
FlashBack
Setelah Anyelir pergi untuk menemui kedua sahabatnya Kalandra memutuskan untuk tidur saja, karena kepalanya mulai terasa berdenyut nyeri.
Namun tak lama kemudian ponselnya berbunyi dan nomor Jenny tertera sebagai pemanggil disana.
"Astaga, mau apa lagi dia? kenapa aku sampai lupa memblokir namanya." Kalandra hanya bisa menggumam sendiri sambil menatap layar ponselnya tanpa mau menggangkat panggilan dari mantan kekasihnya.
Hampir puluhan kali Jenny terus saja memanggilnya, hingga akhirnya Kalandra merasa jengah dan memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya.
"Kapanlah hidupku ini bisa tenang? Tuhan.. Aku tahu aku pernah berbuat salah, tapi tolong.. one day, ijinkan aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya bersama keluarga kecilku." Ucap Kalandra sambil menutupi kedua matanya dengan lengannya sambil merebahkan tubuhnya.
Baru saja Kalandra ingin masuk ke alam mimpi, namun suara teriakan dari luar kamar membuat Kalandra terkejut dan kembali terjaga.
"Sayang! Kamu dimana, ayo keluar kamu!" Teriak seorang wanita yang sudah Kalandra hafal dengan benar.
"Ada apa ini?" Kalandra langsung keluar kamar, takut kalau suara Jenny sampai terdengar sampai ke rumah tetangga.
"Maaf pak, nona ini memaksa masuk padahal aku sudah melarangnya, karena bapak sedang istirahat, tapi dia malaj marah-marah pak!" Asisten rumah tangga Kalandra langsung melapor.
"Kalandra,bisa-bisanya kamu memblokir nomorku, apa kamu benar-benar tidak mau bertemu denganku, apa kamu dengan mudahnya melupakan masa-masa indah kita, hah!" Jenny langsung mendekat ke arah Kalandra.
"Fuh... Pulanglah, sebelum kesabaranku kembali habis untukmu!" Umpat Kalandra yang langsung membuang arah pandangannya.
Sesungguhnya dia sedang malas untuk berdebat, apalagi pikirannya sedang kacau, bahkan tubuhnya sedikit kurang fit hari ini.
"Okey, kalau begitu akan aku sebarkan aib kita kepada seluruh dunia, agar mereka semua tahu, bahwa seorang Kalandra main serong dengan wanita lain selama pernikahannya." Ancam Jenny yang seolah punya senjata kuat untuk itu.
"Aku tidak perduli!" Jawab Kalandra yang tetap tidak goyah.
"Yakin kamu tidak perduli? bagaimana kalau foto-foto mesra kita aku kirimkan kepada anak dan istrimu!" Jenny sudah mempersiapkan hal itu sedari dulu, jadi kalau terjadi sesuatu diantara mereka, Jenny bisa menjadikan hal itu sebagai senjata, itu kenapa dia sering romantis-romantisan dengan Kalandra.
"Kirimkan saja, dia bahkan sudah tahu sejak awal pernikahan, kalau kita memang berhubungan." Dia masih ingat, saat dengan kejamnya dia merenggut keperawanan milik istrinya dimalam pertama dengan kasar, bahkan dengan cacian yang mungkin sangat melukai hati istrinya.
"Kalau begitu biar aku kirimkan kepada orang tuanya, apakah mereka masih mau menerimamu sebagai anak mantu, atau mereka bahkan akan meminta putrinya untuk menceraikan kamu, karena anak menantunya ternyata menikahi putrinya hanya untuk misi balas dendam semata." Jenny tersenyum licik sambil menscroll poto-poto mesra mereka dari ponsel miliknya dna menunjukkan itu kepada Kalandra.
Degh!
"JENNY, SEBENARNYA APA MAUMU!"
Selama ini dia selalu menutupi hal itu didepan kedua mertuanya, bahkan didepan kedua orang tuanya sendiri, jika sampai mereka tahu, entah apa yang akan terjadi. Dan untuk saat ini Kalandra masih belum siap jika harus kehilangan Anyelir dan juga Kanaya.
"Aku hanya ingin kita kembali bersama seperti dulu lagi Kalandra, aku sayang kamu." Bujuk Jenny sambil menggelendotkan tubuhnya di lengan Kalandra.
"Cih... apa seperti ini yang kamu bilang sayang itu, apa kamu lupa yang telah kamu lakukan dibelakang aku?" Kalandra langsung menepisnya begitu saja.
