
Akhirnya tanpa sadar Anyelir curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang memang diambang keretakan itu.
"Rumah cat warna putih dan emas, itu rumah suamiku." Ucap Anyelir sambil menunjuk rumah mewah Kalandra yang memang terlihat paling menonjol didaerah sana.
"Siap Anye!"
"Masuk dulu, kita bisa lanjut ngobrol tentang masalah pekerjaan di rumah, karena tadi mau balik ke Kantor pakaianku sobek." Ucap Anyelir sambil mengamati pakaiannya sendiri, dia sengaja meninggalkan mobil Kalandra di parkiran Bandara, urusan siapa yang akan mengambilnya dia tidak perduli, mau hilang juga bodo amat pikirnya.
"Sobek?" Sean sampai menaikkan kedua alisnya.
"Jangan tanyakan kenapa, kita masuk saja!" Anyelir bahkan malu sendiri jika harus menjelaskan penyebabnya.
"Owh okey! apa Anda masih ingin kembali bekerja?"
Walau pikiran Sean sudah traveling kemana-mana, namun dia mencoba untuk menyadarkan diri bahwa itu bukan keranahnya untuk ambil tahu tentang masalah anak dari Bos nya.
"Kenapa tidak?"
"Bukannya suami anda sudah melarangnya tadi?" Ucap Sean yang tanpa sadar kelepasan bicara.
"Kamu mendengarnya?" Anyelir kembali dibuat terkejut, karena setahu dia tidak ada orang tadi.
"Owh maaf, tadi saya bermaksud ingin mengambil laptop saya yang tertinggal, tapi sepertinya Anda sedang asyik ngobrol berdua didalam, jadi saya menunggu di luar." Jawab Sean yang merutuki mulutnya sendiri, seharusnya dia tidak usah bilang tadi.
"Itu bukan ngobrol, tapi bertengkar Sean!" Anyelir langsung tersenyum kecut mendengar ucapan Sean.
"Maaf Nye!" Sean hanya tidak ingin membuat Anyelir kembali mengingatnya.
"Pakai A Sean!" Tegas Anyelir kembali.
"Hehe... Iya maaf Anye!" Dia ingat,hanya saja dia suka kalau Anyelir kesal seperti itu.
"Jangan pernah bilang dengan siapapun apa yang kamu lihat tadi Sean!"
"Saya mengerti Anye."
Sean pun tahu batasannya, lagian tidak ada untungnya juga dia menggosip masalah Anyelir, karena pekerjaannya terlalu banyak untuk dikerjakan.
"BUNDA! Hore.. Bunda sudah pulang!"
__ADS_1
Saat dia sampai dihalaman rumahnya, ternyata saat dia membuka pintu, Kanaya sudah menyambut dirinya dengan heboh.
"Hai sayang, kamu kenapa tidak tidur siang nak?" Anyelir langsung memeluk tubuh mungil putrinya dan berusaha tersenyum didepan Kanaya.
"Nanti saja, owh ya Om ini siapa?" Kanaya langsung memperhatikan Sean yang sedari tadi terus menatapnya.
"Dia rekan kerja Bunda, namanya Om Sean." Jawab Anyelir.
"Hai cantik, nama kamu siapa?" Sean langsung berjongkok dan menyapa Kanaya dengan senyum yang mengembang.
"Nama aku Kanaya." Jawab Kanaya dengan ramahnya.
"Good girl, salam kenal ya dari Om!" Sean langsung mengusap rambut panjang Kanaya.
"Hmm.. Owh ya, Ayah mana Bun?" Tanya Kanaya sambil melihat halaman rumah mereka.
"Emm.. Ayah sepertinya tidak pulang nak, soalnya Ayah mungkin lembur bekerja." Anyelir sudah menduga bahwa Kalandra tidak akan pulang malam ini, karena mereka berpergian keluar negri.
"Ckk.. Aku benci Ayah!"
Kanaya langsung berdecak dan berlari masuk kedalam rumah.
"Kanaya, kamu kenapa nak?"
Bahkan Kanaya langsung masuk kedalam kamar bawah dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
"Astaga, kenapa lagi tu bocah? Mbak.. Kanaya kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi di Sekolah?" Anyelir langsung mengejarnya, namun si Mbak sudah menunggu didepan kamar itu.
"Tidak Nyonya."
"Lalu kenapa dia tiba-tiba ngambek seperti itu?" Tanya Anyelir dengan wajah khawatir, tidak biasanya dia marah seperti itu saat Ayahnya kerja lembur.
"Emm.. mungkin karena dia sedih Nyonya." Jawab Si Mbak dengan wajah yang tidak tega juga.
