
Saat Mobil milik Anyelir baru saja terparkir dihalaman rumah mewah itu, putri kesayangannya sudah berteriak heboh memanggilnya.
"Bundaaa!" Teriak Kanaya sambil berlari menuju ke arahnya, karena dia sudah mondar-mandir menunggu dirinya sedari tadi.
"Astaga anak itu, aku rasa malam jumat kliwon dulu aku membuatnya, suaranya melengking kayak suara mbak Kunti." Celetuk Anyelir yang langsung geleng kepala.
"Bunda, apa Bunda mau bunuh Ayah?" Celoteh Kanaya yang berhasil membuat Anyelir melotot.
"Hah?"
"Nggak boleh kayak gitu Bunda, nanti Allah marah sama Bunda loh." Kanaya seolah memarahi Bundanya.
"Pfthh... emang siapa yang mau bunuh Ayah?" Anyelir hanya bisa menahan tawa saat putrinya berbicara seperti orang tua, padahal masih anak TK nol besar.
"Lalu kenapa Bunda masakin makanan beracun buat Ayah, coba lihatlah Bunda, sekarang Ayah tergelak di Lantai." Kanaya langsung menarik tangan Bundanya dan mengajaknya untuk segera masuk kedalam rumah.
"Hah, kenapa di Lantai?" Anyelir langsung mempercepat langkahnya.
"Gara-gara Bunda lah itu, hayoloh Bunda, tanggung jawab Bunda." Celetuk Kanaya yang membuat Anyelir memiringkan senyumannya.
"Kala.. Kalandra kamu dimana?" Anyelir berteriak saat tidak mendengar suara suaminya itu.
"Ish.. Bunda ini, panggil suaminya kok pake nama, nggak sopan Bunda ini." Ucap Kanaya dengan tatapan kesalnya.
"Heh? Ayah kamu kemana nak?" Saat mereka sampai didalam kamar Kalandra pun dia tidak muncul.
"Tadi terakhir duduk didepan kamar mandi, mau aku bantu naik ke kasur tapi Kanaya nggak kuat." Ucap Kanaya yang seolah sedang mengadu.
"Astaga, apa dia nggak minum obat?" Umpat Anyelir yang langsung ingin memeriksa kamar mandi.
"Ayah? ehh... Ayah Naya? kamu dimana?" Anyelir jadi bingung sendiri mau memanggil Kala didepan Kanaya dengan panggilan apa.
"Apa? puas kamu sudah ngerjain aku habis-habisan?" Tiba-tiba pintu kamar mandi itu terbuka, dan muncullah Kalandra dengan rambut yang terlihat acak-acakan.
"Jadi Bunda yang ngerjain Ayah, astaga Bunda, padahal Bunda sendiri yang ngajarin Kanaya nggak boleh nakal, Bunda tau nggak kalau Ayah bolak-balik kamar mandi sampai puluhan kali?" Kanaya langsung bersidekap dan memelototi Bundanya sendiri.
"Hmm... Marahin tu Bundamu, dia jahat sama Ayah." Kalandra yang seolah mendapat pembelaan dari putrinya langsung semangat.
"Ayo Bunda, minta maaf nggak sama Ayah? nanti aku bilangin Nenek sama Kakek loh?" Celetuk Kanaya dengan sedikit memberi ancaman kepada bundanya
"Haish.. Anak ini." Dan Anyelir hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Cepat Bunda minta maaf, nanti masuk Neraka mau apa?"Kanaya langsung memaksa Bundanya agar bertindak cepat.
"Fuh... Maaf." Dan Anyelir tidak punya pilihan selain menjalaninya saja.
"Yang bener Bunda kalau minta maaf itu, kayak Kanaya gitu loh, Ayahnya itu di peluk, trus dibisikin 'Ayah minta maaf' gitu, kan Ayah sudah nggak marah-marah lagi sama Bunda, kok Bunda masih jahat sama Ayah?"
"Pfthh.. Didikan kamu memang terbaik."
Kalandra hanya bisa memalingkan wajahnya sambil menahan senyuman saat melihat Anyelir seolah di privat oleh putrinya sendiri.
"Kalau Bunda kan nggak harus gitu Nak?" Anyelir mencoba menolaknya.
"Tapi kenapa Bunda ngajarin Kanaya seperti itu, hayow?"
Walau Kalandra memperlakukan Anyelir buruk bahkan sejak Kanaya masih didalam kandungan, namun Anyelir tidak pernah mengajarkan Kanaya untuk membenci Kalandra, karena mau bagaimanapun juga dia adalah Ayah kandungnya.
"Pftthh.." Dan Kalandra terus saja tertawa cekikikan melihat Anyelir yang seolah kuwalahan menjawab pertanyaan putrinya yang terus memojokkannya.
