Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
59.Habis Sudah


__ADS_3

Berita buruk kembali menerpa bisnis Kalandra yang seolah terjadi beruntun terus menerus, bahkan kali ini pihak pekerja lapangan melakukan aksi demo dengan para petinggi perusahaan, karena terancam terkena PHK, sebab beberapa proyek lapangan yang Kalandra tangani gagal karena beberapa oknum yang menyelewengkan Dana lapangan dalam jumlah fantastis dari perusahaannya.


Dan siang ini Kalandra memilih pulang ke rumah, daripada harus terus berada di kantor, karena hanya akan membuat kepalanya terasa sakit, walau kasusnya sudah dia serahkan kepada pihak yang berwajib, tapi untuk menutup semua kerugian di perusahaannya mungkin dia harus menjual semua aset berharga miliknya.


"Istriku, aku pulang." Ucap Kalandra dengan nada lemah dan badan yang seolah hilang tulang belulangnya, namun dia tetap mencoba tersenyum saat melihat Anyelir turun dari tangga rumahnya.


"Hmm... mau aku buatkan makanan?" Anyelir sudah mendengar kabar itu dari sopir Kalandra yang tadi berpamitan dengannya ingin pulang kampung karena terpaksa harus dirumahkan.


Sebenarnya Anyelir pun tidak tega, namun dia bisa apa, karena mungkin mobilnya juga akan terjual, jadi kalau tidak dirumahkan juga tidak ada lagi kerjaan untuknya.


"Tidak perlu." Jawab Kalandra sambil menarik tangan Anyelir agar dia duduk disampingnya dan Kalandra bisa menyandarkan kepalanya yang terasa berat itu di bahu Anyelir.


Dia baru menyadari bahwa ternyata sandaran yang paling menenangkan hatinya itu bukan pada Jenny yang dia pikir lembut dan kalem, tetapi ada pada Anyelir yang dia pikir bar-bar sedari dulu, karena kenyamanan itu tercipta dari hati bukan yang terlihat oleh mata saja.


"Tenang saja, kali ini tidak akan beracun, apalagi membuatmu bolak-balik ke kamar mandi." Ucap Anyelir yang hanya bisa menawarkan itu sebagai seorang istri.


"Emm... aku tahu, tapi aku benar-benar tidak selera makan." Ucap Kalandra yang memilih memejamkan kedua matanya dan memeluk pinggang istrinya.


Aish... kenapa dia jadi manja begini? Pakr acara peluk-peluk lagi, tapi aku kasihan juga dengannya.


"Okey, tapi setidaknya minumlah ini, aku tadi sudah membuatkan kamu minuman sehat dari bahan rempah alami, agar imun di tubuh kamu tidak lemah." Dia sudah menyiapkan minuman itu bahkan sebelum Kalandra pulang.


"Benarkah? kamu yakin ini bisa diminum?" Kalandra terlihat meragukan minuman itu karena baunya memang agak menyengat.


"Ini namanya Wedang Uwuh, bagus untuk menjaga daya tahan tubuh, kalau kamu takut aku racunin, biar aku dulu yang minum." Anyelir langsung meminumnya dua teguk didepan Kalandra, dia tahu tadi malam Kalandra terjaga sampai pagi untuk melihat laporan-laporan dari Kantornya.


"Baru denger, sini coba aku minum sedikit." Akhirnya Kalandra mencobanya, bahkan meminum bekas dari gelas Anyelir tanpa ragu, padahal dulu jangankan minum satu gelas, makan satu meja saja dia sering malas.


"Apa kamu baik-baik saja?" Anyelir ingin mencoba menjadi istri bijak untuk sekedar menjadi tempat keluh kesah dari sang suami, bahkan dia sedikit mengesampingkan egonya untuk berada diatas Kalandra saat ini.


"Memangnya aku kenapa?" Ucap Kalandra yang mencoba untuk tetap tersenyum walau berat.


"Tidak mungkin kamu pulang jam segini tanpa alasan, aku sudah tahu semua masalah perusahaanmu." Anyelir hanya bisa menghela nafasnya saja, dia pun tidak menyangka jika perusahaan besar seperti itu bisa mendapatkan masalah yang cukup besar secara tiba-tiba.


