
Perjalanan Honeymoon yang tertunda selama lima tahun itupun kini telah berlalu, Anyelir dan Kalandra kembali ke dunia nyata, setelah melakukan proses pembuatan adek dari Kanaya secara totalitas kemarin.
Hari ini Kalandra sengaja berangkat ke Kantor pagi-pagi sekali, dia terlihat bersemangat saat Asistennya benar-benar memberikan kabar terbaik untuknya, dan siang nanti dia akan segera pulang, karena rencananya Anyelir dan Kalandra ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk merayakan rujuknya hubungan mereka kembali dengan mengundang sahabat terdekat dan keluarga kedua orang tua mereka masing-masing.
Kalandra dan Anyelir ingin memulai semuanya dari awal, hidup baru dan cerita baru, walau banyak rintangan yang menghadang hubungan mereka akhir-akhir ini, namun dia bersyukur karena bisa mengambil hikmah tersendiri dari semua rentetan kejadian yang membuat hubungan mereka seolah terjun bebas ke jurang kehancuran.
"Anyelir, apa suamimu belum pulang nak, itu teman-temanmu sudah datang loh, bahkan Sean aja Papa liburkan agar kita bisa ngumpul bareng disini, kenapa suamimu malah berangkat kerja?" Papa Anyelir beejalan mendekat kearah putrinya yang ikut sibuk di Dapur menyiapkan hidangan untuk mereka nanti.
"Belum Pa, mungkin sebentar lagi, dia sudah janji mau pulang awal, ada sedikit urusan perusahaan yang harus dia selesaikan hari ini juga, lagian ini masih jam berapa Pa?" Anyelir menunjuk jam yang masih menunjukkan pukul sepuluh siang.
"Bukannya perusahaan suamimu sudah membaik, bahkan dapat tender besar kali ini, keuntungannya pasti berlipat ganda bukan?" Papa Anyelir tersenyum miring karenanya.
"Alhamdulilah Pa, mungkin itu rejeki untuk kami juga." Jawab Anyelir dengan polosnya, padahal dia tidak tahu saja, kalau Papanya adalah Dalang dibalik ini semua.
"Benar juga itu, apa hubungan kalian sudah baik-baik saja sekarang?" Tanya Papa Anyelir yang sebenarnya sudah tahu segalanya, karena dia menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengikuti Kalandra akhir-akhir ini, Beliau hanya ingin memastikan bahwa pria itu tidak akan menyakiti putrinya, karena dia tidak mau kecolongan lagi.
"Sudah Pa, Kalandra sudah menyadari kesalahannya dan semoga dia menepati janjinya untuk tidak kembali ke jalan yang sesat." Anyelir kembali tersenyum saat mengingat kemesraan mereka kemarin bahkan sampai pagi tadi.
"Apa bulan madu kalian berjalan dengan lancar?" Tanya Papa Anyelir dengan beruntun.
"Tentu saja, kenapa Papa jadi kepo begini? Tumben banget?" Karena biasanya Papa Anyelir tidak banyak bicara, apalagi bertanya hal-hal seperti itu pikirnya.
"Villanya nyaman bukan?" Dan semakin lama pertanyaan dari Ayahnya membuat Anyelir merasa curiga.
"Tunggu sebentar, kenapa ada yang aneh dari senyuman papa ini?" Anyelir langsung menatap Ayahnya dengan tatapan menyelidik.
"Hehe... Villa itu walaupun kecil tapi Papa memberikan fasilitas nomor satu loh, jangan salah!" Ucapnya lagi yang semakin meyakinkan Anyelir bahwa Ayahnya pasti melakukan sesuatu tanpa sepengetahuannya.
"Apa itu Villa milik Papa?" Anyelir seolah tidak percaya, karena Ayahnya tidak pernah bercerita tentang tempat indah itu.
"Iya, itu Papa beli saat ingin menyendiri dengan Mama kamu dulu, jadi walaupun kecil dalamnya istimewa kan? Papa sudah memberikan harga termurah untuk suamimu itu." Ucapnya lagi.
"Apa Kalandra tahu soal ini?"
"Tentu saja tidak, dia tidak akan tahu semua pergerakan Papa, hehe.." Bahkan tawa Ayahnya terlihat begitu licik dimata Anyelir.
"Ya ampun Pa, jangan-jangan Papa ngikutin kita juga ya?"
"Jangan terlau dipikirkan, yang penting hubungan kamu dan suamimu sudah membaik, bahkan mungkin saat ini suamimu sedang bergembira karena menerima banyak keuntungan dari tender barunya." Ucap Papa Anyelir yang langsung membahas topik lain.