"Hah... Ya sudahlah." Dengan helaan nafas panjang akhirnya Anyelir menyetujuinya.
"Yang ikhlas Bunda, ayo coba Kanaya mau lihat." Ucap Kanaya yang membuat Anyelir hanya bisa pasrah.
Aduh Gusti, anakku ini?
Dengan langkah ogah-ogahan, Anyelir mendekat ke arah Kalandra dan mulai merapatkan tubuhnya.
"Ayah.. Maafin Bunda ya." Dengan wajah cemberut Anyelir mulai berkata-kata.
"Dipeluk Bunda, masak meluk Ayah aja nggak mau!" Bahkan Kanaya sambil berkacak pinggang ke arah kedua orang tuanya untuk memberikan arahan.
"Ayah, maafin Bunda ya." Walau terlihat berat namun Anyelir akhirnya memeluk Kalandra juga dan itu membuat Kalandra bersorak gembira, mungkin setelah ini dia akan memberikan hadiah istimewa untuk putri kecilnya yang kali ini berpihak kepadanya.
"Iya istriku, jangan diulangi lagi ya, nanti Tuhan bisa marah?" Jawab Kalandra sambil membalas pelukan dari Anyelir yang memang terasa hangat baginya.
"Ckk... kenapa nggak minum obat tadi, bukannya aku sudah bilang ada di kotak P3K yang warna hijau?" Tanya Anyelir sambil memundurkan wajahnya.
"Kalau aku minum, pasti aku nggak akan dapat pelukan ini, hehe?" Namun Kalandra masih tetap menahan pinggangnya.
"Kamu memang ya!" Anyelir sampai mengeratkan barisan gigi putihnya, namun Kalandra tetap membalasnya dengan senyuman tipisnya.
"Bunda! Baru aja maaf-maafan kok udah marah-marah lagi, ayo peluk lagi!" Perintah Kanaya yang bertingkah seperti komandan.
__ADS_1
"Hehe... Iya anak pintar, nanti Bunda peluk Ayah yang kenceng banget, tapi kamu main sama si mbak dulu ya, biar Bunda cariin obat buat Ayah, okey?"
"Bunda masih mau marah-marah lagi ya?"
"Enggak kok, Bunda udah nggak marah."
"Kalau begitu cium Ayah dulu."
"Kanaya?" Anyelir jadi heran sendiri, kenapa putrinya jadi membela Ayahnya habis-habisan begini pikirnya.
"Kalau Bunda nggak mau cium Ayah, Kanaya nggak mau main, Kanaya mau mengawasi Bunda agar nggak nakalin Ayah lagi." Celetuk Kanaya yang kembali membuat Kalandra bersorak gembira.
"Wah... Kanaya memang bijak, kamu memang putri Ayah yang paling pintar, nanti Ayah kasih hadiah spesial buat kamu ya."
"Ayo Bunda, cium.. cium.." Apalagi setelah ditawari iming-iming hadiah spesial, sudah pasti Kanaya langsung semangat empat lima.
Kok jadi begini anak gue?
Kalandra langsung menyodorkan pipinya dengan senyum yang merekah, kapan lagi dia dapat jackpot seperti ini pikirnya.
Cup
Ehh?
Namun saat bibir Anyelir hampir menyentuh pipi suaminya, Kalandra langsung memutarkan wajahnya, sehingga bukan pipi yang bertemu, melainkan bibir yang saling beradu.
"Nah, gitu dong! Kanaya kan jadi bisa tenang, kalau begitu Kanaya main dulu, daa Bunda.. daa Ayah." Setelah melihat kedua orang tuanya saling menempelkan bibiir, Kanaya langsung berlari pergi dari sana dan mencati babysitternya.
Karena pada dasarnya kebahagiaan anak bukan hanya bermain, namun berada dalam lingkup keluarga yang saling menyayangi itu lebih membuat anak merasa nyaman dan bahagia tentunya.
"Aish... Kamu ya yang ngajarin Kanaya seperti itu?" Anyelir langsung meninju perut suaminya yang memang rata dan berotot.
"Aduh.. Perutku sakit banget." Rintihnya, bukan karena pukulan istrinya, namun karena mulesnya datang lagi.
"Pergilah ke kamar mandi cepat, aku ambilkan obatnya nanti."
Walau tadi sempat mendapatkan jackpot banyak tapi wajah Kalandra benar-benar terlihat pucat saat ini, apalagi perutnya yang sudah kosong ditambah lagi kekurangan cairan, membuat tubuhnya benar-benar lemah.
"Kala, aku panggilin Dokter ya, kamu kayaknya demam juga?" Anyelir sempat khawatir dan memeriksa suhu di kening suaminya yang memang sedikit panas.
