Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
24.Mendadak?


__ADS_3

Acara syukuran atas kelulusan Anyelir menjadi Sarjana, kini akan dirubah menjadi acara lamaran yang cukup meriah, karena ini permintaan langsung dari keluarga Kalandra yang ingin segera melaksanakan acara pertunangan, bahkan keluarga Anyelir turut mengundang tetangga satu komplek dan juga saudara-saudara terdekat mereka.


Kalandra benar-benar tidak memberikan kesempatan Anyelir untuk berpikir terlalu lama, bahkan kencan romantis yang dia janjikan, nyatanya hancur tak sesuai dengan angan-angan, karena ternyata kedua orang tua Kalandra juga ikut pergi saat pembelian cincin pertunangan mereka.


Tidak ada satu hal pun informasi yang bisa Anyelir dapatkan dari kejadian masa lalu dirinya dengan Jenny, seolah tidak ada kesempatan untuk Anyelir menanyakannya, dan Kalandra pun selalu tersenyum ramah juga perhatian dengan dirinya, seolah tak ada cela yang membuat Anyelir harus menolak lamaran dari Kalandra.


Hingga akhirnya Anyelir memutuskan untuk menerima lamaran dari seseorang yang memang sangat dia kagumi sedari dulu, bahkan kedua orang tua Anyelir banyak memberikan pujian kepada Kalandra, mereka terlihat sangat bangga sekali dengannya, apalagi Papa Anyelir, dia seolah sangat beruntung bisa mendapatkan calon menantu seperti Kalandra, karena anak itu cukup populer dikalangan para pembisnis, sebagai pengusaha muda yang sangat berbakat.


"Sayang, ayo masuk kedalam rumah nak, acara pemasangan cincinnya sudah akan di mulai." Mama Anyelir menyusul putrinya yang sedari tadi malah mondar-mandir diteras rumah.


"Tunggu sebentar lagi Ma." Pinta Anyelir yang terlihat masih menunggu seseorang.


"Kamu ngapain disini nak?" Mama Anyelir merasa tidak enak hati, karena sudah banyak tamu yang berbisik-bisik, kapan acara akan segera dimulai.


"Aku masih menunggu Adinda sama Alenka dulu Ma." Sedari tadi nomor mereka diluar jangkauan terus menerus, jadi Anyelir merasa cemas, apalagi ini acara yang penting baginya, dan kedua sahabatnya itu sangat penting baginya.


"Mereka pasti sudah di jalan, mungkin macet, nanti juga sampai kok, keluarga Kalandra sudah menunggu didalam nak, sudah dari tadi loh." Mama Anyelir pun paham kedua sahabatnya itu sudah seperti saudara sendiri bagi Anyelir, namun tidak mungkin juga dia mengabaikan ramainya tamu undangan dan juga keluarga Kalandra demi menunggu dua orang saja.


"Tapi Ma?" Anyelir masih merasa belum tenang kalau belum tahu kabar mereka berdua.


"Kedua sahabatmu itu pasti mengerti, tidak mungkin kita biarkan semua tamu didalam ikut menunggu kedua sahabatmu itu, kasihan mereka nak." Mama Anyelir mencoba memberikan pengertian.


"Huft.. ya sudahlah."


Akhirnya pertunangan pun terjadi tanpa disaksikan oleh Adinda dan Alenka, entah mengapa mereka berdua bisa kompak telat datang, padahal mereka kemarin sudah janji mau datang ke acara dirumahnya.

__ADS_1


Sebuah cincin yang terbuat dari emas murni itu kini telah melingkar dijari lentik milik Anyelir, dengan disaksikan oleh semua tamu undangan dan juga sambutan tepuk tangan yang meriah dari mereka semua.


"Selamat ya nak, mulai hari ini kamu sudah terikat dengan Kalandra, nggak boleh memandang pria lain selain Kalandra dan semoga semua lancar sampai hari H ya sayang." Dengan mata yang berlinang kedua orang tua Anyelir seolah sudah siap melepas putrinya untuk dibawa pergi oleh pria pilihan mereka.


"Makasih Ma, Pa." Anyelir memeluk kedua orang tuanya dengan suasana haru biru, dia sungguh tidak menyangka akan bertunangan secepat ini.


"Owh ya, acara Ijab Qobulnya akhir pekan ini ya?" Ucap Papa Anyelir seolah meminta persetujuan dari kedua keluarga.