"Apa itu juga ulah Papa?" Anyelir kembali menduganya, karena Papanya itu sering diluar nalar pemikirannya, selalu saja punya rencana yang orang lain tidak pernah menyangkanya, mungkin itu rahasia Papa Anyelir sukses dalam berbisnis.
"Hehe... atas izin dari Mama juga." Papanya langsung menunjuk istrinya yang pura-pura tidak mendengarnya.
"PAPA! MAMA!" Anyelir sungguh tidak menyangka akan hal itu.
"Papa hanya sedikit memberikan pelajaran untuk suamimu, kamu pikir Papa akan diam saja, saat putri Papa disakiti dan dipermainkan oleh dia?" Selalu ada jawaban dari setiap pertanyaan Anyelir yang selalu menyudutkan dirinya, karena Papa Anyelir melakukan semua ini demi kebaikan putrinya.
"Ya ampun Papa?" Sesungguhnya Anyelir takjub dengan apa yang Papanya lakukan untuknya, bukan karena marah.
"Papa dan Mama yang sudah membuat kamu sampai bisa launching ke dunia ini, bekerja keras setiap harinya agar keluarga kita berkecukupan dan bisa membahagiakan kamu, tapi dengan seenak jidatnya saja Kalandra membuat hidupmu hancur sampai bertahun-tahun, andai aku tahu itu lebih awal, pasti kamu tidak akan lama-lama tersakiti olehnya." Bahkan wajah Papa Anyelir seolah menahan rasa sesak, saat mengingat akan hal itu.
"Apa Sean yang memberitahu Papa?"
Sean yang mendengar hal itu dipojokan hanya bisa meringis sambil menaikkan kedua jarinya sebagai tanda perdamaian.
"Iya, dia asisten terpercaya Papa, sudah pasti akan memberikan informasi apapun yang Papa minta." Jawabnya dengan santai.
"Astaga Sean." Anyelir kembali geleng-geleng kepala saja.
"Seharusnya kamu berterima kasih dengan Sean, andai dia menuruti semua perkataanmu, Ayah tidak bisa membuat suamimu sadar sekarang ini!" Ucap Papa yang seolah sangat berterima kasih dengan Asisten pribadinya yang sudah banyak membantu dirinya.
"Maaf Pa." Anyelir lansung menundukkan kepalanya, diapun menyadari bahwa dirinya juga salah dengan hal ini, jika dia jujur sedari awal pasti penderitaannya tidak akan selama ini.
"Kamu itu putri Papa satu-satunya, putri kebanggaan Papa, jika kamu terluka, Papa lah orang pertama yang akan tersakiti, jangan hanya karena kamu pernah melakukan kesalahan lalu suamimu itu bisa balas dendam sesuka hati bahkan sangat keterlaluan seperti itu, Mama kamu itu setiap malam menangis terus, begitu tahu selama lima tahun kamu tersiksa namun masih bertahan hidup dengan suami gilamu itu." Seolah unek-unek dalam diri Papa Anyelir tersalurkan saat ini.
"Sudah Pa." Dan Mama Anyelir mencoba menenangkannya agar darahnya tidak naik karena emosi saat mengingat kelakuan Kalandra dulu.
"Asal kamu tahu saja nak, selama Papa menikah dengan Mamamu, sebisa mungkin dan semarah apapun Papa dengan Mamamu saat berselisih pendapat, tapi Papa selalu mengutarakannya dan menasehatinya dengan nada suara rendah, kamu tahu alasannya apa?"
"Tidak Pa." Ucap Anyelir yang semakin tersentuh dengan perkataan Papanya.
"Karena Papa tidak mau menyakiti hati Mamamu, karena Papa sama sekali tidak ingin melihat Mama kamu menangis, dan saat itu setiap malam sebelum tidur Mamamu selalu menangis tersedu-sedu hanya karena ulah Kalandra saat menyakitimu, woo... andai saja Mamamu tidak mencegah Papa, mungkin suamimu sudah tertanam didasar bumi saat ini." Umpat Papa Anyelir yang seolah sudah ingin mengulek wajah Kalandra diatas cobek saat itu.
"Papa, jangan begitu, aku sayang sama pria gila itu!" Umpat Anyelir yang langsung membela suaminya.
"Papa tidak perduli, jika saja Kalandra tidak berubah seperti sekarang, mungkin kamu sudah tidak akan melihat dia lagi." Dia sudah menahan emosinya ini berhari-hari, dan sekarang baru bisa keluar semua.
