
Perbincangan alot diantara Anyelir dan Kalandra pun masih terus berlangsung, bagi Anyelir kehidupan Kalandra seolah masih penuh dengan teka-teki misteri yang harus dia pecahkan.
"Tapi aku masih kepikiran, dan boleh aku bertanya satu hal lagi?" Kini giliran Anyelir yang seolah menginterogasi Kalandra.
"Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan, jangan sungkan denganku, karena sebentar lagi kita akan berada dalam satu atap yang sama." Lagi-lagi dia berucap seolah Anyelir memang pilihan yang dia tunggu-tunggu sedari dulu.
"Kenapa kamu mau dijodohkan denganku?"
"Karena aku menyukaimu." Jawab Kalandra dengan cepat, bahkan seolah tanpa dia pikir-pikir terlebih dahulu.
Ini mustahil, dia pasti hanya bercanda, dulu aku berjuang keras, berusaha untuk mencuri hatinya dengan berbagai cara, namun dia selalu mengabaikan segala usahaku, dan sekarang setelah sekian tahun lamanya berpisah, dengan mudahnya dia bilang menyukaiku, apa dia benar-benar jomblo sekarang?
"HAH, tidak mungkin?" Walau tidak dipungkiri, Anyelir pun bahagia saat mendengar pengakuan Kalandra tadi.
"Hehe.. Kenapa tidak mungkin? Kamu cantik, lulusan luar negri, apalagi anak dari sahabat Ayah, sudah pasti tidak ada cela, ya kan?"
Dia bukan Kalandra yang dulu, dia tidak akan berkata seperti ini denganku?
"Tapi aku masih ragu." Celetuk Anyelir sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa tampangku terlihat seperti play boy yang suka menggoda dan mempermainkan seorang wanita? Sedangkan kamu dengar sendiri kan tadi Ayahku bicara apa, aku tidak pernah mau dijodohkan dengan wanita cantik manapun, selain dengan kamu."
Ini suatu pujian bagiku, namun kenapa aku tidak melayang dan malah semakin menambah rasa penasaranku dengan semua tentang Kalandra.
"Boleh aku minta waktu?" Anyelir bukan tipe orang yang mudah tergiur begitu saja dengan segala rayuan ataupun gombalan dari seseorang.
"Untuk apa?" Tanya Kalandra dengan suara lembutnya.
"Untuk memikirkan hubungan kita kedepannya." Jawab Anyelir yang memilih membuang arah pandangannya.
"Kamu masih ragu denganku? Apa kata-kata cintamu dulu juga hanya sekedar cinta monyet belaka?"
__ADS_1
Tidak, itu sungguhan, Aku butuh kamu seperti jantung butuh detak, bahkan sampai sekarang rasa itu masih sama denganmu Kalandra, hanya saja aku merasa ini bukan sifatmu yang dulu.
"Kamu banyak berubah sekarang." Ucap Anyelir kembali, walau todka dipungkiri, bahwa Tuhan itu maha pembolak-balik hati manusia yang bisa berubah kapan saja, tapi tetap saja Anyelir merasa ada yang aneh saja.
"Apanya yang berubah, kalau soal bentuk tubuh yang namanya berambah umur pasti berubah, kamu pun tambah sexy sekarang, ya kan?" Kalandra bahkan tersenyum menyeringai, apalagi saat berkata sexy, kedua matanya seolah langsung mengitari tubuh Anyelir yang memang proporsional dan menarik hati bagi lawan jenis.
"Huft... Begini saja, beri aku waktu dengan tiga kali Kencan, jika memang kita berdua merasa cocok satu sama lain dengan kehidupan baru kita, nanti bisa lanjut, tapi kalau tidak lebih baik kita tolak saja perjodohan ini."
"Aku tidak mau." Ucap Kalandra dengan mantap.
"Tidak mau berkencan denganku?" Anyelir malah berpikiran lain tentang hal itu.
"Tidak mau menolak perjodohan ini, aku ingin menikah denganmu Anye." Kalandra berbicara sambil memonyongkan bibiirnya dengan manja.
Gila, ini terlalu manis, lama-lama bisa diabetes gue kalau terus-terusan melihat yang seperti ini.
"Eherm.. jadi?" Anyelir sampai memalingkan wajahnya untuk menahan senyuman penuh kebahagiaan itu.
"Kalandra?" Semakin Kalandra bersikap manis, entah mengapa Anyelir malah semakin ragu dengannya.