"Aku melakukan semua itu karena takut kamu mencampakkanku kalau sampai kamu tergoda dengan wanita pengecut itu." Ucap Jenny dengan segala alasannya, walau mungkin itu nyata atau tidak.
"Jenny, kamu sudah bersuami, kembalilah dengan suamimu itu, lupakan hubungan kita, apa susahnya coba? kenapa hidupmu ini selalu kamu buat ribet sendiri, aku sudah lelah Jenny dengan semua ini, tolong pergilah dari kehidupanku." Kalandra mencoba melembutkan suaranya, agar tidak terjadi pertengkaran, sesungguhnya dia pun tidak mau marah-marah seperti itu denga Jenny, karena walau bagaimanapun juga, wanita itu pernah mengisi hari-harinya dulu.
"Aku nggak bisa melupakan kamu begitu saja Kalandra, ayolah.. kita jalin hubungan kita seperti dulu lagi."
"Kamu tidak bisa melupakan aku atau segala kebodohanku yang selalu menuruti semua kemauan kamu itu?" Ucap Kalandra seolah mengeluarkan segala unek-unek dihatinya.
"Kalandra, kenapa kamu bicara seperti itu,aku benar-benar menyayangkan hubungan kita jika sampai berakhir seperti ini?" Jenny pura-pura sedih saat mendengarnya, walau entah apa yang dia umpat didalam hati tentang hal itu.
"Hubungan seperti apa yang kamu maksud? Apa hubungan tanpa kejelasan, atau hubungan tanpa tahu arah tujuan? untuk apa Jenny, kita sudah tak sejalan lagi." Kalandra seolah sudah kehabisan kata-kata, entah mengapa dia dulu tidak berpikir sampai sejauh ini dan seolah dibutakan dengan segala ucapan Jenny.
"Siapa bilang! aku masih tetap sayang dan cinta denganmu, seperti saat pertama kita bertemu." Bujuk Jenny kembali.
"Benarkah?" Namun hal itu membuat senyum Kalandra terbit sebelah, karena dia merasa ragu akan hal itu.
"Tentu saja." Jawab Jenny tanpa berani membalas tatapan dari Kalandra.
Okey, biar aku tes!
__ADS_1
"Kalau aku sudah miskin, apa kamu masih tetap cinta?" Tanya Kalandra sambil terus memandang wajah Jenny agar dia bisa melihat kejujuran darinya.
"Kenapa juga harus miskin, perusahaan bermasalah itu biasa." Ucap Jenny yang seolah tetap santai.
"Permisi pak, ada panggilan dari asisten bapak di Kantor, katanya ponsel bapak tidak aktif tadi." Tiba-tiba asisten rumah tangga Kalandra kembali datang dengan membawa telepon rumahnya.
"Huft... Iya Bi."
Dan Kalandra sudah menduga dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Hallo Pak, ada situasi darurat pak." Ucap Asistennya dengan suara yang terdengar gelisah.
"Ada apa?" Tanya Kalandra yang langsung sedikit menjauh dari Jenny.
"Pihak Bank menolak pinjaman kita, kalau jaminannya hanya perusahaan saja, sedangkan karyawan kita semakin banyak yang ikut demo." Lapornya kembali.
"Lalu apa solusimu?" Tanya Kalandra yang pikirannya seolah sudah buntu, apalagi ada Jenny yang datang dan semakin memperkeruh suasana hatinya.
"Kita harus segera turun tangan dan menemui mereka, kalau tidak segera diatasi bisa semakin hancur saham kita pak."
Mungkin ini satu-satunya cara untuk melihat siapa Jenny yang sebenarnya, jadi biar aku coba lihat bagaimana reaksinya?
"Okey, tapi temui aku di Kafe sebentar, sebelum kita pergi ke Kantor." Kalandra langsung menyetujuinya.
"Siap pak!"
Setelah berakhirnya panggilan dari asistennya, Kalandra langsung kembali mendekat kearah Jenny.
"Okey, akan aku tunjukkan seberapa miskinnya aku sekarang." Celetuk Kalandra dengan wajah yang terlihat serius.
"Maksudnya?" Jenny langsung mengerutkan kedua alisnya, dia tidak percaya jika Kalandra bisa miskin, karena selama ini uang dari Kalandra terus saja mengalir, seolah datang dari sumber mata air yang tidak akan ada habisnya.