"Hmm... Ada sedikit masalah di Kantor." Kalandra sebenarnya belum ingin bercerita, namun memang kabar buruk itu selalu cepat menyebar.


"Cuma sedikit?" Anyelir pun tidak ingin memaksanya bercerita.


"Sudahlah, kamu tidak perlu risau akan hal itu." Ucap Kalandra kembali, dia tidak ingin terlihat rapuh didepan Anyelir, apalagi dia masih dalam proses memperbaiki hubungannya yang sudah retak dan hampir patah.


"Apa yang bisa aku bantu?" Perasaan wanita memang sangat lembut, dan gampang merasa tidak tegaan, apalagi melihat pria yang biasanya bicara dengan tingkat percaya diri penuh itu tiba-tiba terlihat sayu dan sendu.


"Tidak perlu, ini masalah intern perusahaan kami, biar aku yang akan menyelesaikan masalahnya sendiri." Kalandra tidak ingin dianggap mencari belas kasihan kepada Anyelir, apalagi mengingat bagaimana kelakuannya dulu terhadap Anyelir.


"Sebenarnya aku emm.. bermaksud ingin mengakuisisi perusahaanmu kemarin?"


Dan ternyata tanpa harus membuat bucinpun sebenarnya dengan mudahnya Anyelir bisa mengambil alih perusahaan suaminya.


"Kalau kemarin kamu memintanya, pasti sudah aku berikan, bahkan jika kamu mau, kamu boleh mengambil alih semua hartaku, karena memang aku suamimu, kamu berhak atas itu, tapi kalau saat ini sudah lain ceritanya, jika kamu meng-akuisisi perusahaanku tidak ada untungnya juga, kamu hanya akan rugi, karena jika aku jual perusahaanku itu pun sepertinya tidak cukup untuk membayar ganti rugi perusahaan." Ucap Kalandra sambil merengkuh kedua tangan Anyelir untuk dia letakkan di pipinya, entah kenapa dia jadi melow begini.


"Apa sampai segitu parahnya?" Anyelir hampir tidak percaya.

__ADS_1


"Hmm... mungkin sudah tidak akan bisa diselamatkan, habis semua." Kalandra berada dititik terendah dalam hidupnya kali ini, maaih baik Anyelir dan Kanaya tidak pergi, kalau semua pergi darinya bisa jadi dia akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa saat ini.


"Mungkin Papaku bisa membantumu?" Anyelir langsung memberikan satu solusi.


"Tidak perlu, walau Papa Mertua membantupun masih belum cukup, aku benar-benar ditipu habis-habisan saat ini." Dan alasan yang membautnya menolak, dia memang tidak mau menyusahkan siapapun dalam hal ini.


"Kenapa bisa begitu, bukannya kamu mendapat gelar pembisnis muda yang sukses?" Pamor Kalandra benar-benar melonjak dalam beberapa tahun ini, namun Kita semua harus sadar bahwa ujian itu bukan hanya masalah saja, namun harta dan tahta itu juga bisa menjadi ujian dalam kehidupan manusia.


"Ada yang sengaja ingin menghancurkan aku sepertinya dan dia pasti berperan besar dalam dunia bisnis international juga dan mungkin paham dengan seluk beluk perusahaanku." Dia belum bisa menebak siapa orangnya, namun menurut analisisnya dia pasti orang yang tahu titik kelemahannya.


"Apa kemungkinan ada orang dalam yang benci denganmu? Kamu tahu siapa orangnya?" Tanya Anyelir yang jadi ikut penasaran.


"Entahlah, sampai saat ini masih dalam pencarian." Kalandra sudah tidak bisa memikirkannya lagi, kepalanya benar-benar penuh dengan masalah.


Kamu dulu menyerangku lewat hati dan perasaan, sekarang Tuhan memberikan pelajaran kepadamu lewat harta, walau mungkin ini lebih dari cukup untuk memberikan pelajaran bagimu, tapi kenapa aku jadi nggak tega ya?


"Lalu langkah apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" Anyelir pun tidak begitu paham, jadi dia tidak bisa membantu apa-apa.