"Okey, siang ini anggap saja kencan pertama kita, nanti sore aku jemput kamu lagi untuk kencan kedua sekaligus mencari cincin pertunangan kita, besok aku dan keluargaku akan datang kerumahmu untuk melamarmu, dan anggap saja itu kencan ketiga kita, jangan lupa nanti dandan yang cantik ya, aku rindu kamu yang dulu." Kalandra mengusap rambut panjang Anyelir.
"Tapi Kala, aku ingin kita lebih mengenal jauh denganmu sebelum hari pernikahan tiba, apa tidak boleh?" Pinta Anyelir dengan tatapan cemasnya.
"Kamu sedikit banyaknya sudah tahu tentang aku bukan, dan untuk yang lainnya kamu bisa mengenalku setelah hari pernikahan tiba, bukannya lebih baik kalau kita pacaran setelah menikah? Tidak akan ada kata fitnah dan dosa yang akan kita tanggung, bukan begitu?" Kalandra seolah menolak apa yang Anyelir inginkan.
"Kenapa harus terburu-buru Kalandra? kita juga masih terlalu muda untuk menikah bukan?" Anyelir benar-benar merasa terdesak karenanya.
"Bukannya lebih bagus menikah muda, jadi saat anak kita tumbuh dewasa kita juga belum terlihat tua dan bisa melihat anak kita bahagia dengan pasangannya?"
Dia sudah memikirkan soal anak? Apa dia sungguh serius?
__ADS_1
"Tapi aku--?"
"Sudahlah Anyelir, percaya saja padaku, aku sungguh-sungguh ingin menikah denganmu, terlepas dari perjodohan orang tua kita, atau kamu sudah punya kekasih sekarang?" Tanya Kalandra yang seolah ucapannya tidak terbantahkan.
"Enggak punya sih, tapi--?"
"Kalau begitu tidak perlu lagi ada kata tapi-tapian, besok kita lamaran dan akhir pekan nanti kita menikah, okey?"
DUAR
"Akhir pekan ini?" Anyelir sampai melotot saat mendengarnya, baru juga sampai di negara tercinta, nggak ada kabar nggak ada penjelasan tiba-tiba ngajakin nikah aja pikirnya.
"Ya, kenapa? aku sudah tidak sabar ingin bersanding denganmu di pelaminan, apa tidak boleh?" Dia bahkan mengerlingkan matanya dengan genit.
"Kalandra?" Pertahanan Anyelir seolah lemah tak berdaya jika itu tentang Kalandra.
"Menikahlah denganku Anyelir, jangan menolakku, karena jika kamu menolakku sekali, tidak akan pernah ada lagi kesempatan kedua, mengerti sayang?"
Kalandra kembali membuat Anyelir kelimpungan, bahkan wajahnya memerah saat ini, karena Kalandra menggungkung tubuh Anyelir dari belakang dan meletakkan lengan kokohnya disamping tubuh Anyelir kanan dan kiri.
"Heh?" Jantung Anyelir seperti akan runtuh saja, tubuhnya hanya bisa mematung, takut bergerak walau sedikit saja, karena kulitnya sudah merinding sekarang, bagaimana pula jika sampai bersentuhan kulit, mungkin dia akan gemetaran jadinya.
"Ayo kita kembali ke meja mereka, agar kita bisa cepat pulang, karena aku sudah tidak sabar ingin berkencan yang romantis berdua denganmu."
Kalandra kembali menggandeng lengan Anyelir dan membawanya menuju ke meja orang tua mereka, dengan wajah yang seolah sumringah, khas seperti wajah orang yang sedang kasmaran.
Fixs... Dia bukan Kalandra yang dulu lagi, apa pergaulan di Kampusnya itu membuat dia berubah? tapi dia manis sekali, dia benar-benar membuatku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, atau bahkan untuk yang kesekian kalinya.
Dan sebenarnya Anyelir masih memilih bimbang, dia ingin tahu seberapa jauh perbedaan Kalandra yang dulu dengan yang sekarang namun seolah Kalandra tidak mau memberinya kesempatan.
Hidup adalah siklus padang surut, berkembang dan bertumbuh hingga akhirnya tiada. Maka isilah hidup sebaik yang kau bisa, sebermanfaat yang kau mampu, sebelum kehidupan itu pergi dan terlepas.
__ADS_1