Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Tifestan Forte


__ADS_3

Perasaan lega menyelimuti hati perempuan manis itu, sebenarnya sejak kehamilannya dulu dia sudah melupakan semua yang sudah terjadi. Tanpa ada sedikitpun menyisakan benci.


Diletakkannya Hafiz yang tertidur lelap dalam pangkuannya sepanjang perjalanan pulang, diatas kasur. Diapun ikut membaringkan tubuhnya disebelah anaknya itu. Mila meluruskan badannya yang serasa kaku, padahal perjalanan dari alun-alun kerumahnya hanya memakan waktu sekitar 45 menit, tapi Mila merasa sangat capek. Ditambah lagi ada Hafiz yang tertidur dan meminta Asi di sepanjang perjalanan.


Netranya menatap langit-langit kamar. Pandangan itu semakin kosong, sedikit mulai membayang, dan gelap.


"Ma... ma, Ma. Umma!" Hafiz memukul-mukul wajah ummanya. Karena tidak ada respon, Hafiz menangis.


Dzaki berlari menuju kamar mereka, sedari pulang tadi dia mencuci mobilnya di halaman rumahnya.


"Kenapa, sayang! kok nangis? Umma, anaknya nangis kok di biarkan?" ucap Dazki menggendong Hafiz.


Tak ada respon, Dzaki mengguncang bahu Mila.


"Umma...bangun! adek!" Dzaki mulai panik. Tangannya memegang tangan Mila, panas. Tangannya pindah ke dahi, panas.


Dzaki mengambil gawainya, menggulir kontak dan menemukan satu nama. Bidan Mawar, bidan yang rumahnya di komplek perumahan tempat mereka tinggal.


Sepuluh menit kemudian Mawar sampai kerumah dengan membawa tas yang tidak terlalu besar.


"Kenapa, Pak? sudah berapa hari demamnya?" tanya Mawar masuk kedalam rumah, mendapati Dzaki yang masih menggendong anaknya.


"Dia sehat-sehat saja, Mba. Kami baru pulang dari alun-alun, memang tadi istri saya bilang kalau dia capek. Beberapa hari ini pekerjaan rumah dikerjakan sendiri, karena asisten kami sedang sakit." ucap Dzaki, disusul anggukan dari Mawar.


"Tekanan darahnya sangat rendah, suhu badannya 40 derajat celcius." Mawar mengambil termometernya.


"Allah!" Mila membuka matanya perlahan, rasa sakit dikepalanya tak tertahankan.


"Mas!" panggilnya. Matanya dipejamkannya.


"Iya, dek. Adek kenapa? apanya yang sakit?" tanya Dzaki menghampiri tempat tidur, Hafiz masih dalam gendongannya.


"Tolong, ambilkan obat Mila, didalam tas yang ada dalam lemari. Tasnya kecil warna hijau, Mas!" ucapnya menjelaskan. Dzaki membuka lemari, mencari tas hijau sesuai dengan intruksi istrinya.


Dapat! Tas kecil warna hijau. Dzaki membukanya dan menemukan tiga papan pil berbungkus warna hijau dan kuning.


Tifestas Forte, Dzaki membacanya. Memberikannya kepada Mawar yang masih setia menunggu disana.


"Ini obat apa, Mba?" bisik Dzaki. Mawar mengambilnya.

__ADS_1


"Mana, Mas?" panggil Mila.


"Sejak kapan, umma Hafiz mengkonsumsi obat ini?" tanya Mawar.


"Sebenarnya dari masih gadis, Mba. Dari dulu saya sering sakit kepala. Kata dokter kalau masih bisa tahan, obatnya gak usah diminum. Tapi beberapa hari ini, sakitnya lumayan, Mba. Jadi, saya minum lagi." Mila menjelaskan.


"Sebenarnya ini jenisnya obat keras, meredakan nyeri dari yang ringan sampai sedang. Ini buat ngantuk loh, dan kurang bagus untuk ibu menyusui." Mawar terlihat cemas.


"Sudah sering, umma Hafiz hilang kesadaran seperti ini, Pak?" tanyanya lagi.


"Seingat saya, baru dua kali, Mba. Pertama sewaktu hamil Hafiz." Dzaki mengingati.


"Saran saya, coba ummanya medical check up. Supaya tau, kondisi badannya yang sebenarnya. Jangan konsumsi obat jangka panjang,deh. Gak baik buat kesehatan juga." Mawar, membersihkan termometernya dengan alkohol. Mila mengambilnya dengan sopan dan menggunakannya sendiri.


"38,2 sudah turun suhunya, tapi masih belun normal. Kalau suhu badan tinggi begini, ya... kita bilang saja lah demam, itu tandanya terjadi reaksi dari sistem imun dalam melawan infeksi virus, bakteri, jamur, atau parasit penyebab penyakit, makanya saya sarankan untuk check up."


"Pak Dzaki,tolong buatkan teh panas saja, buat yang manis. Atau mau di pasang infus saja? tapi kasian Hafiz nanti kalau mau nyusu gimana?" Mawar mengambil Hafiz dari gendongan.


