
Tak banyak yang Anyelir lakukan di Kantor hari ini, karena memang dia baru melihat-lihat suasana Kantor, dan Papa Anyelir sudah kembali pergi meeting di luar Kantor, setelah tadi sempat memperkenalkan Anyelir kepada staf-staf di Kantornya.
"Permisi Nyonya Anyelir?"
Saat Anyelir masih termenung di kursi putar dalam ruangan miliknya, sambil menatap hiruk pikuk jalanan kota dari ruangan bertingkat itu, tiba-tiba ada suara seorang pria memanggil namanya.
"Ya? siapa ya?"
Anyelir langsung tersadar dari lamunan panjang yang tidak ada ujungnya itu dan mulai memutarkan kursinya untuk melihat siapa yang datang kedalam ruangan kerjanya.
"Nama saya Sean nyonya Anyelir dan saya adalah asisten yang diutus Tuan Zulfikar untuk membantu anda selama bekerja disini." Sapanya sambil membungkukkan badan tegapnya.
"Asisten? kok Papa nggak bilang apa-apa tadi?" Tanya Anyelir sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Akhir-akhir ini Tuan Zulfikar banyak meeting di luar Kantor dan tidak bisa membantu anda untuk mengetahui lebih lanjut tentang perusahaan ini, jadi untuk sementara saya yang akan menemani Anda dan mengurus pekerjaan di Kantor."
Pria bernama Sean itu terlihat ramah dan murah senyum, Apalagi wajahnya yang keturuan orang luar, membuat ketampanan pada dirinya semakin menonjol.
"Owh seperti itu, kalau begitu mohon bantuannya ya, aku memang kurang tahu soal pekerjaan disini." Jawab Anyelir sambil menggangukkan kepalanya.
Andai dia masih lajang dan pernah bertemu kembali dengan Kalandra, mungkin dia mengencaninya, karena sepertinya pria itu asyik diajak untuk mengobrol.
Namun kini Anyelir tidak seheboh dulu lagi, dia bahkan seolah trauma berhubungan atau sekedar kenal dekat dengan seorang lelaki, karena banyak yang bermuka dua seperti Kalandra di dunia ini.
"Kalau begitu kita mulai pertemuan hari ini dengan membahas agenda Kantor kita setiap harinya, emm..sebelumnya Anda sudah pernah bekerja dimana Nyonya?" Tanya Sean sambil membuka laptop kerjanya.
"Belum pernah, setelah lulus kuliah aku langsung dinikahkan sama Papa, jadi selama ini aku ngurus anak saja di rumah."
"Owh... begitu?" Sean menggangukkan kepalanya sambil terus mengotak-atik lapotopnya.
"Sepertinya panggil aku nama aja nggak papa kok Sean, kayaknya kita seumuran." Ucap Anyelir kembali.
"Nggak enak Nyonya, anda kan atasan saya, apalagi Anda sudah menikah, padahal saya kira anda masih lulusan tahun ini tadi?" Sean memang supel dan mudah bergaul dengan siapapun, dan selalu bisa membuat suasana menjadi asyikdan tidak membosankan.
"Iya sih, emang kenapa? apa aku masih seperti anak ABG, padahal aku sudah emak-emak anak satu?" Tanya Anyelir dengan tatapan yang seolah tidak percaya dengan ucapannya, karena setiap harinya suaminya itu selalu menghujatnya.
"Hehe... Iya seriusan Nya, saya kira Anda baru saja jadi sarjana rupa-rupanya sudah ada buntutnya."
__ADS_1
Apalagi dengan body Anyelir yang tetap langsing dan singset, banyak orang yang mengira kalau dia memang masih gadis, padahal karena dia sering makan hati, jadi seolah makanan enak dan bergizi yang dia makan tidak ada yang jadi lemak.
"Apa menurutmu aku masih pantas bekerja di kantor?" Entah mengapa hujatan Kalandra kembali terngiang-ngiandi otaknya.
"Kenapa tidak Nya, anda masih sangat pantas sekali menjadi wanita karier, selagi kita masih kuat bekerja semua orang pasti berkompeten bukan?" Dan salah satu kelebihan Sean adalah dia sering dijadikan teman curhat oleh rekan-rekan kerjanya, untuk sekedar sharing atau meminta pendapat, karena saran-saran darinya selalu positif dan membangun, jadi tidak membuat mental kita menjadi down.
"Apa wajahku tidak seperti emak-emak yang pantasnya hanya memakai daster buluk di Dapur?" Dia sempat tidak percaya diri tadi,bahkan berulang kali melihat penampilannya di kaca kamar mandi, sebelum dia diperkenalkan oleh Papanya saat pertemuan pagi tadi.
"Anda tahu Nyonya, sebenarnya saya itu sering takjub saat melihat Ibu muda seperti Anda." Celetuknya kembali, karena masih tahap awal bekerja, Sean sengaja tidak memberikan pekerjaan berat bagi Anyelir, dia ingin sekedar ngobrol santai dulu agar lebih kenal dekat, karena sebagai asisten pribadi, Sean harus tahu banyak sifat dan karakter dari Atasannya.
"Masak? Emang aku tidak menjijikkan?" Tanpa sadar dia curhat dengan Sean tentang kejadian tadi pagi dengan suaminya, Anyelir mencoba melihat penilaian orang tentang dirinya.
Menjijikkan darimananya, anda masih terlihat sangat cantik walau sudah punya anak begini, pasti suami Anda sangat beruntung.
"Kenapa harus menjijikkan, seharusnya kami sebagai pria memberi acungan jempol kepada Mama Muda seperti Anda." Tapi Sean tidak berani mengeluarkan pujiannya secara berlebihan, takut dikira modus sebagai bawahan, apalagi dia asisten cowok pikirnya, sangat tidak sopan menurutnya.
