Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Tak sabar


__ADS_3

"Mas, bangun..., kok habis subuhan tidur lagi!" Perempuan yang masih menggunakan handuk dikepala membangunkan suaminya.


" Hm.... ngantuk banget sayang, sebentar lagi ya" jawab laki-laki itu.


Perempuan itupun meninggalkannya, mengambil handuk yang dipakainya kemudian mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Tak berapa lama dia memakai kerudung dan bergegas keluar kamar.


" Pagi ayah..., " seperti biasa perempuan itu mencium pipi ayahnya.


" Ayah, mau sarapan nasi atau roti?"


" Terserah nak, apa saja boleh." Tetap membolak-balik koran


" Nasi goreng saja ya yah, sekalian Winda masak banyak, Mas juga sukanya sarapan nasi goreng " ucapnya mengambil beberapa bumbu dapur dalam kulkas.


Mata laki-laki paruh baya itu mencari sekeliling, Winda yang melihat mengerti. Ayahnya pasti mencari suaminya.


" Mas Faruk masih tidur yah, mungkin kecapean, tadi malam kami sampai rumahnya jam 03.00 Pagi yah, jalanan macet parah "


" Makanya ayah bilang gak usah ke Batu, ngapain? Jalan-jalan honeymoon kok kesana, mau makan apel doang?"


" Hahaha... gak papa dong yah, Winda ajak mendaki gunung masnya gak mau. Padahal kan keren " ucapnya tertawa


" Jangan siksa suamimu dengan hobby mu itu, tinggalkanlah nak, kau sekarang sudah punya suami "


" Udah yah... Winda sudah meninggalkannya, Winda akan fokus mengurus mas dan ayah!, ayah, tenang saja! Winda sudah normal sekarang haha"


Karena terlalu asik bicara mereka tidak menyadari ada manusia yang sedang menyeduh kopinya sendiri.


Sambil mengaduk kopinya, Faruk duduk disebelah Yahya mertuanya.


" Ngantuk banget buya... kalau diturutkan rasanya mau tidur saja!" ucapnya yang sesekali menutup matanya melawan ngantuk.


" Loh mas... kok buat sendiri kopinya!" Winda merasa malu, sebagai istri harusnya dia yang melakukannya.


" Ya gak papa dek, tadi mas lihat adek sibuk sama ayah" jawab Faruk tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu segar pagi ini.


Winda dan Faruk sudah menikah dua minggu yang lalu, semakin hari sikap Winda semakin menyenangkan, ternyata dia banyak omong juga, gak pendiam seperti yang aku tau ucap Faruk dalam hatinya.


Mereka tinggal dengan Yahya, dari awal mereka menikah, Yahya memang sudah memberikan sarat kepada Faruk. Kalau nanti jadi menikah dengan Winda, Winda akan tetap tinggal dengannya, karena anak Yahya hanya Winda, dia tidak mau berpisah dari anaknya. Bukannya zholim, tapi lebih baik seperti ini fikirnya, selain itu Faruk juga sudah tidak punya orang tua lagi.

__ADS_1


" Dek...nasi gorengnya mana?" Faruk menunggu dengan piring kosong ditangannya.


Suara Faruk menyadarkan lamunan Yahya


" Maaf mas.." Winda menuang nasi kepiring suaminya, dia merasa bersalah karena melupakan suaminya dan sibuk membalas chat teman-temannya.


" Gak papa, bukan salahmu. Yang salah itu tukang rujak! " jawab Faruk santai sambil melahap nasi gorengnya


" Kok tukang rujak? "


" Iya, Aquarium dijadiin tempat buah."


" Haha... , Krisspii! " jawab Winda tersenyum


Kemesraan mereka membuat laki-laki paruh baya di depan mereka menjadi tenang. Anakku sudah benar-benar menerima suaminya.


\=\=\=\=


Kaki jenjang itu melangkah tegap kedepan, tidak ada koper, laki-laki itu hanya membawa tas ransel saja.


Tangannya menghentikan taksi yang melewatinya. Kita ke Mudzaki Travel ya pak! ucapnya kepada driver.


" Assalamu'alaikum buya.." ucapnya sambil menyunggingkan senyum khasnya, Buya Latif dan ummi Ana yang kebetulan ada didalam ruangan terkejut melihat kedatangan anaknya.


" Wa'alaikumsalam Dzaki! kok gak bilang-bilang mau pulang! Ummi gak masak apa-apa loh! Tunggu-tunggu, ummi telepon Mira dulu siapa tau dia masak banyak hari ini!" ucap ummi Ana panik, mengambil handphone dalam tasnya


" Ummi...ummi, kita beli aja mi!" Dzaki memeluk umminya.


