
Dalam hidup ini, Jujur bukanlah pilihan, melainkan suatu kewajiban, karena sebuah kebohongan bukanlah jalan, tetapi hanya menunda saat kehancuran.
Anyelir masih memutar otaknya, bagaimana caranya dia bisa mempertemukan antara Jenny dan suaminya dengan Kalandra tanpa harus terlihat bahwa ini adalah rencananya.
Sedangkan Kalandra sudah melarang keras dirinya untuk bekerja, jadi sulit mencari alasan untuk dirinya keluar rumah sendirian.
Ting!
Saat Anyelir masih mondar-mandir dikamarnya tiba-tiba ada satu chat masuk.
Bella, how are you? saya Kendrick, hari ini saya ada waktu, bisa tolong atur pertemuan saya dengan Dokter Kandungan itu sebelum ada jadwal keberangkatan saya ke luar negri?
"Kesempatan bagus ini, tapi masalahnya Kalandra mau nggak nemenin gue ya? atur belakangan lah, yang penting buat si Bule ini mengaku dulu, kalau dia memang suami dari Jenny." Anyelir langsung membalas pesan dari Mr. Kendrick.
Okey Mr. Ken, saya akan atur pertemuan anda siang ini, waktu dan tempat pemeriksaannya saya akan kirimkan nanti.
"Anyelir, aku mau berangkat kerja, ada meeting penting siang ini."
Tiba-tiba saat Anyelir maaih serius membalas chat dari Mr. Ken, suara Kalandra terdengar sangat jelas dari kamarnya.
"Tumben pamit, biasanya juga nyelonong pergi aja dan menggangap aku ini sebagai boneka hidup yang tidak berarti, kenapa dia?" Umpat Anyelir yang langsung tidak berminat untuk mengantar Kalandra berangkat kerja sama sekali, bahkan dia masih tetap duduk santai didalam kamarnya.
"Anyelir!" Teriak Kalandra yang langsung membuka pintu kamar Anyelir.
"Iya." Jawab Anyelir dengan singkat.
"Kamu ngapain? orang suami mau berangkat kerja kok diem aja!" Protes Kalandra sambil berkacak pinggang ditengah-tengah pintu.
"Emangnya aku harus ngapain, selama ini kamu nggak pernah protes kan, jadi aku nggak tahu harus bagaimana kalau suami mau berangkat kerja." Jawab Anyelir dengan santainya, karena selama ini mereka memang tinggal seatap, namun seolah tidak saling mengenal kalau tidak ada perlu.
"Kenapa kamu sekarang pandai menjawab kata-kataku, hah?" Kalandra langsung menaikkan intonasi suaranya, padahal dia punya niatan baik, entah mengapa semakin Anyelir berani dan tidak perduli dengan dirinya, dia semakin takut ditinggalkan.
"Salah lagi kan gue." Jawab Anyelir dengan helaan nafas beratnya.
"Gimana suami mau sayang sama istri kalau kelakuanmu seperti ini, nggak bisa menjadi figur seorang istri yang baik!" Celetuk Kalandra yang membuat kepala Anyelir langsung berputar ke arah suaminya.
Apa? Dia ngomong apa? Kesambet dari mana nih orang? Dasar Aneh!
"Pak Kalandra yang terhormat, lakukan hal yang Anda lakukan seperti biasanya aja, seperti bagaimana kamu bersikap denganku selama lima tahun ini dan satu lagi, Anda tidak perlu susah-susah untuk menyayangi istri Anda, karena aku sudah terbiasa hidup tanpa kasih sayang suami, okey!" Anyelir hampir tidak percaya, kenapa suaminya bisa berbicara seperti itu, apa dia lupa perlakuan dia selama lima tahun ini pikirnya.
"Kamu ini, diperlakukan baik salah, diperlakukan tidak apalagi, sebenarnya mau kamu itu apa Anyelir!" Kalandra semakin emosi dibuatnya.
