
Matahari sudah mulai turun, seperti berpamitan hendak keperaduannya. Langit pun berubah menjadi jingga, indah. Membuat semua mata tak mau melewatkan pemandangan alami setiap hari. Ada yang pergi dan adapula yang datang kembali.
Tuk
Tuk
Tuk
Derap langkah bunyi sepatu memecah kesunyian, alunan suara musik klasik terdengar sendu,lirih menenangkan.
Sepasang kekasih yang sedang berbulan madu , keluar dari lift kemudian menapaki lorong dengan hamparan karpet sejauh mata memandang. Kaki mereka terhenti didepan kamar yang bertuliskan nomor sama dengan kartu yang dipegang laki-laki itu.
"Silahkan masuk, istriku" membuka pintu kamar hotel, dan menarik dua koper dikanan kirinya.
"Assalamu'alaikum." ucapnya berjalan masuk kedalam, membuka sepatunya diganti dengan sandal rumah, kemudian masuk kedalam bilik berpintu coklat.
Ceeesss
Suara air yang keluar dari shower. Kehangatannya membius, seperti merefleksi saraf-saraf yang tegang kelelahan. Kurang lebih sepuluh jam berada diatas awan, menahan gelisah, melawan rasa takut yang kadang-kadang datang seperti hantu. Begitu beristighfar, berdzikir hantupun kabur.
"Dek, lama amat mandinya!" panggil Dzaki, badannya juga terasa lengket.
"Hah... seger banget,Mas! gak mau udah mandinya." Mila keluar menggunakan Kimono.
Mila membaringkan badannya, meluruskan punggungnya. Capek sih tapi lihat hasilnya. Betapa takjubnya, matanya memandang tak percaya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dulu keinginan ini, hanya mimpi semata, bahkan memang dia pernah bermimpi berkunjung ketempat yang berjarak berapa kilometer dari penglihatannya itu.
"Ternyata gak harus orang yang punya perusahaan besar, punya stasiun tv,yang bisa nginap disini. Nikmat mana lagi yang mau didustakan." ucap Mila pada dirinya sendiri.
Pemandangan terindah dibalik jendela kamar hotelnya. Menunjukkan tempat tersuci ummat muslim.
Makkah Clock Royal Tower, A Fairmont Hotel. Hotel ini terletak sangat dekat dengan posisi Masjid Al Haram. Bangunan yang memiliki 76 lantai ini diibaratkan seperti ikon Mekah karena menjadi bangunan tertinggi di sana. Makkah Clock Royal Tower berada di Kompleks Abraj Al Bait, bangunan yang memiliki tujuh menara dengan bangunan tertinggi mencapai 601 meter. Menariknya hotel ini dihiasi jam raksasa sebagai mahkota di puncaknya.
Rasanya tak sabar untuk beribadah disana.
Dia terus memandanginya, pemandangan itu semakin mengecil, mengecil, dan hitam. Mila telah hanyut dalam mimpi indahnya.
__ADS_1
Dzaki mengambil pakaiannya yang sudah tersusun rapi didalam lemari. Didapatinya istrinya yang sudah terlelap dengan posisi memonopoli tempat tidur.
"Eh... sudah pingsan aja." ucapnya tersenyum menggeser istrinya membenarkan posisi tidurnya.
***
Sepertiga malam yang indah. Kedua anak manusia bersimpuh mengucap syukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhannya. Dzaki mengambil mushabnya, perlahan dibacanya kitab sucinya. Tak seperti biasanya, istrinya tidak mendatanginya dan tidur dipangkuannya. Dzaki melihat istrinya masih khusuk dengan do'a-do'anya.
"Kabulkan do'a-do'anya,Ya Allah." ucap Dzaki dalam hati, tersenyum melihat istri manisnya.
Hampir mendekati waktu subuh, mereka turun dan keluar dari hotel,berjalan kaki menuju masjidil harom, perjalanan yang hanya menempuh waktu tujuh menit saja.