Ana memang slalu begitu, rasanya dia tidak berguna sebagai seorang ibu,kalau anaknya makan masakan dari restoran atau rumah makan. Masakan ummi memang tidak seenak masakan restoran, tapi ummi bisa jamin, masakan ummi lebih sehat dari masakan mereka. Itu yang selalu dikatakan Ana.


" Mi...besok antar Dzaki ya!" ucap Dzaki melepas pelukannya


" Besok nak? wah.. sepertinya ada yang sudah tidak sabar buya!" jawab Ana menggoda


" Ummi... mumpung besok tanggal merah, dua hari kedepannya kan memang kampus libur. Jangan buang-buang waktu. Bulan depan Dzaki pulang udah langsung nikah aja!, jadi persiapan buat resepsi ada satu bulan, Dzaki kasi waktu panjang buat ummi dan mamak mempersiapkannya haha" ucap Dzaki tertawa


" Kenapa ketawa? ummi malah senang, sudah lama ummi memimpikan menggelar pesta pernikahanmu di hotel ini, dengan konsep begini, undangannya seperti ini, bla..bla..bla..." panjang lebar Ana menjelaskan impiannya membuat acara ngunduh mantu.


" Keluarga Arpin sudah tau?" tanya buya Latif

__ADS_1


" Sudah buya, tadi waktu sampai bandara Dzaki langsung telepon ayah, kata ayah ya silahkan, waktunya pas. Mila juga besok sudah dirumah"


" Memangnya dia kemana? bukannya Mila memang dirumah saja, maksud ummi diakan gak kost."


" Mila KKN ummi, sudah satu bulan mengabdi di desa apa gitu namanya Dzaki lupa, katanya kampung melayu diujung kota"


" Oo..ummi kok baru tau ya kalau ternyata Dzaki itu kep**o! "


" Haha..anak muda ummi, biar sajalah. Yang dikepoin juga calon istri ya ki!" buya Latif memukul pundak anaknya pelan, berlalu keluar membiarkan ibu dan anak bicara panjang lebar.


\=\=\=\=


Mahasiswa beralmamater kuning berdiri berbaris didepan ruangan, bergantian semua siswa menjabat tangan mereka, bahkan sampai ada yang memeluk mereka. Hari itu hari terakhir mereka melihat kakak-kakak yang mengajari mereka banyak hal-hal baru.


Memberikan motifasi-motifasi untuk mereka yang tinggal didesa.


" Kak, jangan lupokan kami yo, kakhang kok ado waktu kakak datang la kemakhi!" peluk anak berseragam merah putih itu menangis.


" Iyo, nanti kakak datang kok ada waktu luang yo, jangan pala menangis. Udah jolek, tambah jolek la kau menangis. Tengok ingus kau tu ha, macam angka sebolas kakak tengok!" ucap Mahasiswa yang dipeluk


" Kakak ni begitula, sodihpun awak bisa tegolak dibikinnyo!"


Haha..., semua orang tertawa melihat Mila berbicara dengan siswi kelas Enam, dari pertama mereka disana Minah menjadi teman mereka, Minah itu anak yang paling ramah, dia juga pintar. Jadi wajar, jika dia jadi orang yang paling sedih ditinggalkan Mila dan teman-temannya.


Setelah urusan disekolah beres, mereka semua berpamitan dengan kepala desa dan juga ibu pemilik rumah tempat mereka tinggal selama satu bulan ini.


deeert...deeert


"Assalamu'alaikum yah.."


"Wa'alaikumsalam, jadinya kau pulang hari ni Mila?"


" Jadi yah, ini sudah mau jalan. Tapi Mila ke kampus dulu yah, mungkin sore baru sampe rumah."


" Bah..iyanya!, hati-hati kau ya, jangan kencang-kencang naek keretanya!"


Barang-barang sudah masuk semua kedalam angkot yang mereka sewa, kompor, wajan beserta teman-temannya, sampai cobek tak lupa mereka bawa pulang kembali dan memasukkannya kedalam angkot.


Tampak wajah-wajah lega meninggalkan desa kecil itu, selanjutkan tinggal menyelesaikan laporan-laporan penelitian.

__ADS_1


Merekapun pulang dengan membawa sejuta cerita, pengalaman dan juga kado-kado kecil dari anak-anak didik mereka selama disana.


__ADS_2