"Sebelumnya saya minta maaf Om dan Tante, karena sebelum akhir pekan ini saya harus pergi keluar negri selama beberapa minggu, karena ini menyangkut tentang bisnis besar, jadi sepertinya saya tidak bisa." Kalandra menundukkan kepalanya dan berbicara sopan kepada Papa dan Mama Anyelir.


"Lalu, apa kamu ingin menunda akhir bulan depan saja, nanti kita bisa menghitung tanggal dan hari yang pas kembali." Ayah Anyelir paham karena dia juga pembisnis, yang memang harus mengutamakan bisnis, apalagi tender besar karena itu tidak setiap hari terjadi.


"Kalau Om dan Tante tidak keberatan, Saya ingin memajukan acara Ijab Qobulnya besok pagi saja, bagaimana menurut Om dan Tante?" Ucap Kalandra yang membuat mereka yang mendengarnya langsung melongo karenanya.


Mempersiapkan pernikahan dalam satu hari saja itu tidak mudah, tapi bagi pembisnis handal seperti Kalandra itu tidak sulit, karena banyak klien dari berbagai tempat yang akan membantunya.


"HAH, BESOK PAGI?" Anyelir sontak berdiri dari tempat duduknya karena terkejut, dia memang menyukai Kalandra, tapi jika menikah tanpa persiapan itu berasa dia digerebek warga pikirnya, apa kata orang nanti.


"Sayang, duduk yang benar." Mama Anyelir langsung mencubit pinggang putrinya, dia pun kaget tapi ekspresinya tidak frontal seperti Anyelir.


"Tapi kenapa mendadak sekali Ma?" Rengek Anyelir yang sebenarnya merasa keberatan.


"Apa kamu keberatan Anyelir?" Kalandra langsung mengusap kepala Anyelir dengan lembutnya.


Dan itu membuat emosi Anyelir mereda, dia sungguh dibuat tak berdaya oleh seorang Kalandra.

__ADS_1


Ya jelaslah!


"Bukan begitu Kala, tapi kalau besok pagi bagaimana persiapannya, kenapa tidak bulan depan saja kalau kamu memang harus pergi keluar negri?" Lain yang ada dihatinya, lain pula yang dia ucapkan, dia tidak mungkin menolak secara teenag-terangan.


"Aku tidak mau menunda terlalu lama Anye, yang namanya pembisnis itu, kita tidak tahu kapan ada tender besar, hal itu bisa datang kapan saja, dan tidak bisa dipastikan."


"Tapi Kala?" Anyelir seolah kebahisan kata-kata untuk menentangnya.


"Woah... Sepertinya nak Kala sudah 'ngebet' banget ini?" Ledek Mama Anyelir yanh hanya tersenyum saat melihat perdebatan mereka.


"Hehe... saya hanya tidak ingin pernikahan ini ditunda-tunda terus, saya butuh pendamping hidup secepatnya." Jawab Kalandra dengan mantap.


"Sebetulnya Om tidak keberatan juga kalian menikah besok." Imbuh Papa Anyelir dengan senyum yang terus mengembang, dia tidak menyangka anaknya sudah pantas untuk bersanding di pelaminan.


"Terima kasih Om, besok saya yang akan mempersiapkan segalanya, dari mulai gedung beserta makanan dan juga seluruh rangkaian acaranya." Seolah Kalandra memang sudah merencanakan hal ini terlebih dahulu.


"Kamu bisa mengatasinya sendiri? tidak mau bantuan dari Om, biar nanti anak buah Om datang membantumu." Papa Anyelir merasa takjub juga dengan tekad Kalandra.


"Tidak perlu repot-repot Om, karena ini permintaan pribadi saya, jadi saya yang akan bertanggung jawab tentang segalanya." Ucapnya dengan wajah penuh kharismatik.


"Woah... Om semakin bangga denganmu nak Kalandra, semoga kamu bisa menjadi pemimpjn perusahaan sekaligus pemimpin keluarga yang hebat ya nak." Papa Anyelir langsung memeluk calon menantunya itu sambil terus menepuk bahu Kalandra dengan bangga.


"Terima kasih Om." Jawab Kalandra sambil membalas pelukannya.


"Kalau begitu, silahkan menikmati hidangan dari kami, acaranya kita persingkat saja, agar kita bisa lebih banyak istirahat, karena besok tenaga kita pasti akan terpakai seharian penuh."

__ADS_1


Kedua wanita paruh baya itu pun ikut bahagia dan saling berpelukan karena akan menjadi Besan dalam waktu terdekat, apalagi mereka juga teman arisan, sungguh menyenangkan jika bisa menjadi satu keluarga.


To Be Continue...


__ADS_2