"Sedih kenapa?" Anyelir langsung menginterogasi babaysitter putrinya.
"Tadi pulang sekolah dia sudah heboh, bahkan tidak mau tidur siang karena ingin mempersiapkan acara ulang tahunnya besok." Jelasnya saat menceritakan kejadian pulang sekolah tadi.
"Ya ampun, aku sampai lupa, dia pasti sedih karena lagi dan lagi Ayahnya tidak bisa menemaninya di acara ulang tahunnya." Anyelir hanya bisa tertunduk lemas saja.
__ADS_1
"Iya Nyonya, Nona Kanaya sempat bilang dengan saya, dia tidak berharap di buatin acara yang meriah dan besar-besaran, tapi dia hanya ingin jalan-jalan dengan Tuan dan Nyonya saja." Dia seolah menyampaikan curhatan seorang anak yang seolah haus akan kebersamaan dengan kedua orang tuanya.
"Huft... Itu memang keinginannya sedari dulu, tapi Ayahnya selalu lupa dengan hari ulang tahunnya." Kepala Anyelir terasa pusing, karena jika Kanaya ngambek, susah sekali untuk membujuknya.
"Bagaimana kalau kita ajak Kanaya pergi jalan-jalan ke Kebun Binatang atau taman hiburan anak-anak saja, dia pasti suka." Tiba-tiba Sean kembali bersuara setelah beberapa saat hanya menjadi penonton dan penyimak berita saja.
"Dia memang pengennya kesana, tapi aku tidak tahu tempat begituan, lagian aku takut lihat binatang-binatang buas, apalagi kalau ada ular, dih.. baru ngomongin ular aja udah langsung merinding aku, tapi kalau Mall tempat shoping aku tahu."
Sejak kecil Anyelir tidak begitu menyukai binatang-binatang, apalagi dia pernah tertidur diluar rumah, dan ada Ular yang merayap diatas tubuhnya, untuk saja tidak berbisa, jadi ular itu mematoknya, sejak saat itu kalau dia melihat ular sering ketakutan sendiri.
"Biar aku yang membawa Kanaya kesana." Jawab Sean dengan senang hati.
"Kamu?" Tanya Anyelir yang kembali dibuat tidak enak hati, karena Sean terlalu banyak menolongnya.
"Kalau boleh sih, soalnya dulu aku punya adek seumuran Kanaya, tapi sayang sekarang dia sudah bahagia di sisi Tuhan." Dia memejamkan kedua matanya sejenak saat mengingat kisah Adeknya yang tidak berumur panjang.
"Astaga, dia sakit?" Tanya Anyelir yang turut prihatin.
"Iya, tapi sekarang dia sudah tidak merasakan kesakitan lagi, dulu dia sering minta diajak ke kebun binatang, jadi aku sudah hafal tempatnya." Dia pun sangat menyukai anak kecil, dan saat ini dia pun paham dengan kondisi Kanaya.
"Tapi aku takut nanti." Andai Anyelir berani, mungkin sudah sedari dulu dia mengajak putrinya ke kebun binatang.
"Tenang saja, ada aku asisten terbaikmu, nanti naikkan saja gajiku, okey?" Ucap Sean dengan senyum lebarnya.
"Cih... kerja belum ada sehari sudah mau minta naik gaji?" Ledek Anyelir dengan senyum manisnya, dia hanya mengejek saja, karena jika hanya menyangkut masalah uang dia tidak masalah, tapi ini sudah menyangkut tentang perasaan, apalagi seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Haha, bercanda Anyelir!"
"Cek saja rekeningmu, aku tambahkan juga bonus untukmu!" Dia langsing mengotak-atik ponselnya.
"Hah, jangan Nyonyah!" Tolak Sean yang hanya iseng saja tadi.
"Jangan sungkan, ya kan?"
"Ahahaha.. Tau aja isi dalam pikiranku, tapi sebenarnya sungguh tidak perlu, karena aku suka dengan anak kecil, saat melihat Kanaya, aku jadi mengingat adekku, aku sangat merindukannya." Ucap Sean dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca.
"Adekmu pasti bahagia punya kakak sebaik kamu, dia pasti tersenyum senang diatas sana."
"Amin."
__ADS_1
Anyelir begitu dibuat kagum oleh sosok Sean yang sebenarnya sangat sederhana, namun terlihat begitu istimewa dan seolah memperlakukan aku dan Kanaya begitu baik, padahal baru saja saling mengenal.
Berdamai bukan soal melupakan atau mengabaikan kenangan buruk. Tapi sebuah masa untuk menerima, lalu melepas kesalahan itu dengan mulai belajar darinya.