Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
20.Tiga Dara


__ADS_3

Walau dengan suasana hati yang masih kacau, setelah wisuda siang hari ini berakhir, Papa dan Mama Anyelir, beserta kedua orang tua sahabatnya masing-masing itu kini bertolak menuju negara dimana tiga dara itu dilahirkan.


Senyum dari wajah Adinda dan Alenka begitu terpancar dengan jelas, karena sejujurnya mereka sangat merindukan rumah dan juga tempat tongkrongan mereka di masa-masa remaja terdahulu, seolah mereka sudah tidka sabar ingin cepat sampai rumah.


"Siapa yang jemput kita nanti Pa?" Tanya Anyelir saat pesawat mereka sudah mendarat dengan selamat di negara tercinta.


"Calon besan!" Celetuk Papa Anyelir dengan senyum simpulnya.


"Hah, siapa Pa?" Anyelir mengerutkan kedua alisnya, karena suara Papanya bersahutan dengan suara riuh renyah penumpang-penumpang yang lainnya.


"Rekan bisnis Papa, kebetulan mereka juga sedang menjemput anaknya di Bandara ini, tapi penerbangan dari Singapura, mungkin mereka sudah menunggu sekarang." Mama Anyelir yang langsung menyahut jawaban dari pertanyaan putri kesayangan mereka.


"Papa tadi nggak bilang gitu kayaknya, sebenarnya siapa yang jemput kita sih?" Anyelir seolah masih belum puas dengan jawaban dari Mamanya.


"Itu---" Mama Anyelir seolah masih ragu ingin menjelaskan rencana dadakan mereka di tempat itu.


"Om, Tante dan Anyelir, jemputan kami sudah datang, kalian mau ikut kami atau sudah ada yang jemput?" Adinda langsung berlari kearah mereka yang masih tertinggal jauh di belakang dan membuat jeda dalam perbincangan anak dan emak itu.


"Kami sudah ada yang jemput Din, kalian duluan saja sama keluarga Alenka." Papa Anyelir jelas langsung menolaknya.


"Baik Om, kalau begitu kami permisi."


Mereka semua berasal dari keluarga yang kaya raya, sudah pasti punya sopir pribadi dirumah.


"Besok pagi Tante sekeluarga mau ngadain acara syukuran, kalian datang ya." Pinta Mama Anyelir dengan semangat.


"Syukuran?" Adinda sedikit merasa heran, karena kedua orang tua Anyelir dari beberapa hari yang lalu itu sudah menginap di rumah Oma di luar negri, kapan pula mereka menyiapkan acara syukuran ini pikirnya, apalagi keluarga Anyelir, kata syukuran menurut mereka sudah pasti seperti pesta warga milyader.


"Iya, pokoknya kalian harus datang, boleh bawa pacar atau someone special kalian juga pastinya, dan untuk kedua orang tua kalian biar Tante sendiri nanti yang akan mengundang mereka dengan menghubungi langsung." Ucap Mama Anyelir dengan mantap.


"Okey siap, apapun tema nya kalau acara kumpul-kumpul sambil makan-makan kami pasti datang Tante, karena kami rindu semua masakan khas dari Indonesia, hehe." Dan kedekatan mereka memang sudah terjalin lama sejak lama, bahkan sudah dianggap layaknya anak sendiri.


"Pasti dong, semua makanan dari Sabang sampai Merauke ada semua nanti." Ada raut wajah bangga diwajahnya ketika putrinya berteman dengan mereka yang tidak pernah meninggalkan satu sama lain disaat salah satu diantara tiga dara itu terpuruk.


"Sip deh, bye Anyelir, see you!"


Karena mengejar waktu, Adinda langsung melambaikan tangannya ke arah mereka sambil berlari pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Syukuran apalagi sih Ma?" Dia selalu heran saat para orang tua sering sekali heboh dalam hal apapun.


"Syukuran kamu lah!"


"Kenapa dengan aku?" Tanya Anyelir yang merasa tidak ada yang spesial menurutnya.


"Kamu kan udah jadi Sarjana sekarang, jadi kita wajib bersyukur dong?" Jawan Mama Anyelir dengan senyum penuh makna.


"Iya, walaupun IP kamu tidak tinggi, yang penting lulus aja Papa udah bersyukur sekali, Papa benar-benar takut kalau kamu jadi mahasiswa abadi di Kampus itu." Ucap Papa Anyelir yang terlihat begitu lega.


"Papa mau ngejek apa mau muji sebenarnya sih?" Tanya Anyelir dengan tatapan jengah.


"Dua-duanya!" Celetuk Papa Anyelir dengan wajah datarnya.