"Kamu jangan drama, hanya karena aku anak bos kamu, lalu kamu tidak mau berbicara jujur denganku ya?" Ucap Anyelir dengan senyuman tipisnya.
"Bukan begitu Nyonya, terlepas dari itu semua, aku memang kagum loh dengan Mahmud-mahmud itu, kalian bisa mengurus suami dengan baik, mengurus anak, sekaligus mengurus rumah, tapi masih bisa sempat berhias diri, bahkan sempat melukis alis yang sangat sulit itu, entah harus bangun jam berapa kalian kan?"
Dan Sean selalu menyelipkan sedikit candaan dalam obrolannya, agar tidak terlalu tegang, karena menurutnya suasana kerja yang terlalu tegang akan membuat jam kerja seolah lambat berputar karena terlalu membosankan.
"Kalian para Mamah Muda emang keren, sayang jempolku cuma dua." Sean langsung mengacungkan kedua jempolnya.
"Emang kaki kamu nggak ada jempolnya?" Ledek Anyelir dengan sedikit banyolannya.
"Ada dong Nyonya, anda pikir saya Ayam Jago yang hanya punya tiga jari? tapi kaki saya masih bau trasi, lupa nggak ganti kaos kaki tadi pagi." Jawabnya sambil menggangkat kakinya.
"Bahaha, kamu jorok banget, masih bujang loh, kalau ada perawan lewat gimana tadi!" Anyelir langsung memukul lengan Sean yang sudah melepas sepatunya.
"Enggak ada yang tahu Nyonya, kalau aku nggak cerita, karena kalau ngobrol aku nggak pernah buka sepatu, takut kalau lupa pakai kaos kaki yang ujungnya bolong!" Celetuknya kembali yang berhasil membuat Anyelir tertawa terbahak-bahak karena kejujurannya.
"Ahaha.. Kamu ini kocak juga ya, by the way, panggil aku Anye saja, biar nggak kaku banget, lagian ibarat kata aku masih training, aku harus banyak belajar darimu." Ucap Anyelir yang merasa senang, setidaknya hari-hari kedepannya tidak akan membosankan, karena ada orang didekatnya yang bisa membuatnya tertawa.
"Okey Nye!"
"Pakai A nya juga dong, kayak gimana gitu jadinya." Karena Anyelir merasa gemas, dia kembali memukul lengan Sean yang memasang wajah selucu Mr.Bean.
__ADS_1
"Ooo... jadi sebenarnya ini tujuanmu ingin bekerja? mau menggatal dengan pria lain kamu, HAH?"
Tiada angin tiada hujan, namun suara Kalandra seolah-olah sudah menyambar-nyambar seperti kilatan cahaya petir di ruangan itu.
"Huft, kena lagi dah, salah lagi pasti gue kali ini." Anyelir hanya bisa menghela nafas kasarnya, saat melihat Kalandra yang sudah seperti Jailangkung, yang tiba-tiba datang walau tidak di undang.
"Maaf, bukannya Anda Tuan Kalandra? apa Anda ingin bertemu dengan Tuan Zulfikar, saya asistennya juga, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Sean yang tahu betul siapa itu Kalandra dalam dunia bisnis, namun dia tidak tahu tentang kehidupan pribadi Kalandra.
"Ya, saya memang Kalandra, Bos dari perusahaan utama yang bekerja sama dengan perusahaan ini dan sekaligus suami dari wanita ini." Jawabnya dengan nada angkuh.
"Hah?" Dan Sean benar-benar terkejut dan tidak menyangka.
"Cih... tumben pamer, biasanya malu punya istri seperti aku." Umpat Anyelir dengan suara pelan.
"Gimana Anye? kamu ngomong apa?" Tanya Sean yang merasa tidak begitu jelas saat mendengar umpatannya tadi.
"Enggak ada." Ucap Anyelir yang langsung pura-pura tersenyum, walau hatinya sudah dongkol.
"Wow, jadi suami kamu Tuan Kalandra? Wah... Kamu pasti bangga menjadi istri pembisnis muda seperti Tuan Kalandra ini." Celetuk Sean dengan polosnya.
Bangga dari mananya, bahkan aku menyesal karena mau menikah dengannya Sean.
"Huft... anggap saja iya, kalau begitu kamu boleh keluar dulu Sean, aku mau ngobrol dengan orang yang mengaku suami saya ini." Anyelir tidak ingin ada orang lain yang tahu tentang rusaknya hubungan rumah tangganya.
"Hah, maksudnya?" Sean kembali dibuat bertanya-tanya tentang celotehan dari Anyelir.
"Anyelir!" Kalandra langsung melirik istrinya dengan tajam.
"Bercanda kok, kamu keluar dulu ya Sean." Saat berbicara dengan Sean senyum Anyelir langsung terbit dan itu cukup membuat Kalandra merasa cukup kesal.
"Okey, kalau butuh apa-apa silahkan panggil saya diluar." Ucap Sean yang langsung pamit undur diri.
"NGGAK PERLU, CEPAT KELUAR SANA!" Teriak Kalandra dengan nada sengaknya.
Dan Sean yang tidak tahu apa-apa itu tetap terlihat santai saja, karena dia merasa tidak melakukan hal diluar batas dengan Anyelir tadi.
Keceriaan dan kenyamanan hidup tidak tergantung hal-hal di luar diri manusia, melainkan tergantung pada kekayaan batin di dalam diri manusia.
__ADS_1
Jika ada cerita yang belum selesai, hanya dirimulah yang tahu kapan cerita itu akan usai.
Diamlah sejenak, lalu dengarkan. Ternyata bukan suara mereka yang melelahkanmu, tapi suara pikiranmu sendirilah yang selalu menilaimu.