"Papa tahu semuanya?" Tanya Anyelir sambil memeluk lengan Papanya.
__ADS_1
"Apa yang tidak bisa Papa lakukan jika Papa sudah marah?"
"Itu semua awalnya juga salahku Pa!" Anyelir langsung menyadari kesalahannya sendiri, agar Papanya tidak selalu menyalahkan Kalandra.
"Jangan membelanya, apa kamu tidak terima dengan perlakuan Ayah terhadapnya?" Papa Anyelir tidak suka melihat putrinya lemah hanya karena seorang pria.
"Bukan begitu juga Pa?"
"Bahkan Papa juga yang memberikan tender dan keuntungan untuknya saat ini."
"Woah... Papa benar-benar luar biasa, aku bangga sudah bisa jadi anak Papa." Anyelir langsung memeluk Papanya dengan erat, dia tahu Papanya itu hanya mengkhawatirkan dirinya saja.
"Harus itu, Papa dan Mama menyayangi kamu dan Kanaya lebih dari apapun, jadi jika kalian terluka Papa yang akan menyelesaikan segalanya, kamu anak Papa, anak kesayangan Papa dan Mama!" Dan Papa Anyelir langsung membalas pelukan dari putrinya, apapun akan dilakukan seorang Ayah asalkan anaknya bahagia.
"Terima kasih Pa, terima kasih Ma, karena sudah sangat menyayangi Anye dihidup kalian, maafkan Anye yang tidak jujur dengan kalian, Anye hanya tidak ingin kalian berdua bersedih karenanya." Suasana ruangan itu menjadi sendu, bahkan rekan dan keluarga yang lainnya ikut menitikkan air mata haru saat ini.
"Jangan ulangi hal itu lagi, kami orang tuamu, pasti akan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaanmu."
"Anye sayang Papa dan Mama, terima kasih sudah menjadikan Anye anak Papa dan Mama."
"Tentu saja nak, lalu apa adek Kanaya sudah berhasil kalian buat? Bukannya kalian sudah bergadang sampai pagi saat proses pembuatannya?" Ledek Papa Anyelir yang tidak ingin moment bahagia ini harus menjadi moment tangisan.
"Apa Papa juga tahu hal itu?"
"Enggak!" Ucap Papa Anyelir yang kembali bersandiwara.
"Lalu kenapa Papa bisa tahu kalau aku bergadang sampai pagi?"
"Itu Villa Papa, sudah pasti Papa tahu!" Jawabnya sambil menahan senyuman.
"PAPAAAAAA!"
"Ahahahaha!"
Dan akhirnya semua yang ada disana ikut tertawa bahagia, hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.
"Permisi, bisa saya bertemu dengan Nyonya Anyelir?" Tiba-tiba seorang pria berjas hitam sudah berada didepan pintu yang sudah terbuka itu.
"Ya, saya sendiri, ada perlu apa ya Pak?" Jawab Anyelir yang langsung mendekat.
"Begini Bu, saya pengacara dari saudara Kalandra, ingin memberikan surat gugatan cerai untuk anda."
Seketika semua yang ada didalam rumah itu menahan nafas karena merasa terkejut dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar.
Tanpa terasa air mata milik Anyelir langsung menetes begitu saja, padahal semua sudah baik-baik saja, bahkan Kalandra berjanji akan membahagiakan dirinya dan Kanaya kedepannya, tapi kenapa masih ada surat gugatan cerai datang untuknya.
Anyelir berpikir perjanjian mereka berakhir saat dia sudah melayani suaminya sepenuh hati diatas Ranjang, apalagi mereka berdua sudah membahas semuanya dengan baik, bahkan sudah saling mengasihi, seolah tidak pernah terjadi sesuatu dimasa lalu mereka.
"Dasar menantu tak tahu diuntung, belum tahu dia siapa Papa Mertuanya, dia tidak akan pernah bisa lari dariku, habis kamu hari ini juga Kalandra!" Papa Anyelir kembali mengepalkan kedua tangannya.
"JANGAN!" Teriak Anyelir yang langsung menahan pergerakan Papanya.
"Anyelir, apa kamu akan diam saja saat melihat suami gilamu itu berulah kembali?" Papa Anyelir yang kembali tidak terima.
"Papa sudah melakukan yang terbaik untukku selama ini, jadi sekarang giliran Anyelir yang akan memberikan pelajaran kepadanya." Jawab Anyelir yang langsung menyingsingkan kedua lengannya seolah siap untuk bertempur.
