Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
55.Wanita Tangguh


__ADS_3

Walau hanya Kanaya saja yang memergoki mereka, namun malunya sudah seperti disaksiksan oleh dua keluarga besarnya, karena memang Kalandra dan Anyelir hampir tidak pernah bermesraan berdua selama pernikahan mereka.


"Bunda, kok diam saja? apa Ayah tadi pingsan lagi?" Kanaya langsung berlari mendekat kearah mereka.


"Eherm.. tidak Nak, Ayah tadi cuma sesak nafas, jadi Bundamu langsung memberikan pertolongan kepada Ayah." Dan ketika melihat Anyelir terdiam, Kalandra langsung membantu untuk menjawabnya.


"Cih.. Kamu yang maksa, ingin sekali aku sumbat bibir tipis kamu itu, walau rasanya memang manis, eeh?" Dia langsung membungkam mulutnya sendiri yang memang sering kelepasan bicara.


"Kanaya sudah bobok?" Namun Kalandra pura-pura tidak dengar dan langsung mengalihkan perhatiannya dengan Kanaya, walau sudah berhasil membuatnya tersenyum.


"Belum, Kanaya mau lihat keadaan Ayah dulu." celoteh bocah kecil yang kini duduk disamoing ranjangnya.


"Mau bobok bertiga disini sama Bunda juga?" Ajak Kalandra yang membuat Anyelir sontak ingin protes.


"Kala---" Namun dia tidak tega untuk melanjutkannya saat melihat wajah sumringah bicah kecil itu.


"MAU!" Jawab Kanaya dengan semangat.


"Sini sayang, mulai hari ini kita bertiga bisa tidur bertiga setiap hari." Kalandra sudah memutuskan untuk mendekati Anyelir lewat putrinya.


"Benarkah?" Kanaya seolah merasa tidak percaya.


"Benar dong, are you happy?" Tanya Kalandra sambil mendekatkan wajah mereka.


"Yes, I'am verry happy!" Teriak Kanaya sambil mengalungkan tangannya ke leher Ayahnya.


"Goog girl, sini nak, ajak Bundamu tidur juga, daripada ngomel-ngomel terus capek kan?" Kalandra mulai mempengaruhi putrinya agar menjadi tangga diantara kedua orang tuanya.


"Betul itu, sini Bunda, emang Bunda ngomel apa, nggak biasanya Bunda ngomel-ngomel?" Kanaya langsung menarik lengan Bundanya agar merapat dengan mereka.


"Entah, sekarang Bundamu jadi sering marahin Ayah, padahal dulu tidak pernah." Ucap Kalandra kembali yang membuat Anyelir terus melotot kearahnya.


"Ish.. Ish.. Nggak baik loh Bun!" Kanaya seolah gantian yang menasehati orang tuanya.


"Aish.. Dasar Racun." Anyelir langsung mencubit pinggang Kalandra lewat belakang yang malah membuat Kalandra semakin tersenyum lebar.


"Bunda ngomong apa?" Tanya Kanaya kembali.


"Enggak, Bunda mau ambilin makan buat Ayah kamu dulu, soalnya harus minum obat." Kabir adalah solusi terbaik agar tidka membuat dirinya canggung saat ini.


"Okey." Karena alasan obat, jadi mereka tidak bisa mencegahnya.


Tak selang beberapa lama, Anyelir kembali membawa satu piring makanan dan satu gelas minuman ditangannya.


Namun saat dia melihat kebahagiaan Kanaya saat bersenda gurau dengan Ayahnya, langkah Anyelir terhenti, ada rasa sesak dihatinya saat pemandangan langka itu terjadi.


Ya Tuhan, hal-hal kecil seperti inilah yang ingin aku lihat setiap harinya, namun aku takut, jika hal ini hanya bersifat sementara, jika pria itu kembali goyah dengan rayuan Jenny, semua pengorbananku hanya akan berakhir dengan sia-sia?


Tapi aku harus kuat, aku tidak akan mementingkan rasaku lagi, yang terpenting aku tidak boleh bergantung dengan pria itu, aku harus melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, Kanaya dan juga keluargaku.


"Bunda, kenapa berdiri disana?" Panggil Kanaya dari kejauhan.


"Owh.. Iya, tadi ada sesuatu yang mengganjal pintu, suruh Ayahmu makan, biar aku ambilkan obatnya." Anyelir menaruh piring itu dipangkuan Kalandra, namun dia hanya memandanginya saja.


