Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
10.Sifat Aslinya.


__ADS_3

Setelah jam pelajaran mereka hari ini berakhir, sebagian siswa sudah bergerombol untuk pulang atau pun sekedar berencana kumpul-kumpul dengan teman-teman mereka masing-masing di luar sekolah nanti.


"Kalandra, kita mampir ke Kafe depan yuk, Gue pengen nraktir kamu makan, sebagai tanda ucapan terima kasih denganmu, karena kakiku sudah sembuh sekarang." Anyelir langsung menggeser kursinya dan duduk disamping Kalandra yang masih mengemasi buku-buku pelajaran miliknya.


"Aku sedang ada urusan, kamu traktir aja Jenny, dia juga membantumu kan?" Jawab Kalandra tanpa mengalihkan perhatiannya dari tas miliknya.


Cih.. membantu apaan?


"Sama Jenny juga kok, ayolah Kalandra atau kamu mau apa, biar nanti aku beliin, aku nggak mau loh utang budi sama kalian!"


Walau Anyelir menyangkalnya, namun dia tidak pelit jika hanya untuk membelanjakan satu teman lagi, padahal Jenny hanya seperti pihak pengawas saat kakinya terkilir, bahkan dia yang mengajak Kalandra pulang duluan meninggalkan dia dan kedua sahabatnya saat kakinya masih diurut oleh Tukang Pijat saat itu.


"Lain kali saja, aku benar-benar harus pulang saat ini." Jawab Kalandra dengan nada datarnya.


"Kalandra!" Anyelir berusaha menahan lengannya.


"Sama Jenny aja dulu, bye!" Namun Kalandra langsung melepas tangan Anyelir dengan paksa dan langsung melenggang pergi setelah menggendong tas miliknya.


"Ckk... Jenny mana mau kalau nggak ada kamu!" Umpat Anyelir tetap berusaha mencari alasan, walau Kalandra tetap meneruskan langkahnya.


"Siapa bilang? Aku mau kok!"


Dan tiba-tiba Jenny sudah berdiri dibelakang tubuh Anyelir.


"Hah?" Anyelir langsung melongo karenanya, tidak biasanya Jenny mau gabung dengan dirinya apalagi tanpa Kalandra, dia bukan orang yang sering mengobrol atau menggosip seperti siswa lainnya, dia lebih tertutup orangnya, kecuali dengan Kalandra.


"Aku juga ingin ngobrol sebentar denganmu, di gedung belakang."


"Ngapain?" Dan itu semakin membuat Anyelir merasa terheran-heran.


"Sebentar saja, setelah itu kita baru makan di Kafe depan, okey?" Wajah dari Jenny sulit sekali diartikan dan Anyelir tipe orang yang tidak perduli dengan apapun yang terjadi nantinya.


"Boleh aku mengajak kedua sahabatku juga?" Tanya Anyelir kembali, sempat terbesit sedikit rasa curiga, walau tidak membuat Anyelir merasa takut sedikitpun.


"Mereka berdua ada jadwal piket kelas kan hari ini, sambil nunggu mereka selesai kita ngobrol berdua sebentar."


Tumben, ada apa ini?


Anyelir kembali terdiam dan mengerutkan kedua alisnya, dia mencoba berfikir tentang apa yang ingin dibicarakan oleh Jenny, karena sepertinya dia 'ngebet' sekali.


"Ayo, hari ini aku tidak akan memberikan les tambahan atau soal yang susah untukmu, jadi jangan risau!" Ajak Jenny kembali.

__ADS_1


"Okey, tidak masalah!" Akhirnya Anyelir menyetujuinya, pantang baginya untuk menolak.


"Mau kemana kalian?" Adinda dan Alenka masuk dengan membawa perlengkapan bersih-bersih.


"Ke gedung belakang!" Jawab Anyelir.


"Ngapain kalian pergi ke gedung kosong? banyak hantunya tau nggak!" Teriak Alenka, dia sering mendengar gosip-gosip dari teman mereka yang lainnya, walau entah nyata atau tidak.


"Mending banyak Hantu daripada banyak Nyamuk, mereka bisa diajak ngobrol, daripada sama nyamuk yang bisanya cuma nyakitin aja ya kan?" Anyelir malah menjawabnya dengan sebuah lelucon.


"Hah, nggak jelas banget kamu Anye!"


"Sudahlah, kami cuma mau ngadem disana, kalian selesaikan piket kelas saja, nanti setelahnya gue traktir makan di Kafe depan!"


"Hati-hati loh ya, perasaan gue kagak enak deh, sumpah!" Ucap Adinda, namun dia tidak bisa menguping saat ini karena memang harus piket bersih-bersih kelas.


"It's okey, biasanya hantu yang takut sama gue, hehe!"


"Sembarangan aja kalau ngomong, ya sudah jangan lama-lama disana ya!" Teriak Adinda kembali.


"Santai aja kali gaes!"


"Kamu mau ngomong apa Jen, sepertinya ada yang penting?" Tanya Anyelir sambil duduk santai dan memandang gedung-gedung bertingkat dari atap gedung itu.


