
Bersembunyi untuk menghindari masalah memang tidak ada gunanya, bahkan hanya akan memperunyam masalah itu sendiri.
Dengan segala kekuatan yang tersisa, dan dengan mental yang sudah dihajar habis-habisan, kini Kalandra berhasil meredakan amukan dari karyawan yang berdemo, dengan janji akan memberikan ganti rugi dan pesangon untuk mereka, namun Kalandra masih meminta waktu sampai minggu depan.
"Kamu minta pesangon berapa dari saya?" Tanya Kalandra kepada sang asisten, karena dia sudah bekerja keras untuk Kalandra selama ini.
"Apa anda juga akan memecat saya?" Tanya Asisten Kalandra yang seolah tidak rela, dia belajar banyak dari Kalandra, bahkan Kalandra tidak pernah mempersulit dirinya selama bekerja dengannya, itu mengapa dia juga ikut bersedih dengan kejadian yang menimpa Kalandra dan seolah tidak rela jika harus berhenti bekerja dari bosnya.
"Sebenarnya aku tidak rela memecatmu, tapi aku sudah tidak punya tempat untuk memberikan kamu pekerjaan." Jawab Kalandra yang sebenarnya juga enggan, karena mencari asisten yang bisa diajak kerja sama dalam segala hal itu sulit.
"Apa Anda tidak ingin membuka usaha baru? saya pasti akan menemani Anda dari awal." Ucap Asisten itu kembali.
"Saya sudah tidak punya apa-apa sekarang." Jawab Kalandra sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Kita buka saja usaha kecil-kecilan dengan modal kita seadanya, selama ini tabungan saya cukup banyak, apalagi anda sering memberikan saya bonus, jadi kita bisa menggunakan itu saja, bagaimana pak?"
Mereka berdua sudah sampai didepan rumah Kalandra dan memilih ngobrol sejenak di teras rumahnya.
"Jadi kamu yang akan jadi bosku begitu?" Tanya Kalandra dengan senyum kecutnya, dia sendiri pun seolah masih belum bisa percaya kariernya bisa terjun bebas sampai jurang, namun rezeki manusia memang tidak ada yang tahu.
"Kita bangun berdua, dan hasilnya bisa kita bagi dua, jadi kita sama-sama bosnya, hehe." Sedikit banyaknya dia tahu jiwa pembisnis dari diri Kalandra memang bagus, jadi usaha apapun nantinya pasti akan bisa merangkak naik kedalam pintu kesuksesan kembali pikirnya.
"Setelah urusan perusahaan dan karyawan selesai baru kita pikirkan lagi, sekarang malam sudah mulai larut, kamu pulang saja dulu, karena besok masih banyak pekerjaan yang menantimu." Ucap Kalandra yang seolah sudah buntu pikirannya, dia hanya ingin mandi dan merebahkan punggungnya yang sudah terasa nyeri sekali.
"Boleh saya numpang ke kamar mandi sebentar pak?" Asisten itu sudah menahan sesak sedari tadi, namun dia menghormati Kalandra karena masih ingin bercerita.
"Tentu saja, ada diujung sana, masuk saja!" Jawab Kalandra sambil membawa tas kerja miliknya masuk kedalam rumah.
"Terima kasih pak."
Kalandra pun langsung masuk menuju kamarnya untuk segera mandi, karena tadi dia bahkan ikut berpanas-panasan dengan para pendemo di halaman perusahaannya.
"Kenapa sepi sekali? Apa mereka sudah tidur?"
Kalandra langsung mengecek ke kamar Kanaya yang ternyata pintunya sudah terbuka, namun kamarnya kosong tanpa ada pergerakan dan disanalah jantung Kalandra mulai berdetak tak menentu.
"Kanaya, Anyelir? Kalian dimana?" Teriak Kalandra dengan wajah paniknya, karena Anyelir tidak pernah berada diluar rumah dijam-jam seperti ini, apalagi dengan Kanaya.
Dan saat dia ingin mengecek ke kamar mandi, kedua matanya menangkap sesuatu dari atas meja belajar Kanaya.
Perasaan Kalandra semakin tidak menentu, pikirannya sudah bercabang entah kemana-mana, bahkan tangannya sedikit bergetar untuk membuka supucuk surat itu.
*Kalandra*..
*Mungkin hanya sampai disini titik lelahku, aku sudah berusaha bertahan, aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untukmu dan untuk hubungan kita*.
*Aku tahu kalau duniamu bukan cuma aku saja, aku juga tidak mau merepotkan kamu atau menjadi beban terus menerus didalam hidupmu*.
__ADS_1
*Aku melihat kamu dan Jenny di Kafe tadi dan itu sudah cukup membuat niatku bulat untuk pergi darimu, apalagi Kanaya sendiri yang menunjukkan itu semua padaku*.