"Aku tuh sebenarnya pinter Pa, cuma kasihan aja sama siswa yang berprestasi di Kampusku, karena dia modal beasiswa, kalau nilaiku mengalahkan dia terus, bisa-bisa bea siswanya dicabut, nggak tega aku loh Pa!" Ucap Anyelir yang sebenarnya hanya pandai-pandaian bicara saja.


"Apa? Terus kamu bilang? Mama aja dapat laporan dari Oma kamu, kalau nilai semester kamu itu selalu rendah kok." Mama Anyelir langsung melirik ke arah wajah putrinya.


"Dasar Oma, tukang ngadu!" Umpat Anyelir sambil melengos.


"Tuh, dengerin Ma." Dia langsung melayang saat dibela Papanya.


"Tapi, pinter ngibulnya!" Ucap Papa Anyelir selanjutnya.


"PAPA! kalian berdua ini sama-sama jahatnya!" Jerit Anyelir kemudian.


"Ahahahaha."


Dan kedua orang tua itu tertawa renyah saat melihat wajah kesal dari putrinya, sesungguhnya mereka sangat bahagia, akhirnya putrinya mau kembali pulang, setelah sekian lama mereka bujuk tapi tidak pernah mempan.


Dan sepertinya mereka akan memberikan hadiah spesial untuk kedua sahabat putrinya yang sudah sukses berlakon, sehingga Anyelir akhirnya luluh juga hatinya untuk kembali ke negara tempat mereka dilahirkan.


"Zulfikar!" Tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggil nama Papa Anyelir.


"Hasan, kalian sudah datang atau kalian sudah lama menunggu?" Beliau langsung merentangkan kedua tangannya saat rekannya mlambaikan tangan kearahnya.


"Hampir satu jam an lah, tapi tak apalah, demi bisa menjemput calon menantuku yang cantik ini." Lirik Hasan kearah Anyelir yang terlihat kebingungan sendiri.

__ADS_1


"Calon menantu? emang siapa calon menantu Om?" Anyelir merasa ada yang janggal dengan tatapan pria setengah baya yang masih terlihat kekar itu.


"Siapa lagi, masak iya Mama kamu? bisa habis nanti Om dibuat Papa kamu!" Tawanya bahkan terdengar renyah.


"Ahaha, berani kamu mengusik istriku, nyawa taruhannya." Zulfikar pun membalasnya tak kalah heboh.


"Ampun Bro!" Kedua pria yang rambutnya sudah mulai dihiasi rambut berwarna putih itu kompak tertawa terbahak-bahak.


"Ma, apa Papa punya anak lain selain aku?" Bisik Anyelir dengan polosnya.


"Hush... kamu ini ngawur aja kalau ngomong, anak Papa sama Mama ya cuma kamu seorang!" Mama Anyelir langsung menyentil kening putrinya dengan gemas.


"Hah, jadi yang dimaksud calon menantu tadi aku?" Tanya Anyelir dengan otaknya yang seolah delay.


"Kamu lihat dulu anaknya, tampan sekali loh, Mama aja sempat terpesona tadi, membuat jiwa muda Mama meronta-ronta dan yang paling penting cerdas pula itu!" Puji Mama Anyelir saat melihat pandangan pertama saja.


"Aku nggak mau dijodohin Ma!" Tolak Anyelir dengan wajah masamnya.


"Anyelir?" Zulfikar merasa tidak enak hati saat Hasan mendengarnya sendiri.


"Aku nggak mau pokoknya Pa! mending aku balik lagi aja ke rumah Oma, daripada harus dijodohin sama entah pria mana!" Umpat Anyelir yang langsung melengos.


"Yakin kamu nggak mau sama putra Om nak?" Namun Hasan menanggapinya hanya dengan senyuman saja.


"NGGAK!" Jawab Anyelir dengan keras.


"Coba lihat dulu pria yang berjalan dari arah belakang tubuhmu itu!" Tunjuk Hasan ke arah putra tampannya.


Degh!


Saat Anyelir mulai memutarkan kepalanya dan melihat wajah seorang pria yang berjalan santai penuh karismatik kearahnya, jantungnya seolah berhenti seperskian detik, orang-orang disekelilingnya seolah menjadi patung, hanya pria itu saja yang bergerak, apalagi ketika suara langkah kakinya semakin jelas ditelinganya, bahkan kedua mata Anyelir terus menatap, namun pikirannya seolah kosong tak ada isinya.


Kedewasaan adalah dilihat dari bagaimana seseorang mengelola rasa marahnya, bahkan kepada orang yang membuatnya begitu kecewa.


Jeng.. Jeng..


Jangan lupa dukungan kalian Author tunggu ya, like, hadiah dan VOTE kalian yang tinggal satu ketul itu, relakanlah di bulan syawal yang indah ini😍

__ADS_1


__ADS_2