"Nak, mau kamu apakan dia!" Mama Anyelir malah terlihat khawatir sendiri saat melihat wajah putrinya memerah dan berapi-api, apalagi kedua tangannya sudah mengepal, bahkan otot-otot yang biasanya tidak terlihat seolah timbul didasar kulitnya.
"SAYANG!"
Tiba-tiba saat kemarahan Anyelir seolah meledak-ledak, Kalandra datang tergesa-gesa sambil berlari, bahkan dengan nafas yang terlihat ngos-ngosan dengan diikuti oleh Asistennya dari belakang.
"Ini dia orangnya, habis kamu Kalandra, hajaaarr dia Anyelir, tunjukkan siapa dirimu, go go go Anyelir!" Adinda dan Alenka, bahkan Sean pun seolah kompak menjadi provokator dari pihak Anyelir.
"Jika kamu sudah tidak tahan, angkat kedua tanganmu nak, biar Papa yang menyelesaikan semuanya!" Ucap Papa Anyelir yang akan menjadi garda terdepan untuk putrinya.
"Semuanya, tolong dengarkan penjelasanku dulu." Kalandra maaih mengatur nafasnya yang tersengal.
"Penjelasan apa yang kamu maksud hah? bisa-bisanya kamu tetap melayangkan surat cerai setelah apa yang kamu lakukan denganku Kalandra." Ucap Anyelir yang sudah berapi-api.
"Sayang, tunggu dulu!" Bahkan Kalandra mengangkat satu tanannya untuk mengambil nafas terlebih dahulu sebelum istrinya marah.
"Bahkan itu, Asistenmu sendiri sudah menjadi saksi kita dan melihat live kita tadi malam bukan?" Teriak Anyelir yang langsung menunjuk Asisten Kalandra yang langsung memalingkan wajahnya karena malu.
"Sayang Stop!" Teriak Kalandra kembali.
"Aku sudah melayani kamu mati-matian, rela bangun jam berapapun kamu sentuh, bahkan saat kita tidur selama enam jam, selama enam kali pula kamu meminta aku untuk melayanimu, bahkan tadi pagi masih sempat-sempatnya kamu nambah satu ronde saat mau berangkat ke Kantor, kurangku apa coba!" Anyelir bahkan sudah tak terkontrol lagi.
"Cukup sayang!" Teriak Kalandra yang sudah mendengar mereka yang ada disana bisik-bisik sambil tertawa.
__ADS_1
"Bahkan saat kamu meminta aku yang selalu berada diposisi atas pun aku hmpth---"
"Astaga sayang, kenapa kamu membuka aib kita sendiri?" Kalandra langsung berlari dan membungkam mulut istrinya yang bocor itu.
"Bahahaha...! jadi pengusaha sukses yang terkenal berwibawa dan tidak terkalahkan itu sukanya main dibawah aja? peeeh... ternyata lemah kamu Kalandra!" Adinda seolah puas sekali menghujat Kalandra kali ini.
"Seharusnya kalau kamu butuh obat kuat, kamu bisa menghubungiku Kalandra, aku punya banyak kenalan penjual obat penambah stamina, dih... malu-maluin Alumni sekolah kita aja kamu, otak aja cerdas, tapi stamina LOYO!" Alenka pun tak kalah membully rekan satu angkatannya itu.
"Harusnya Anda lepaskan saja dia Nyonya Anyelir dan Anda bisa menikah denganku saja, karena setidaknya walau aku masih perjaka juga aku rela terus berada diatas untuk melayani Anda, tidak lemah seperti dia, hahaha!" Sean pun tidak mau ketinggalan
"Jangan harap kamu bisa menyentuh wanitaku!" Umpat Kalandra yang langsung melotot kearah Sean.
"Daripada Nyonya Anyelir terus diatas, kasian pak, bisa encok nanti pinggangnya, hahaha." Jawab Sean yang seolah tidak ada takut-takutnya.
"Aish... puas kamu sekarang yank, aku bahkan diledek habis-habisan oleh mereka!" Umpat Kalandra sambil menahan malu.
"Bodo amat, bukannya kamu menginginkan kita bercerai sekarang?" Ucap Anyelir yang masih terlihat murka.
"Itu salah paham, kemarin kan kamu sendiri yang meminta perceraian itu sebagai syarat dari permintaanku, jadi aku sudah mengurusnya saat itu."
