
Murkanya seorang Kalandra semakin menjadi, saat Anyelir menyinggung dirinya dengan Jenny, namun sesungguhnya, saat ini Kalandra tidak mau kehilangan atau ditinggalkan oleh istrinya, apalagi anaknya, walau kebencian terhadap diri Anyelir seolah masih tetap awet, seperti di formalin.
Namun tidak pernah ada yang bisa membedakan antara benci dan rindu dengan akurat, karena mulut boleh berbicara, tapi hati yang merasakannya.
"HEI.. Apa kamu lupa, kalau dia cacat seperti itu juga gara-gara kamu tau nggak, sadar diri kamu! karena gara-gara kamu masa depan Jenny jadi hancur, disaat kamu bisa tertawa dengan lepas bersama teman-temanmu itu, Jenny bahkan menangis sampai habis air matanya, paham kamu!" Kemarahan Kalandra seolah meledak-ledak saat ini, semua hal yang dia pendam selama ini akhirnya tersampaikan begitu saja kepada istrinya.
"Fuuh... kalau begitu kenapa kamu tidak menikahinya, kenapa malah menikahiku, KENAPA KALA?" Anyelir masih belum menemukan alasan dari mereka untuk hal itu.
"Karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu bisa tertawa bahagia sekarang, jika Jenny sengsara karena ulahmu, kamu pun harus merasakan hal yang sama dengannya, mengerti kamu!" Ancam Kalandra dengan senyum liciknya.
"Apa itu semua salahku? memangnya apa saja yang dikatakan Jenny denganmu?" Anyelir merasa tidak terima, karena seolah-olah kejadian itu hanya dia saja penyebabnya.
"Itu semua jelas salahmu, jangan berkilah kamu, sudah tidak mau tanggung jawab, mana sampai kabur keluar negri lagi, kamu sengaja mau cuci tangan dengan kejadian itu kan!"
Karena permaianannya sudah ketahuan, seolah tidak ada alasan lagi untuk menutup-nutupi semuanya bagi Kalandra, mulai saat ini dia ingin balas dendam secara terang-terangan pikirnya.
"Bukan begitu Kalandra!" Anyelir sulit memberikan penjelasan kalau tidak ada kedua belah pihak disana, karena Kalandra hanya akan menyudutkan dirinya saja, semua yang dia katakan akan selalu salah dimata suaminya.
"Andai orang tuamu tidak membelamu, mungkin saat ini kamu masih ada dalam jeruji besi, paham kamu!" Kalandra mulai menunjuk-nunjuk wajah Anyelir.
"Kalandra, hal itu terjadi bukan aku yang memulainya, tapi Jenny yang memancing perkara denganku terlebih dahulu." Jelas Anyelir yang merasa tidak terima.
Plak!
Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Anyelir, bahkan membuat Anyelir hampir jatuh terjengkang karena terkejut, karena selama pernikahan mereka, Kalandra tidak pernah main tangan, walau seburuk apapun perangai dia terhadap istrinya.
"Jangan keterlaluan kamu, sudah salah malah mau menyalahkan orang lain!" Teriak Kalandra dengan kedua matanya yang seolah sudah berapi-api.
"PAPA JANGAN SAKITI BUNDA!" Kanaya langsung berlari mendekati Bundanya, ternyata sedari tadi dia mengintip perdebatan kedua orang tuanya.
"Kanaya, jangan kesini! masuk kedalam kamarmu saja nak, mana si Mbak?"
__ADS_1
Anyelir tidak ingin putrinya melihat pertengkaran dirinya dengan Kalandra, karena hal ini sudah pasti tidak bagus untuk perkembangan psikologi anak.
"Kenapa Ayah memukul Bunda, apa salah Bunda, hiks.. hiks." Namun Kanaya tetap memeluk Bundanya.
"Bunda nggak papa nak, kamu masuk kedalam kamar sama Mbak aja ya?" Anyelir mengusap air mata putrinya, hal seperti inilah yang selama ini Anyelir takutkan dan ternyata kejadian juga.
"Nggak mau, aku mau sama Bunda aja." Jawab Kanaya dengan isakan tangisnya, dia seolah benar-benar tidak rela melihat Bundanya menangis seperti itu.
