Keteguhan Hati

Keteguhan Hati
Persahabatan dimulai


__ADS_3

waktu serasa begitu cepat berlalu, tak satu pun perkembangan dari baby Hafiz terlewatkan oleh dua orang tua baru itu.


Mereka tidur bertiga satu kasur, disaat orang lain memilih menidurkan anak mereka dalam box bayi supaya terbiasa mandiri, tapi tidak dengan mereka.


"Nanti saja kalau sudah usia sekolah, Hafiz baru tidur dikamarnya sendiri, atau kalau nanti dia keburu punya adik!" ucap Dzaki memandang Mila yang juga menginginkan Hafiz belajar mandiri sedari bayi.


Hafiz tumbuh menjadi anak laki-laki yang aktif, dan pastinya lucu. Memasuki usia satu tahun, dia sudah lancar berjalan, meski belum banyak kata-kata yang mampu diucapkannya. "Sedikit bicara, banyak bekerja." istilah yang pantas untuk Hafiz kecil. Mila harus lebih ekstra menjaganya, jangan sampai lalai sedikitpun. Seperti hari ini. Mila merebahkan tubuhnya diatas karpet didepan televisi. Tempat Hafiz bermain-main dengan lego dan beberapa mainan lainnya.


"Haduh, seronoknye dapat baring!" ucap Mila menirukan ucapan salah satu kartun kesukaannya.


Mila hari ini pekerjaannya lebih banyak, bi Lastri sedang tidak enak badan, jadi tidak masuk kerja. Terpaksa Mila yang membereskan semuanya, mulai dari menyapu, mencuci pakaian,dan sekarang baru selesai memasak. Dulu, sebelum ada Hafiz, kalau hanya sekedar flu, bi Lastri tetap boleh bekerja, tapi tidak kalau sekarang. Mila dan Dzaki sangat menjaga kesehatan anaknya, bahkan terlalu berlebihan.


"Ma... Umma!" Hafiz merebahkan tubuhnya diatas perut Mila. Mila lengsung duduk mendengar anaknya memanggilnya.


"Hafiz bilang apa barusan,Nak? coba sekali lagi! Hafiz bilang Umma?, yee... Hafiz bisa panggil Umma." Mila sangat kegirangan mendengar anaknya bisa memanggilnya dengan sebutan yang benar. Semua orang tua pasti sangat bahagia merasakan hal yang seperti itu.


"Halo, Mas!" Mila langsung menelfon suaminya.


"Iya, ada apa,Dek? Mas lagi ada kelas!" Dzaki terpaksa keluar dari ruangannya mengajar, dilihatnya panggilan dari istrinya. Mungkin sangat penting, karena Dzaki tau bi Lastri tidak masuk kerja hari ini.


"Mas, Hafiz barusan bisa bilang Umma! yee!" Suara Hafiz yang mengoceh pun terdengar oleh Dzaki.


"Ha! Umma?, Abi bisa gak?, speakerkan teleponnya,Dek!" perintah Dzaki, Mila mengiyakan walau belum mengerti untuk apa.


"Udah, mas!"

__ADS_1


"Hafiz, panggil Abi coba! A-b-i!"


"Ba-ba!" ucap Hafiz terbata.


"Bukan Baba, Nak. Aa... Bii!" ucap Dzaki yang tak sabar ingin cepat-cepat pulang.


\=\=\=\=\=


Minggu pagi, Mila berjalan mendorong stroller menyusuri alun-alun kota Malang. Hafiz yang sedang melihat awan perlahan mengantuk dan tertidur mendengarkan murottalal-qur'an melalui speaker kecil yang diletakkan Mila disebelahnya.


Daru kejauhan Mila melihat sosok perempuan yang juga mendorong stroller kearahnya, dari kejauhan perempuan cantik itu sudah mengumbar senyum.


"Halo, Fadhli Fadhlan!" ucap Mila melihat sikembar yang juga tertidur.


"Tidur juga, ya!" ucap Winda, melihat Hafiz yang sudah terlelap.


