mila mencoba menjelaskan alasan kenapa dia tak memberitahu Juna. Dua sahabat itu saling berpelukan lagi.
"Eh, kau kan bulan depan udah mau kawin! Ngapai kau di sini? mana boleh dara manis kelayapan! Pulang sana!" usir Mila mengingat sahabatnya itu sebentar lagi akan menikah.
"Tenang, tenang! Aku bawa bodyguard!" ucap Juna santai, menaikkan kedua alisnya.
"Adek, Masuk!" ucapnya kearah pintu.
"Adek? tapi Bodyguard? Kau bawa dia kemari?" tanya Mila selidik. Adek yang di maksud Juna itu pasti calon suaminya. Walaupun Mila dan Juna terpisah jarak, namun komunikasi mereka masih tetap intens. Juna juga sering curhat kepada sahabatnya itu, termasuk curhat tentang "si Adek" yang barusan di panggilnya tadi.
Laki-laki tampan berbaju koko membuka pintu. Matanya menatap Juna tajam. Tak terima mendengar calon istrinya memanggilnya dengan sebutan itu lagi.
"Kenapa?" Juna meletakkan kedua tangannya di pinggang. Mila yang melihatnya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kok mau sih, bang. Sama yang model begini?" ucap Mila begitu Adzka sudah berada di samping Juna.
"Sudah Nasib, Kak. Mau cemana lagi!" ucap laki-laki itu. Juna meliriknya menyunggingkan senyuman manisnya.
"Baarokallahulaka wabaroka 'alaika wajama'a bainakuma fii khoir." ucap Mila menengadahkan tangannya berdoa. Doa untuk pasangan pengantin itu di ucapkannya tulus untuk sahabatnya yang ada di depannya.
"Belum lagi, Mila! kenapa di do'akan sekarang?" Juna menepuk kaki Mila. Sekarang Juna memang sudah duduk di ujung brangkar dekat dengan kaki Mila yang berselonjor di dalam selimut.
"Aamiinkannya nanti saja saat sah! Aku tak yakin bisa datang!" ucap Mila, matanya menatap kesembarang arah dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Titip kawanku ini ya, Bang! baeknya dia ni sebenarnya, tapi memang agak cerewet aja!" tutur Mila, Adzka menjawabnya dengan senyum yang mengembang, gigi putihnya terlihat dengan ginsulnya, menambah daya tarik dokter itu. Ya, profesi calon suami Juna itu adalah dokter. Usianya memang terpaut beberapa tahun dari Juna.
"Kau ini, ada-ada saja! Usahakan la datang!" Juna memang berharap sahabatnya itu bisa hadir di saat bahagianya tapi dia juga tak memaksa, karena jauhnya jarak yang memisahkan mereka. Di tambah lagi Mila juga sudah memiliki keluarga, jadi kemana-mana harus dengan izin dari suaminya.
Pintu kamar kembali terbuka, Mila semakin tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perempuan berjilbab Pink yang ada di posisi paling depan langsung memeluknya.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Hallooo Reader, Terimakasih sudah selalu baca cerita ini, oiya, Author mau kasi tau, kali aja ada yang penasaran sama kisah cintanya Juna dan Dokter cintanya. Nanti author akan ceritakan semuanya di novel terbaru saya. Ini nih covernya. Triiing
Menarik perhatian kah? tapi nanti dulu. Tunggu yang ini selesai 😂, satu satu atuh. Hehe.
__ADS_1
Semoga ada hikmah dari setiap tulisan eh... ketikan 🙈, terimakasih. 💞💞
Kasi Lima bintang ya kalau kalian rasa tulisan ini wajar mendapatkannya. Kasi vote juga, kalau ada niat sedekah 🙏🙏