Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
56.Ambil Alih


__ADS_3

Nasip Apes memang bisa menimpa siapa saja, setelah Kalandra berhasil dibohongi oleh Jenny selama bertahun-tahun, kini perusahaannya tertimpa satu masalah yang cukup serius.


Ada kecurangan dalam beberapa proyek yang dia tangani akhir-akhir ini, hingga dia mengalami banyak kerugian, bahkan harga saham miliknya pun ikut menurun drastis, membuat perusahaan Kalandra terancam mengalami kebangkrutan.


Segala isi meeting kali ini, berhasil diamati oleh Adinda dan Alenka secara langsung, hingga sore ini mereka berencana untuk kumpul bersama membahas tentang masalah ini.


"Kala, aku mau keluar sebentar sore ini dan kamu sudah janji nggak akan melarang-larang aku pergi lagi bukan? atau konsekuensinya kamu tahu sendiri." Ucap Anyelir saat mereka berdua sudah berada di rumah.


"Kamu mau minta izin atau mau mengancamku?" Tanya Kalandra sambil menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat dibahu kursi, bahkan untuk berada didalam Kantor saja dia tidak sanggup karena telpon di ruangannya tidak pernah berhenti berdering karena hal ini, sehingga Kalandra memutuskan untuk pulang ke rumah saja.


"Kalau bisa dua-duanya." Jawab Anyelir yang sebenarnya kasian juga.


"Sama siapa?" Tanya Kalandra sambil memejamkan kedua matanya.


"Adinda dan Alenka." Jawab Anyelir dengan cepat.


"Beneran, nggak bohong kamu?" Tanya Kalandra yang seolah meragukan hal itu.


"Temanku sedari dulu sampai sekarang cuma mereka, kenapa juga aku harus berbohong denganmu." Jawab Anyelir dengan santainya, karena memang mereka berdua yang akan dia temui.


"Nanti PAP ya?" Pinta Kalandra dengan senyuman yang sedikit dia paksakan, sebisa mungkin dia akan berusaha mengubah imagenya agar Anyelir tidak merasa ketakutan dengan dirinya.


"Kamu ini kayak anak ABG aja, cuma keluar sebentar aja harus PAP segala!" Umpat Anyelir yang sedikit merasa geli, dia merasa menjadi anak ABG yang dicemburui oleh pasangannya ketika tidak bersamanya.


"Kenapa, kamu takut ketahuan karena ada pria lain disana, mau menggatal kamu ya?" Kalandra langsung melirik kearah istrinya.


"Cih... Aku itu nggak kayak kamu, yang punya hobby mendua." Celetuknya dengan kesal.


"Sekarang cuma kamu kok satu-satunya, the only one." Ucap Kalandra kembali dengan tatapannya yang menawan hati.


"Karena terpaksa kan?"


"Dulu, tapi sekarang enggak kok, seriusan!" Jawab Kalandra yang mulai menyadari kalau lagi ngambek begini wajah istrinya itu terlihat lucu, dan cukup menghiburnya dikala suasana hati sedang kacau.


"Peh... sudahlah, malas berdebat sama kamu, istirahat sana." Ucap Anyelir yang sebenarnya sedikit berdebar jantungnya, karena memang rasa itu itu masih ada.


"Istriku?" Panggil Kalandra dengan nada lembutnya.


"Heh?" Bahkan Anyelir langsung menoleh dengan tatapan heran.


"Hehe.. Aku lapar." Rengek Kalandra yang terlihat begitu manja.


"Kamu asyik lapar aja, si Bibi baru belanja, tunggu dia pulang sebentar lagi, biar dimasakin, aku mau istirahat dulu." Rasa dihati Anyelir sudah tidak karuan, jadi dia memilih menghindar saja pikirnya.


"Emang kamu nggak bisa masak?"


"Nggak!" Jawab Anyelir dengan ketus.


"Anyelir, ayolah sekali-kali masaklah buat suamimu ini." Pinta Kalandra dengan segala rayuannya.


"Aku pesankan online saja." Anyelir langsung mengeluarkan ponselnya.


"Aku mau kamu yang masak, sekali-kali lakukan tugasmu sebagai seorang istri untuk melayani suaminya!"


Ngeselin amat dia, awas aja kamu!"


"Aku nggak bisa masak, nanti kalau nggak enak kamu marah!" Umpat Anyelir yang mulai terpancing karena ucapannya.


"Enggak, aku pasti akan memakannya sampai habis!"


"Okey, ingat itu janjimu!"


Anyelir tidak jadi melanjutkan menaiki tangga dan langsung pergi ke Dapur menggunakan celemek dengan senyum liciknya.


