
Setelah Anyelir menjemput Kanaya, dia langsung menemui kedua sahabatnya yang tadi sempat janjian disebuah Kafe langganan mereka dulu.
"Hallo Kanaya, putri kesayangan aku." Adinda langsung berlari dan memeluk Kanaya saat mereka baru saja datang.
Plak!
"Dia putriku Din, bukan putrimu!" Anyelir langsung memukul lengan sahabatnya itu, walau dia tahu itu hanya sebuah gurauan semata.
"Yaelah... diakuisisi bentaran doang aja pelit, kalau beneran gue juga ogah sama bapaknya!" Celetuk Adinda yang sedari dulu tidak pernah pro dengan Bapaknya walau setampan apapun Kalandra.
"Emang siapa juga yang mau ngasih bapaknya ke elu! bapaknya cuma punya gue, sembarangan aja kalau ngomong." Ucap Anyelir yang langsung tidak terima.
"Haish.. ini dia definisi cinta memang gila, udah disakitin berulang kali masih aja tetap cinta!" Ledek Alenka yang memilih mencubit gemas kedua pipi Kanaya.
"Emang Bunda disakitin apa sama Ayah, biar nanti Kanaya yang menghukum Ayah." Celoteh Kanaya dengan wajah imutnya yang terlihat serius.
"Ahehe... nggak ada sayang, ini tante-tante kamu aja yang suka bercanda, biasalah nak.. tante-tante kamu ini kan jomblo!" Ledek Anyelir yang langsung mendapatkan pelototan mata dari kedua sahabatnya.
"Ini fitnah namanya, gue ini calon Bu ustadzah tau nggak!" Ucap Adinda yang selalu gembar-gembor namun tidak pernah terlihat berdua dengan pasangannya.
"Asal kalian tahu saja, Gue juga calon istri Dosen tau!" Begitu juga Alenka, yang selalu pamer walau belum mendapat kepastian yang jelas dari lelaki pujaannya itu.
"Mana buktinya, malam mingguan aja kalian cuma nongkrong berdua?" Tanya Anyelir sambil menahan tawanya.
"Tunggu aja tanggal mainnya, sekarang masih misteri!" Ucap Adinda yang tidak mau kalah.
"Sudahlah, kita langsung aja ke intinya, kalian sudah tahu kondisi perusahaan Kalandra sekarang kan?" Anyelir tidak ingin berlama-lama nongkrong di luar, karena sebenarnya dia juga kasihan meninggalkan Kalandra sendirian dirumah dalam keadaan terpuruk seperti tadi, jadi setelah mendapatkan ide terbaik dari kedua sahabatnya dia bermaksud langsung ingin pulang.
"Iya, mungkin dia sedang mendapatkan karma dari perbuatannya mendzolimi istri yang begitu bucin dengannya." Ucap Adinda dengan senyum yang seolah mewakili semua wanita yang tersakiti di dunia ini.
"Ngeledek gue lagi nih ceritanya!" Anyelir malah merasa tersindir sendiri jadinya, dia pun heran kenapa rasa sayangnya dengan Kalandra begitu awet seperti diberi formalin.
"Hehe... Gimana? elu tetap berniat mengakuisisi perusahaannya kan?" Alenka langsung mengingat ide yang pernah mereka usulkan kemarin.
"Entahlah, untuk itu aku menemui kalian berdua sekarang, kalau enggak juga mendingan gue 'Kelonan' sama bapaknya Kanaya!" Celetuk Anyelir yang kembali tersenyum-senyum mengingat kelakuan Kalandra akhir-akhir ini yang berhasil membuat jantungnya kembali berdebar tak menentu.
"Matahari juga masih bersinar terang kawan, jam segini kok sudah mau 'Kelonan' aja, dasar Wanita Omes!" Alenka langsung menoyor kepala sahabatnya itu dengan kesal, karena sebenarnya dia pun mau, tapi tak ada lawan.
"Bunda 'Kelonan' itu apa?" Tanya Kanaya dengan polosnya yang berhasil membuat Anyelir langsung membungkam mulutnya sendiri, dia lupa kalau putrinya itu cerdas, dia pasti menyimak obrolan mereka sedari tadi.
"Biar Tante kasih tau ya, itu adalah cara Bunda dan Ayahmu, waktu buat kamu dulu." Celetuk Alenka dengan usilnya.
"Hush... Kalian ini, jangan mengajarkan bab yang belum sampai di umurnya!" Anyelir langsung menendang kaki Alenka dengan kesalnya.
