
BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN.
Hidup tak pernah lepas dari yang namanya masalah, karena masalah adalah satu cara Tuhan menjadikanmu pribadi yang lebih kuat dan dewasa.
Kini Anyelir, Alenka dan Adinda, sudah menginjak bangku Kuliah, bahkan mereka sudah menyelesaikan skripsi masing-masing, walau harus ekstra kerja keras dan butuh perjuangan yang super melelahkan, juga revisi berulang-ulang kali, namun akhirnya mereka bertiga akan segera mendapatkan gelar sebagai sarjana.
Suka duka telah berhasil mereka lalui bertiga, tidak banyak yang berubah dari kebersamaan Tiga A di luar negri, bahkan mereka masih menjunjung budaya sendiri, tidak mau ikut terjun dalam dunia pergaulan yang bebas disana.
Tidak akan menjadi beban soal apapun dan dimanapun, jika Tiga A tetap bersatu, tidak perlu harus kerja keras dan adaptasi dengan lingkungan baru, mereka tetap bisa enjoy menikmati masa mudanya.
Tiga A selalu bisa hidup dengan dunianya sendiri, bahkan dulu mereka tidak harus kerja keras berlatih belajar bahasa luar, hingga akhirnya mereka bisa lancar berbahasa karena sudah terbiasa mendengar, bahkan sampai saat ini mereka selalu bisa asyik dengan bahasa mereka sendiri.
"Hai girl, would you like to sleep one night with me?" Saat mereka bertiga sedang menikmati suasana sore hari di sebuah Cafe, tiba-tiba ada pria genit yang berusaha untuk mendekati mereka.
Jika tidak mampu membatasi diri, ajakan seperti itu sudah sangat wajar bagi mereka yang terperosok dalam pergaulan bebas, perkenalan bagi mereka bukan seperti anak ABG yang tukaran nomor ponsel untuk sekedar chat gombalan, namun langsung ke tahap cash on delivery di hotel mana mereka akan melewati malam-malam panjang penuh dengan desa han.
"Hah? ngomong apa dia tadi?" Anyelir mengerutkan kedua alisnya, takut jika dia salah mendengar kata-kata pria tadi, yang sepertinya pentolan dari gerombolan pria-pria bule berhidung belang.
"Set dah! ngajakin COD dia?" Adinda langsung ikut mengalihkan pandangannya ke arah meja segerombolan pria itu.
"COD apaan, emang dia kurir jasa online begitu?" Tanya Anyelir dengan polosnya.
"Bukan begitu maksudnya Anye, tapi elu diajak tidur malam ini gaes." Alenka langsung bersidekap sambil menjelingkan kedua matanya kearah pria itu.
"Jiangkriik! Dia pikir gue barang paketan atau wanita murahan apa?" Anyelir sontak berdiri dan menyingsingkan kedua lengannya dengan emosi yang sudah menggebu.
"Bawa ini bersamamu kawan!" Alenka langsung mengulurkan satu botol air mineral ke arah Anyelir.
__ADS_1
"Sikat Bor! Dia pikir tangan kita yang mulus ini tidak bisa memberikan pelajaran berharga untuk mereka!" Adinda pun merasa tidak terima saat mereka seolah menyelepekan tiga sekawan itu.
"Semua mata pelajaran kita itu kacau gaes, masih baik sidang skripsi gue yang kemarin diterima!" Disaat emosi sudah berada di ubun-ubun kepala, ternyata masih sempat-sempatnya Alenka membanyol dengan mengaitkan dengan masalah pelajaran mereka di kampus.
"Jangan bilang Elu pacarin anaknya juga ya, kebiasaan deh, yang lalu biarlah berlalu, jangan kau ulang lagi kesalahan yang sama!" Adinda mulai mengeluarkan pepatah bijaknya.
"Aa Rico nggak salah, walau kami putus tapi dia tetap yang terbaik!" Jawab Alenka dengan wajah yang tiba-tiba menjadi sendu saat mengingat hubungan mereka yang kandas karena LDR dan kesibukan masing-masing sebagai pelajar, karena Rico juga melanjutkan ke tingkatan S2.
"Lalu kenapa kamu dengan mudahnya deketin anak Dosen kita yang satu itu?" Tanya Anyelir dengan wajah penuh tanya.
"Siapa bilang gue deketin anaknya?" Jawab Alenka dengan cepatnya.