"Nggak mau, aku cuma kedinginan saja." Tolak Kalandra yang memang hanya ingin berduaan dengan Anyelir.
Karena ternyata dilayani oleh istri sah itu menyenangkan, sedangkan saat dengan Jenny, dia yang selalu melayani, bukan dilayani.
"Tapi masih dingin Istriku?" Rengek Kalandra sambil beringsut dan memeluk perut istrinya yang duduk disampingnya.
"Selimutnya mau double?" Tanya Anyelir yang tanpa sadar langsung mengusap kepala Kalandra, karena jauh didasar hatinya dia memang sangat menyayangi Kalandra.
"Hangatnya selimut tidak akan menghangatkan dinginnya tubuhku ini, wahai Istriku?" Ucap Kalandra sambil memejamkan kedua matanya, seolah merasakan hangatnya cinta kasih seorang istri yang selama ini dia abaikan.
"Ckk... Jadi maunya apa ini, jangan modus ya?" Umpat Anyelir yang langsung menggeser kepala Kalandra kembali ke atas bantal.
"Dipeluk sama kamu?" Pinta Kalandra dengan wajah sok melas.
"Apaan sih, nggak usah aneh-aneh deh!" Anyelir langsung menjelingkan kedua matanya.
"Ini semua kan gara-gara kamu, siapa suruh buat mie goreng rasa cabai semua, mana disuruh habisin pula itu, kamu ini terlalu kejam denganku!" Ucap Kalandra yang pura-pura menjadi pria paling tersakiti.
"Selama ini bahkan kamu lebih kejam daripada aku." Umpat Anyelir yang langsung membalikkan kata-katanya.
"Aku tahu, bukannya aku sudah minta maaf bahkan aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Jenny, aku sudah putuskan semua kontak dengannya." Jelas Kalandra dengan mantapnya.
"Apa maaf saja cukup?"
"Lalu kamu mau minta apa?"
Eh... Bukannya aku harus membuat dia bucin denganku? Seharusnya aku bersikap baik dengannya bukan? ini demi kemerdekaan kaum ibu-ibu muda yang terdzolimi, aku harus bisa!
"Aku ingin kamu berubah, jangan seperti Kalandra yang dulu lagi, bisa?" Tantang Anyelir.
"Okey, aku akan berusaha semaksimal mungkin, beritahu aku, tegur aku jika memang aku salah, aku akan menurut denganmu mulai sekarang." Kalandra langsung menarik kedua jemari Anyelir dan membawa kepangkuan miliknya.
"Apa ucapan kamu bisa dipegang?"
"Tentu saja, asalkan kamu tidak lagi membenciku, karena aku rindu dengan Anyelir dimasa-masa sekolah dulu, andai aku bisa memutar waktu kembali, mungkin aku akan menerima cintamu, bukan Jenny." Suasana langsung berubah jadi sendu, saat Kalandra terlihat sangat menyesal, karena ketulusannya dibalas sia-sia oleh Jenny.
"Sekarang baru menyesal nih, kemarin pingsan pak?" Ledek Anyelir yang sebenarnya ingin menertawakannya, namun dia kasihan juga, karena Anyelir pernah ada di posisi kecewa dan itu sangat menyiksa.
"Emm... menyesal itu pasti, tapi tidak sepenuhnya, karena aku tidak sampai menidurinya, jadi seharusnya aku masih bisa dimaafkan dong, karena Imanku cukup teruji, ya kan?" Ucap Kalandra dengan bangganya, karena bisa menjaga burungnya hanya untuk yang halal.
"Tapi kamu pernah *****-***** wanita itu juga kan?"
"*****-***** itu apa? kamu ini pikirannya ngeres aja, aku tidak seburuk yang kamu kira wahai istriku?" Sebenarnya Kalandra paham maksud dari Anyelir, namun dia ingin menjaga hati istrinya saja, karena yang namanya pria dewasa terkadang juga pernah khilaf dengan sengaja nabrak sana sini cari untung.
__ADS_1
"Ya sudahlah, kenapa juga aku harus bahas buaya betina itu, kayak yang nggak ada kerjaan aja." Umpat Anyelir yang sebenarnya hanya mengucap nama Jenny saja sudah muak, apalagi harus membahas semua tentangnya.
"Jadi bisakah kita mulai semuanya dari awal wahai Istriku?"
"Tergantung dengan performa dan kelakuan kamu kedepannya, kalau---!"
Grep!
Cup!
Belum juga Anyelir selesai bicara, namun Kalandra sudah langsung menyerangnya dengan memeluk dan langsung menghujaninkecupan diwajah Anyelir.
"Kalandra, aku belum mengizinkan kamu, okey!" Jerit Anyelir yang langsung menghindar.