"Kanaya mau ke kamar mandi dulu ya Ayah." Tiba-tiba Kanaya langsung pergi setelah mendapat isyarat dari Ayahnya.


Entah apa yang dijanjikan Kalandra kepada Kanaya, kenapa anak kecil itu jadi menurut dengan mudahnya.


"Okey sayang." Kalandra membuat tanda OK dengan jarinya.


"Kok nggak dimakan? kamu harus minum obat Kala, atau kamu mau pingsan lagi?" Umpat Anyelir yang sebenarnya malas berada di posisi ini.


"Aku nggak bisa makan." Dia langsung menunjukkan kedua perban ditangannya.


"Kenapa, apa tenggorokanmu bermasalah, perlu aku panggilkan kembali doktermu?" Tanya Anyelir yang sudah punya firasat kalau suaminya pasti akan berulah.


"Kedua tanganku nyeri semua, gimana mau makan sendiri, suapinlah!" Dia seolah menjadi korban yang meminta pertanggung jawaban, padahal dia sendiri yang melukainya.


"Makanya, nggak usah sok-sok an mau bunuh diri segala, kalau gini kan aku juga yang repot!" Umpat Anyelir yang langsung mengambil piring itu dari pangkuan Kalandra.


"Apa menyuapiku saja membuatmu kerepotan? lalu apa tugasmu sebagai istri?" Dia merasa sedikit tersentil dengan ucapan Anyelir.


"Memangnya kamu sudah melakukan tugasmu sebagai seorang suami?" Tanya Anyelir yang membalikkan perkataan suaminya.


"Sudah, aku selalu memberi nafkah setiap bulannya untukmu, nafkah batin juga walau harus memaksamu dan yang paling penting, aku sudah memberikan bibit putri cantik dan pintar seperti Kanaya, apa kamu lupa?" Jawabnya dengan santai, karena memang itu tugas utama seorang kepala keluarga.


"Bukan itu, tapi---" Anyelir bingung juga mau melawannya seperti apa, karena kewajiban utamanya memang selalu Kalandra penuhi, tapi kebahagiaan sebuah rumah tangga kan tidak cukup hanya itu saja pikirnya.


"Nggak usah banyak alasan, kalau kamu nggak mau nyuapin aku makan, bawa pergi piring ini!" Umpat Kalandra yang seolah merajuk.

__ADS_1


"Haish... Dimana-mana wanita yang akan selalu kalah, ayo buka mulutmu." Hanya helaan nafas yang saat ini bisa tahu betapa kesalbya dirinya dan harus tetap menerima perintah manja dari Kalandra.


"Gitu dong, jadi istri nggak ada manis-manisnya." Jawab Kalandra setelah menerima suapan pertama dari istrinya selama lima tahun ini.


"Hidih.. nggak usah sok manja."


Tulilut!


Hingga akhirnya suara dering ponsel Kalandra menengahi perdebatan mereka.


"Ponselku bunyi, geserkan layarnya." Pinta Kalandra kembali.


"Iya." Dan mau tidak mau Anyelir yang akan menjadi tangannya saat ini.


"Hallo, ada apa?" Tanya Kalandra yang ternyata panggilan dari bawahannya.


"Anda diminta hadir di Kantor, ada masalah penting Tuan Muda."


Anyelir sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah suaminya untuk menguping pembicaraan mereka.


"Tapi aku sedang nggak enak badan? Apa tidak bisa ditunda saja?" Ucap Kalandra kembali.


"Maaf Tuan Muda, tapi ini sungguh tidak bisa ditunda, ini tentang saham perusahaan kita." Jawabnya lagi.


"Ckk... Baiklah." Wajah Kalandra langsung terlihat murung, dia enggan pergi sebenarnya tapi jika menyangkut masalah penting dia bisa apa.


"Ada masalah di Kantor?" Tanya Anyelir yang langsung menemukan sebuah ide.


"Hmm... Tapi kondisi kedua tanganku seperti ini, aish.. ini semua gara-gara kamu!" Kalandra langsung mengalihkan kekesalannya kembali kepada Anyelir, karena itu sudah menjadi kebiasaannya.


"Kenapa jadi aku yang salah, orang kamu sendiri yang melakukannya." Umpat Anyelir tidak mau tahu.


