Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
17.Sahabat Sejati


__ADS_3

Mama Anyelir berpikir, mungkin untuk saat ini hanya inilah jalan yang terbaik yang harus mereka tempuh.


"Mama tahu, ini pasti akan sulit untukmu, tapi Mama yakin kamu pasti bisa, putri Mama kan tidak terkalahkan oleh apapun, ya kan?" Hanya kata-kata itu yang bisa diucapkan saat ini untuk sekedar memberikan semangat untuk anaknya.


"Iya Ma." Jawab Anyelir sambil mengusap kedua pipinya yang sudah basah.


"Anye? kamu sudah siap? mau Papa antar ke Bandara sekarang?" Tiba-tiba wajah Papa Anye muncul dari balik pintu, bahkan mengejutkan kedua wanita yang sudah sama-sama bermandikan air mata.


"Papa?" Anye langsung berlari memeluknya.


"Kenapa? apa kamu ingin membatalkan kepergianmu?" Ledek Papa Anyelir yang tidak ingin memperlihatkan sisi sedihnya sebagai seorang Ayah, karena dia adalah kepala keluarga, tidak boleh terlihat lemah, karena dia yang akan menjadi tumpuan bagi keluarga kecilnya.


"Bukan." Anyelir langsung menyembunyikan wajahnya di dadaa bidang pria terhebat dalam hidupnya.


"Jadi, kenapa kamu harus menangis nak?" Papa Anyelir mengusap rambut putri kesayangannya.


"Jagain Mama ya Pa, aku pasti akan merindukan kalian berdua." Tangisannya kembali pecah, ini kali pertamanya dia berpisah dengan kedua orang tua dalam jangka waktu yang lama.


"Pasti sayang, itu memang tugas Papa, kamu tidak perlu khawatir."


Walau waktu kebersamaan mereka dirumah tidak banyak, tapi Papa Anyelir selalu mengajarkan anak dan istrinya untuk berbicara terbuka kapanpun dan dimanapun, bahkan jika memang tidak ada waktu bisa di ponsel sekalipun, sekarang sudah ada teknologi video call dengan beberapa orang sekaligus, jadi bisa mengobati rasa rindu walau tak banyak waktu.


Papa Anyelir selalu mendengarkan keluhan dan rengekan dari kedua wanita kesayangannya itu, walau hanya sekedar membahas topik menu makan malam sekalipun, jadi hubungan mereka memang sangat dekat.


"Aku akan sering-sering menelpon Papa dan Mama, jadi jangan bosan mengangkat telepon dariku, karena aku benci hidup sendiri." Ucap Anyelir kembali sambil mengeratkan pelukannya.


"Kamu tidak akan sendirian disana sayang?" Celetuk Papa Anyelir yang langsung memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Apa Papa dan Mama mau ikut pindah kesana?" Anyelir sangat berharap hal itu terjadi.


"Nggak bisa nak, lalu yang ngurusin perusahaan disini siapa, Papa kan juga harus bekerja, nanti siapa yang mau ngasih uang jajan buat kamu kan?" Dia tahu anaknya itu sebenarnya enggan berpisah, namun dia juga tidak mengerti kenapa anaknya sebegitu inginnya meninggalkan negara ini.


"Ckk... ya sudahlah, ayok kita berangkat." Dia sudah menduga sedari awal, akan seperti itu nantinya.


"Baiklah, ayo Papa antar, nanti sampai disana, Oma yang akan menjemput di bandara, okey." Namun sebagai seorang Ayah dia akan mengajarkan Anyelir agar menjadi sosok wanita yang mandiri.


"Papa tadi dari sekolahku kan, apa Papa tidak bertemu dengan kedua sahabatku? Aku sudah bilang dari kemarin kalau hari ini aku berangkat, kenapa tidak ada satupun yang muncul dan mengantarkan aku pergi?" Sedikit banyaknya sebenarnya Anyelir sangat kecewa, namun dia juga tidak bisa memaksanya, apalagi sampai berani mengajak mereka berdua pindah dari sekolah dan ikut bersamanya, bukan soal biaya, karena mereka semua dari keluarga orang berada semua, tapi mereka juga punya keluarga dan tanggungan masing-masing, apalagi Alenka juga punya pacar disini, pasti jika berpisah akan sangat berat baginya.


