
Dengan hati yang seolah teriris pilu, Anyelir mencoba memberanikan diri untuk kembali mendekat kepada suaminya, dia sungguh tidak ingin membuat keluarga besarnya malu, apa kata orang jika mereka semua tahu rumah tangga yang baru saja dia jalankan beberapa jam setelah kata Sah terucap, ternyata harus terkena badai yang menyakitkan.
"Sayang." Anyelir bahkan rela duduk bersimpuh didepan Kalandra yang sedang duduk di ranjang mewah, yang seharusnya menjadi tempat peraduan mereka malam ini.
"Jangan lagi kamu panggil aku sayang, aku benci mendengarnya!" Ucap Kalandra tanpa mau menatap wajah Anyelir seolah kebenciannya meledak saat itu juga.
"Hiks.. Hiks!" Anyelir sungguh tidak lagi bisa menahan air matanya, hatinya begitu sakit saat suaminya menolak dirinya secara mentah-mentah seperti itu, karena terkadang sebuah kejujuran itu memang sangat menyakitkan.
"Tidak usah kau keluarkan air matamu itu, tak akan ada gunanya, karena aku tidak akan memberikan belas kasihan sedikitpun kepadamu." Hardik Kalandra, dia bahkan mengibaskan tangan Anyelir yang mencoba ingin menggengam jemarinya.
"Kala, sebenarnya apa salahku?" Tanya Anyelir dengan rasa yang semakin sebak didada.
"Ahahaha.. kamu masih tanya apa salahmu?" Dan tawa sumbang dari Kalandra seolah menusuk relung hatinya yang terdalam, dia yang begitu terluka malah ditertawakan seperti itu.
"Maaf, aku benar-benar tidak paham maksudmu?" Anyelir berusaha tegar, mencoba untuk menahan tangisannya, dia tidak ingin wajahnya terlihat terpuruk didepan Kalandra.
Sreek!
"Sini kamu! Lihatlah dirimu di kaca besar ini, apa kamu tidak merasa punya salah sama sekali!" Dengan satu kali tarikan, Kalandra berhasil menyeret lengan Anyelir menuju ke arah kaca besar yang ada di kamar itu.
"Kala, aku minta maaf tapi salahku dimana? Jika kamu tidak mau mandi denganku ya sudah, tapi bisa kan ngomong baik-baik, jangan kasar seperti ini?" Tangisan Anyelir kembali pecah, selama ini tidak pernah ada orang yang berani berbuat kasar dengannya, jangankan menyeretnya, bahkan menyentuhnya saja tidak pernah, namun Kalandra seolah sewenang-wenang memperlakukan dirinya.
"Puiih.. Kamu kira salahmu hanya itu! Apa otakmu itu sudah tidak lagi bisa berjalan dengan normal?" Kalandra melengos ditambah dengan senyuman ejekan di wajahnya.
"Kala, tolong jangan begini?" Tidak pernah terbersit sekalipun di pikirannya saat ini, jikalau Kalandra bisa berubah menjadi sejahat ini.
"Kamu pikir aku bisa melupakan kelakuan gilamu dengan Jenny!"
Owh... Ternyata ini tentang Jenny, berarti Kalandra telah berbohong denganku, astaga.. ternyata aku tertipu karenanya.
"Jenny? jadi ini tentang Jenny?" Tanya Anyelir yang langsung mencoba menetralkan diri dengan menghirup udara sebanyak-banyaknya disekelilingnya.
__ADS_1
"Apa kamu dengan mudahnya melupakan dia, setelah kamu membuat hidupnya dan masa depannya hancur?" Kalandra langsung mencengkeram dagu Anyelir dengan tatapan tajam.
"Bagaimana keadaan Jenny sekarang?" Tanya Anyelir sambil mengibaskan tangan Kalandra, karena rahangnya terasa sakit akibat cengkraman tangan Kalandra.
"Kenapa? nggak usah pura-pura perduli, bukannya kamu memang seperti itu sedari dulu, hah!" Kalandra mulai menginterogasinya dengan segala anggapan dari dirinya.
"Kejadian itu bukan sepenuhnya salahku Kala, kamu---"
Namun ucapan Anyelir langsung dipotong begitu saja oleh Kalandra.
"Lalu kenapa kamu harus kabur ke luar negri, KENAPA, HAH!"
Dan hal itulah yang membuat Anyelir tidak bisa berkutik, karena lari dari masalah memang tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, yang ada malah memperkeruh masalah yang ada.
"Aku hanya---"
Anyelir pun bingung mau memberikan alasan apa, karena setelah dia dewasa dan berpikir bijak, dia mulai menyesali akan hal itu, namun semua sudah terjadi, dan waktu tidak akan pernah bisa diputar kembali.