"Aku mau keluar dengan Sean siang ini." Ucap Anyelir yang malah langsung menemukan ide agar bisa mengajak suaminya itu ke rumah sakit.
"NO! Jangan pernah bermimpi kamu!" Begitu kembali mendengar nama Sean, suaranya kembali melengking, apalagi Kanaya sudah berangkat sekolah daritadi, jadi dia bebas bersuara lantam tanpa harus didengar oleh putri kesayangannya itu.
"Aku pengen cek kesehatan di rumah sakit siang ini!" Ucap Anyelir dengan alasannya.
"Kamu sakit apa!" Kalandra langsung menjelingkan kedua matanya.
"Kenapa kamu peduli? dulu bahkan saat aku melahirkan Kanaya saja kamu tidak datang, atau bahkan saat itu kamu sedang bermadu dengan wanita simpananmu itu?" Sindir Anyelir dengan wajah acuh tak acuhnya.
"Aku kerja saat itu!" Jawab dengan cepat, entah sungguhan ataupun tidak, hanyalah dia yang tahu.
"Benarkah? karena selingkuh itu juga termasuk kata kerja tau nggak?" Sindir Anyelir kembali yang seolah sudah tidak takut apapun.
"Itu bukan urusanmu Anyelir!" Dia akan selalu menghindar jika sudah seperti ini.
__ADS_1
"Kalau begitu bagus, jangan pernah capek-capek ngurusin apapun tentang aku lagi, lakukan seperti biasanya aja, tetaplah main drama sampai seribu episode atau bahkan puluhan juta episode kalau perlu!" Dia pun tidak perduli lagi, apalagi saat mengingat suaminya itu pun terkena tipu oleh wanita pujaannya.
"Kamu benar-benar mau menantangku sekarang!" Teriak Kalandra yang langsung berjalan mendekat ke arah Anyelir.
"Kalandra, bukannya pernikahan kita itu emang nggak ada artinya kan, jika tidak ada Kanaya dalam hidupku, mungkin kamu sudah tidak akan melihat aku di dunia ini lagi." Sudah lama dia ingin mengatakan hal ini, namun baru kesampaian hari ini.
"ANYELIR!" Dia sungguh tidak terima Anyelir mengatakan hal itu.
"Aku bertahan dalam Nerakamu ini, demi Kanaya dan demi keluarga kita, jadi cukup lakukan hal-hal seperti biasa saja, jangan menoleh ke arahku!" Bahkan jika memang suatu saat nanti dia harus berpisah dengan Kalandra pun dia akan menerima, namun dia berharap hal itu terjadi saat Kanaya sudah dewasa dan sudah bisa hidup mandiri, jadi dia tidak akan merasa bersalah.
"Apa karena sudah ada Sean sekarang, jadi kamu berani mengatakan hal ini?" Kalandra langsung menyangkut pautkan hal ini dengan Sean, karena sebelum ada Sean, Anyelir tidak pernah berani melawan dia pikirnya.
Maafkan aku Sean, harus menjadikan kamu sebagai tumbal lagi.
"Kalau iya emang kenapa? Pria di dunia ini bukan hanya kamu seorang bukan?" Dia sesungguhnya tidak tega mengkaitkan Sean dalam rumah tangganya, takut jika Kalandra akan berulah dengan Sean dan keluarganya, namun dia akan tanggung jawab dan menanggung semua kerugian ataupun masa depan Sean jika sampai Kalandra berulah dengannya.
"Anyelir, jangan pernah berharap lebih dengan dia, karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu lepas dariku, mengerti kamu!" Ancam Kalandra dengan senyum bengisnya.
"Aku tidak pernah mau berharap lebih dengan siapapun di dunia ini, bahkan denganmu sekalipun, aku hanya minta sudahi balas dendammu itu, nggak akan ada gunanya, aku pun sudah tidak berharap cinta dan kasih sayang seorang suami darimu lagi, cukup jangan menyiksa aku, jangan menjadikan aku sebagai pelampiasan kemarahanmu, itu saja!" Jawab Anyelir yang sebenarnya menahan sesak didadaa.