*Daripada aku harus terus membohongi putri kita dan mengatakan kalau hubungan kita baik-baik saja, walau kenyataannya sudah retak dan mungkin sudah tidak bisa terselamatkan lagi, lebih baik aku mundur dari kehidupanmu dan dari duniamu*.
*Terima kasih sudah memberi rasa diawal, namun jika diakhir aku yang harus mengalah atas bahagiamu, aku pamit ya*..
*Silahkan lanjutkan apapun keinginan dan harapanmu, aku sudah menyerah, walau ini berat bagiku, namun aku tunggu SURAT CERAI darimu*..
*Dariku*:
*Calon Mantan Istrimu*.
Tanpa terasa air mata Kalandra sudah mengalir dengan derasnya, dia sungguh tidak menyangka jika Anyelir pergi meninggalkan dirinya tanpa tahu kejadian yang sebenarnya.
"ANYELIR!"
"ARGH... ANYELIR JANGAN TINGGALKAN AKU!"
Kalandra menjerit-jerit sekeras-kerasnya, sehingga asisten pribadinya yang awalnya ingin langsung pulang kembali masuk kedalam rumah itu.
"Pak Kalandra, apa anda baik-baik saja?" Dia mencari keberadaan bosnya dari arah suaranya.
"Istri dan anakku pergi." Jawabnya dengan air mata yang sudah berderai.
"Apa mereka juga pergi karena perusahaan Anda bangkrut?" Salah satu orang yang tahu betul dengan kisah asmara dan aib Kalandra adalah asistennya.
"Istriku tidak seperti itu." Dan saat inilah dia benar-benar menyadari bahwa Anyelir terasa istimewa baginya.
Karena Anyelir memang pergi bukan karena keterpurukannya, Anyelir tumbuh sedari kecil dengan kemewahan tapi bahkan dia tidak berniat pergi saat tahu Kalandra bangkrut, bahkan dia sebenarnya ingin membantu pada awalnya.
"Lalu kenapa dia pergi?" Tanya Asisten itu yang semakin prihatin dengan nasip Kalandra.
"Dia pasti salah paham saat aku dengan Jenny masih menunggumu tadi, dia mengira kalau aku kembali padanya." Dia sungguh menyesal datang bersama Jenny tadi, namun dia ingin tahu sifat Jenny yang sebenarnya kepada dirinya.
"Astaga, maafkan saya, tapi tadi jalanan sungguh macet, emm... jika saya dalam posisi sebagai istri Anda wajar saja dia salah paham, tapi bukankah anda bisa menjelaskannya, saya siap menjadi saksinya." Ucap Asisten Kalandra dengan mantapnya.
"Dia tahu kamu asistenku, yang selalu akan membelaku." Jawab Kalandra sambil mengusap wajahnya dengan lemas.
"Tapi kan Anda tidak bersalah dalam hal ini, wanita itu saja langsung pergi begitu tahu perusahaan Anda bangkrut dan tak bersisa lagi."
"Apa mungkin ini karma untukku karena menyiksa batin istriku selama ini." Dan Kalandra mulai termenung sejenak mengingat bagaimana perlakuanmya terdahulu.
__ADS_1
"Semua orang pernah salah pak, namun jika anda sudah benar-benar bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi juga bagus, bapak bisa memulai semuanya dari nol." Sebagai Asisten dia mencoba memberikan saran
"Tapi ini pasti tidak adil untuk Anyelir, karena aku kembali bersamanya saat aku sudah tidak punya apa-apa, dan jika dia sudah menceritakan kisah kami selama ini dengan orang tuanya, sepertinya memang tipis harapanku untuk bisa kembali dengannya."
"Sebenarnya sudah lama aku salut dengan istri bapak yang benar-benar tegar sampai saat ini, namun mungkin semua masih bisa diperbaiki pak, lagipula bapak kan sudah tidak bersama wanita tadi bukan?" Dulu dia hanya bisa diam saja, karena ikut terprovokasi dengan cerita Kalandra.
"Tapi istriku meminta cerai dariku." Dia langsung mengepalkan supucuk surat yang sudah basah dengan air mata Kalandra tadi.
"Itu karena dia tidak tahu yang sebenarnya, coba jelaskan dulu dong pak." Dia pun ikut tidak rela jika Bos nya harus kehilangan orang sebaik Anyelir.
Bahkan saat tahu kebusukan Jenny saja, Kalandra tidak seterpuruk ini, padahal Jenny yang sudah menghiasi kehidupan Kalandra selama menikah dengan Anyelir.
"Aku mungkin memang sudah tidak pantas untuknya lagi." Jawab Kalandra dengan rasa sebak didadaa.
"Loh, kenapa pak?" Asisten itu terlihat ikut lemas.
