Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
8.Es Teh Panas.


__ADS_3

Akhirnya mereka sampai disebuah rumah yang terlihat sederhana, namun banyak orang yang mengantri disana.


Dan saat giliran Anyelir yang masuk, seolah rumah itu dibuat gempar oleh suara teriakan Anyelir yang menggema diseluruh ruangan.


Bahkan Adinda dan juga Alenka sampai tidak tahan melihat Anyelir menjerit kesakitan seperti itu, lain halnya dengan Jenny yang tetap berdiri di pojokan sambil bersidekap dan seolah tidak perduli, dari tatapan matanya memang hanya tertuju kepada Kalandra, dia seolah mengawasi Kalandra yang terus saja mendampingi Anyelir disana.


"Aaaa... kakiku sakit pak, ampun!" Teriak Anyelir dengan sekuat tenaga, dia memang tidak bisa menahan rasa sakit sedikit saja, bahkan saat tangannya terkena goresan pisau dan berdarah sedikit saja, satu rumah dibuat heboh olehnya, apalagi sampai kakinya terkilir seperti itu.


Cara penyembuhan ditempat Tukang urut memang begitu, tetap ditarik paksa, walaupun sang pasien menjerit kesakitan.


"Anyelir, pelankan suaramu, nanti pasien lainnya mengira kamu diapain!" Kalandra sedikit mencengkedam lengan Anyelir yang sedari tadi terus saja menjerit meronta-ronta seperti orang yang disiksa.


"Nggak bisa Kal, ini sakit sekali, gimana kalau kakiku malah jadi parah!" Anyelir yang baru sekali datang ke tempat alternatif seperti itu tiba-tiba merasa ketakutan sendiri.


"Enggak, aku sudah beberapa kali mengantar beberapa temanku kesini, dan semua juga sembuh tanpa butuh waktu yang lama!" Tegas Kalandra yang hanya mendapatkan senyuman dari Tukang Urut langganannya itu, dia paham dan tidak mudah tersinggung dengan ucapan Anyelir, karena orang saat sedang kesakitan memang ketakutannya sering berlebihan pikirnya.


"Tapi ini sakit banget Kal, kenapa aku nggak disuntik bius saja biar tidur, aku tidak tahan lagi Kalandra!" Rengek Anyelir yang tangannya sedari tadi terus mencengkeram lengan dari Kalandra.


"Kamu gigit saja tanganku, jadi kamu tidak perlu menjerit, okey!" Kalandra langsung mendekatkan kedua lengannya ke arah mulut Anyelir karena terlalu kesal melihatnya.


"Kalian ini manis sekali, pasti kalian berdua pacaran ya?" Tanya Tukang Urut itu dengan senyuman melihat gelagat anak-anak ABG jaman sekarang.


"Bukan pak, kami hanya teman satu kelas saja!" Jawab Kalandra dengan cepat dan berhasil menarik satu sudut bibir Jenny keatas, di pojokan ruangan itu.


"Calon dong pak, cocok nggak menurut bapak?" Jawab Anyelir yang seketika melupakan rasa sakitnya.


"Kalian masih anak sekolah, nikmati saja dulu masa-masa indah pertemanan kalian, jangan sampai terkena penyakit hati hanya karena cinta monyet kalian itu." Ucap Tukang Urut itu yang seolah memberikan petuah untuk anak-anak remaja disana.


Degh!


Seolah kata-kata itu menyentil di hati Anyelir.


"Apa salahnya jika itu cinta monyet pak, jika memang aku setia menunggu dia gimana? apa aku tidak berhak mendapatkan apa yang aku suka?" Celetuk Anyelir yang membuat semua orang disana menggerutkan kedua alis mereka masing-masing.


"Hah?" Bahkan Tukang urut itu menjeda pijitannya,dia tidak menyangka jika anak remaja seperti mereka bisa menjawab sebegitunya.


"Uhuk.. Uhuk." Jenny langsung terbatuk di sudut ruangan sana.


"Kalau begitu aku setuju denganmu, karena hidup itu memang butuh target untuk apa yang kita inginkan, agar kita bisa semangat melewati setiap rintangan yang ada, semangat nak." Dan akhirnya Tukang Urut itu menanggapinya dengan hal positif saja, tidak mungkin juga dia mengajak debat dengan pasiennya, apalagi masih anak sekolah pikirnya.

__ADS_1


"Pasti Pak!" Jawab Anyelir dengan mantap.


Krek!


Dan saat Anyelir terlihat lena, Tukang urut itu kembali menarik perelangan kaki Anyelir, hingga menimbulkan suara.


"Aduh pak, sakit lagi ini!" Jerit Anyelir kembali.


"Sakitnya masih belum seberapa ini dek, ketimbang ujian hidup keluarga, jadi jika kamu sudah siap dan berharap agar priamu cepat menghalalkanmu, maka kamu harus bisa menahan rasa sakit ini demi pasangan dan juga seluruh anggota keluargamu, okey?" Jawabnya dengan santai, karena memang itu adalah pijatan inti agar tulangnya yang sedikit tergeser bisa kembali ditempat semula.


"Tapi ini beneran sakit pak." Keluh Anyelir sambil mengusap air matanya yamg kembali menetes.