"Kalandra!" Dan saat ini rasa sesal itu pun muncul, saat dia hanya mengandalkan rasa cintanya kepada Kalandra.
"Kamu tidak seharusnya duduk santai berada ditempat mewah, jalan-jalan kesana kesini dengan tawa bahagia bersama kedua sahabatmu itu, sedangkan Jenny terpuruk dan menderita karenamu, MENGERTI KAMU!" Kalandra menudingkan jari telunjuknya ke arah Anyelir.
"Kala, aku minta maaf, nanti aku akan menemui Jenny secara langsung." Anyelir mengaku, dia memang salah, dan memang dia juga punya niatan ingin meminta maaf secara langsung dengan Jenny, namun saat ini dia belum sempat mencari tahu keberadaannya saja.
"Untuk apa, kamu mau menghinanya, atau kamu mau mengejeknya, karena sekarang dia tidak bisa apa-apa, begitu?" Dan secara tidak lamgsung dia sudah menceritakan kondisi Jenny saat ini.
Aku benar-benar sudah tertipu dengan ucapan manis Kalandra, bukannya kemarin dia bilang tidak tahu kondisi Jenny yang entah pergi kemana tidak tahu kabarnya?
"Kala, aku tidak pernah bermaksud seperti itu, tolong jangan begini, kita sudah menikah, seharusnya kita bisa saling mengerti dan bisa saling memahami, dulu aku masih sangat labil sekali dan tidak memikirkan kedepannya."
Sabar adalah hal yang ingin Anyelir lakukan saat ini, walau kenyataannya terasa begitu sulit.
__ADS_1
"Anyelir, apa kamu benar-benar percaya bahwa aku menikahimu karena memang mencintaimu?" Ucap Kala yang membuat jantung Anyelir seolah berhenti berdetak dan hanya rasa sakit yang mengaliri seluruh jiwanya.
"Maksud kamu apa Kala? bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau kamu sudah melupakan Jenny dan ingin merajut kasih denganku!"
Padahal saat ini Anyelir baru saja ingin mandi berendam dengan kembang tujuh rupa, agar ritual malam pertama yang dia impiman saat ini terkenang sepanjang masa, namun nyatanya malam ini adalah malam petaka baginya.
"Cih... Apa kamu sepolos itu, apa kamu pikir aku akan dengan mudahnya melupakan orang yang paling berarti di hidupku, TIDAK SAMA SEKALI!"
Namun kata-kata Kalandra sungguh terasa menusuk hati Anyelir, padahal Anyelir benar-benar mencintainya, bahkan dari dulu hingga sampai detik ini.
Ternyata dia masih mencintai Jenny, apa mereka juga masih berhubungan sampai sekarang? Lalu aku bagaimana ini?
"Kalandra?" Anyelir bahkan sampai kehabisan kata-kata dan hanya air mata saja yang tahu betapa hancurnya hati Anyelir kala itu.
"Sampai kapanpun itu, aku akan tetap mencintai satu gadis, yaitu Jenny seorang!"
Ya Tuhan, ternyata benar apa yang dicurigai oleh Adinda dan Alenka, aku sungguh menyesal tidak mempercayai mereka, tapi semua sudah terlanjur, apa yang harus aku lakukan Tuhan?
"Lalu kenapa kamu menikahiku!" Anyelir seolah sungguh-sungguh ingin tahu apa alasannya dia meminta dirinya kepada kedua orang tuanya untuk menjadikan Anyelir istrinya.
"Gara-gara kamu, hidup Jenny jadi kacau, lalu apa aku akan diam saja ketika kamu sudah berhasil merenggut semua impiannya, owh... tentu saja kamu juga harus merasakan hal yang sama dengannya!" Hardik Kalandra dengan suara yang seolah tidak ramah didengar telinga.
"Apa kamu hanya ingin balas dendam denganku?" Tanya Anyelir dengan bibiir yang sudah mulai gemetar, bayangan-bayangan kelam itu mulai menghantui dirinya, namun dia harus kuat walau harus terus menerus dipojokkan seperti ini.
"Setidaknya, aku tidak akan membiarkan perjalanan hidupmu merasakan apa itu yang dinamakan BAHAGIA!"
Kata-kata itu seolah seperti Bom yang meledak diatas kepala Anyelir dan menghancurkan hatinya hingga berkeping-keping.
"Okey, jika itu bisa membuat kamu dan wanitamu puas, silahkan saja! Tapi sekarang tinggalkan aku sendiri!"
Anyelir sudah tidak bisa lagi berpikir, saat itu dia hanya ingin menangis dan meluapkan rasa kecewanya sendiri saja didalam kamar itu.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...