
Pintu kamar kembali terbuka, Mila semakin tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Perempuan berjilbab Pink yang ada di posisi paling depan langsung memeluknya.
"Mba! Rindu, gimana kabarnya?" Aisyah memeluk kakak sepupunya itu penuh haru. Alhamdulillah ucapnya dalam hati. Semenjak ia VC dengan Mila kemarin, hatinya memang tidak tenang. Membayangkan sesuatu yang tak di inginkan akan terjadi, karena begitu lemahnya kondisi kakak sepupunya itu.
"Ponakan bude mana? kok gak dibawa?" Kalian kok bisa kumpul semua di sini sih!" ucap Mila berkaca-kaca melihat Erwin, Ahmad dan Uni juga Zahira ada disana. Toni dan Malik memang sengaja mereka tinggalkan bersama Hafiz di homestay.
"Terimakasih!" ucap Mila terisak. Terharu rasanya melihat teman-temannya datang menjenguknya jauh-jauh kesini.
"Tidak ada maaf, atau terimakasih dalam persahabatan." ucap Ahmad sok puitis.
"Syafakillah ya, Mila!" ucap Uni menghampiri Mila, dipeluknya temannya itu. Pandangan Mila terfokus pada perut Uni yang terlihat besar.
"Kau hamil, Uni?" tanya Mila penuh bahagia, melihat temannya itu sudah berbadan dua. Tubuhnya yang tidak tinggi itu semakin terlihat mini dengan kehamilannya.
"Bisa juga rupanya kau, mbikin bunting anak orang ya, Memet!" sambar Juna yang juga terfokus melihat perut Uni yang mulai tampak membulat.
"Is, mulut kau! Ya, bisa la. Masik normal aku lo." Ahmad menyombongkan diri atas keberhasilannya membuat istrinya mengandung. Ahmad dan Uni memang sudah menikah. Keduanya saat ini tinggal dengan keluarga Ahmad yang ada di Malaysia.
"Jangan ribut la woy, nanti aku yang kena." ucap Zahira mencoba mengkondisikan suasana, sebenarnya jadwal berkunjung sangat dibatasi di rumah sakit ini. Tapi dengan bantuan zahira semuanya aman.
"Oke, oke!" ucap mereka. Semua tau ini rumah sakit, tak pantas jika mereka ribut disana. Maklumlah sudah lama tak bertemu, dunia serasa milik mereka, yang lain cuma ngontrak.
__ADS_1
Untuk beberapa jam mereka saling melepas rindu, bercerita pengalaman masing-masing, yang hampir semuanya sudah berkeluarga kecuali Juna. Tapi status lajang Juna akan berganti menjadi istri kurang lebih satu bulan lagi. Mila semakin terlihat sehat, pancaran keceriannya kian terlihat. Bahagia adalah obat dari segala penyakit. Dzaki terus berada disamping Mila, ikut membaur dengan teman-teman istrinya yang sekarang juga sudah menjadi temannya.
Jam besuk berakhir, mau tidak mau mereka semua harus meninggalkan ruangan itu. Zahira mencoba mengamankan situasi agar ada tambahan waktu bagi mereka yang masih saling rindu, tapi peraturan tak bisa di langgar. Satu persatu mereka memeluk Mila yang tetap mengumbar senyum, agar semua temannya tenang meninggalkannya.
"Terimakasih sudah menjenguk ku, doakan aku sembuh ya woy!" Mila mengantar mereka sampai pintu. Matanya menatap Dzaki penuh harap. Dzaki yang mengerti tatapan penuh harap istrinya mengambil kursi roda yang ada disudut kamar. Begitulah suami istri, ikatan batin yang kuat telah terjalin, tak perlu berbicara dengan kata-kata, seolah-olah ucapan bisa di dengar dengan hati.
Dzaki yang mendorong kursi roda istrinya masuk kedalam lif, Zahira juga bersama mereka. Mungkin masih bisa ketemu di lobby ucap Zahira. Ternyata benar, begitu pintu lif terbuka tampak Aisyah, Juna, dan Uni sedang duduk menunggu Ahmad mengambil mobil, sedangkan dua lelaki lagi tak terlihat.
"Loh kok turun, Mbak?" Aisyah yang pertama kali melihat. Menatap iba kakak sepupunya yang berada dikursi roda.