"Itu karena kamu tega mau memisahkan aku dan Kanaya, sekarang tanggung jawab kamu, aku bilangin papa sama mama mertua baru tahu kamu!"


Dasar pria gila, okey.. kita lihat saja nanti.


"Aku akan menemanimu." Jawab Anyelir dengan ide yang sudah tertanam di otaknya.


"Benarkah?" Tanya Kalandra yang langsung terlonjak senang.


"Itupun kalau kamu tidak malu mempunyai istri sepertiku." Ucap Anyelir agar suaminya tidak curiga.


"Maksudnya?" Tanya Anyelir sambil beringsut mundur.


"Gantikan bajuku, kedua tanganku benar-benar sakit ini." Kalandra seolah mencari kesempatan dalam kesempitan.


Gila aja, bisa merinding gue nanti!


"Hah, nggak mau!" Tolak Anyelir seketika.


"Kalau kamu nggak mau lalu siapa yang akan membantuku, apa babysitter Kanaya itu saja?" Dia sengaja menggodanya.


"Ngawur aja kamu, jangan racunin mata orang yang masih single!" Umpat Anyelir yang langsung tidak setuju.


"Ya sudah, makanya buruan gantikan pakaianku."


"Tapi aku---"


"Kenapa lagi? Kamu malu? Bukannya kamu sudah melihat semuanya?" Ledek Kalandra yang semakin merapatkan tubuhnya disamping Anyelir.


Kenapa dia jadi genit sekali?


"Apa sih?" Anyelir hanya bisa menatapnya dengan jengah.


"Apa kamu mau aku mengingatkan hal itu dulu? nggak pakai tangan bisa kok, sini.. mari kita coba!" Kalandra semakin mengikis jarak dengan menempelkan tubuhnya dengan Anyelir.


"NGGAK!"


"Ahahaha..!"


Akhirnya Kalandra bisa menggoda istrinya, bahkan sampai tertawa lepas dan itu sempat membuat Anyelir sedikit terpukau akan ketampanan wajah suaminya saat tertawa, walau setelahnya dia menyadarkan diri sendiri agar tidak mudah rapuh oleh pesona Kalandra kembali.


Dengan berat hati Anyelir berhasil menggantikan pakaian untuk suaminya, walau dengan memalingkan wajahnya saat memakaikan setelan jas milik Kalandra.


"Kamu mau ikut aku ke ruang meeting?" Tanya Kalandra saat mereka sudah sampai di Kantor.


"Apa boleh?" Tanya Anyelir dengan bersikap polos seperti biasa.


"Tentu saja, kamu kan istriku." Jawabnya dengan cepat.

__ADS_1


"Tumben?" Lirik Anyelir sambil memiringkan senyumannya.


"Tumben kenapa? bukannya seluruh isi Kantor juga tahu kalau kamu istriku, lalu apa masalahnya?"


"Memangnya kamu tidak pernah membawa Jenny kemari?" Sindir Anyelir yang memang ingin tahu.


"Jangan membahasnya, nanti kamu cemburu?" Ledek Kalandra dengan tersenyum sambil menyatukan kepala mereka.


"Dih... Enggak ya, pede banget!" Jawab Anyelir yang langsung menjauh.


"Cih... yakin, nanti malam mewek lagi?" Kalandra membalas sindirannya.


"Siapa yang mewek rupanya?" Ucap Anyelir yang langsung jadi curiga, jangan-jangan Kala mendengar isak tangisannya saat tengah malam tiba.


"Aku tidak pernah membawanya kemari, aku fikir kan dia beneran cacat, aku tidak mau dia kecapekan, jadi aku yang selalu mengunjunginya ke Apartement miliknya." Jawab Kalandra sambil melirik wajah Anyelir, dia ingin tahu bagaimana reaksinya.


"Memang pria, semua sama saja!" Umpat Anyelir sambil melengos.


"Tuh kan... Kamu cemburu? tadi sok tegar!" Ledek Kalandra sambil tersenyum renyah, dia semakin bahagia saat melihat Anyelir cemburu seperti itu.


"Hei... siapa yang bilang aku cemburu!"


"Ahehe... sudahlah, jangan berantem disini, nanti malam saja kita berantem berdua, tapi di ranjang, okey!" Dan godaan Kalandra seolah menjadi, seperti tidak pernah terjadi sesuatu dalam hubungan mereka.