"Kalau aku tidak bisa, kamu mau apa!" Jawab Kalandra dengan tatapan mengejek.
"Sampai kapan kamu mau hidup dalam sandiwara seperti ini, apa kamu tidak takut menyesal nantinya?" Ingin sekali dia mengungkap tabir kepalsuan Jenny saat ini, tapi dia tahan, karena pasti kurang seru kalau tidak melihat secara Live pikirnya.
"Kenapa aku harus menyesal? Yang seharusnya menyesal seumur hidup itu kamu, karena telah membuat orang celaka, bahkan sampai cacat seumur hidup!" Teriak Kalandra kembali.
"Pfftth... Cacat seumur hidup? woah... aku kok jadi kasihan!" Hampir saja dia keceplosan, bahkan dia merasa kasihan sebenarnya dengan nasip Kalandra dengan Jenny yang masih menjadi misteri.
"Lihatlah kelakuanmu ini, bahkan kamu menertawakan dia, disaat dia menderita gara-gara kamu!" Tuduh Kalandra dengan wajahnya yang berapi-api.
Sabar Anyelir, kendalikan emosimu!
"Kamu mau kemana!" Teriak Kalandra saat Anyelir nyelonong pergi dari hadapannya.
"Ke rumah Mama." Jawab Anyelir dengan santainya.
"Jangan berani coba-coba mengadu dengan orang tuamu, atau aku buat bisnis keluarga kita hancur dan perusahaan Papamu yang akan jadi korbannya!" Dia mulai mengancam masalah perusahaan yang saat ini memang ada dibawah kendalinya.
"Fuuh... kamu sudah pandai mengancam sekarang, tapi aku tidak perduli!" Jawab Anyelir sambil mengangkat kedua bahunya.
Karena kalau sampai perusahaanya terpaksa bangkrut, dia bisa meminta pekerjaan dengan kedua sahabatnya, karena kedua sahabatnya tidak akan pernah rela melihat dia sengsara apalagi karena Kalandra.
Grep!
Senjata andalan saat Kalandra marah yaitu dengan melampiaskan nafsvnya dengan Anyelir kapan saja dan dimana saja.
"Kalandra lepas!" Anyelir langsung berontak saat Kalandra memeluk tubuhnya.
"Nggak mau!"
Dia langsung saja menyudutkan tubuh Anyelir disudut ruangan di kamar itu dan langsung menguasai setiap lekuk dalam tubuh istrinya dengan paksa.
Tidak bisa aku biarkan ini, aku harus bertemu Dokter itu siang ini!
"Hmpt.. Lepas Kala, aku tidak akan mengadu dengan Mama, aku janji!" Dia kembali menyerah dan berbicara perlahan dengan Kalandra.
Plup!
__ADS_1
Seketika dia langsung melepas minuman segar dari sumber asli itu.
"Kamu ini, sukanya mancing-mancing aja, tapi sudah nanggung ini!" Ucap Kalandra yang bahkan sudah berhasil membuang baju milik istrinya.
"Kala cukup, kalau kamu tidak memperbolehkan Sean yang menemani, boleh aku menyuruh Mama yang menemani?"
"Nggak! Apa kata Mamamu nanti soal aku, kamu mau namaku jelek dimata keluargamu karena tidak mau mengantarkan kamu ke rumah sakit!"
Dan Anyelir pun tahu, Kalandra pasti tidak akan mengizinkannya, jadi Anyelir punya alasan untuk memaksa Kalandra tanpa rasa curiga.
"Kalau begitu antarkan aku ke rumah sakit siang ini!" Pinta Anyelir yang langsung membuat Kalandra bingung, mungkin dia jadi berpikir demi nama baiknya sendiri.
