Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
67.Part Tigaah.


__ADS_3

Pertempuran panas tadi malam di Villa kecil itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi Anyelir dan Kalandra, bahkan jam dinding berbentuk mickey mouse itu yang menjadi saksi bisu dari pasangan suami istri yang mengulang kembali malam pertama mereka yang kacau dulu, dengan versi romantis bahkan sampai menjelang pagi.


"Aduh.. jam berapa ini?" Anyelir bangun sambil memijat pinggulnya yang terasa sangat pegal efek dari pertempuran semalam.


Cup


"Jam sembilan sayang." Jawab Kalandra yang langsung menghadiahkan sebuah kecvpan hangat dan kembali menindih tubuh istrinya.


"Siapa kamu!" Jawab Anyelir yang langsung membelalakkan kedua matanya yang tadi masih belum terbuka sepenuhnya.


"Heh? baru selang beberapa jam setelah kamu menjadi pemain kuda terhebatku, tapi sudah hilang ingatan begitu?" Kalandra merasa tidak terima karenanya.


"A-aku itu.. emm anu.." Anyelir langsung memalingkan wajahnya karena menahan rasa malu, dia pun tidak menyangka, kalau dia bisa menjadi ganas seperti tadi malam, seolah rasa yang menggebu yang sudah dia tahan selama lima tahun ini dia lampiaskan begitu saja tadi malam, bahkan dia bergelut sampai dini hari.


"Kamu sadar kan Yank? atau tadi malam itu kamu cuma mengigau saja?" Tanya Kalandra kembali sambil menahan senyuman, karena dia tahu kalau istrinya itu pasti hanya pura-pura saja.


"Iya, itu bukan aku, tadi malam aku pasti hanya mengigau, dan melakukan hal gila itu." Jawab Anyelir sambil menutup wajahnya dengan bantal.


"Pftth... mana ada orang mengingau jadi sebegitu hebatnya sayang?" Kalandra sudah todak tahan lagi ingin tertawa, istrinya terlihat begitu manis kalau sedang malu begini.


"Sudah kubilang itu bukan aku!" Jerit Anyelir sambil memukul lengan suaminya.


"Iya aku tahu, yang tadi malam itu istri versi terbaru aku, terima kasih ya sayang, kamu sungguh luar biasa!" Puji Kalandra sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Lupakan!" Teriak Anyelir kembali.


"Ahaha... Nggak mau!" Kalandra langsung menggelitiki pinggang istrinya dengan gemas.


"Awas duku, aku mau mandi!" Anyelir langsung berusaha menghindar.


"Nggak boleh, beri aku satu ronde lagi sebelum kita pulang!" Tapi Kalandra langsung menahannya dan kembali memeluknya.


"Nggak mau, udah siang ini!" Bahkan wajah Anyelir sudah memerah.


"Ckk... katanya mau jadi istri yang solehah, harus nurut sama suami dong sayang?" Kalandra tidak mau membuang kesempatan walaun sedikit saja, karena kalau sudah pulang ke Rumah dia tidak akan sebebas ini lagi, apalagi ada Kanaya yang akan menjadi penengah diantara mereka berdua.


Tulilut


Tulilut


"Siapa lagi yang nelpon jam segini? Hallo!" Umpat Kalandra sambil menggeser layar ponselnya saat ada telpon masuk.


"Bos ada kabar baik, segeralah datang ke Kantor!" Ucap Asisten Kalandra yang terdengar bahagia sekali dari suaranya.


"Kabar apa?" Tanya Kalandra sambil mengungselkan wajahnya dileher suaminya.


"Ternyata orang yang kita tuduh membawa uang perusahaan kembali datang dan malah membawa keuntungan untuk kita." Lapornya dengan semangat.


"Maksudnya?" Tanya Kalandra yang seolah tidak percaya begitu saja.


"Dia tidak membawa kabur uang kita, dia bahkan membawa kontrak kerja sama yang baru dan sangat menguntungkan, masalah karyawan dan proyek kita yang gagal hanya tertunda saja, semua akan terselesaikan dalam beberapa hari ini."


"Benarkah? ini ajaib sekali, kamu tidak sedang bermimpi atau menghayal bukan?" Tanya Kalandra kembali.