"Emm.. Mungkin mereka sibuk?" Papa Anyelir menaikkan satu sudut bibiirnya.


"Sesibuk apapun itu seharusnya luangkan lah sedikit waktu untukku, kami kan akan berpisah lama dan entah kapan bisa berjumpa lagi, tega banget mereka." Ucap Anyelir dengan tampang lemas, seolah tak punya banyak tenaga.


"Kamu marah dengan mereka?" Mama Anyelir kembali merasa tidak tega.


"Kamu disana juga pasti punya teman baru kan?"


"Tapi tidak ada yang bisa seperti Adinda dan Alenka, mereka takkan terganti." Persahabatan mereka memang begitu solid, dan tidak terpisahkan.


"Ya sudahlah, ayo masuk kedalam mobil, kita harus segera sampai ke Bandara." Papa Anyelir langsung mengangkat koper dan tas milik putri semata wayangnya.


"Hmm."


Dengan langkah lesu, Anyelir segera menarik pintu mobil milik ayahnya.


"SURPRIZE!"

__ADS_1


Teriak Adinda dan Alenka yang ternyata sudah berada didalam mobil itu, bahkan lengkap dengan koper mereka masing-masing dan juga paspor ditangan mereka berdua.


"Ka-kalian berdua mau kemana?" Anyelir sampai terbelalak kaget melihat mereka berdua.


"Ikut kamu dong, kita kan Bestie, kemanapun salah satu dari kita pergi, harus ikut semua, lagian aku ingin kita lulus SMA bertiga sama-sama." Jawab Adinda dengan mantap.


"Astaga, aku kok jadi sedih, ternyata kalian memang terbaik dari semuanya." Anyelir yang biasanya selalu bertingkah selengek an, kini berubah menjadi cengeng, entah mengapa dia jadi mudah menangis.


"Iya dong, nanti kalau kamu pergi, nggak ada yang buatin contekan buat kami berdua, hehe." Celetuk Alenka yang tidak ingin membuat suasana keberangkatan mereka menjadi sedih, karena sudah terlalu banyak masalah yang membuat Anyelir menjadi sedih.


"Hah, jadi kalian berdua hanya----" Anyelir seolah tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Hehe... bercanda, tapi satu yang pasti, kami berdua tidak akan meninggalkan kamu disaat-saat seperti ini, kami akan selalu bersamamu, menemanimu melewati semua masalah yang ada, kamu harus kuat, karena ada kami berdua disampingmu." Adinda langsung menggengam tangan Anyelir untuk menyalurkan kekuatan dari persahabatan mereka.


"Hiks.. hiks.. terima kasih Teman, kalian memang sahabat sejatiku."


Anyelir sebenarnya tidak menyangka mereka mau pindah bersama dengannya, ini seperti mimpi, atau kejutan yang memang sangat luar biasa bagi Anyelir, mereka yang tidak ada kena mengena dengan kejadian ini, bahkan rela berpisah dengan keluarga dan orang terdekat mereka hanya demi dirinya.


Akhirnya mereka bertiga berpelukan didalam mobil, suasananya kembali berubah menjadi sendu karena persahabatan mereka yang memang sedekat itu, bahkan Papa Anyelir pun sampai ikut meneteskan air mata, dia begitu terharu saat kedua gadis itu kemarin mendatanginya dan menyuruh dirinya untuk sekalian mengurus pemindahan sekolah mereka tanpa memberitahu Anyelir terlebih dahulu.


Walau harus beradu pendapat denan keluarga mereka masing-masing, namun Ayah Anyelir membantu meyakinkan mereka, bahwa putri-putri mereka paati akan baik-baik saja jika masih kompak bertiga.


Jumlah teman yang kamu miliki mungkin terlihat banyak ketika kamu menghitungnya, akan tetapi itu akan menjadi sedikit ketika kamu sedang dalam situasi sulit.


Keberuntungan di dalam persahabatan bukan dinilai dari berapa banyak materi yang bisa diberikan, tetapi dari ketulusan, kesetiaan, kesabaran, dan kenangan yang dilalui bersama-sama.


Pengen banget bisa triple up, tapi beberapa hari menjelang Lebaran kali ini, sibuk ono ini, jadi sedikit up nggak papa ya, nanti habis hari Raya kita kebut sana-sini uyey😊

__ADS_1


Yang pasti jangan lupakan Jempolmu Bestie👍🏻


__ADS_2