Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Lahir


__ADS_3

Jum'at Pagi, Seperti biasa perempuan itu sedang berada diatas paha kanan suaminya, matanya terpejam, tangannya terus mengelus perutnya. Kumandang surah Al-Kahfi merdu ditelinganya.


"Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.” (HR. Abu Bakr bin Mardawaih)


Sampai ayat ke 110 dibacakan perempuan itu tak bergerak, tetap pada posisinya semula, tangan laki-laki itu memegang kepalanya, panas!


"Dek, adek...." Dzaki membenarkan posisi istrinya.


"Astaghfirullah... Mila!" panggil Dzaki, dia teringat kata-kata adik iparnya waktu itu, tapi tetap tak ada respon. Digendongnya istrinya itu.


"Mang!" teriak Dzaki membuat panik, mamang yang sedang membersihkan halaman belakang rumah, dia pun langsung berlari menemui tuannya yang sepertinya sedang panik.


"Saya, pak." ucap suami bi Lastri itu yang juga ikut panik, melihat perempuan yang sudah terkulai lemas dalam pelukan suaminya.


"Tolong bukain pintu, sekalian tolong bukakan pagar,Mang!" Dzaki memasukkan Mila kedalam mobil, dibantu beberapa tetangga yang datang mendengar suara Dzaki memanggil mang Asep barusan.Bi Lastri yang baru sampai, langsung berlari menghampiri mobil Dzaki.


"Pak, neng Mila kenapa?" tanyanya panik.


"Pingsan, Bi. Ayo bibi ikut saja!" bi Lastri masuk kemobil.


Rumah sakit Islam UNISMA Malang.


Mila sudah berada diatas brangkar, saat dalam mobil dia sudah sadar kan diri, membuat Dzaki sedikit lega. Perawat mendorongnya memasuki IGD.


"Bagaimana keadaannya,Dok? Istri saya kenapa?"


"Tekanan darahnya sangat rendah,Pak. Sepertinya istri bapak kecapean, dan kurang tidur, saya tidak berani mengambil tindakan apa-apa. Karena ibu ini pasien dokter Humaira, lebih baik kita bawa ke ruangannya saja. Biar dokter memeriksanya." Dokter itu berlalu meninggalkan Dzaki dan beberapa perawat yang sudah siap membawa Mila keruang prakter dokter Humaira Rahma, spOg.


"Kenapa, Dek?" kejarnya sedikit berlari, dokter Humaira baru saja hendak menyusul ke IGD, karena sewaktu dijalan tadi Dzaki menghubunginya.


Mila dibaringkan dibrangkar ruangan dokter spesialis kandungan itu, cairan bening dituangkan keatas perutnya.


Deg... Deg... Deg... Deg


Suara detak jantung bayi dalam kandungan Mila.


"Detak jantungnya stabil, posisinya pas, bahkan sudah mulai masuk kejalan lahir. Jaga kondisi kesehatannya dek, Vitaminnya diminum kan?" Dokter tetap berdiri disebelah Mila, "Gak apa-apa, tiduran saja kalau pusing." ucapnya melihat Mila yang memaksa ingin duduk, karena merasa segan dengan dokter Humaira.


"Semuanya bagus, pak Dosen. Sehat, bahkan air ketubannya juga masih normal. Saya juga heran, kenapa belum keluar juga. Karena masih sehat, saya tidak menyarankan untuk operasi, karena Mila juga kekeh pengen normal, saya rasa juga bisa normal ini. Kita lihat tiga hari lagi lah, kalau belum lahir juga, kita harus ambil tindakan. Masak iya sih, hamilnya sampai masuk ke 11 bulan." ucapnya tersenyum ramah.


"Ayo nak, keluar! Kasihan ibumu!" ucapnya memegang perut Mila.


"Jadi demamnya itu gimana,dok?" tanya Dzaki


"Demam apanya?, Mila tidak demam sama sekali." balas Humaira.


"Mila mau istirahat dirumah sakit, atau istirahatnya dirumah saja?" tanya Humaira seperti menggoda.


"Dirumah lah, kak! Jadi sakit nanti kalau aku disini." jawab Mila cepat.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Perempuan paruh baya itu memberanikan diri berbicara pada majikannya.


"Pak, bibi boleh tanya sesuatu?" ucap bi Lastri menghampiri Dzaki yang sedang membawa teh manis panas diatas nampan. Tadinya bi Lastri yang mau membawanya, tapi Dzaki mengambilnya, dia ingin merawat istrinya dengan tangannya, tanpa merepotkan bi Lastri dan mang Asep. Dia lebih memilih tidak masuk kerja hari ini.


"Mau tanya apa, Bi?"


"Gini pak, apa si eneng gak punya keinginan yang belum diturutin gitu, pak?, siapa tau kalau nanti sudah kesampaian dedek bayinya keluar." ucap bi Lastri menunduk.


"Maksud bibi Ngidam, ya?" disusul anggukan bi Lastri.


"Nanti saya tanya deh, sejauh ini dia memang gak pernah minta apa-apa sih,Bi." Dzaki memikirkan ucapan bi Lastri, mungkin juga sepertinya, kan kalau cerita-cerita orang yang istrinya sedang hamil pasti banyak maunya, harus dituruti pula. Kalau tidak, nanti anaknya ngences terus.


Ckleek


"Permisi, Neng. Teh manis panasnya! Silahkan! Ada tambahan?" Dzaki meletakkan gelas diatas meja didalam kamar.


"Terimakasih,Mang. Ini aja dulu, nanti kalau ada, saya panggil lagi!" jawab Mila menyeringai. Satu gelas pokat kocok masih ada dipangkuannya.