__ADS_1
"Ahaha... Kamu yang mulai duluan tadi kan!" Namun Alenka malah tertawa cekikikan karenanya.
"Kanaya, mau lihat film kartun nak, ada serial terbaru loh dari film kesukaan kamu."
Ketika Kanaya terlihat bingung dengan obrolan random ketiga wanita dewasa itu, Anyelir langsung mengeluarkan smartphone miliknya dan membuka serial kartun dari internet.
"Mau Bunda, yeay!" Kanaya langsung bersorak gembira, karena memang seperti itulah anak-anak seumurannya.
"Dasar emak-emak jaman sekarang, Youtum aja yang jadi andalan agar anaknya bisa diam." Ledek Adinda yang hanya bisa menatap jengah.
"Hehe... udah jamannya, nggak usah pada protes, yang penting waktunya dia belajar ya belajar, tidur ya tidur, karena dijaman sekarang sudah nggak ada permainan kelereng kayak masa kecil emaknya dulu, jadi biarkan sajalah dia bahagia dengan jamannya, yang penting kita batasi dan tahu waktu, okey... kita kembali ke permasalahan perusahaan Kalandra saja."
"Kalau menurut gue lanjutkan saja ide kita yang kemarin, tetap akuisisi perusahaannya, karena hanya itu cara untuk menyelamatkannya." Alenka tahu betul siapa Anyelir, dia pasti tidak akan membiarkan begitu saja perusahaan suaminya seperti itu.
"Aku sudah mengatakan hal itu dengannya, namun dia bilang walau perusahaannya itu dijual juga tidak akan menutup semua kerugian perusahaannya, jadi aku hanya akan rugi jika mengakuisisi perusahaan katanya." Jawab Anyelir dengan nafas beratnya, dia sebenarnya bingung harus bersikap bagaimana.
"Bisa separah itu?" Adinda pun tidak menyangka sebenarnya,dia sempat terkejut dengan pemberitaan yang dia dengar, namun seperti itulah takdir manusia, karena rezeki harta itu juga adalah titipan, yang bisa diambil kapan saja sesuai kehendak-Nya.
"Hmm... ada yang sengaja ingin menghancurkan perusahaannya, dan kemungkinan itu dari orang dalam bahkan Kalandra berencana menjual semua asetnya untuk mengganti kerugian dana itu dan juga upah karyawan mereka yang akan dirumahkan." Jelas Anyelir dengan wajah yang terlihat prihatin.
"Owh ya? kasian sekali, ada berapa ribu orang yang akan menggangur karena bangkrutnya perusahaan Kalandra ya kan?" Alenka memikirkan nasip karyawan-karyawan yang sudah berjuang disana.
"Mau gimana lagi, sahamnya turun drastis, dan pelakunya pun belum ditemukan, sedangkan karyawan mereka sudah pada demo sekarang." Anyelir pun sependapat, betapa sulitnya mencari pekerjaan jaman sekarang.
"MALL?" Anyelir dan Alenka terlihat excited juga dengan usulan Adinda.
"Bokap gue nawarin modal untuk hadiah ulang tahun gue, dan gue juga masih bingung mau buat usaha apa." Adinda mengingat kesepakatan dengan Ayahnya beberapa waktu yang lalu.
"Keren tuh, pasti laku keras kalau gedung itu dijadikan Mall, walaupun renovasinya cukup banyak, tapi tidak akan rugi untuk investasi masa depan." Kalau soal perhitungan, Alenka pun tak kalah cerdik.
"Tapi gue butuh bantuan kalian berdua juga, agar Mall itu bisa segera launching, gimana kawan?" Modal yang ditawarkan Ayahnya memang sudah cukup besar, namun untuk biaya lain-lain dari renovasi pembangunan Mall sampai siap pakai juga butuh dana yang cukup besar pikirnya.
"Setuju, gimana kalau kita bertiga investasi modal bersama untuk Mall itu, jadi Mall itu milik kita bertiga?" Alenka langsung terlihat semangat.
"Boleh deh, nanti gue mintain modal sama Papa dan aku rasa sedikit menguras tabungan kita tidak masalah jika untuk investasi masa depan." Anyelir pun menyetujuinya saja.
Dan dengan Anyelir dan kedua kawannya yang membeli perusahaan milik Kalandra, setidaknya dia bisa membeli dengan harga yang lumayan tinggi dan bisa membantu Kalandra si raja gengsi itu secara diam-diam untuk menutup kerugian perusahaan tanpa harus menjual aset-aset berharga milik Kalandra yang lainnya.
"Mantep tuh, brati kita deal ya?" Adinda langsung mengajak mereka bertiga berdiri.
