
Senja di kota Medan tercinta. Kepulangan mereka memberikan semangat baru untuk buya Latif, seakan ada karomah yang dibawa oleh Hafiz. Seolah lupa dengan rasa sakitnya saat berjalan, tiga hari cucu dan menantunya ada dirumah, buya Latif sudah kembali pulih seperti sediakala.
Tangan keriput itu menggenggam tangan mungil Hafiz, menggiringnya berjalan menuruni tangga masjid. Mereka baru saja selesai melaksanakan sholat Ashar, di mesjid pesantren.
"Hati-hati, gak usah lari, jalan saja!" buya Latif sedikit kewalahan mengimbangi Hafiz yang super aktif. Seperti de javu, tangan yang sama dulu juga pernah membimbing laki-laki seusia Hafiz, menuruni anak tangga yang sama.
"Atok, nti ikut tan kelumah opung?" tanya Hafiz dengan lafal yang masih celat.
"Tidak, Nak. Atok tak bisa ikut, nanti sholat Hari Raya disini rame, siapa yang jaga masjidnya. Kalok kotor nanti masjidnya siapa yang sapu?" ucap buya Latif mencari alasan yang tepat. Tak mungkinkan ia menjelaskan, sebagai pemimpin pesantren dia harus tetap stay ditempat.
"Oiya, padahal atok atit kan! bial nenek aja nyapui nti, atok ikut Hafiz aja!" jawab Hafiz pula, tak rela rasanya kalau atoknya harus membersihkan mesjid.
"Kasianla nenek, nenek kan masak, nyuci, kerjaan nenek banyak lagi. Biarlah atok aja, banyak pahalanya." buya Latif sudah mulai kehabisan akal.
"Bial masuk sulga yakan, Tok! Umma juga tatanya mau macuk sulga, Ma bilang, Hafiz halus baek budi, janan nakal. Bial bisa jumpa Umma lagi di sulga." Hafiz mengingat ucapan Ummanya.
\=\=\=\=
Terik matahari seakan membakar kulit, mata pun harus mengernyit, kesilauan cahayanya begitu kentara,tak ada yang kuasa untuk menantangnya.
Mata itu tak berhenti memandangi setiap jalan yang dilewati, tulisan melengkung pertanda memasuki kota kecilnya yang baru saja dilewati,menambah ketidak sabaran perempuan bergamis itu untuk segera sampai kerumah orang tuanya.
"Umma, tantik!" tunjuk Hafiz. Mesjid kebanggan warga kota kecil Mila, masih gagah berdiri diatas tanah seluas 4 hektar. Alun-alun disebelahnya juga sekarang sudah menjadi destinasi nongkrong untuk orang-orang sekitar. Luasnya lapangan hijau, dengan pohon-pohon yang rindang, serta luasnya area parkir, membuat orang-orang yang aktif dan kreatif menemukan ide untuk meraup keuntungan.
Mobil-mobilan, skuter sampai sepatu roda, disewakan perjam. Lain lagi kulinernya. Walau suasana panas, tak meruntuhkan semangat "wisatawan lokal" berkunjung ke dua icon kota Kisaran.
45 menit berlalu. Rumah bercat merah bata masih tetap sama seperti beberapa tahun lalu. Rumah dan penghuninya dengan segala isinya sangat dirindukan perempuan bergamis itu.
__ADS_1
Tak sabar, begitu Dzaki turun membuka pagar rumah yang sedikit terbuka, Perempuan itu langsung keluar dari mobilnya. Setengah berlari,menapaki jalan. Pas bunga, bahkan kursi teras masih tetap pada posisinya, seperti tiga tahun yang lalu.
Pintu samping terbuka, seolah tau akan ada yang datang. Perempuan paruh baya keluar dari dalam. Netra mereka bertemu, mengisyaratkan kerinduan yang mendalam.
"Mamak!" peluk Mila. Air mata tumpah seketika. Bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tak pernah berpisah jauh dan lama sejak lahir sampai dewasa, setelah menikah harus ikut suami merantau dan baru bisa pulang setelah tiga tahun lamanya. Jarak yang jauh memisahkan mereka, beda provinsi beda kota, bahkan beda pulau.Bayangkan betapa merindunya mereka.