"Mau liat kalian lagi! pengen ikut pulang!" bibir Mila bergetar, tangisnya pecah. Dzaki mengelus pundak istrinya.
Uni memegang erat tangan Mila, menguatkannya. "Nanti kalau aku lahiran datang kesini lagi, ya!" ucapnya memegang perutnya yang membulat.
"Insya Allah, kalau ada kesempatan! semoga sehat selamat sampai lahiran ya, Uni!" ucap Mila, tatapan mereka bertemu lalu keduanya menebar senyum.
Lambaian tangan Mila mengakhiri pertemuan mereka. Diatas kursi roda di halaman depan rumah sakit dia melambaikan tangannya. Dengan senyum yang mengembang bersama air mata yang juga berjatuhan. Di pandanginya mobil berwarna hitam milik Ahmad itu, sampai tak terlihat lagi. Mereka yang ada di dalam mobil, masing-masing sibuk dengan angannya. Memory tentang Mila sewaktu mereka sekolah dulu, berkelebat. Masing-masing dari mereka pasti punya kenangan yang berbeda-beda dengan sahabatnya itu, tapi yang sama bagi mereka adalah Do'a untuk kesembuhan Mila.
Dzaki mengangkat teleponnya yang berdering, beberapa detik dia berbicara dengan orang yang berbicara dari sana. Senyum Dzaki penuh dengan kebahagiaan setelah mematikan panggilan dari benda pipih miliknya. Netranya menemukan sumber kebahagiaan itu. Dengan menganggukkan kepala dia mengizinkan kursi roda Mila didorong oleh sosok laki-laki yang sudah sangat dekat berdiri didekat istrinya. Mila yang masih menatap lurus kedepan tak menyadari kehadiran laki-laki yang paling di sayangnya. Awan jingga sudah terlukis diatas sana, pertanda waktu maghrib telah tiba, kursi roda itu perlahan di dorong kembali masuk kedalam rumah sakit.
Mila hanya diam saja, saat mereka menuju lif, Mila melihat Dzaki yang duduk di kursi ruang tunggu bersama laki-laki paruhbaya yang sepertinya dikenalnya. Dzaki Melipat kedua tangannya di dada dengan senyum bahagia, menaik-naikkan alisnya.
__ADS_1
"Kalau dia disana, siapa yang mendorong kursi rodaku? enak saja dia menyuruh orang lain mendorongku. Sudah bosankah merawatku!" umpatnya dalam hati. Akhirnya Mila melihat kebelakang mencari tahu siapa yang mendorongnya.
"Ya, Allah. Ayah!" kebahagiaan kali ini lebih dari kebahagiaan yang tadi di dapatkannya. Maha baiknya Allah, telah memberikannya kebahagiaan yang tak ada putus-putusnya hari ini. Mila berdiri memeluk ayahnya.
Hening. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut ayah dan anak itu. Yang terdengar hanya isakan dari keduanya.
"Maafkan, Ayah! Karena faktor keturunan ini, kau merasakan sakit yang ayah rasakan!" Arpin mengutuk dirinya.
"Ayah, ini sudah takdir Allah!" Mila tersenyum menghapus airmatanya.
"Sebentar lagi ini selesai Ayah, Mila akan sembuh! Insya Allah." ucap Mila meyakinkan ayahnya yang masih tampak merasa bersalah.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, tak ada satupun makhluk dimuka bumi ini yang luput dari pandangan Allah, semuanya sudah diatur-Nya, itu yang terbaik untuk kita." ucap buya Latif, yang datang menghampiri bersama Dzaki di sebelahnya.
"Ayo, Dek! Penyemangat nomor wahidnya sudah ada disini!" ucap Dzaki mengambil alih kursi roda yang dipegang Arpin. Mila sudah duduk kembali disana.
"Tak apa, Ki. Biar ayah yang dorong."
Shalat maghrib kali ini mereka kerjakan di kamar inap Mila,.Mila pun ikut berjama'ah dari atas brangkarnya.
Jam makan malam pun tiba, Ana dan Mai datang membawa makanan bersama Hafiz yang kini berada di atas tempat tidur bersama ummanya. Hafiz mau murojaah sama umma, ucapnya begitu masuk keruangan. Dan merekapun makan bersama diiringi dengan murottal al-qur'an hafalan Hafiz.
__ADS_1