
Sesuai janji Kalandra, gedung mewah beserta dekor dan seisinya sudah dia siapkan, Anyelir dan keluarganya hanya tinggal pasang badan saja. Jika mereka tahu persiapan itu hanya dilakukan dalam satu hari sepertinya mustahil, karena semua terlihat sempurna seperti sudah direncanakan satu bulan sebelumnya, tapi jaman sekarang yang namanya kekuatan uang memang sulit diduga.
Acara Ijab Qobul akan dimulai beberapa saat lagi, namun saat Kalandra sedang latihan melafadzkan kata Ijab Qobul dibawah, Anyelir seolah kena sidang dadakan oleh kedua sahabatnya di ruang make up.
"Anyelir, apa kamu sudah gila?" Bahkan pintu ruangan itu ditutup dan dikunci dari dalam, agar tidak ada seorang pun yang mendengar obrolan mereka bertiga.
"Apa sih kawan, kalian ini baru aja datang sudah ngatain orang gila aja, ngasih semangat kek, apa kek, aku gemeteran banget ini." Ucap Anyelir yang memang merasakan kegugupan saat menjelang Ijab Qobul.
"Kamu masih waras kan Anye? Apa kemarin kepalamu kejedot tembok?" Alenka pun ikut menginterogasi dengan tatapan penuh curiga.
"Kalian berdua ini, acara lamaran aja nggak datang malah nyumpahin gue lagi, dasar teman durhekong!" Umpat Anyelir yang merasa kesal karena kemarin hampir seharian dia mengkhawatirkan kedua sahabatnya.
"Kemarin ban mobil kita pecah di Alas Purba sepertinya, sinyal pun tak ada, akhirnya kita ngejogrok di Warung sampai bantuan datang, itupun sudah sore, jadi mau ke rumah Elu pun nanggung, mending putar balik aja." Jawab Adinda yang juga kesal karena hampir seharian dia berada di pinghiran hutan.
"Yang jadi inti permasalahannya sekarang, kenapa kamu tiba-tiba mau menikah dengan Kalandra coba?" Alenka langsung mengalihkan ke topik utama.
"Iya, masak kemarin katanya baru di lamar, kok sekarang udah nikahan aja, kamu tidak merasa ada yang aneh gitu Anyelir?" Tanya Adinda yang merasa tidak habis pikir.
"Beberapa hari lagi dia ada kerjaan di luar negri, jadi nggak bisa nunggu sampai akhir pekan ini." Jawab Anyelir seperti yang Kalandra katakan.
"Kenapa juga harus akhir pekan ini, bisa bulan depan kan, atau tahun depan juga nggak masalah, elu masih muda cuy, ngapain juga harus buru-buru nikah, kayak takut nggak laku aja?" Ledek Alenka memang terkejut saat mendengar berita ini tadi malam.
"Bukannya menikah lebih baik daripada hanya sekedar pacaran, hanya menimbulkan fitnah semata bukan?" Anyelir mencoba membahas sisi positifnya aja.
"Bukan begitu juga konsepnya Bu Nyai, tapi kenapa harus Kalandra, apa nggak ada orang lain?" Adinda langsung to the point aja, entah mengapa dia kurang setuju walau Kalandra tampannya kebangetan sekalipun.
__ADS_1
"Kenapa emangnya kalau Kalandra, kalian tahu sendiri kan sedari dulu bahkan sampai sekarang aku masih mengagumi sosok Kalandra, dia tidak tergantikan." Ucap Anyelir yang terus membela calon suaminya.
"Jangan buta deh lo, open your eyes! Nggak semua yang elu lihat itu tulus dari hati!" Alenka merasa gemas sendiri melihat kebucinan sahabatnya yang susah dihilangkan itu.
"Iya Anye, bukannya kamu sendiri yang cerita kalau Kalandra pernah memaki kamu, marah besar denganmu dan selalu menuduh kamu sebagai penyebab terjadinya tragedi saat itu?" Adinda seolah memojokkan Anyelir agar dia sadar dan mengingat kisah lampau yang menyedihkan itu kembali.
"Dia sudah melupakannya guys." Ucap Anyelir dengan nada lirih.
"LUPA? Segampang itu? Aku kok nggak yakin!" Celetuk Alenka sambil melengos.
"Sama!" Adinda pun langsung sependapat dengannya.