"DEAL!" Teriak mereka bertiga kompak sambil berpelukan.
Bukan hal yang sulit jika mereka bertiga bersatu, karena memang mereka dari keluarga yang berada, apalagi itu untuk modal investasi masa depan, bukan untuk sekedar foya-foya semata, keluarga mereka bertiga pasti akan mendukung keputusan itu.
__ADS_1
"Bunda, bukannya itu Ayah, kenapa dia datang dengan seorang wanita?"
Tiba-tiba saat mereka bertiga sedang terlihat semangat-semangatnya, terdengar ocehan Kanaya yang membuat mereka bertiga terdiam seketika.
Degh!
Anyelir seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat, baru saja dia ingin membantu keadaan ekonomi suaminya, namun Kalandra seolah kembali melukai hatinya dan mematahkan rasa yang baru saja ingin dia bangun kembali.
"Aish... bukannya itu Jenny, kemarin kamu bilang suami elu sudah tobat? lalu mana buktinya?" Adinda langsung berkacak pinggang dengan kesalnya.
"Sudah gue duga, yang namanya penyakit selingkuh itu susah diobati." Alenka langsung mengepalkan kedua jemarinya, seolah ingin memberikan pukulan kepada dua manusia itu.
"Astaga,bukannya dia sudah berjanji tidak akan kembali dengan buaya betina itu, bahkan tadi dia berucap sangat manis denganku." Ucap Anyelir perlahan sambil mengusap dadaanya.
Ada rasa sesak yang teramat sangat, ada rasa ingin menangis namun tertahan, apalagi putrinya sendiri yang melihat kejadian itu.
Sungguh dia bingung harus berbuat apa dengan Kalandra setelah ini, entah rasa maaf untuknya masih tersisa lagi atau tidak, yang pasti saat ini dia ingin pulang saja.
Anyelir tidak ingin rasa sedihnya dan juga kekalutan dirinya menjadi konsumsi publik jika dia melabrak Kalandra dan Jenny saat ini juga, karena pengunjung di Kafe itu kebetulan cukup ramai sekali.
"Mungkin suami elu terkena bujuk rayu pelakor itu lagi, bukan hal yang sulit memang, apalagi mereka sudah berhubungan lama, mungkin sayang jika harus ditinggalkan begitu saja, namanya juga pelakor yang nggak punya harga diri." Hujat Adinda yang kembali memupuk rasa bencinya dengan Kalandra yang sempat berkurang kemarin.
"Aku benar-benar kecewa dengannya, Kanaya sayang, ayok kita pulang nak!" Anyelir langsung menggendong tubuh Kanaya yang sudah semakin tumbuh dewasa itu.
"Tapi itu Ayah gimana Bun, ayo kita ajak Ayah pulang sekalian!"
"Ayahmu sedang tidak bisa diganggu, jadi kita pulang aja, Kanaya mau jalan-jalan ke rumah Nenek nggak?"
"Mau, tapi sama Ayah juga Bun."
"Kita berdua saja, Ayahmu sedang sibuk, jadi jangan banyak bertanya lagi, okey sayang?"
"Hmm." Kanaya hanya bisa menggangukkan kepalanya saja sambil menahan tangisannya.
"Anyelir trus gimana rencana kita tadi?" Adinda langsung mengikuti langkah Anyelir.
"Batalkan saja, untuk apa kita membantu orang yang tidak tahu diuntung seperti dia!" Umpat Anyelir yang sudah tidak mau tahu lagi tentang apapun yang berhubungan dengan Kalandra.
"Fuh... Gagal deh punya Mall sendiri." Alenka pun mau tidak mau hanya bisa mengikuti langkah mereka dan meninggalkan angan-agannya menjadi pemilik Mall harapannya yang hanya sampai tahap rencana tanpa realisasi.
Namun Adinda dan Alenka tidak bisa berbuat apa-apa juga jika memang keputusan Anyelir sudah bulat seperti itu, mereka berdua pasti akan mendukung Anyelir dan akan selalu berada dibelakang untuk membantunya.
Andai hati manusia itu dapat dilihat, pasti kita tidak akan pernah bertemu dengan rasa kecewa, tapi sayangnya dalamnya hati, tidak dapat kita ukur, apalagi untuk ditebak niatnya.
__ADS_1
Jadilah seperti Air putih, walau terlihat sederhana tapi sangat Berharga, jangan jadi Gula, walau ia mampu membuat semua menjadi manis, namun jika terlalu banyak akan membuat hidup menjadi sengsara.