"Gosipnya begitu kan?" Adinda mulai memicingkan kedua matanya, semenjak putus dari Rico sahabatnya yang satu ini selalu main-main dengan kisah asmaranya, seolah tidak pernah menggangap hubungannya serius.
"Gue deketin bapaknya, bukan anaknya gaes, karena gue sedang mencoba mencari sensasi Duda setengah Abad, dan ternyata luar biasa gaes!" Alenka menjawabnya dengan heboh, membuat kedua sahabatnya langsung menaikkan kedua sudut bibiir mereka.
"Bahaha... Alenka, kamu memang gila!" Mereka merasa heran sendiri, putra dari dosen itu saja sudah dewasa sekarang, bahkan kuliah juga di kampus itu, namun gilanya Alenka lebih tertarik dengan bapaknya.
"I don't care, yang penting gue seneng!" Seperti itulah Alenka saat ini, tidak mau terlalu serius dalam menanggapi kisah asmaranya.
"Heh, malah ngosip, itu mereka masih ngelihatin kita semua, biji matanya sudah mau copot itu!" Akhirnya mereka kembali ke topik semula setelah melupakan mereka sejenak.
"Hai girls, i want you!" Ucap pria itu dengan tatapan s a n g e.
Buuuuuurrr!
Seketika Anyelir langsung membuka tutup botol minuman itu dan menyiramkannya ke wajah pria itu.
__ADS_1
"Woi, what happen baby?" Pria itu langsung mengibaskan rambut dan bajunya yang ikut basah.
"Baby-baby gundulmu itu, kalian kagak tahu siapa kami, berani kalian godain kami lagi, gue patahin itu batang coklat kalian, sembarangan aja kalau ngomong!" Anyelir bahkan sengaja menjawab umpatan pria itu dengan bahasanya sendiri.
"Wuidih... Mantep gaes, kita cabut yok sebelum negara api menyerang!" Bisik Adinda yang sudah ingin mengambil langkah seribu saat pria itu seolah tidak terima karena menjadi bahan candaan teman-temannya.
"His cemen kalian, lemah mental kalian!" Umpat Anyelir dengan gaya sombongnya.
"Emang Elu berani? Mereka tubuhnya gede-gede gaes, sekali nindih bisa cepat ahh Loe?" Celoteh Alenka dengan senyum gilanya.
"Ya enggaklah, Gaaaaaas!" Dengan wajah sombongnya Anyelir menjawab, namun dia juga yang menyambar tas miliknya di atas meja duluan dan berlari keluar dari Cafe itu mendahului kedua rekannya.
"Bahahaha, dasar si Sombong People banyak gaya!"
Adinda dan Alenka langsung menyusul berlari dibelakangnya dengan langkah tunggang langgang menuju mobil mereka yang terparkir didepan Cafe, tanpa mau perduli dengan baju pria tadi yang sudah basah kuyup karena guyuran air mineral dari Anyelir tadi.
Dengan suara gelak tawa yang menggelegar, mereka bertiga akhirnya masuk kedalam mobil dan segera pergi meninggalkan Cafe itu.
"Nanti kalau suatu saat kita ketemu mereka lagi diluar gimana, trus mereka balas dendam dengan kita, apa yang harus kita lakukan gaes?" Anyelir tiba-tiba merasa risau, karena mereka sedang berada di negara lain, bisa saja mereka tidak terima dan memberi pelajaran kepada mereka, karena sebenarnya rumah Oma tak begitu jauh dari Cafe itu.
"Tidak ada kata suatu saat, setelah wisuda kita langsung pulang ke negara kita saja!" Ucap Adinda dengan mantap, seolah dia sudah memikirkan masa depan yang cemerlang di negara nenek moyang.
"Balek Kampung... ooo... Balik Kampung! Aduh udah rindu banget gue sama makanan di negara kita, dari Bakso Tumpeng sampai Bakso Beranak yang tak tahu bapaknya dimana, trus mie ayam, somay, cilok, batagor, aaaaaaa... aduh jadi lapar gue!" Celoteh Alenka yang begitu merindui jajanan khas pinggir jalan saat mereka masih menuntut ilmu di bangku sekolah dulu.
Cekit!
Tiba-tiba Anyelir langsung menepikan mobilnya di bawah pohon yang cukup rindang di pinggir jalan.
__ADS_1
Kata 'Balik Kampung' sebenarnya adalah hal yang paling dia inginkan, namun seolah hatinya selalu belum siap untuk bisa menghadapi rasa ketakutannya yang selalu muncul dalam dirinya sendiri.
To Be Continue...