"Jangan begitu guys, aku sudah minta penjelasan darinya, tapi dia bilang saat itu dia dan Jenny hanya sekedar cinta monyet saja, dan masih labil, jadi dia marah-marah nggak jelas tanpa memikirkan masa depan yang luas." Jelas Anelir kembali.
"Dan kamu percaya begitu saja?" Adinda langsung mencengkeram lengan Anyelir agar dia sadar.
"Firasat gue nggak enak Anye, kamu batalkan sajalah." Adinda bahkan sudah memikirkan ide gilanya.
"Iya, aku setuju, kami akan membantumu kabur dari tempat ini, okey?" Dan Alenka pun juga memiliki ide yang sama walau mereka belum janjian.
"Jangan gila kalian!" Tolak Anyelir dengan cepat, bukan hanya dia yang akan malu, seluruh keluarganya juga pasti akan murka,karena pernikahan mereka juga salah satu penyebabnya karena bisnis orang tuanya ingin bergabung, jika dia sampai kabur bisa hancur perusahaan mereka maaing-masing pikirnya.
"Elu yang gila, kalau Kalandra cuma mau balas dendam sama elu gimana?" Cecar Adinda yang tidak perduli dengan alasan Anyelir.
"Gue yakin, Kalandra tidak sekejam itu orangnya, lagian dia pilihan kedua orang tuaku, mereka yang menjodohkan kami, dan aku yakin kedua orang tuaku sudah mengenal Kalandra dalam waktu yang lama, karena Kalandra ikut masuk dalam dunia bisnis sejak masih kuliah." Jelas Anyelir kembali.
__ADS_1
"Kalau itu memang rencananya bagaimana?" Adinda memang selalu curigaan orangnya.
"Sudahlah guys, kita berpikir positif saja, kejadian itu sudah lama sekali berlalu, dan Jenny pun katanya sudah pergi ke luar negri, Kalandra pun tidak tahu kabar Jenny terkini."
"Kamu yakin nggak nyesel nantinya Anyelir?" Alenka memegang kedua lengan sahabatnya itu dan menatapnya dalam-dalam.
"Enggak." Jawab Anyelir dengan mantap.
"Ckk... ya sudahlah, sebagai teman kami hanya bisa mengingatkan, kalau terjadi apa-apa juga kamu sendiri yang akan menanggungnya." Adinda sudah kehabisan kata-kata jika Anyelir sudah seperti ini.
"Aku paham maksud kalian, tapi sekali ini saja, aku ingin percaya kepada Kalandra dan orang tuaku, Kalandra sudah berubah guys, dia lebih romantis tau nggak dan mulai perhatian sama aku, nggak cuek kayak dulu lagi,pokoknya sekarang dia manis sekali." Puji Anyelir dengan senyumannya saatdia mengingat kelakuan Kalandra akhir-akhir ini.
"Heleh... Orang baru mau dapat, modus biasalah tuh!" Ledek Adinda yang tidak terpengaruh sama sekali.
"Kalian kok ngomongnya gitu sih? nggak seneng ya lihat temannya bahagia dan akhirnya bisa mendapatkan lelaki idamannya dari jaman SMA dulu?" Umpat Anyelir dengan wajah melasnya.
"Terserah kamu saja, semoga firasat kami yang salah, anggap saja kamu sedang Uji Nyali dengan pria itu." Celetuk Adinda kembali.
"Kok uji nyali sih, kamu kira Kalandra Hantu apa, serem amat dah!" Anyelir merasa kesal sendiri dengan dugaan buruk sahabatnya itu.
"Apapun itu, kami doakan semoga kamu bisa bahagia bersama Kalandra." Setelah menghela nafas berulang kali, akhirnya Alenka pun ikut menyerah untuk melarang Anyelir, dia hanya berharap Anyelir tidak salah mengambil keputusan.
"Amin, nah gitu dong, baru bestie gue, sini peluk aku dulu!" Kata itulah yang sebenarnya Anyelir harapkan dari sahabat terbaiknya.
Akhirnya mereka bertiga berpelukan dengan isi kepala masing-masing, disatu sisi Adinda dan Alenka ikut bahagia karena sahabatnya mau mengakhiri masa lajangnya, namun disisi lain mereka merasa khawatir dan takut jika semua yang terjadi adalah misi balas dendam dari Kalandra dimasa lalu.
__ADS_1
To Be Continue...