Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
15.Orang Baik.


__ADS_3

Jika ada gelas kaca yang mampu menahan beban seberat segunung, maka dialah WANITA, karena dalam kelemahannya ada kekuatan hebat yang tersimpan didalamnya.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Anyelir selain isak tangisannya, dia begitu terluka dengan segala ucapan Kalandra, sebenarnya ada rasa ingin protes, karena ini semua terjadi bukan atas kemauannya sendiri, bahkan Jenny yang memulai pertikaian dan sengaja main tangan duluan.


Namun entah mengapa Anyelir selalu lemah di depan Kalandra, seolah mulutnya terkunci saat menerima hujatan darinya dan tak mampu membalas apa-apa.


"Gantengnya nggak seberapa, nyakitinnya nggak kira-kira, tenang Nona Anyelir, jangan terlalu dipikirkan ucapan pria tadi, sesuatu hal itu terjadi karena ada sebab dan akibatnya dan itu pun sudah dalam garis Tangan Tuhan, kalau pun kita salah, seharusnya Tuhan yang mengadili kita, bukan dia, emang dia itu siapa, sok banget jadi orang!"


Suster itu langsung mendorong kursi roda Anyelir lebih cepat dengan gerutuan yang keluar dari mulutnya, agar mereka segera sampai kembali di ruangan VVIP, namun suster itu sengaja mampir ke ruang informasi sebentar untuk menghubungi keamanan di rumah sakit itu.


Entah mengapa Anyelir yang dimaki-maki, namun seolah suster itu yang merasa emosi.


"Hallo.. Pak Komandan Security, saya Perawat dibagian kamar VVIP, tolong berikan pengamanan ketat didepan ruang VVIP, selain keluarga dan orang medis jangan ada yang diperbolehkan masuk kecuali laporan terlebih dahulu, nanti aku yang akan membuat laporan." Suster itu langsung mengantisipasi terlebih dahulu, sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


"Baik, siap Suster." Jawab Komandan security di ruamh sakit itu, dan jika sudah menyangkut ruangan VVIP, sudah pasti mereka akan segera bertindak dengan cepat.


Begitu selesai, Perawat itu segera membawa Anyelir kembali ke ruangan VVIP sebelum keluarganya membawa dirinya pulang.


"A-aku baik-baik saja Sus." Ucap Anyelir dengan suara yang terputus-putus.


"Tapi aku yang emosi mendengarnya, semua masalah yang terjadi itu jika dibicarakan dengan baik-baik dan dengan pikiran yang tenang, akan menemukan titik temu, tapi jika amarah sudah menguasai, yang ada hanya pertengkaran semata, karena Syaiton suka akan hal itu." Suster itu mulai mengeluarkan kata-kata bijaknya.


"Mungkin aku juga salah, tapi bukan aku pelakunya, bukan hanya karena aku hal ini bisa terjadi, Suster percaya kan sama aku?" Tiba-tiba Anyelir ingin mengeluarkan unek-uneknya yang tadi seharusnya dia keluarkan saat Kalandra memakinya.


"Tentu saja, aku percaya denganmu, jangan terlalu dipikirkan Nona Anyelir!" Sebagai seorang perawat dia tidak mau pasiennya merasa terguncang jiwanya, karena bisa mempengaruhi psikis dari pasien, apalagi sedari kemarin Anyelir histeris dan ingin meminta segera pulang.

__ADS_1


"Anyelir, kalian dari mana Nak, Mama mencarimu kemana-mana." Mama Anyelir sudah mondar-mandir didepan ruangan Anyelir, takut jika putrinya hilang.


"Mama! hiks.. hiks."


Saat melihat Mamanya, Anyelir langsung berdiri dan berlari memeluk Mamanya dengan erat dan menumpahkan segala kesedihannya didalam pelukan wanita yang sudah melahirkan dia ke dunia ini.


"Kenapa sayang, ada apa? apa yang terjadi?" Mama Anyelir langsung mengusap lembut putri kesayangannya.


"Aku bukan pelakunya Ma, aku tidak mendorong Jenny, dia bahkan yang memulai mendorongku terlebih dahulu saat itu." Anyelir menceritakannya dengan bercampur tangisan yang terdengar sendu.