Mudik, dulu perempuan itu hanya tau kata mudik dari televisi saja. Tanpa mengerti prakteknya. Kini dia merasakannya.
"Akhirnya pulang juga, anakku!"
"Hafiz... ini nenek, salam neneknya, Nak!" ucap Mila. Hafiz yang sudah ingin menangis melihat Umma dan neneknya menangis pun, mencium punggung tangan wanita tua didepannya.
"Assalamu'alaikum, Nenek!" ucapnya lucu, membuat yang mendengarnya pasti gemas.
"Eh... sudah sampai boruku!" Arpin keluar dari kamar mandi.
"Ayah!" Mila mencium punggung tangan ayahnya, memeluknya.
"Diet, yah! hahaha" Mila duduk menyelonjorkan kakinya dikarpet depan tivi.
Mai melihatnya dengan pandangan tak biasa. Pandangan seorang ibu, seolah tembus pandang sampai kehati. Tak ada yang bisa disembunyikan darinya.
\=\=\=\=\=
Hari Raya berjalan seperti biasanya, tamu silih berganti datang berkunjung ke kediaman Arpin. Tak terkecuali Aisyah dan Erwin. Tiga anak laki-laki sedang bermain mobil-mobilan, sesekali terdengar keributan khas anak kecil yang berebut mainan.
Para kaum laki-laki asyik bercerita diteras depan, sedangkan para ibu sebagian ada yang didapur mempersiapkan hidangan makan siang, dan ada yang hanya duduk diam mengawasi ketiga bocil.
Mila memasukkan beberapa buku-buku di raknya kedalam kotak plastik yang kemarin dibelinya di pasar. Buku itu disusun rapi, bersama dengan beberapa buku yang sengaja ia beli di Malang.
Cekleek
__ADS_1
Handle pintu terbuka. Aisyah masuk dengan membawa cemilan di dekapannya.
"Mba!" sapanya
"Hm...."
"Mau diapain bukunya?"
"Disimpan, takut dimakan rayap nih, kalau dibiarkan disini!"
"Mau dibawa ke Malang, Mba?" ucap Aisyah sambil terus memakan keripik pisang dalam dekapannya.
"Enggak, buat sekolah. Kakak mau sumbangin ini semua, ada novel-novel islami, buku pelajaran juga. Sayang kan, kalau disini aja, hancur-hancur sendiri."
"Aisyah, sana ajak suamimu, uwak laki sama yang lain makan! Udah uwak siapkan dimeja." perintah Mai. Aisyah langsung melaksanakan perintah.
Mai duduk ditepi ranjang, menatap wajah manis anaknya.
"Sampai kapan terus merahasiakannya dari semua orang?" ucapnya, Mila menghentikan aktifitasnya. Meletakkan beberapa buku terakhir dalam kotak plastik, dan kemudian menutupnya.
"Merahasiakan apa, Mak?" ucapnya menghampiri Mai, dan duduk disebelahnya.
"Mamak kenal kau dari masih dalam perut! mamak tau, kau bukan diet! Mamak pernah menjaga orang yang sakit sepertimu!" Nada bicaranya mulai tinggi namun tetap berbisik.
"Kasihan Hafiz,Mak! Dia masih membutuhkan Mila."
"Jangan sampai terlambat, selagi masih bisa diobati kenapa tidak?"
"Do'akan Mila ya, Mak! Insya Allah semuanya baik-baik saja. Semakin kesini, Mila merasa semakin sehat,kok!" ucap Mila meyakinkan Mai.
"Oh iya, Mak! Ini buku-buku untuk dibawa waktu reuni sekolah nanti, Mila belum bisa pastikan bisa pulang lagi atau enggak, jadi Mila titip ya, Mak. Nanti kalau Mila gak bisa pulang, Ewin atau teman Mila yang lain yang membawanya kesekolah." Menunjukkan kotak yang berisi buku tadi.
__ADS_1