"Wah, sudah lama gak ketemu ya,Mil. Terakhir ketemu waktu Aqiqahannya Hafiz,ya! Tau-tau udah gede aja!" ucap Winda yang gemas mencubit pipi Hafiz yang tembem.


Dzaki memang mengundang keluarga buya Yahya, sewaktu acara Aqiqahan Hafiz, satu minggu setelah kelahirannya. Winda ikut datang, tapi Faruk tidak, karena ada urusan pekerjaan diluar kota.


"Eh, Mila. Mana coba, Om belum liat ponakan,om!" Faruk melihat Hafiz yang tersenyum sendiri.


"Ih, kok ganteng!" ucap Faruk.


"Iya lah, ganteng! seperti ayahnya." ucap Dzaki dengan sangat pede.

__ADS_1


Mila dan Winda bercerita seperti sudah sangat akrab. Faruk dan Dzaki mendorong stroller anak mereka masing-masing. Membiarkan kedua ibu muda itu waktu untuk bercengkrama.


"Makasi ya, Mil. Mba sekarang tau rasanya, bagaimana sakitnya kalau suami kita dekat atau didekati oleh perempuan lain!"


"Maksud, mba?" tanya Mila tak paham.


"Ingat gak, pertemuan kita disini waktu kamu masih hamil?, Mulai saat itu, mba merasakan hal yang aneh, mungkin itu yang namanya cemburu. Mas Faruk itu orangnya jarang banget bisa ngobrol akrab sampai tertawa lepas, dia itu orangnya jaim banget! Tapi sewaktu bicara sama kamu waktu itu, mba melihat sisi lain darinya. Mba jadi takut, dia nyaman sama kamu!."


"Maaf, ya Mila. Dulu mba sering ganggu suami kamu. Mba khilaf, mba gak bisa mensyukuri suami yang mba punya. Ternyata, mas Faruk itu suami yang sangat baik dan sabar, mba gak bisa bayangin, gimana perasaannya dulu, hampir setiap hari itu mba cerita tentang pak Dzaki terus! Astaghfirullah... maafin mba ya, Mila!" mata itu sedikit berkaca-kaca.


"Gak apa-apa, mba! Alhamdulillah. Mba sudah menyadari kalau suami mba itu Faruk, bukan Dzaki. Kalau aja mba gak sadar-sadar, akan aku sadarkan dengan tangan ini." ucap Mila menyeringai mengepalkan tangan kanannya dan meniupnya kencang.


"Hah, dasar cewek bar-bar!" ucap Winda.


"Biarin, Bar-bar gini, mas Dzaki milih aku lo!" Mila menggoda Winda, Winda tertawa mengingat betapa nistanya dia dulu mengejar suami orang, padahal statusnya sudah bersuami. Tidak ada lagi rasa iri ataupun benci dihati Winda. Kali ini dia benar-benar sudah menerima kenyataan. Saat ini hanya ada Faruk dihatinya.


Jangan sia-siakan orang yang menyayangimu, Karena bisa jadi disaat kau menyadarinya yang menyayangimu itu sudah pergi....


Belum terlambat merajut kasih yang sudah memiliki cinta setengah hati. Kini cinta itu telah menjadi sepenuh hati. Bersama dengan dua bayi kembar yang menambah kekuatan cinta dalam rumah tangga mereka.


Tangisan Fadhli yang terbangun, menghentikan pembicaraan dua ibu muda itu, disusul Fadhlan dan Hafiz yang ikut menangis melihat orang yang menangis.


Mereka menggendong anak mereka masing-masing.


"Wah, nanti sekolah mereka barengan aja ya, hanya beda beberapa bulan kan?" ucap Faruk.

__ADS_1


"Iya, ya. Orang tuanya berteman, anaknya juga ikut berteman yakan,Pak!" ucap Mila disusul anggukan Winda setuju.


Hubungan mereka berlanjut semakin akrab seperti saudara. Mila sadar, dia harus mencari teman untuk dijadikan saudara sebanyak-banyaknya, nasib perantau yang tak punya keluarga satupun disana.


__ADS_2