"Kamu sendiri yang minta ya, jangan salahkan aku kalau sampai kamu sakit perut."


Sebenarnya Anyelir bisa memasak, tapi memang yang simple-simple aja, karena memang sedari kecil selalu ada asisten rumah tangganya yang selalu memasak untuknya.


"Jangan dikasih racun ya, perusahaanku sedang ada masalah, kamu tahu sendiri kan?" Bahkan Kalandra ikut duduk di meja Dapur sambil menatap wajah istrinya.


"Kamu pikir aku penjahat kayak kamu!" Umpat Anyelir yang langsung melengos sambil membanting sayur yang dia keluarkan dari Kulkas.


"Siapa tahu kamu kesal dan ingin balas dendam sama aku kan, jadi aku akan mengawasimu?"


"Pengen banget, tapi aku takut dosa, nggak kayak kamu!" Jawab Anyelir dengan nada ketusnya.


"Anyelir, kenapa kita tidak memulainya dari awal lagi?" Tanya Kalandra yang membuat Anyelir langsung naik darah.


"Telat, karena arah jarum jam itu ke kanan, kalau disuruh balik dari kiri lagi, itu tandanya sudah rusak." Umpat Anyelir tanpa mau menolehnya, bahkan dia sengaja mengeraskan hentakan pisaunya ke telenan.


"Ckk... Bukannya selalu ada kesempatan kedua dalam hal apapun?" Sebenarnya Kalandra ngeri juga melihat tajamnya pisau itu, tapi dia yakin Istrinya itu tidak akan tega melayangkan pisau itu kearahnya.


"Malas." Jawab Anyelir sambil sedikit membanting panci itu diatas kompor.


"Anyelir, dulu kamu penurut loh, kenapa sekarang galak sekali." Ucap Kalandra sambil memundurkan tubuhnya karena terkejut.


"Tunggulah didepan sana, jangan mengganguku masak, bisa nggak!" Semakin Kalandra banyak bicara dia akan semakin kesal.


"Kenapa, kamu grogi ya aku tungguin?" Ledek Kalandra tanpa henti.


"Dih... sudah bukan jamannya!"


"Bilang aja kamu malu aku lihatin kan?" Bahkan Kalandra sengaja menoel pinggang Anyelir walau langsung beringsut mundur setelahnya.


"Woah... pria ini benar-benar ya."


Semakin diledek, Anyelir semakin kesal sendiri jadinya, dan tanpa sengaja dia melihat ada bubuk cabe disana, otak liciknya kembali muncul disana.


"Kalandra, pintu depan tadi sudah aku tutup belum sih, coba lihatin sebentar."


"Biarkan saja!" Jawab Kalandra yang tidak perduli.


"Jaman sekarang banyak orang jahat, kalau ada Maling mengintai gimana?"

__ADS_1


"Mana ada maling siang-siang begini?" Kalandra sebenarnya hanya malas saja.


"Ayolah coba lihat sebentar." Anyelir terus berusaha memaksanya agar dia pergi dari sana walau hanya sekejap.


"Iya-iya, bawel banget." Dengan wajah terpaksa Kalandra bangkit dari kursinya menuju ruang utama dirumah mereka.


Sok!


"Opsh... kebanyakan! halah... masukin aja semua, lagian punya persediaan obat sakit perut kok, mules-mules dah tuh orang, hihi!"


Satu botol Bubuk Cabe level sepuluh berhasil masuk kedalam mie goreng yang dia buat, setelahnya dia tambah kecap banyak-banyak agar warna cabenya tertutup sempurna.


"Sudah tertutup kok." Kalandra kembali lagi dengan bibiir yang sudah dia monyongkan.


Sekali-kali ngerjain suami nggak papa lah ya, ini kan sakitnya di perut doang, kasih obat juga sembuh, nggak sampai menyerang di hati kayak kelakuannya dulu denganku.


"Okey, tunggu di meja makan, mie goreng spesialnya sebentar lagi sudah siap." Ucap Anyelir dengan senyum kepuasan.


"Okey istriku."


Tak lama kemudian, satu piring mie goreng sudah terhidang di hadapan Kalandra, kalau dari baunya sih cukup wangi, tapi rasanya sungguh luar biasa.


"Emm... tapi aku nggak yakin dengan masakanku, lebih baik nggak usah dimakan aja deh." Anyelir pura-pura insecure dan ingin mengambil kembali masakannya namun dilarang oleh Kalandra.


"Baunya enak kok, aku akan memakannya." Jawab Kalandra sambil mencium bau mienya.