"Bukannya kemarin kita sudah baikan, bahkan kamu juga yang meminta rujuk, noh.. makanan sudah terhidang semua, katanya mau syukuran buat rujuk, tetapi kenapa tiba-tiba datang surat cerai darimu?" Balas Anyelir tak mau kalah saat diajak berdebat.
"Ya maaf, aku lupa memberitahu pengacaraku untuk mencabutnya, karena aku terlalu sibuk mengurus perusahaan kita." Kalandra langsung mengalungkan kedua tangannya dileher istrinya.
"Bohong kamu!" Namun Anyelir langsung menepisnya.
"Demi Tuhan Yank, tadi saat Pengacaraku datang aku sedang rapat, jadi saat Asistenku bilang aku langsung menghubungi Kantor pengacara, tapi katanya surat cerai itu sudah diantar ke Rumah."
"Ckk... jadi mau cerai apa enggak ini?" Tanya Anyelir kembali memastikan.
"Ya enggaklah, mati-matian aku mempertahankanmu, masak iya mau pisah, nggak mau lah, sedari awal aku tidak pernah berniat pisah darimu, tapi karena ada musibah yang menimpaku, aku merasa rendah diri dan ingin mengabulkan permintaanmu karena aku takut kamu hidup sengsara, tapi ternyata aku tetap tidak rela melepasmu hingga akhir, apalagi aku sekarang sudah kaya lagi, jadi sampai kapanpun juga, tidak akan pernah ada kata pisah diantara kita, mengerti sayang?" Jelas Kalandra panjang lebar.
"Trus gimana itu?" Anyelir menunjuk surat cerai dan juga pengacara itu.
"Nanti aku cabut laporanku, aku kan sudah berjanji akan membahagiakan kamu dan Kanaya." Kalandra langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Janji ya?"
"Pasti dong sayang, kita telah melalui begitu banyak hal dan aku tidak ingin melewatinya dengan orang lain selain kamu, bahkan jika aku harus memilih antara bernapas dan mencintaimu, aku akan menggunakan napas terakhir untuk memberitahumu, bahwa aku sangat mencintaimu, I'm really love you Anyelir." Kalandra langsung mengungkapkan kata-kata mesra bahkan didepan semuanya.
"Aku pun!" Jawab Anyelir yang sebenarnya lebih tidak rela jika harus berpisah.
"Aku apa?"
"Love you too!" Jawab Anyelir malu-malu dan itu membuat Kalandra gemas dan langsung menyambar bibiirnya.
"Yuhuy... Slebew! sosor terus, masih ada orang lain disini woi!" Teriak Adinda dengan kerasnya.
"Berisik mereka ini, pindah kamar yuk yank!" Ajak Kalandra dengan lembut.
"Apaan sih?"
"Denger ya sayang, walaupun aku tidak pernah mengucap talak denganmu, tapi aku sudah melayangkan syarat-syaratnya ke pengacara, jadi kalau ada yang menggangap ini talak satu, cara rujuk tanpa akad nikah ulang yaitu dengan hubungan suami istri tau nggak?" Ucap Kalandra dengan wajah meyakinkan.
"Masak?" Anyelir memang tak tahu banyak soal hal itu.
"Menurut para pemuka agama, ketika masa iddah belum selesai dan suami sudah menggauli istri, maka artinya istri telah kembali kepada suami, jadi walaupun belum ada talak biar afdol lagi, kita langsung buat dedek Kanaya lagi, okey!" Ucap Kalandra dengan semangat.
"Tapi---"
"Ayolah, biarkan mereka syukuran dan makan dibawah, kita berdua bisa saling memakan di Kamar, okey?" Ucap Kalandra dengan wajah mesvmnya.
"Wuuuu... Dasar Modus!" Teriak mereka semua dengan kompak.
"Yang syirik pada nikah sono, cari Tokek kalian masing-masing, BYE!"
Dan akhirnya Kalandra langsung menggendong Anyelir yang sudah tersenyum-senyum saja sedari tadi, karena menahan malu.
Setiap orang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Namun untuk meraih hal itu bukanlah mudah, ada banyak rintangan yang harus dilewati.
Apakah itu berarti seseorang tidak bisa bahagia?
Tentu saja setiap orang bisa bahagia, porsi bahagia seseorang memang berbeda-beda. Kamu bisa bahagia dengan caramu sendiri dan pastikan untuk selalu dekat dengan Tuhan Sang Pencipta Alam.
...~SELESAI~...
Selamat datang di Novel Baru, kalau belum muncul di pencarian, Klik aja foto profil Author, nanti lihat di koleksi Novel Author.
__ADS_1