"Aku tidak suka kamu mendekati Kalandra!" Ucapnya yang membuat tatapan Anyelir langsung berpindah ke Jenny.


"Hah? ahaha... atas dasar apa kamu melarangku?" Jawab Anyelir dengan tawanya, dia merasa lucu saat ada orang yang berani melawan keinginannya, sedangkan bagi Anyelir si Jenny itu bukan siapa-siapa.


"Kamu kan anak orang kaya raya, pasti bisa kan mencari cowok manapun yang kamu suka, tapi kenapa harus Kalandra?" Ucap Jenny selanjutnya, tanpa mau menatap wajah Anyelir.


"Emang salah jika nasipku menjadi anak orang kaya gitu? nggak ada hubungannya dengan Kalandra, kalau aku suka ya suka aja, kenapa kamu harus sibuk dengan urusanku?"


"Atau kamu memang tidak mampu mencari pria lain, atau bahkan karena tidak ada pria lain yang mau denganmu karena kamu bodoh?" Umpat Jenny yang seolah keluar sifat aslinya yang selama ini dia sembunyikan.


"Hei... Jaga Mulutmu ya Jen!" Teriak Anyelir yang langsung tidak terima.


"Jangan menudingku!" Teriak Jenny merasa tidak suka.


"Siapa Elu, kenapa berani-beraninya mengatur siapa pria yang inhin aku jadikan pacar, apa hak kamu, hah!"


"Karena aku KEKASIH KALANDRA, cam kan itu!"

__ADS_1


"Hah? Nggak mungkin kamu kekasihnya!" Anyelir merasa tidak percaya.


"Kenapa emangnya, kamu mau merendahkan aku, hanya karena aku tidak sekaya kalian, lalu aku tidak berhak mencintai dan dicintai Kalandra, begitu!" Dan saat kepemilikannya seolah diganggu gugat oleh wanita lain, Jenny merasa tidak terima.


"Hei... Biasa aja dong ngomongnya, nggak usah pakai acara dorong-dorongan segala!" Anyelir hampir terjengkang kebelakang saat Jenny dengan kasarnya mendorong lengannya.


"Asal kamu tahu ya Anye, hubungan kami sudah terjalin lama!" Namun Jenny seolah tidak perduli, matanya seolah sudah memerah karena diliputi amarah.


"Lalu kalian backstreet? pasti kamu takut jika tidak disetujui oleh orang tua Kalandra bukan?" Ejek Anyelir dengan menyunggingkan senyuman kecutnya.


"Jangan sembarangan kalau ngomong, aku punya alasan tersendiri tau nggak!" Dan Jenny kembali mendorongnya.


"Don't touch me okey, apa kamu tidak punya telinga!" Dan kemarahan Anyelir semkain terpancing.


"Apa karena kamu kaya jadi aku akan takut denganmu? Sory ya aku tidak perduli dengan siapa kamu di dunia ini!" Jenny seolah ingin menghimpit tubuhnya.


"HEI!" Tanpa sadar dengan sekuat tenaga Anyelir mendorongnya, karena dia merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Jenny bahkan sampai ditepi pembatas gedung.


"APA! KENAPA!" Namun Jenny malah semakin menaikkan nada suaranya bahkan ingin menjambak rambut Anyelir.


"Sudah aku bilang jangan sentuh aku, apa kamu peka!" Dan Anyelir berhasil menangkisnya dan ingin mengibaskan tangan Jenny.


"Eh... Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


Namun entah mengapa tubuh Jenny terasa terdorong kakinya dan ternyata dia sudah melewati garis pembatas.


"JENNY AWAS!" Teriak Anyelir yang langsung mengulurkan satu tangannya untuk menarik tubuh Jenny.


Grep!


Dan dengan cepat Jenny langsung menarik lengan Anyelir dan langsung memeluk tubuhnya, namun entah mengapa pijakan kaki Anyelir seolah goyah dan seperti ada seseorang yang juga mendorong kakinya dari belakang, padahal disana hanya ada mereka berdua saja.


Karena atap gedung itu tidak ada pembatas besinya, akhirnya kedua wanita itu jatuh dari atap gedung lantai dua, dengan posisi Anyelir berada diatas tubuh Jenny.


BRAAAKKK!


Dan seketika banyak darah segar yang mengalir di halaman itu, hingga akhirnya mereka berdua sama-sama tidak sadarkan diri.


Apapun yang disembunyikan oleh hati, akan diperlihatkan oleh sikap, seperti halnya kopi, semahal dan seindah apapun tampilannya dalam sebuah cangkir, tak akan bisa menyembunyikan rasa pahitnya.


Hari ini sepertinya cukup crazy up nya, lanjut besok ya bestie, jangan lupa tekan tombol LOVE ya, agar mendapatkan notif up date terbaru dari Author, jangan lupa dukungan kalian tetap Author tunggu, apapun itu pokoknya terima kasih buanyak, sampai jumpa next part😊

__ADS_1


__ADS_2