Mila tak berhenti mengumbar senyum, merupakan kebahagiaan setiap manusia,bisa melaksanakan shalat disana. Pusat arah semua penduduk muslim dunia melaksanakan ibadah wajib setiap waktu.
****
Labbaikallahumma Umratan....
Rangkaian syarat dan rukun semua sudah terpenuhi.
"Ini seperti mimpi, ini seperti mimpiku waktu itu ya Allah." ucap Mila dalam hati, menoleh kesamping kanannya. Melihat senyum suami solehnya yang selalu ada untuknya dengan senyum istimewa.
Ya... ini hadiah. Hadiah dari keteguhan hatinya merobah pribadinya menjadi anak yang berbakti, tak lagi membuat malu kedua orang tuanya, hadiah dari keteguhan hatinya untuk bertaubat.
Hadiah dari Allah dirasakannya datang bertubi-tubi. Mulai dari ayahnya sembuh, ia mendapat suami yang sangat baik, kondisi ekonomi yang berkecukupan, mertua yang sangat menyayanginya. Ya ini hadiah... memang hadiah.
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khatab radiallahu anhu. Ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ditujunya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dihijrahkannya”
Inilah buah dari keteguhan hatinya, yang hijrah karena Allah semata.
Bertaubatlah selagi nyawa masih dibadan, berhijrahlah selagi Allah masih memberikan kesempatan.
****
Dzaki membenarkan topinya, geer dari tadi istrinya tak berhenti memandanginya.
__ADS_1
"Mas jelek ya,dek?"
"Kan memang jelek dari lahir, Mas."
"Hehe... becanda, Botaknya gak menghilangkan kegantengan mas yang paripurna kok." ucap Mila sambil berjalan ke kamar mereka, menenteng beberapa barang yang mereka beli di pasar "borong" atau pasar Jafariah.
"Aku juga tidak mencintaimu karena fisikmu...." eh...kenapa aku bisa mengatakan ini, ucap Mila dalam hati. Menutup mulutnya, pipinya panas seketika.
Cup
Benda kenyal itu menempel cepat di bibirnya. Mila merasakan kelembutan sepersekian detik, lalu si empunya bibir sudah pergi meninggalkannya masuk kekamar mandi.
"Kebiasaan, ngentup. Kayak tawon." Mila memegang bibirnya.
Setelah membersihkan diri, keduanya duduk di karpet sambil memasukkan pakaian ke koper. Tirai jendela dibuka lebar. Pemandangan ini sangat indah. Kalau saja boleh untuk tetap tinggal, pasti akan sangan bahagia, dan kantong sang suami akan menderita.
"Terimakasih untuk semuanya, Mas."
"La syukron 'alal waajib, tidak ada terimakasih dalam hal kewajiban. Membahagiakan mu adalah kewajiban ku."
"Ayo, tidur. Besok kita berangkat pagi. Jaga stamina. Adek sudah minum habbasaudanya?"
"Belum, Mas. Adek lupa." berdiri mengambil satu butir pil berwarna hitam pekat. Dengan sangat mudah Mila menelannya. Pil selesai selanjutnya giliran madu. Mila mengisi penuh air didalam gelasnya. Mila memasukkan satu sendok penuh berisi madu, kemudian menahannya didalam mulut dan ditelannya bersama air satu gelas yang barusan diminumnya.
"Minum madu kok susah sekali, dek!"
"Iya, Mas. Gak ketelan kalau gak pakai air."
Dzaki berlalu menuju tempat tidurnya sambil menggelengkan kepala.
"Minum obat seberapa banyak aja, bisa sekali telan. Lah... madu yang cair kayak air, susah amat nelannya. Istriku yang aneh." pikir Dzaki
"Ayo, tidur." Dzaki menepuk kasur disebelahnya.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Maaf para readers... episode kali ini singkat. mohon doanya ya semua, semoga semangat menulis saya tumbuh lagi.
Jangan lupa like, rate, vote dan berikomentar di kolom ya. 😊