"Tentu saja tidak, makanya silahkan datang ke Kantor sekarang juga, saya tunggu!"


"Nggak bisa, aku sedang pergi jauh!" Ucap Kalandra, dia tidak mau mengecewakan istrinya hanya karena urusan Kantor, prioritasnya saat ini bukan lagi harta kekayaan dan balas dendam, namun yang menjadi keinginan dan harapan utamanya adalah kebahagiaan istri dan anaknya.


"Tapi ada beberapa hal yang harus anda tinjau hari ini juga bos?" Pinta Asisten Kalandra kembali.


"Kamu jelaskan lewat ponsel saja bisa kan?" Ucap Kalandra yang selalu punya cara.


"Bisa Bos, tapi saya siapkan berkasnya dulu, sebentar lagi saya telpon kembali." Dialah orang yang paling semangat saat perusahaan Kalandra bangkit kembali, karena dia seolah tidak rela jika harus keluar dari pekerjaannya, apalagi Kalandra Bos yang baik menurutnya.

__ADS_1


"Okey, terima kasih atas kerja kerasmu, nantikan Bonusmu bulan depan, okey." Kalandra pun selalu bangga dengan Asistennya yang selalu bekerja keras untuk perusahaannya.


"Siap Bos!" Jawab Asisten Kalandra dengan semangat, karena dia tidak akan menjadi penggangguran seperti yang dia bayangkan sebelumnya.


"SAYANG! aku nggak jadi miskin sekarang,kita kaya lagi, jadi kamu tidak perlu menjadi orang susah saat bersamaku, ahaha!" Begitu sambungan telepon itu terputus, Kalandra langsung memeluk dan menghujani kecvpan diseluruh tubuh istrinya secara membabi buta, dia begitu bahagia karena tidak harus berpisah dengan Anyelir hanya karena takut tidak bisa membahagiakannya.


"Kok aku malah jadi sedih ya?" Ucap Anyelir yang hanya bisa pasrah saja, dia pun bahagia saat perusahaan suaminya tidak jadi bangkrut, tapi entah mengapa tiba-tiba timbul rasa takut dalam dirinya.


"Sedih kenapa sayang, kita nggak jadi miskin loh, nanti kita bisa jalan-jalan, makan-makan enak dan pergi kemanapun yang kamu mau, sama Kanaya juga?" Tidak ada lagi yang dia risaukan saat ini, padahal kemarin dia sudah menyiapkan semua berkas perceraiannya dan sudah menyewa pengacara untuk mengurusnya, karena besok dia berencana akan mengabulkan permintaan istrinya untuk bercerai, namun kini semua sudah kembali normal, jadi dia tidak perlu takut akan kehilangan istrinya lagi.


"Aku takut kamu berulah lagi." Dia tahu Jenny itu orangnya matre, dan bisa menghalalkan segala cara agar bisa mendapatkan kucuran dana.


"Berulah bagaimana?" Tanya Kalandra yang seolah tertegun saat menatap wajah istrinya yang terlihat bersedih saat dia kembali kaya.


"Nanti kalau kamu kaya, trus Jenny mau sama kamu lagi gimana? nanti kamu tergoda lagi sama wanita itu." Ucap Anyelir, susah payah dia memulihkan hatinya yang retak, dan sudah merasa tenang karena Jenny tidak akan kembali kepada Kalandra karena hartanya habis, tapi kini semua kembali semula dan itu membuat dia resah.


"Kamu cemburu?" Ledek Kalandra sambil menoel hidung mancung istrinya.


"Enggak!" Seperti biasa, Anyelir akan bersikap jaim terlebih dahulu.


"Kalau kamu nggak cemburu aku balikan saja sama Jenny, sayang kan kalau---" Namun ucapan Kalandra langsung terhenti saat Anyelir membungkam mulutnya dan langsung berteriak kearahnya.


"CEMBURU! aku cemburu berat, bahkan aku marah kalau sampai itu terjadi!" Anyelir tidak mau lagi mengorbankan hati dan perasaannya karena sudah tahu bagaimana kebusukan Jenny, lain halnya dulu karena rasa bersalahnya dia memilih diam, namun sekarang jiwa pemberaninya yang dulu seolah muncul kembali.