"Jangan deh, nanti malah kamu buang lagi, padahal aku sudah capek-capek berjuang memasak." Ucap Anyelir denganwajah memelasnya.


Mulai saat ini, aku tidak akan membuatmu bersedih lagi.


"Aku pasti akan menghabiskannya." Jawab Kalandra dengan senyuman manisnya.


"Janji ya, kalau enggak, jangan pernah menyuruhku memasak lagi." Ancam Anyelir dengan tampang sedihnya, walau dalam hati dia ingin sekali tertawa.


"Siap istriku, aku makan ya." Bahkan dia melupakan tangannya yang masih diperban dan langsung memegang sendok untuk mencicipinya.


"Habiskan, jangan sampai ada sisa."


"Emm... Hmpt!"


Kedua mata Kalandra langsung mendelik, wajahnya mulai memerah karena mungkin lidahnya seperti terkena sengatan bara api, namun dia masih menahan untuk tidak memuntahkan makanan yang ada dimulutnya.


"Kenapa, tuh kan nggak enak, pasti kamu mau muntah kan, ckk... kesel deh!" Anyelir langsung pura-pura merajuk.


"Uhuk... Enak kok, cuma--" Wajah Kalandra sungguh menggambarkan bahwa rasa mie goreng buatan istrinya itu memang tak layak dikonsumsi untuk lidah manusia, bayangkan saja, mie hanya seporsi namun bubuk cabainya satu botol.


"Cuma apa?"


"Cuma-- uhuk.. uhuk.. emm.. sedikit pedas aja." Dia bingung sendiri harus bagaimana, disatu sisi dia ingin menjaga perasaan Anyelir, disatu sisi dia pun takut perutnya tidak bisa menerimanya.


"Trus mau kamu buang gitu?" Anyelir menatapnya dengan wajah sendu.


"Enggak, aku makan ini!" Kalandra susah payah menelannya bulat-bulat dengan menahan segala rasa.


"Enggak usah, tanganku sudah membaik, kamu katanya ada janji dengan sahabatmu kan, sana siap-siap dulu temui mereka." Baru satu sendok mie saja dia telan, satu gelas air sudah habis dia tenggak.


"Aku mau lihat kamu menghabiskan itu dulu." Ucap Anyelir dengan manja.


"Tapi---" Kalandra sudah lemas sendiri membayangkannya.


"Kalau nggak habis aku marah nih!" Anyelir kembali mengancamnya.


"Aish.."


Dengan wajah yang sudah berapi-api, telinga yang seolah sudah mengeluarkan asap lewat cerobong kanan kiri dan kepala yang seolah terasa ingin meledak, Kalandra menelan sampai habis mie goreng cabe buatan Anyelir.


"Kalau begitu aku pamit pergi ya suamiku, kalau butuh obat sakit perut ada di kotak P3K yang berwarna hijau, bye." Setelah semua tertelan, Anyelir langsung segera pergi bahkan sedikit berlari meninggalkan Kalandra di meja makan.


"Anyelir, kamu sengaja ya!" Dan disitulah dia merasa curiga.


"Pffth... itu belum seberapa daripada rasa sakit yang sudah kamu torehkan denganku." Umpat Anyelir yang langsung menahan tawa, tanpa mau menoleh kembali kearah Kalandra yang terlihat sangat kesal dengannya.




Setelah dia sampai ditempat yang sudah mereka janjikan, ternyata Adinda dan Alenka sudah menunggu dirinya sambil ngobrol santai disana.



"Hallo bestie, apa aku terlambat?" Sapa Anyelir yang langsung memeluk mereka satu persatu.



"Lumayan, apa suamimu berulah lagi?" Tanya Adinda dengan tatapan bertanya-tanya.



"Tidak, kali ini aku yang berulah, hehe!" Jawabnya dengan senyuman saat mengingat wajah kalut Kalandra tadi.



"Kamu apain dia?" Tanya Alenka yang mulai tertarik dengan ceritanya.



"Dia maksa minta aku masakin, ya udah aku buatin mie goreng cabe level sepuluh, trus aku paksa dia makan sampai habis." Anyelir langsung menceritakan sepenggal kisahnya siang ini.



"Bahaha... Gila, ternyata punya nyali juga kamu, kenapa nggak dari dulu?" Ledek Adinda yang langsung terkekeh karenanya.


__ADS_1


"Kalau dulu aku begitu, mungkin dia sudah membunuhku!" Jawab Anyelir yang merinding duluan saat membayangkannya.