"Maksudnya?" Mama Anyelir hanya mendengar kisah itu sekilas saja, yang dia khawatirkan adalah keadaan putrinya dulu, baru dia akan mengurus semua nantinya.


"Aku tidak bermaksud mendorongnya, bahkan aku ingin menolongnya, dia bahkan yang menarikku, tapi pijakan kaki kami tidak kuat, jadi kami berdua jatuh bersama." Ucap Anyelir kembali, tidak ada pancaran kebohongan sama sekali dari wajahnya karena memang dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tante, jangan dulu bahas masalah ini, nanti emosinya bisa terguncang, biarkan dia tenang terlebih dahulu." Suster itu langsung berbicara komat-kamit kepada Mamanya Anyelir tanpa suara.


"Aku mau ke rumah Oma saja Ma, izinkan aku melanjutkan sekolahku disana saja." Pinta Anyelir berulang kali.


"Iya sayang, kita tunggu Papa datang ya?" Saat melihat air mata putrinya, dia benar-benar tidak tega, hatinya ikut terasa sakit karenanya.


"Ada apa ini?" Saat melihat kedua wanita kesayangannya itu, Papa Anyelir langsung berlari dan mendekat ke arah mereka.


"Papa, aku mau pulang!" Rengek Anyelir kembali.


"Sayang, kita tunggu Dokter dulu ya?" Papa Anyelir yang belum tahu informasi terkini langsung menahannya.

__ADS_1


"Nona Anyelir sudah boleh dibawa pulang bapak, dan lebih baik sesegera mungkin, karena sepertinya dirumah sakit ini ada sesuatu yang membuat pikiran Nona Anyelir terguncang, karena tadi ada seorang pria yang tiba-tiba memarahi putri Anda."


Perawat itu berbicara perlahan kepada Papa Anyelir, dia takut jika nanti Kalandra kembali datang dan memaki-maki Anyelir kembali.


"Siapa orang yang berani memarahi putriku, mana dia orangnya!"


Emosi Papa Anyelir langsung menyala, saat putrinya diperlakukan orang seenaknya sendiri, dia sebagai Papanya saja jarang sekali meninggikan suaranya ketika memarahi Anyelir.


"Sudahlah Pa, ayo kita pulang saja, Mama sudah mengurus administrasi dan obatnya, kita langsung pulang saja." Mama Anyelir paham dengan kondisi putrinya, dia tidak ingin masalah ini semakin terlihat rumit didepan Anyelir.


"Tapi Ma?" Papa Anyelir terlihat keberatan.


"Sudahlah Pa, kasihan anak kita." Dia langsung mengusap lengan suaminya.


"Mari pak, biar saya bantu membereskan barang-barang Nona Anyelir." Suster bahkan sedari tadi mengawasi kanan dan kiri, takut jika Kalandra tiba-tiba datang dan mengamuk lagi.


"Suster, apa keadaan putriku memang sudah benar-benar membaik, aku takut terjadi apa-apa jika memang belum stabil nantinya." Papa Anyelir mencoba memastikan kembali.


"Putri bapak bisa rawat jalan, jika bapak mau tanya apapun bapak bisa hubungi nomor saya saja, untuk saat ini demi kesembuhan putri bapak sebaiknya bapak bawa pulang saja, dia masih trauma dengan kejadian janggal yang menimpanya." Dia yang malah seolah ketakutan sendiri, apalagi Anyelir begitu baik dengan dia.


"Baiklah suster, terima kasih banyak." Akhirnya Papa Anyelir menyetujuinya dan langsung membawa Anyelir pulang dari rumah sakit itu.


"Sama-sama Pak, dan untuk Nyonya Anyelir semoga cepat sembuh ya, jangan banyak pikiran, semua pasti akan baik-baik saja."


Dan Anyelir hanya bisa menggangukkan kepalanya perlahan, namun terlihat dari sorot wajahnya, dia sangat bersyukur sekali karena masih ada orang baik yang percaya dengan dirinya, padahal dia baru saja mengenalnya.

__ADS_1


Salah satu bentuk rezeki Allah kepada kita adalah dikelilingi dengan orang-orang baik.


__ADS_2