"Dia sudah cukup tersiksa hidup dengan aku selama ini, jika dia terus berada disampingku dan berjuang dari nol, entah kapan dia bisa bahagia, apalagi dia dari keluarga yang berada, pasti sangat mudah mencari pengganti yang bisa memuliakan dia dan membahagiakan dia nantinya." Bayangan Kalandra sudah sampai kemana-mana, apalagi dia seorang pria yang seharusnya bertanggung jawab dengan semua kebutuhan istrinya, namun sekarang jangan kan memberikan uang bulanan seperti biasanya, bahkan untuk membayar listrik dirumahnya yang mewah itu pun dia mungkin harus bekerja keras.
"Maksud bapak apa? Apa anda ingin menyerah sampai disini?"
"Sesungguhnya aku tidak rela, saat ini aku benar-benar menyadari bahwa hatiku ternyata sudah lama beralih dengannya, tapi semakin aku menyayanginya semakin aku sadar bahwa aku memang sudah tak pantas untuk dia."
"Kenapa begitu pak?" Dia sebenarnya kecewa denan keputusan bosnya, namun dia pun sadar memang berat beban kita sebagai seorang pria apalagi kepala keluarga dari istri yang kaya raya.
"Aku ingin Anyelir dan Kanaya bisa hidup bahagia, tertawa bersama, hidup berkecukupan tanpa harus bersusah payah berjuang dari bawah bersamaku, beberapa waktu yang lalu aku sempat kekeh ingin kembali merajut kasih bersama keluarga kecilku itu, karena aku masih punya segalanya, tapi sekarang, semua hartaku sudah habis, bahkan aku akan memiliki banyak hutang dan aku tidak mau anak dan istriku ikut menanggung beban itu." Kalandra benar-benar merasa terpuruk kali ini, namun dia tidak ingin egois seperti dulu, dia juga memikirkan masa depan istri dan anaknya.
"Astaga pak, kenapa harus seperti itu, bukannya susah senang dalam suatu rumah tangga itu harus berdua?" Tanya Asisten Kalandra yang ikut duduk lesehan di lantai dengan bersandarkan dinding, mereka berdua sungguh terlihat mengenaskan saat ini.
Itulah kenapa sebagai pria harus punya komitmen, jangan serakah, jika satu saja sudah cukup kenapa harus dua, dan akhirnya akan kehilangan semuanya.
"Tapi sejak menikah denganku dia hanya merasakan susahnya saja, lalu jika kami terus bersama aku pun tidak bisa menjamin atas kesenangannya dimasa mendatang nanti."
"Fuh... Yang sabar ya pak?" Asistennya pun bingung juga harus memberikan saran seperti apa lagi, karena memang sedari awal tujuan dari Kalandra memang sudah salah.
"Boleh aku minta tolong denganmu?"
Setelah beberapa saat terdiam, Kalandra kembali bersuara sambil menegakkan tubuhnya.
"Tentu saja pak, katakan saja." Jawab Asistennya yang seolah siap mengemban tugas negara.
"Antarkan aku ke rumah Ayah mertuaku, mereka pasti ada disana sekarang, karena sepertinya aku tidak mampu menyetir mobilku sendiri." Ucap Kalandra yang takut jika terjadi sesuatu dijalan, padahal masih banyak hal yang akan dia selesaikan nantinya.
"Baik pak, mari saya antar, emm... kalau boleh tahu, apa yang akan anda lakukan setelah sampai disana." Rasa kepo itu jelas terlihat dari wajahnya saat dia berjalan sambil memapah tubuh Bosnya yang terlihat melemas itu.
"Dulu aku meminta putrinya baik-baik, dan jika harus berpisah, aku akan menyerahkan kembali dengan cara yang baik-baik pula." Dulu sebenarnya memang dia yang sudah mengatur segalanya dengan dalih dijodohkan, padahal itu semua memang misinya dengan Jenny untuk balas dendam.
"Bapak yakin mampu?" Tanya Asisten itu kembali, dia kembali dibuat takjub oleh sosok bosnya, yang terlihat gentle sebagai seorang pria.
"Entahlah, aku sudah tidak bisa berpikir banyak lagi, karena sudah terlalu banyak masalah yang terjadi dihidupku, jika memang perpisahan adalah jalan yang terbaik untuk kami, aku terpaksa menerimanya."
Entah mengapa Kalandra merasa rendah diri saat ini, apalagi dengan keadaan ekonominya yang terpuruk,walau jauh didalam lubuk hatinya dia sungguh tidak rela melepas Anyelir, namun dia tidak ingin menyiksa Anyelir dalam hidupnya, jika bercerai adalah pilihan dari Anyelir saat ini, dia bisa apa.
Semua manusia pernah melakukan salah dan silap dan tidak semua Pendosa akan terus terjerumus dalam ladang dosanya, ada saat dimana seseorang benar-benar bertaubat dari dalam hati dan menjadikan masa lalu kelamnya menjadi sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga.
__ADS_1