"Aish.. ya sudahlah, nggak perlu bahas yang dulu-dulu lagi, biarkan saja dia cuci perut sekalian cuci tubuhnya dari dosa-dosannya itu." Celetuk Adinda hang tidak perduli juga.



"Bener banget itu." Alenka ikut menimpali.



"Trus gimana, apa ide kalian dengan kondisi perusahaan Kalandra?" Anyelir kembali ke topik inti, karena dia tidak bisa pergi lama-lama.



"Kita berdua tadi sudah membahas ini matang-matang dan hasilnya sudah mufakat dari kami, kamu tinggal menjalankan saja." Jawab Adinda yang selalu punya cara dalam segala hal.



"Apa itu?" Tanya Anyelir sambil mengerutkan kedua alisnya.



"Menurut kami, ada seseorang yang sengaja ingin menjatuhkan perusahaan Kalandra, karena selama ini performa Kalandra bagus dalam bisnis, tidak mungkin sahamnya juga bisa langsung merosot drastis, bahkan proyeknya banyak yang gagal secara bersamaan dan itu sangat mencurigakan bukan?" Adinda sedikit banyak tahu tentang bagaimana Kalandra di dunia bisnis.



"Kalian tahu siapa pelakunya? Apa kalian sudah menyelidikinya?" Tanya Anyelir yang langsung kepo.



"Untuk apa? kurang kerjaan banget bantuin si Pendosa, lebih baik kita ambil untung saja dari kejadian ini." Celetuk Adinda kembali.



"Maksudnya gimana?"



"Aku yakin, jika Kalandra tetap menjadi pemilik perusahaan itu, perusahaan itu akan bangkrut secepatnya, jadi kami berdua akan membantu kamu untuk Akuisisi perusahaan Kalandra." Ucap Adinda dengan mantapnya.



"Yap, aku dan Adinda akan membantumu memberikan Kucuran Dana, jadi perusahaan itu akan menjadi atas nama kamu." Alenka pun menyetujuinya demi kebaikan sahabatnya yang terus tertindas selama ini.



"Ckk... Aku nggak mau kek gitu kawan, kesannya aku nepotisme nggak sih?" Anyelir terlihat murung.



"Anyelir, ini kesempatan kamu untuk membuat Kalandra agar dia tidak bisa macam-macam lagi denganmu, karena dia ada dibawah naunganmu sekarang." Adinda mencoba meyakinkan akan hal itu.



"Aku nggak tega Din, kayak jahat banget aku jadi orang hanya karena harta, apa kata orang nanti, suami berada dibawah ketiak istri gitu, trus nanti kalau keluarga Kalandra marah sama aku gimana?"



"Anyelir, ngapain sih kamu masih memperdulikan dia dan keluarganya, dia aja tega sama kamu!" Umpat Alenka yang ikut kesal saat mengingat semuanya.



"Tapi---"



"Aku tahu kamu masih cinta dengan Kalandra, tapi jangan kembali bodoh hanya karena mencintainya." Adinda langsung memperingatkan sahabatnya.



"Kamu boleh mencintainya, kami pun tidak akan menyuruhmu berpisah darinya jika memang kebahagiaanmu adalah dia, tapi dengarkan nasehat kami, akuisisi saja perusahaannya, agar dia tidak banyak tingkah seperti dulu, ini demi perusahaan dia juga, daripada perusahaannya jatuh ke orang lain, mending ke kamu, ya kan?" Alenka ikut meyakinkan Anyelir, karena memang ini kesempatan emas baginya.



"Iya juga sih."



"Ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan." Ucap Alenka kembali.



"Apa itu?"



"Selama masih proses Akuisisi, buat dia benar-benar bucin tingkat dewa denganmu, mumpung dia lagi benci-bencinya sama Jenny, tapi jangan terlihat lemah, tetap jual mahal, agar dia mudah melepas perusahaan itu denganmu."



"Gue kayak istri yang licik nggak sih?" Anyelir terlihat ragu.



"Ingat kawan, meski kita harus melewati jalur gelap dan berlubang jadi rintangan, yakinlah itu titik awal dari sebuah terang, yang akan kau dapatkan di penghujung jalan." Adinda kembali mengeluarkan petuahnya.



"Wuidih... Mantep tuh, semangat Anyelir, kamu pasti bisa." Jerit Alenka dengan hebohnya.


__ADS_1


Dan Anyelir sebenarnya masih terlihat ragu dengan keputusan itu, tapi jika Anyelir berada dalam posisi diatas Kalandra, pria itu tidak akan berani menyepelekan dirinya seperti dulu lagi, jadi dia akan mempertimbangkan hal ini.


__ADS_2