"Hafiz anak soleh, ayo sama bude sebentar, Abi mau buatkan umma minum dulu!" ucap Mawar, Hafiz tersenyum ramah. Namanya juga tetangga, bukan hanya sekali ini saja Hafiz melihat Mawar, jadi dia mau saja digendong.


"Kalau sedang menyusui begini, jangan sembarangan minum obat, dek." ucap Mawar.


Mungkin karena sudah biasa, Mila tidak pernah mengadukan sakitnya kepada suaminya. Nanti juga sembuh sendiri kalau bangun tidur! ucap Mila enteng, jika sakit kepalanya kambuh.


"Ini,di makan obatnya!" Mawar memberikan tiga butir pil. Mila langsung menelannya, kemudian meminum beberapa teguk air. Disusul meminum teh manis panas yang dibawa Dzaki. Mila semangat menghabiskannya, tak mau sakit dan lemah berlanjut, kasian Hafiz yang dari tadi sudah tak sabar ingin bersama ummanya.


"Kalau begitu, saya permisi. Cepat sembuh, Umma Hafiz!" pamit Mawar ramah. Dzaki menggendong Hafiz yang sedari tadi bermain dipangkuan Mawar.


"Ayo, kita antar bude Mawar dulu." ajak Dzaki. Hafiz sangat girang kalau sudah melihat Abinya.


"Mma... umma!" ucapnya terbata. Tangannya menunjuk perempuan yang sedang terbaring didepannya itu.


"Ya, Allah... beri hamba kekuatan melawan sakit ini. Anak hamba masih membutuhkan hamba." do'anya lirih, hampir menangis.


Pintu kamar kembali terbuka, Dzaki dan Hafiz masuk kembali. Mila menyeka air disudut netranya, jangan sampai suaminya melihatnya.


\=\=\=\=\=


Laki-laki paruhbaya baru sampai kerumahnya. Menggunakan baju koko dan sarung, serta kopiah yang dikenakannya membuat semua orang faham, kalau dia baru pulang dari mesjid.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" Arpin masuk kedalam rumah, meletakkan kunci kereta diatas nakas.


"Wa'alaikumsalam," suara dari dalam kamar.


"Bang, kita telepon Mila yok, bang. Kok dari sholat tadi tenampak-nampakku mukanya la." Mai mengambil gawai yang selalu digunakannya untuk panggilan vidio.


tuuut... tuut, suara panggilan yang belum diangkat. Dalam layar tertulis kata berdering. Tak ada jawaban, mereka mencobanya sekali lagi. Tapi hasilnya tetap nihil.


"Semoga boruku, baik-baik saja!, nanti kalau ditengoknya hapenya, telepon baliknya dia itu nanti!" ucap Arpin menenangkan Mai yang tampak cemas.


"Aamiin, semoga cepat dia menengok hapenya." ucap Mai meletakkan gawai pipih itu kedalam lemari.


Hape itu dibelikan Zain, agar ayah dan maamknya bisa melihat adiknya nun jauh dipulau Jawa.


\=\=\=\=\=


Laki-laki itu terus memandangi istrinya yang sedari tadi tak berani menatapnya.


"Ada yang disembunyikan dari mas, dek?" tanya Dzaki selidik.


"Tidak ada, mas!" jawab Mila jujur, dia hanya takut suaminya marah. Karena dia mengkonsumsi obat pereda nyeri tanpa kompromi dulu dengan suaminya.


"Besok kita ke rumah sakit!" tital Dzaki. Mila menggelengkan kepalanya.


"Mila baik-baik saja, insya Allah. Mila gak suka disuntik. Mas, tolong belikan Mila madu, dan kapsul Habbatussauda saja!" ucap Mila menyandarkan tubuhnya di ranjang.


Memang sedari melahirkan, Madu dan kapsul hitam itu jarang di minumnya lagi, tak seperti dulu saat belum hamil.


Thibbun nabawi, metode pengobatan ala Rosulullah. Mereka terapkan semenjak menikah, bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit tapi mereka percaya, dengan mengkonsumsi madu dapat meningkatkan imunitas tubuh.


Hafiz menangis kehausan, sedari bangun tidur tadi dia belum ada menyusu. Mila mengangkat tangannya meminta Dzaki memberikan Hafiz kepadanya.


"Ya sudah, mas beli madu dan habbatussaudanya sekarang, ya!" ucap Dzaki meninggalkan Mila dan Hafiz.


Dering handphone Mila berbunyi, gawainya masih ada didalam tas yang ada diatas meja riasnya. Mila hendak mengambilnya, tapi Hafiz sedang asik menyusu, tampak seperti sangat kehausan.


"Anaknya umma, haus!" Mila mengusap kepala putranya.


"Biar saja lah, nanti kan bisa ditelepon balik!" ucap Mila mengabaikan panggilan yang sudah dua kali berdering.

__ADS_1


__ADS_2