"Bunda masih mau ngobrol sama Ayah, nanti kalau sudah selesai Bunda temani kamu tidur ya?" Sebisa mungkin Anyelir berusaha kuat untuk Kanaya dan mencoba tersenyum walau hatinya sudah penuh dengan luka.
"Nggak usah ngobrol sama Ayah, nanti Bunda dipukul lagi sama Ayah." Teriak Kanaya kembali.
Kalandra hanya bisa memejamkan kedua matanya, karena terlalu emosi, dia tanpa sadar melayangkan tamparan itu kepada Anyelir dan sesungguhnya Kalandra sangat menyesali akan hal itu, apalagi sampai Kanaya melihatnya.
"Ayah nggak mukul Bunda nak." Anyelir mencoba membela, karena tidak ingin putrinya membenci Ayahnya, karena sampai kapanpun itu tidak akan pernah ada yang namanya mantan anak.
"Bohong! Naya lihat sendiri tadi, bahkan pipi Bunda sekarang memerah, pasti sakit ya Bunda." Tangan kecil dan mungil itu kini mengusap perlahan pipi wanita yang sudah melahirkan dia ke dunia ini.
"Hiks..hiks.. AYAH JAHAT!" Teriak Kanaya sambil menatap tajam ke arah Kalandra.
"Kanaya, maafkan Ayah, sekarang kamu masuk kamar dulu ya." Kalandra mencoba mendekat ke arah Kanaya, namun bocah itu seolah takut dekat-dekat dengan Ayahnya sendiri.
"NGGAK! Aku benci Ayah!" Teriak Naya yang benar-benar tidak ingin disentuh oleh Kalandra.
"Kanaya?" Kalandra hanya bisa mengacak rambutnya, dia sungguh tidka rela jika outrinya membenci dirinya, karena Kalandra memang snagat menyayangi Kanaya.
Dan itu pula satu-satunya alasan Anyelir bertahan sampai sejauh ini, Anyelir berpikir biarkan dia terluka, asalkan putrinya bisa hidup bahagia.
"Bunda, gimana kalau kita pergi ke rumah Om Tampan saja, Om Tampan pasti tidak akan pernah menyakiti Bunda."
Dyar!
__ADS_1
Dan hal itu semakin menyulut emosi Kalandra kembali, hingga akhirnya amarah Kalandra benar-benar meluap-luap malam ini.
"KANAYA, MASUK KAMAR SEKARANG JUGA!" Teriak Kalandra.
"NGGAK MAU!"Jawab Kanaya tak mau kalah berteriak.
"KANAYA, jangan membantah Ayah!"
"Cukup Kala, jangan memarahi putriku!" Anyelir langsung menjadi tameng putrinya.
"Dia juga putriku!" Bentak Kalandra kembali.
"Putri kamu bilang! apa kamu ingat hari ini hari apa, tanggal berapa!" Akhirnya Anyelir kembali angkat bicara.
"Hari apa rupanya?" Jawab Kalandra yang benar-benar tidak mengingatnya.
"Hari ulang tahun bocah yang kamu bilang sebagai anakmu ini, dia mengamuk seharian kemarin karena kamu melupakan dirinya, bahkan kamu baru pulang sampai selarut ini."
"Astaga, maafkan Ayah Kanaya!" Dan Kalandra hanya bisa terduduk lesu, pikirannya memang kacau, karena pekerjaan sudah menumpuk dan harus mengurus Jenny bolak-balik keluar negri akhir-akhir ini.
"Dan kamu tahu siap orang yang berhasil membujuk dan menghibur putrimu ini, dia adalah Sean, pria yang kamu benci itu!" Tegas Anyelir kembali.
"Bunda, ayo kita ke rumah Om Tampan saja!" Rengek Kanaya sambil menarik-narik tangan Bundanya.
"TIDAK ADA YANG BOLEH KELUAR DARI RUMAH INI, MENGERTI KALIAN BERDUA!"
Karena sudah mati kutu, Kalandra langsung mengambil gembok pagar rumahnya, dan memasangnya di pintu utama ruang tamu rumah itu, agar istri dan anaknya tidak boleh ada yang pergi kemana pun, tanpa seizinnya.
Ketika kamu ingin menyerah, ingatlah seberapa lama kamu berjuang, bertahan, dan melewati segalanya.
Jalan kita masih panjang, walau cukup membuat hati terluka, tapi jangan sampai membuat kita berhenti dan menyerah begitu saja dengan keadaan.
__ADS_1