"Hehe... gitu dong, kalau cemburu tandanya cinta, kalau kamu sudah tidak perduli denganku aku sedih banget loh?" Kalandra langsung memangku tubuh istrinya dan memainkan kedua pipinya dengan gemas.


"Kamu sengaja mempermainkan aku kan?" Anyelir langsung cemberut begitu melihat wajah suaminya yang malah terlihat sumringah.


"Enggak, aku tidak mempermainkan kamu, tapi aku cuma mau main denganmu lagi, kita lanjut Part Tigaah yok!" Ucap Kalandra yang langsung kembali membanting tubuh istrinya dan membuatnya seperti matras hidup.


"Nggak!" Tolak Anyelir yang sebenarnya hanya pura-pura saja.


"Ayolah, ibadah ini yank!" Rengek Kalandra dengan manjanya.


"Nah gitu dong, ini baru istri idamanku, muehehe!"


Akhirnya Kalandra kembali melempar selimutnya ke sembarang arah, apalagi mereka masih dalam keadaan sama-sama polos seperti bayi yang baru lahir.


Tulilut.. Tulilut..


"Emh... ponselku bunyi Yank, tahan dulu!" Saat permainan sudah setengah perjalanan lebih, ponsel Kalandra kembali berbunyi.


"Udah nanggung ini, bentar lagi selesai!" Rengek Anyelir yang sebenarnya sudah sampai diawang-awang, mungkin hanya tinggal beberapa kali terjangan saja dia sudah menembus puncaknya.


"Itu pasti Asistenku, ada hal penting soal perusahaan sayang, sebentar saja nanti kita sambung sampai kamu puas okey." Kalandra tau apa yang istrinya rasakan saat nangung begini, namun dia juga penasaran dengan laporan dari Asistennya tadi.


"Ya sudah kamu angkat saja, biar aku ambil alih!" Jawab Anyelir yang tidak mau rugi, jiwa bar-barnya kembali muncul tiba-tiba, dia baru merasakan kenikmatan sebagai istri saat ini, jadi dia tidak rela melewatkannya walau sebentar saja.


"Siap sayang, lanjutkan perjuanganmu!"


Kalandra langsung menggeser saja layar ponselnya yang sedikit mengarah ke tubuhnya, karena dia juga tidak mau membuat mood istrinya jadi down karena patah ditengah jalan.


"Hmm." Anyelir langsung mengubah posisi menjadi pemimpin kembali.


"Hallo, katakan saja aku akan mendengarnya!" Dia sedikit menggeser ponselnya yang menyandarkan ponselnya menghadap ke arahnya agar suaranya jelas ditelinganya.


"I-iya pak, ma-maaf Bos, sebentar ya, kaca mata saya sudah rusak ini sepertinya." Tiba-tiba suara Asistennya seperti orang gagu.


"Katakan dengan jelas, nanti ganti kaca matamu dengan yang baru, jika semua baik-baik saja bonusmu naik jadi tiga kali lipat dari sebelumnya!" Kalandra tidak pernah pelit dengan Asistennya, dia selalu membayar kerja keras Asistennya setimpal dengan gajinya.


"Si-siap Bos!" Jawab Sang Asisten yang langsung menjelaskannya secara panjang lebar.


Kalandra pun mendengarkan setiap ucapan dari Asistennya, sambil merem melek karena aksi Anyelir yang semakin luar biasa sebagai pemimpin permainan.

__ADS_1


Tekek


Tekek


Tekek


"Sayang, aku hampir sampai!" Bisik Kalandra saat dia rasa akan ada air terjun yang akan mengalir dari puncak gunung, karena permainan istrinya sungguh luar biasa memanas hari ini.


"Okey, tegakkan tubuhmu, aku percepat ya?" Anyelir pun merasakan hal yang sama, dia pun lebih cepat sampai jika jadi pemimpin permainan.


"Hmm.."


Dan dengan gaya sambil duduk, Anyelir semakin mempercepat pergerakannya, hingga akhirnya mereka berdua berpelukan sambil melepas lelah dengan keringat yang sudah membasahi tubuh mereka masing-masing.


"B-bos, saya jeda sebentar ya, ada yang ingin mendesak keluar!" Ucap Asisten Kalandra dengan suara yang sedikit bergetar.


Kalandra sempat mengabaikan ucapan Asistennya sebentar saat dia melakukan pelepasan yang luar biasa tadi.