"Maafkan aku, mulai saat ini aku akan memperlakukan kamu dengan baik, apa kamu mau kita buat Adek untuk Kanaya?" Goda Kalandra dengan imutnya.
"Apaan sih!" Entah mengapa Anyelir malah jadi malu sendiri.
"Aku janji, tidak akan kasar lagi denganmu, atau kamu mau yang diatas? Aku pasrah aja deh?" Hilang sudah keangkuhan Kalandra didepan Anyelir saat ini, hanya karena dia takut kehilangan wanitanya.
Bugh!
Seketika Anyelir langsung meninju perut Suaminya dengan gemas.
"Aww.. perutku masih sakit Anyelir, kenapa kamu suka sekali meninju perutku." Umpat Kalandra yang kembali pura-pura kesakitan.
"Cih... Perut aja masih sakit, kayak gitu mau ngajakin buat adek Kanaya, jangan mimpi!" Umpat Anyelir yang langsung beranjak berdiri.
"Anyelir, jadi aku boleh tidur denganmu?" Tanya Kalandra dengan beraninya.
Mungkin ini saatnya, ayo kita lihat, seberapa kuat Iman dan Iminmu itu.
"Kamu boleh tidur denganku,tapi jangan berani-berani menyentuhku tanpa seizinku?" Tegas Anyelir kembali.
"Hah?"
"Sekarang aku mau mandi dulu." Anyelir langsung menutup pintu kamar itu dan langsung menguncinya.
"Anye, ka-kamu mau buka baju disini?" Kalandra yang malah jadi belingsatan sendiri melihat Anyelir mulai membuka kancing bajunya disana.
"Kenapa? Apa ada masalah, bukannya kita suami istri?" Anyelir mulai tersenyum licik
"Iya tapi aku---?"
Wing!
Anyelir langsung melepas semua bajunya tepat dihadapan suaminya yang hanya bisa melongo sambil menelan ludah sampai berkali-kali, hingga membuat jakunnya berhasil naik turun.
Selama ini Kalandra memang sering menikmati tubuh Anyelir, namun secara paksa, tidak pernah pakai pemanasan apalagi aba-aba seperti ini, jadi saat Anyelir membuka satu persatu pakaiannya, naluri Kalandra sebagai lelaki seolah langsung bangkit semua.
Tuing!
Bagian sensitif dari tubuh Kalandra seketika mulai tegak berdiri karena ulah dari Anyelir yang terlihat begitu menggoda.
"Kamu mau lihat aku mandi?" Tanya Anyelir walau tanpa berani memandang wajah suaminya, karena sebenarnya dia malu sekali melakukan hal itu, tapi demi misi bucinnya dia harus bisa melakukan segala cara untuk menakhlukkan suaminya.
"MAU!" Jawab Kalandra dengan cepat.
"Ayo masuk!" Anyelir langsung menjentikkan jemarinya dengan nakalnya.
"Hah!"
Ceklik!
"Tapi jangan pernah sekalipun kamu menyentuhku tanpa seizinku, atau aku akan marah besar denganmu!" Ancam Anyelir yang membuat tubuh Kalandra melemas seketika, bagaimana dia bisa tahan saat melihat body gitar spanyol polos begitu pikirnya.
"Hah, kalau begitu aku keluar saja!" Daripada hanya ngilu, lebih baik dia tidak melihat pikirnya.
"Diam disitu, kamu cukup duduk memperhatikan aku mandi dari sana saja." Ucap Anyelir yang membuat Kalandra serasa makan buah kedondong beserta biji-bijinya.
"Aish, mana tahan aku!" Umpat Kalandra sambil mengusap dadaanya.
Emang cuma dia aja yang bisa ngerjain aku? Lah.. aku mah ahlinya kalau soal beginian, malu sih, tapi bodo amat dia juga sudah melihat semuanya, yang penting dia kelihatan tersiksa batin, muehehe..
"Kalau begitu tiada maaf bagimu!" Ucap Anyelir sambil melanjutkan mandinya dengan gaya-gaya sensasional seperti iklan sabun mandi.
"Anyelir, tolong lah." Kalandra memanggilnya denan nada lemas, karena sepertinya dia sudah tidak kuasa menahan sesuatu yang berontak dibawah sana.
"Yes or No?" Jerit Anyelir dari ujung sana.
"Argh.. Sabar ya Tong, kendalikan dirimu, tolong kerja samanya!"
Akhirnya Kalandra hanya bisa duduk jongkok di pojokan kamar mandi, sambil mendekap burung peliharaannya agar tidak mengintip keluar, apalagi sampai menerjang mangsa yang begitu menggiurkan dihadapannya.
__ADS_1