"Entahlah, yang pasti aku akan menjual semua asetku untuk membayar gaji terakhir semua karyawan di perusahaan dan juga karyawan lapangan, karena mungkin mereka akan di rumahkan." Jawabnya kembali, dia sudah tidak mampu mengatasinya, bahkan untuk mengambil pinjaman dalam jumlah besar pun dia sudah sulit karena tidak ada jaminan yang setimpal.


"Semua?" Tanya Anyelir yang kembali dibuat terkejut.


Tuhan memang Maha Besar, dia mampu memutarkan posisi umatnya yang dulu diatas dan tiba-tiba turun drastis ke bahkan hampir ke jurang.


"Huft... mungkin." Jawab Kalandra dengan suara beratnya.


"Apa rumah ini juga?" Tanya Anyelir yang sudah ingin bersiap-siap mengemasi barang-barangnya saat itu juga.


Berr!


Ucapan Kalandra terdengar sederhana, tapi seolah mampu membuat hati Anyelir merasa trenyuh seketika, ternyata dia tidak melalaikan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.


Karena sedari dulupun Kalandra memang selalu tanggung jawab soal kebutuhan materi dengan Anyelir, dia tidak pernah mengabaikan nafkah lahir untuk istrinya, hanya saja perilaku dan mulutnya saja yang seolah berbisa.


Ya Tuhan, aku ingin sekali membantunya, atau aku minta bantuan saja sama Alenka dan Adinda, mereka pasti punya cara.


"Kalau aku bisa membantumu, maukah kamu menerimanya?" Anyelir berniat ingin menemui kedia sahabatnya setelah ini untuk mencari solusi terbaik.


"Anyelir, aku sudah banyak menyusahkan kamu selama ini, jadi aku tidak akan membebankan perusahaanku kepada kamu lagi, percayalah aku pasti bisa mengatasinya sendiri, karena aku kepala keluarga disini dan aku yang harus menanggung semuanya, bukan kamu." Dia sungguh malu, jika sampai istri yang dia sia-siakan selama hampir lima tahun ini ternyata yang membantunya disaat dirinya terpuruk dalam kebangkrutan.


"Tapi Kala, aku hanya---" Namun ucapan Anyelir langsung terputus.


"Terima kasih kamu sudah perduli denganku, walau aku pernah jahat sekali denganmu, bahkan aku sebenarnya malu terlihat lemah didepanmu." Jawab Kalandra dengan jujur.


"Sebagai pasangan suami istri bukannya kita harus saling menguatkan, saling membantu dan saling melengkapi? karena sebenarnya itulah fungsi dari berumah tangga, ya kan?" Banyak sudah ujian dan pelajaran yang Anyelir dapatkan selama ini, dan ujian harta saja tidak akan membuatnya pergi.


"Emm... Anyelir, boleh nggak kalau aku bilang sesuatu denganmu?" Kalandra menatap wajah Anyelir dalam-dalam.


"Bilang apa? katakan saja." Jawab Anyelir yang langsung memalingkan wajahnya, dia tidak akan tahan bertatapan secara intens sedekat itu dengan suaminya.


"Aku sayang kamu."

__ADS_1


Duar!


Walau itu ucapan yang terkesan sederhana dan hal biasa bagi dalam berumah tangga, tapi tidak dengan Anyelir, karena seingatnya baru kali ini Kalandra mengucapkan tiga kata itu dengan tulus.


"Dih... apaan, orang lagi kena musibah masih sempat sayang-sayangan lagi." Jawab Anyelir sambil melengos karena menahan malu.


"Maaf, mungkin aku terlambat menyadarinya, tapi untuk masalah kali ini aku benar-benar ingin menyelesaikan semuanya sendiri, walau mungkin tidak bisa kembali mendapatkan gelar pembisnis muda terpopuler, tapi setidaknya aku tidak akan membiarkan kamu dan Kanaya kekurangan, apalagi harus kelaparan saat hidup denganku." Jelas Kalandra dengan segala komitmentnya.