"Ngabisin ini aja susah, Mas. Kok sudah ditambah teh. Manis lagi!, nanti adek makin manis dong, Mas." ucap Mila manja. Dzaki duduk disebelahnya.


"Adek, menginginkan sesuatu?" ucap Dzaki mulai serius.


"Gak ada, Mas!"


"...." Dzaki hanya diam.


"Maksud mas, ngidam kan?, Ngidam itu hanya sugesti mas, jangan percaya. Kalau ngidamnya hal yang mudah gak apa-apa dituruti. Tapi kalau ngidamnya nyusahin, mesti keluar beli makanan tengah malam, atau gak buat makanan tengah malam, kan kasian suaminya,mas. Memangnya, mas mau buat seperti itu?"


"Enggak, jangan ya, dek. Jangan!" Dzaki membayangkan dia harus bangun tengah malam keliling komplek mencari tukang sate yang berjualan di malam hari, seperti cerita teman-temannya di kantor.


"Ini kehendak Allah, belum saatnya dia keluar. Nanti kalau su...." Mila memegang perutnya.


"Mas, perut adek sakit."


"Ya Allah, sakit dek?, Kita kerumah sakit ya!" Dzaki mulai panik, Mila menunjuk jilbabnya yang tergantung, Dzaki membantu memakaikannya. Di angkatnya tubuh mungil itu dengan hati-hati.


BASAH


Kasur yang diduduki Mila, basah. Rasanya seperti ada bagian yang meletus dalam perutnya. "Apa ini yang dimaksud air ketuban?" gumam Dzaki yang semakin panik.


"Bi Lastri, bi...."


"Iya, Pak!" Bi Lastri menghampiri Dzaki,


"Bi, itu air apa?" Dzaki menunjuk tempat tidur dan sedikit bekas tetesan dilantai.


"Sepertinya ketubannya sudah pecah, Pak. Kita harus segera kerumah sakit."


\=\=\=\=\=


"Banyak berzikir, sayang. Yang kuat ya!" Dzaki terus mengelus kepala istrinya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya menggenggam erat tangan istrinya.

__ADS_1


Buliran air mata jatuh dari sudut mata istri manisnya itu, tak ada kata "Aduh" yang terucap. Bibirnya terus komat-kamit, berzikir lirih, nyaris tanpa suara.


Sudah satu jam mereka berada diruang bersalin, selang infus sudah terpasang.


Dokter Humaira terus memberikan rangsangan berupa cubitan-cubitan lembut pada permukaan perut Mila. "Ayo, dek. Ajak anakmu komunikasi, ajak dia keluar." ucapnya.


"Ayo, Nak... bantu Ummi ya!" Mila berucap dalam hati, ikatan batin antara ibu dan anak yang masih menyatu pasti akan sampai walau tak terucap dari lisan. Mila merasakan sakit yang semakin menjadi-jadi.


Dieratkannya genggaman tangannya, "Mas" ucapnya menatap suaminya. Netra mereka bertemu, seolah saling menyemangati.


"Allah!"


"Ayo dek, tarik nafas... buang, bismillah!"


"Aaagh... Allah, Allah, eeggghh" tangan Mila terus menggenggam tangan suaminya, Dzaki tak kuasa menahan tangis. Tak tega rasanya, melihat istrinya sangat kesakitan.


"Sedikit lagi, dek. Kepalanya sudah kelihatan." Humaira tampak senang.


"Aaghh... Allahu Akbar!" Serasa lepas dari ikatan tali yang sangat kuat, bebas, lepas... plong. Nyawa serasa pergi sejenak kemudian datang kembali.


Ooek... Oek..., tangisan bayi menghilangkan setengah dari rasa sakit yang dirasakan Mila tadi. Setengahnya lagi hilang mendengar Dzaki mengumandangkan Adzan ketelinga baby boy mereka.


Bayi mungil dengan berat 2,8 itu berkulit putih, dengan bulu mata yang lentik. Lesung pipinya persis Dzaki.


Dzaki memberikan anaknya kepada suster, karena dia hendak masuk kembali keruangan bersalin, menemani istrinya.


"Ada apa, dokter? kenapa wajah dokter terlihat panik?" tanya Mila yang masih lemah. Perutnya terasa sakit seperti hendak melahirkan lagi.


"Sabar ya, dek. Masih ada yang harus dikeluarkan." Dokter humaira masih menggunakan sarung tangan.


"Tenang, ya dek." Humaira dibantu suster mulai menarik plasenta yang masih didalam.


"Suntik Oksitosin!" ucap Humaira pada suster, disusul anggukan darinya.


Obat itu diberikan untuk membuat rahim berkontraksi kuat untuk mengeluarkan plasenta, sekaligus mencegah pendarahan.


Rapuh, tali plasenta itu rapuh. Bisa jadi akibat post date. Dokter dan suster bekerja sama untuk menyelesaikan prosesnya. Berusaha melakukan yang terbaik.


Dzaki begitu lega melihat senyuman dari Humaira, dia tersenyum dan mengangguk. Selesai, persalinan normal, lancar dan keduanya sehat. Mila sedang dalam pemulihan.


Ucapan selamat diterima dari keluarga, tetangga, rekan kerja dan pembaca,Eh.


"Sekarang sudah jadi Ummi, Terimakasih sudah berjuang, sayang. I love U." Dzaki mencium pucuk kepala Mila.


"Kok Ummi, bukan Umma?"


"hm"


"Adek maunya Umma!" rengek Mila


"Iya, Umma." terserah deh, asal kan kau bahagia,gumam Dzaki.

__ADS_1


Kebahagian rumah tangga mereka kian lengkap dengan hadirnya si buah hati.


Sekarang tinggal berjuang memberikan pendidikan yang terbaik untuk penerus generasi. Semoga menjadi generasi Qur'ani.


__ADS_2