Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Karsinoma Nasofaring


__ADS_3

Dalam setiap kehidupan pasti ada cobaan. Untuk mengtahui seorang hamba Allah itu sabar atau tidak, harus dengan ujian.


Inilah yang dialami oleh anak yang saya ceritakan tadi.


Karsinoma Nasofaring atau kanker nasofaring adalah jenis kanker tenggorokan.


Disaat serius-seriusnya menimba ilmu, serius-seriusnya merobah diri. Sianak tadi mendapat kabar bahwa ayahnya sedang dalam perjalanan kerumah sakit.


Tiba-tiba ayahnya merasakan kakinya tidak bisa bergerak, tidak mempunyai tenaga untuk bangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat sakit, tenggorokan serasa sangat kering dan penglihatannya kabur.


Si anak tadi pun meminta izin untuk menemani ayahnya. Kemanapun ayah dan ibunya pergi dia ikut. Pendidikannya ia lupakan, dia tidak perduli yang di fikirkannya saat ini hanya kesembuhan ayahnya.


Begitu sedihnya si anak tadi melihat ayahnya yang tadinya kuat dan gagah, saat itu hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit.


36 kali sinar dan 8 kali kemoteraphy. Setiap hendak di lakukan tindakan dia yang menyorong kursi roda ayahnya. Tubuh ayahnya yang dulu berbobot 100 kilogram lebih dengan tinggi yang mencapai hampir 2 meter kini hanya tinggal 48 kilogram saja. Rambutnya yang dulu hitam lebat kini berjatuhan tanpa sisa.


"Aku yang banyak dosa ya Allah... kenapa ayah yang menanggungnya." ucapnya dalam hati sambil mendorong kursi roda ayahnya.


Shalat di usahakannya di awal waktu, sebisa mungkin dia tambah shalat-shalat sunnahnya, sambil menunggu ayahnya kemoteraphy dia sempatkan membaca Al-qur'an kecil yang selalu ia simpan disakunya.


Teman-teman sekalian si anak tadi kemudian berazzam, "Ya Allah... angkat penyakit Ayah hamba. Izinkan hamba membuatnya bahagia, Izinkan hamba menjadi anak yang solehah yang bisa membuatnya bangga. Tak ada yang tidak mungkin bagimu ya Allah... kembalikan kesehatannya seperti sediakala jangan kau berikan lagi ia sakit setelahnya ya Allah, ya Rahman yaa Rahim, bantu hamba menjadi anak yang baik, menjadi anak yang membuatnya tidak malu mempunyai anak seperti hamba ya Allah, Ampunkan segala dosa-dosa hamba ya Allah."


Malam itu di Masjid Rumah Sakit Adam Malik Medan anak itu bersujud meminta ampunan kepada Tuhannya, menangis mengingat segala dosa-dosanya, kenakalannya, mengingat sudah... sudah berapa kali ia membuat malu ayahnya dengan tingkah laku dan perbuatan nakalnya.

__ADS_1


Malam itulah pondasi awal sianak tadi untuk ber "Hijrah"


Anak itu adalah saya 8 Tahun yang lalu.


Jalan untuk Hijrah itu berbeda-beda, ada yang dengan pukulan keras seperti yang saya rasakan, ada juga yang biasa saja. Semua itu adalah proses, pelan-pelan, Yakin bahwa Allah maha penerima taubat. Kuatkan niat kita jadikan niat itu sebagai pondasi yang kokoh agar tidak mudah roboh. Hijrah untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu harus.


Teman-teman sekalian, ada beberapa tips untuk yang sudah punya niat untuk hijrah.


Bersihkan hati, dengan cara banyak beristighfar


Niat yang ikhlas karena Allah, bukan karena seseorang atau ingin terlihat lebih baik dari orang lain dan apapun itu tapi ikhlas karena Allah


Jangan menunda. Jika sudah ada niat untuk berhijrah tandanya Hidayah Allah sudah datang kepada kita di sambut hidayahnya dengan cara mencari tau bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan tunda lagi karena kita tidak tau sampai kapan umur kita di dunia.


Setelah proses yang 1,2 dan 3 kita lalui selanjutnya bertemanlah dengan orang-orang yang shaleh/shalehah yang sama visi misinya kenapa? karena semangat itu akan terus terpacu dalam hati kita dan yang terakhir


Teman-teman sekalian sekali lagi, perkuat niat kita, perkuat Azzam kita. Menjadi lebih baik itu harus karena


barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung. Barang siapa yang hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin, ia celaka.


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Mila mengakhirinya


Kemudian moderator mempersilahkan kepada audiens kesempatan untuk bertanya.

__ADS_1


\=\=\=


Senyuman itu merekah, si pemilik senyum begitu serius mendengarkan kata demi kata yang disampaikan oleh Mila. Ternyata walaupun ambil kuliah jurusan keguruan dia masih suka berpidato eh... bukan tausiah.. ah bukan juga, pokoknya dia masih seperti dulu gumam si pemilik senyum memandangi Mila yang tidak jauh dari hadapannya.


.


.


Di tempat lain


Di ruangan Panitia, Laki-laki yang menggendong anak kecil itu mencuri dengar, ternyata ayah pernah kena kanker pantas saja dulu ayah sangat kurus dan botak saat tahun terakhir kami di Ma'had, ucap Laki-laki itu lirih.


"Siapa yang botak, Pak?" tanya anak kecil yang dari tadi dalam gendongannya.


"Bukan siapa-siapa, Nak! hanya opung-opung." jawabnya.


\=\=\=


Siang itu begitu terik, tantangan orang yang berpuasa. Seluruh Panitia dan peserta shalat Dzuhur berjama'ah. Lantunan ayat-ayat suci yang dibacakan Imam shalat Dzuhur itu sangat merdu. Mila yang baru saja selesai berwudhu bergegas masuk kedalam masjid.


Tanpa sengaja ia melihat Imam shalat itu ketika hendak membuka pintu, hatinya berdegub kencang sekali. Ya Allah... bang Dzaki. Mila pun tersipu malu sendiri kenapa jantungnya jadi seperti ini... perasaan apa ini ya Allah ucapnya.


Mila memakai mukenanya, saat ia hendak shalat dia melihat Amira tepat disampingnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah.... " Mila tersadar, tak berhenti dia beristighfar sampai shalatnya tidak khusuk.


Dalam sujud terakhirnya dia menangis, dan berdoa memohon ampun kepada Allah karena telah mengagumi suami orang.


__ADS_2