"Makanya tahan Anye, bisa nggak mulut kamu ini diam, atau mau aku---" Kalandra tidak jadi meneruskan ucapannya.


"Mau." Ucap Anyelir tanpa basa-basi, walaupun belum jelas ucapan dari Kalandra tadi.


"Emang aku mau ngomong apa?" Ucap Kalandra selanjutnya.


"Mau cium aku kan?" Celoteh Anyelir dengan percaya diri.


"Hah?" Kedua mata Kalandra langsung terbelalak kaget karenanya, padahal tidak sama sekali terfikirkan di otaknya hal seperti itu.


"Uhuk... Uhuk!" Dan Jenny langsung tersedak saat mendengarnya.


"Yoi, Es Teh Panas... Es Teh Panas gaes!" Teriak Alenka dengan hebohnya.


"Wahaha... anak muda jaman sekarang memang bisa santai ya ngobrol secara buka-bukaan?" Tukang Urut itu pun tak mau kalah berkomentar.


"Kenapa pula harus ditutup-tutupi, hubungan yang sehat itu harus di publish dong pak, kalau cuma hubungan diam-diam itu buat apa, cuma bisa nyesek karena tidak diakui didepan umum ya kan?" Entah mengapa Anyelir bisa berkata seperti itu.


"Tuh... wanitamu sudah memberi kode nak Kala, sudah ditembak belom?" Ledek Tukang urut itu kembali.


"Kalau ditembak bisa mati, nanti saya kena kasus lagi pak!" Celetuk Kalandra dnegan senyum masamnya.


"Jika takdirku harus mati bersama kamu pun aku rela wahai Kalandra." Ucap Anyelir dengan tatapan syahdunya.


"Waduh... Ngeri amat Neng?"


"Peh... kamu pikir bujang cuma dia doang? diluar sana masih banyak bujang-bujang tampan dan cendekiawan, jangan gila kamu Anyelir!"

__ADS_1


Disaat Anyelir cengar-cengir dengan ucapan gombalannya, Adinda langsung menoyor kening sahabatnya itu agar tidak bucin gila.


"Uhuk.. Uhuk.. Kala, sepertinya aku tidak enak badan, bisa kamu antarkan aku pulang sekarang, sepertinya Anye sudah baik-baik saja." Dan Jenny seolah sudah tidak tahan lagi berada ditempat itu, atau memang sengaja ingin memisahkan Anyelir darinya.


"Tapi ini--?" Kalandra sebenarnya masih tidak tega, karena dia juga pernah terkilir kakinya dan rasanya memang tidak main-main.


"Ada kedua sahabatnya yang menunggu, lagian dia anak orang kaya, sopir dirumahnya bukan hanya satu, suruh saja sopir pribadi keluarganya untuk menjemputnya." Ucap Jenny dengan tatapan judes dan tidak perduli.


"Ckk... tapi aku masih butuh kamu Kalandra!" Rengek Anyelir kembali.


"Pak, apa kondisi Anyelir sudah baik-baik saja, apa ada tulangnya yang tergeser dengan serius?" Sedangkan Kalandra memilih menanyakan langsung kepada Tukang Urut itu.


"Sepertinya sudah membaik, sudah saya tarik kembali ke tempat semula, tapi masih perlu saya pijit beberapa bagian lagi, agar nanti jalannya tidak kaku."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak ya pak, saya harus pamit pulang duluan, Anyelir biar ditemani oleh kedua sahabatnya." Kalandra langsung menjabat tangan Tukang Urut langganannya itu.


"Kalandra!" Panggil Anyelir kembali.


"Kamu hubungi orang tuamu saja, aku harus segera pulang juga."


"Ckk... Kala, kamu ini jahat banget!"


"Jangan manja, kamu itu sudah dewasa, aku pulang!" Umpat Kalandra yang langsung bangkit dari sana.


"Kalandra!" Teriak Anyelir kembali.


"Apalagi?" Dengan helaan nafas beratnya dia tetap menoleh kembali ke belakang.


"Nggak mau usap-usap rambut aku dulu kek, apa kek?" Ucap Anyelir dengan manjanya.


"Kalandra ayolah... kepalaku benar-benar pusing." Jenny kembali bersuara diantaranya.


"Pak, nanti kalau sudah selesai tolong bantu usap-usap kepala anak manja itu ya pak, nanti minta saja bayaran double, permisi!" Celetuk Kalandra yang langsung keluar beriringan bersama Jenny.


"Dih... Ngawur aja Kalandra ini." Umpat Anyelir sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Sudahlah Neng, nanti bapak usap-usap kepalanya, tenang saja gratis kok, bapak nggak minta bayaran untuk mengusap rambut Eneng yang cantik ini."


"NGGAK!"

__ADS_1


"Bahahaha!"


Tukang urut dan kedua sahabat Anyelir langsung tertawa terbahak-bahak melihatnya, apalagi wajah Anyelir langsung berubah menjadi kesal, karena Kalandra lebih mementingkan rengekan Jenny daripada permintaan dirinya, padahal tadi Jenny terlihat baik-baik saja, kenapa tiba-tiba pusing pikirnya.


__ADS_2