"Ogah!"


Namun Kalandra hanya tertawa saja saat menanggapi ekspresi wajah dari Anyelir, entah mengapa dia jadi rajin tertawa akhir-akhir ini.


"Ikut aku ke ruang meeting, nanti kamu jadi moderatorku." Ucapnya kembali.


Mungkin ini kesempatan aku untuk tahu banyak tentang perusahaannya.


"Baiklah, tapi aku ke kamar mandi sebentar ya."


"Hmm.. Jangan lama-lama."


Anyelir langsung segera masuk kedalam Toilet wanita, setelah memastikan tidak ada orang didalam kamar mandi itu, dia segera menghubungi kedua sahabatnya.


"Hei... kamu kurang kerjaan apa gimana?" Jawab Adinda yang lansung terlihat kesal saat melihat background Anyelir adalah closet duduk.


"Iya, ngapain video call di kamar mandi, mau nunjukin pisang busuk kamu, hah!" Alenka langsung ikut protes saat panggilan tersambung juga olehnya.


"Diem kalian berdua, dengarkan aku ingin membahas masalah penting secara singkat, dan aku butuh saran kalian berdua." Ucap Anyelir kembali.


"Okey."


"Bagaimana caranya agar perusahaanku tidak lagi bekerja sama dengan perusahaan Kalandra." Itulah ide yang sempat terlintas tadi, dia tidak ingin dirinya dan perusahaan keluarganya berada dibawa ketiak Kalandra.


"Tinggal putuskan saja kontraknya!" Ucap Adinda.


"Selain itu, ada cara lain?" Tanya Anyelir kembali.


"Sebelum gue ngomong, beri tahu kami dulu alasan kamu melakukan hal itu kenapa?" Tanya Adinda kembali.


"Aku sudah berhasil mempertemukan mereka dalam satu waktu, dan sepertinya Kalandra menyerah dengan Jenny, tapi entah ke depannya, kalian tahu sendiri kan bagaimana mereka dulu? Jadi aku tidak mau lagi tergantung dengan Kalandra, dan jika memang takdir memisahkan kami, perusahaan keluargaku tidak harus hancur karenanya." Jelas Anyelir yang langsung dipahami oleh kedua sahabatnya.


"Hmm... Aku tahu, sekarang kamu ada dimana?" Tanya Adinda kembali.


"Di Kantor Kalandra, karena dia sedang tidak enak badan, jadi aku disuruh menemaninya." Dia tidak sempat untuk menjelaskan detailnya keadaan Kalandra.


"Bagus itu, kamu bisa sekalin menyelidiki, nanti hasilnya bagi tahu kami, okey?"


"Okey sip!"


"Kalau begitu kami berdua yang akan gabung dengan perusahaanmu, jadi kamu hanya tinggal mencari celah perusahaan suamimu itu, biar kami yang mengatur semuanya."


Adinda dan Alenka saat ini juga ikut berbisnis meneruskan perusahaan keluarga mereka.


"Kalian memang terbaik kawan!" Anyelir merasa lega, karena kedua sahabatnya benar-benar selalu ada untuknya dalam hal apapun.


"Pastilah, sudah cukup kamu menderita selama lima tahun ini, saatnya kamu membuktikan bahwa kamu tidak lemah sebagai seorang perempuan." Jelas Adinda yang selalu menguatkan.


"Semangat Anyelir, jadilah wnaita tangguh!" Alenka pun lansung ikut menyemangati.


"Asiap Besti, kalau begitu aku tutup dulu, sampai jumpa besok, aku harap kalian datang membawa kabar gembira untukku."


"Okey, bye-bye!"


Akhirnya Anyelir menutup panggilan video callnya dengan kedua sahabatnya dan langsung bergegas pergi ke ruang meeting, karena hanya dengan cara inilah dia bisa lepas dari belenggu dan bayang-bayang dari Kalandra, walau dia belum tahu endingnya seperti apa, namun dia harus mandiri, tanpa harus takut dengan keadaan apapun kedepannya.

__ADS_1


Seorang wanita akan menjadi luar biasa, ketika dia berhasil mengajari dirinya sendiri, bahwa semua sumber kekuatan, kebahagiaan dan motivasi itu ada dalam diri kita sendiri.


__ADS_2