"Apaah hah?" Tanya Kalandra dengan nafas yang masih sedikit ngos-ngosan.


"Tunggu Bos, saya kebelet! aish... ada sabun nggak ya di Toilet Kantor, argh... Ya Tuhan, cobaan-Mu begitu berat kali ini, tolong berikan hambamu Istri, aaaaaaaa... aku hampir gila karenanya!"


Terdengar suara Asisten Kalandra dengan begitu jelas dibalik ponselnya, sebelum ada suara pintu kamar mandi tertutup, sehingga membuat Anyelir merasa ada yang aneh.


"Kenapa dengan Asistenmu?" Tanya Anyelir sambil menegakkan tubuhnya.


"Entahlah?" Kalandra pun hanya bisa menaikkan kedua bahunya.


"Mana ponselmu tadi?" Anyelir langsung ingin mengecek ponsel suaminya.


"Tuh, berdiri disamping bantal." Kalandra memalingkan wajahnya ke arah samping untuk menunjukkan letak ponselnya.


"ASTAGA KALANDRA, INI PANGGILAN VIDEO!" Teriak Anyelir sambil melotot kearahnya.


"Hah, masak sih?"Kalandra pun langsung tersentak kaget, dia memang asal geser tombol hijau saja tadi karena Anyelir masih bermain heboh diatas tubuhnya.


"Aaaaaaaaaaa... kamu sudah gila ya, kenapa tidak melihatnya, aduh... apa dia melihat tubuhku tadi?" Anyelir benar-benar ketakutan sendiri, dia tidak rela jika tubuhnya dilihat orang lain selain suaminya.


"Maaf sayang, aku tidak tahu kalau itu panggilan Video!" Jawab Kalandra yang hanya bisa menjambak rambutnya sendiri.


"Kamu ini nyebelin banget, makanya dilihat dulu baru diangkat, jangan asal geser layarnya saja!" Mau marah tapi sudah terlanjur, mau protes pun tidak ada gunanya.


"Kamu menindihku dan bergoyang begitu hebatnya, jadi konsentrasiku sedikit buyar sayang." Kalandra pun tidak mau disalahkan begitu saja.


"Aish... awas, aku benci kamu!" Anyelir langsung berontak saat suaminya ingin memeluk dirinya.


"Palingan cuma kelihatan sedikit dari belakang Yank, tadi ponselnya mengarah ke wajahku kok, lagian dia Asistenku yang terpercaya, jadi rahasia kita pasti aman Yank, nanti aku peringatkan dia ya?" Kalandra mencoba menenangkan istrinya agar dia tidak panik.


"Jangan harap kamu bisa dapat jatah in@k-in@k lagi dariku!" Umpat Anyelir dengan kesal, padahal itu tidak sungguh-sungguh akan dia lakukan.


Brak!


Anyelir langsung bangkit dan berlari kearah kamar mandi sambil membanting pintu kamar mandinya dengan keras sekali, bahkan Kalandra sampai mengusap dadaanya karena terkejut.


"Bukannya tadi dia yang salah, aku sudah meminta untuk menundanya, tapi dia yang bilang tanggung tadi kan? aish... wanita memang tidak pernah mau disalahkan, ehh... bukan wanita yang salah, tapi penjual nasi goreng yang salah, nasi sudah masak kenapa harus digoreng!"


Kalandra tidak terlalu ambil pusing soal itu, dia tahu betul bagaimana Asistennya, jadi walaupun Asistennya mungkin sedikit melihat permainannya, itu tidak jadi masalah, lagian mungkin hanya terlihat sebagian dari belakang saja atau mungkin hanya terlihat wajahnya yang sudah adem panas itu, itung-itung dia ngasih bonus vitamin untuk kedua mata Asistennya yang minus itu.


Mencintai tidak cukup dengan tidak melukai yang dicintai, tapi juga harus sabar saat dilukai yang dicinta.


Tersenyumlah, jangan kau risaukan hal-hal yang tak bisa kau selesaikan sekarang asalkan kau sabar, Allah akan memberimu jalan, jika jalanmu belum muncul, mungkin jalanmu belum di COR.


Pokokno uwuw-uwuwan terus ngasi Tamat😂

__ADS_1


__ADS_2