"Aku nggak miskin-miskin amat Kala, apa kamu lupa?" Ucap Anyelir, dia pun bisa menghidupi dirinya sendiri walau dengan warisan kedua orang tuanya.


"Aku tidak ingin membebankan masalah perusahaan ku dengan kedua orang tua kita, selagi aku masih mampu bekerja, aku tidak akan menyusahkan orang tua." Jelas Kalandra, karena dia masih sehat, jika memang dia akan bangkrut dia bisa memulai semua dari nol lagi, dengan kemampuannya selama ini dia yakin bisa bekerja dengan baik walau mungkin harus bekerja di perusahaan orang nantinya.


Sepertinya aku tidak salah menyukai pria ini dari dulu sampai sekarang, walau aku pernah sangat membencinya.


"Ya sudah, kamu istirahat dulu, sepertinya kamu kurang tidur, mata kamu sudah menghitam kayak mata Panda." Anyelir pun tidak akan memaksanya,namun dia berniat membantu Kalandra diam-diam.


"Kamu mau menemaniku?" Tanya Kalandra yang kembali bertingkah manja.


"Ini masih siang, jangan modus kamu." Umpat Anyelir yang langsung mendorong tubuh suaminya perlahan agar tidak menempel terus dengannya.


"Aku butuh sandaran Istriku?" Ucap Kalandra yang nemplok kembali.


"Itu ada tembok atau bahu kasur, pakai sajalah, gratis kok." Ledek Anyelir yang berusaha membuat lelucon.


"Anyelir, kamu ini tega sekali?" Rengek Kalandra sambil memonyongkan bibirnya.


Dia ternyata bisa lucu dan menggemaskan ya?


"Hehe... Aku ada perlu sedikit dengan Adinda dan Alenka, skalian mau jemput Kanaya juga, bukannya kamu sudah merumahkan sopir pribadimu juga?" Ucap Anyelir kembali.


"Hmm... Maafkan aku." Kalandra hanya bisa terus meminta maaf, karena tidak bisa berbuat lebih.


"Tidak masalah, istrimu ini sudah terbiasa mandiri sejak kau sakiti bertahun-tahun." Celetuk Anyelir dengan sindiran kerasnyam


"Anye... Aku---" Dan itu berhasil membuat raut wajah Kalandra terlihat pucat dan lesu.


"Sudahlah, aku hanya bercanda saja, aku tidak akan mengingatnya lagi asalkan kamu tidak mengulanginya." Ucap Anyelir sambil tersenyum.


Anyelir memang sempat dalam fase terlalu membenci, namun, dia bukan tipe wanita yang pendendam, karena dia takut saat tua nanti matinya sulit karena mempunyai sifat Pendendam.


"Kamu wanita hebat Anyelir, aku jadi makin sayang sama kamu." Puji Kalandra yang seolah terkagum-kagum dengan sikap istrinya, dia benar-benar baru melihat sosok Anyelir dibalik sifatnya dulu yang terkesan manja dan bar-bar.


"Pergi ke Bali beli buah durian, eits.. sori, udah nggak mempan! Aku pergi dulu, bye.." Anyelir memilih kabur saja, daripada tidak tahan dengan rayuan dari suaminya.


"Ahaha... hati-hati sayang, jangan pulang malam-malam ya, aku menunggumu." Teriak Kalandra yang langsung tertawa mendengar ucapan istrinya itu.


Dan Anyelir hanya menjawabnya dengan sebuah senyuman saja, namun didalam hati kecilnya dia benar-benar merasa bahagia, walau hanya mendapatkan perhatian sekecil itu saja dari Kalandra.


Dia sama sekali tidak takut Kalandra menjadi miskin karena perusahaannya bangkrut sekalipun, dia bahkan mengambil banyak hikmah dengan semua ini, karena hidup bergelimangan harta pun belum tentu menjamin kehidupan bahagia.


Jadi dia tidak masalah hidup sederhana, asalkan tidak kekurangan kasih sayang dan yang pasti tidak makan hati dalam hiruk pikuk rumah tangganya.

__ADS_1


Karena tugas kita sebagai manusia hanya mengangkat tangan, sisanya biar Allah yang turun tangan.


__ADS_2