"Ikut aku!" Ucap Kalandra yang langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi bersama Jenny menuju Kafe terdekat dari rumahnya.
Sesampainya disana, Kalandra langsung mencari tempat kosong tanpa memperhatikan pengunjung di meja sekitarnya, karena memang mood nya sedang tidak bagus.
Dan ternyata disaat itulah Kanaya melihat Ayahnya dan langsung melaporkan kepada Bundanya karena mereka berada di Kafe yang sama, karena Takdir memang selalu punya rencana tersendiri bagi umatNYA.
Namun Kalandra sama sekali tidak tahu dan tidak memperhatikan, kalau selang beberapa meja dari tempat duduknya adalah meja anak dan istri juga kedua sahabatnya, bahkan sampai mereka semua pergi dari Kafe itupun Kalandra tidak menyadarinya.
Anyelir memang tidak kuasa melihat suaminya bersama Jenny berduaan saja disana, apalagi dari kejauhan mereka terlihat mesra karena duduk berdekatan, dan yang paling penting adalah Kanaya, yang seharusnya tidak boleh melihat hal itu, oleh karena itu Anyelir memutuskan untuk segera pergi dari sana tanpa rasa ingin tahu apa yang mereka lakukan, karena sudah teelanjur kecewa.
Flashback off
"Kemana dia, kenapa lama sekali?" Umpat Kalandra yang sedari tadi terus melihat jam tangan miliknya.
Karena sudah hampir setengah jam Kalandra menunggu Asistennya namun tak kunjung juga datang.
"Sayang, sudahlah anggap saja kita menunggu sambil berkencan, kamu mau makan apa, biar aku pesankan dulu." Dan Jenny kembali berulah, dia akan melakukan segala cara agar Kalandra kembali tunduk dengan dirinya.
"Aku sedang tidak selera makan, jadi kalau kamu lapar pesen sendiri dan jangan lupa bayar sendiri!" Umpat Kalandra dengan sikap acuhnya.
"Sayang, kenapa kamu jadi judes banget sih, kamu nggak pernah kayak gini loh sama aku dari pertama kita kenal dulu?" Rengek Jenny dengan manjanya.
"Sudah aku bilang, jangan lagi kamu panggil aku denan sebutan sayang, karena aku bukan sayangmu lagi!" Jawab Kalandra dengan tegas.
"Tapi aku masih sayang dengan kamu Kala, sampai kapanpun itu!" Ucap Jenny tak gentar.
"Cih... itu urusanmu, karena rasaku sudah hancur karena ulahmu sendiri!" Kalandra seolah menekankan hal itu.
"Kalandra aku hanya ingin kita--" Dan ucapan Jenny langsung Kalandra potong saja seketika.
"Sudahlah, begini saja, aku sudah miskin sekarang, perusahaanku sudah bangkrut sekarang dan aku akan segera menjualnya." Dia sudah tak tahan lagi rasanya terus dihimpit oleh Jenny begini.
"Hah, kok bisa sih, kamu kan pembisnis handal?" Tanya Jenny yang tetap tidak percaya begitu saja.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu kecewa? dan tiba-tiba rasa sayangmu langsung hilang begitu saja? Iya?" Kalandra melihat ada perubahan dimimik wajah Jenny.
"Bukan begitu Kala, tapi selama ini tidak ada permasalahan dalam perusahaanmu yang tidak bisa kamu selesaikan bukan?" Dia tahu betul siapa Kalandra dalam dunia bisnis, tapi sehebat apapun Kalandra tetap tidak akan bisa menghindar dari yang namanya Takdir dari yang Kuasa.
"Itu dulu, tapi sekarang aku benar-benar sudah bangkrut, bahkan aku akan menjual semua investasi milik pribadiku juga, bahkan tanpa terkecuali Apartement yang rencananya dulu akan menjadi tempat tinggal kita itu, jadi jika ada barang-barangmu yang tertinggal disana, cepat kemasi, sebelum ada penghuni baru yang akan datang."
Jenny memang sudah meminta Apartement khusus untuk mereka berdua dengan alasan untuk rumah masa depan mereka nanti, walau yang menempati hanya Jenny saja.
"Kalandra, kamu serius?" Jenny seolah merasa tidak rela, karena memang itu Apartement impiannya.
"Tuh, asisten aku sudah datang, tanyakan saja sendiri." Dan akhirnya asistennya datang denan sedikit berlari.