"Kamu sakit apa sebenarnya, kenapa nggak dokternya saja yang disuruh periksa kamu ke rumah, bayar aja tiga atau empat kali lipat dari gajinya, pasti mereka mau melakukannya!" Kalandra masih berusaha menawar.
"Aku mau cek kesehatan tubuh secara menyeluruh, jadi nggak mungkin juga dokter itu membawa perlengkapan medisnya ke rumah kita?" Dan dia sudah memikirkan alasan yang terdengar logis.
"Untuk apa?" Kalandra kembali dibuat heran, padahal istrinya terlihat baik-baik saja pikirnya.
"Aku merasa nggak enak aja disekitar perutku, atau mungkin ada adeknya Kanaya didalam perutku ya?" Jawab Anyelir kembali, karena dia ingin mempertemukan dengan Jenny dan istrinya di Dokter Kandungan.
"Cih... Bukannya kamu baru aja datang bulan?" Ucap Kalandra kembali.
"Tapi setelah itu kamu pernah meminta jatahmu sekali saat kita bertengkar kemarin bukan!"
"Siapa suruh kamu melawanku!" Jawab Kalandra sambil melengos dan menahan seutas senyuman.
"Saat itu pula aku lupa meminum pil kb milikku, padahal itu masa-masa suburku!" Ucap Anyelir yang terlihat menyesal, padahal dia tidak menggunakan pil kb, dia menggunakan program cara yang lainnya.
"Ya udah, nggak masalah, lagian Kanaya sudah besar, sudah waktunya dia punya adek!" Jawabnya dengan enteng.
"Kalau kamu tidak mau mengantarku, aku akan menghubungi Sean sekarang juga, aku malu sama dokternya, punya suami kok selalu periksa ke dokter Kandungan sendirian!" Jawabnya dengan memasang wajah melasnya.
"Sean itu bukan suamimu!" Umpat Kalandra yang kembali menghimpit tubuh istrinya.
"Biarkan saja, dokter itu pun tidak akan tahu dia suamiku atau bukan, karena kamu memang tidak pernah mau menemaniku sejak dulu aku hamil bahkan sampai melahirkan Kanaya." Dia akhirnya punya alasan untuk menyudutkan Suaminya.
"Anyelir!" Jerit Kalandra kembali.
"Mau apa tidak?" Tanya Anyelir dengan nada manjanya.
"Ckk... ya sudahlah, saat jam makan siang nanti kita bertemu di rumah sakit!" Jawab Kalandra yang tidak punya pilihan lain menurutnya.
"Aku ingin berangkat bersamamu!" Anyelir takut jika nanti Kalandra membohonginya, jadi dia harus bisa memastikan agar Kalandra datang ke dokter kandungan itu saat Mr. Ken dan Jenny sudah ada disana.
"Dih... kenapa jadi manja seperti itu!" Ledek Kalandra sambil tersenyum miring.
"Kalau nggak boleh ya sudah, aku mau pergi sama---"
"Okey, kamu siap-siap sana, kita berangkat sekalian ke Kantor, aku hanya akan meeting sebentar, setelah itu aku antar kamu ke rumah sakit." Sebelum nama Sean kembali disebut, Kalandra langsung menyahutnya dengan kesal, dia begitu benci mendengar nama Sean keluar dari mulut istrinya.
Yess.. berhasil!
Cup
"Okey sayang!"
Anyelir bahkan dengan santainya berjinjit dan menyambar pipi suaminya, yang sedari tadi masih mengungkung tubuhnya didinding dan kemudian langsung berlari menuju kamarnya.
__ADS_1
"Dih!"
Kalandra kembali melengos namun menahan senyuman, entah mengapa akhir-akhir ini dia malah suka melihat istrinya beberapa kali bersikap genit dan seolah berani dengan dirinya, biasanya kalau mereka bertengkar dan beradu pendapat, endingnya pasti Anyelir hanya bisa menangis saja, tapi kini dia berubah, dan itu membuat sensasi yang luar biasa bagi diri Kalandra.