"Hei, benarkah itu?" Jenny langsung menginterogasinya.
"Permisi, maaf saya terlambat, jalanan agak macet tadi dari Kantor." Jawab asisten Kalandra yang memilih duduk terlebih dahulu.
"Katakan semuanya, tentang perusahaan kita dengan wanita ini." Jelas Kalandra dengan senyum kecutnya, enah menapa dia yakin Jenny pasti akan mundur sendiri jika tahu keadaannya saat ini.
"Maksud Anda tentang karyawan yang demo atau pihak Bank yang menolak pinjaman kita?"
"Semuanya, bahkan tentang ganti rugi yang harus kira bayar dengan menjual aset-aset pribadi milikku." Ucap Kalandra sambil melirik wajah Jenny yang terlihat melongo karena mungkin terkejut.
"APA! Jadi kamu beneran bangkrut dan jadi miskin?" Jenny langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Nona, jangan bicara seperti itu, tolong jaga perasaan bos saya."
"Tidak perlu, biarkan saja." Kalandra memang sudah menduganya tadi.
"Tapi Kala---"
"Kenapa? Apa kamu masih mau kembali denganku? Kalau masih mau aku nikahin kamu besok, tapi tanpa mahar yang fantastis,apalagi dengan pesta yang megah dan meriah karena aku tidak mampu, bahkan tempat tinggal pun tak punya, gimana?"
"Kalandra?"
"Kalau kamu mau biar aku suruh asistenku pergi ke kantor KUA, untuk mengurus pernikahan kita besok pagi?" Kalandra seolah menantang Jenny saat ini tanpa rasa takut.
"Bukan begitu, aku juga belum punya rencana untuk menikah denganmu kok, karena aku masih berstatus menikah dengan Ken, jadi---"
"Ahahaha... katanya sayang tadi?" Tawa renyah Kalandra langsung menggelegar disana, walau hatinya seolah tercabik-cabik oleh belati tajam bahkan berkarat.
"Sayang kan bukan berarti ngajak menikah juga?" Jenny seolah bingung mau memberi alasan apa, pikirannya langsung ngeblank ketika mendengar kata bangkrut.
"Kalau begitu silahkan pergi dari kehidupanku, karena aku sudah bukan lagi pria idamanmu!" Umpat Kalandra yang sudah yakin dengan kebusukan wanita yang pernah menjadi kebanggaannya.
"Tapi Kalandra, aku---"
"Kalau kamu mau aku nikahi besok tetaplah disini bersamaku dan menemaniku saat aku ada dibawah, namun jika kamu tidak mau menikah denganku besok, pergilah dan lupakan aku." Teriak Kalandra yang terlihat sudah jengah melihat Jenny disana.
"Kala?"
"Cepat pilih atau aku akan marah besar denganmu!"
"Okey fine, aku pergi!" Jenny langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Kalandra dan segala kenangannya, untuk apa dia bertahan jika Kalandra miskin,karena dia tidak mau hidup kembali susah seperti dulu, dia sudah terbiasa hidup dengan kemewahan saat ini.
"Dasar perempuan matre, kenapa aku bisa tertipu olehnya selama ini, bahkan sampai bertahun-tahun." Kalandra hanya bisa terduduk lesu disana.
"Lalu masalah kita bagaimana pak?"
"Kita pergi ke Kantor sekarang, mau tidak mau aku juga harus tetap menghadapi karyawan kita."
"Anda serius, mereka tidak sedikit loh pak, saya takut jika nanti mereka histeris dan sampai melukai bapak?"
"Itu sudah menjadi resiko sebagai seorang pemimpin, kita hadapi saja, setelah semua terjual kita akan membayar gaji dan tunjangan PHK mereka."
"Baik Pak."
__ADS_1
Dengan langkah berat Kalandra pergi dari sana dengan diikuti asistennya, perasaannya sungguh kacau, apalagi saat dia akhirnya mengetahui borok dari Jenny yang ternyata lain dimulut, lain pula dihati.
Selama ini Kalandra benar-benar tertipu oleh wajah lugu dan wajah kalem dari Jenny, karena ternyata dia tidak sepolos itu, bahkan saat dia diuji dengan kehilangan harta, Jenny langsung menolak ajakan dirinya untuk menikah dengannya, walau sebenarnya Kalandra tidak serius untuk mengajaknya menikah, dia hanya sengaja menguji Jenny soal materi dan harta saja.