Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
36.Masih Original


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang Anyelir hanya terdiam membisu. Merasa tersakiti itu sudah pasti, karena pedihnya sebuah pengkhianatan itu memang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


Terkadang wanita mampu menahan rasa sakit hati karena diabaikan, diacuhkan dan tidak diperhatikan, namun jika itu sudah menyangkut tentang orang ketiga dalam hubungan rumah tangga mereka, sering kali mampu mengubah pendirian bagi seorang wanita, karena merasa semua pengorbanannya terasa sia-sia.


"Nyonya Anyelir, apa ini benar jalan menuju rumah anda?" Tanya Sean yang memang belum pernah datang ke rumah Anyelir.


Namun Anyelir masih terdiam, pandangannya kosong dan hanya terus menatap lurus kearah ramainya jalanan kota.


"Anyelir? Padahal suaranya sudah cukup keras, namun Anyelir seolah masih larut dalam angan-angan kesedihannya.


"Woi... ANYE!"


Akhirnya Sean berteriak, dia paham bagaimana perasaan Anye saat ini, karena dia juga sempat melihat Kalandra bermesraan dengan wanita lain tadi, sedangkan dia tahu betul posisi Anyelir lah sebagai istri sahnya kini.


Sean sudah merasa curiga saat Kalandra datang dan tiba-tiba marah dengannya, awalnya Sean kagum dengan sosok Kalandra, karena pembisnis muda yang handal itu ternyata bisa bucin dan posesif juga jika sudah menyangkut dengan istrinya.


Namun saat dia ingin mengambil laptopnya yang tertinggal di ruangan Anyelir, dia mendengar perdebatan mereka berdua dan memilih mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam ruangan Anyelir kembali.


Sebagai asisten yang paling dipercayai oleh Papa Anyelir, saat itu Sean merasa khawatir dengan kondisi Anyelir, apalagi wajah Kalandra diliputi rasa cemburu dan emosi, jadi Sean memutuskan untuk membuntuti mereka.


Bahkan, satu-satunya orang yang melihat mobil Kalandra bergoyang di parkiran adalah Sean, namun sebagai perjaka ting-ting yang masih original, dia mencoba berpikir positif saja, mungkin ada serangga atau binatang lainnya yang membuat mereka berdua panik didalam mobil.


Hingga akhirnya Sean kembali dibuat terkejut saat melihat Kalandra datang ke Bandara dan menemui wanita lain disana, sedangkan dia melihat Anyelir seolah main petak umpet dengan suaminya.


Awalnya Sean tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka, dia hanya ingin memastikan kalau Anyelir baik-baik saja, namun saat dia melihat Anyelir ambruk dilantai dengan kondisi bajunya yang memprihatinkan, Sean langsung panik dan berlari sambil melepas jas miliknya.

__ADS_1


"Astaga Sean, ada apa? kenapa teriak-teriak, terkejut aku loh?" Anyelir langsung memukul lengan Sean saat dia tersadar.


"Hehe.. maaf Anye, tapi itu tadi sudah panggilan ketiga dariku." Jawab Sean dengan senyuman manisnya, apalagi ada satu lesung pipit diwajahnya, membuat dirinya begitu menggemaskan di mata para wanita.


"Owh ya, masak sih? maaf deh.. aku pasti melamun tadi." Dan Anyelir hanya bisa menggaruk kepalanya, dia pun sadar kalau sedari tadi pikirannya terisi penuh dengan sosok Jenny dan Kalandra.


"Aku tidak akan memaksa Anda untuk bercerita tentang masalah Anda, karena itu privasi Anda dan suami, namun aku tidak tahu jalan menuju rumah anda, aku takut nyasar dan kita harus balik lagi melewati jalan tol, bisa kelamaan nanti dijalan."


Sean tidak ingin memaksakan seseorang untuk terbuka dengan dirinya, karena belum tentu juga dia bisa memberikan solusi atau jalan yang terbaik untuk mereka berdua, apalagi soal rumah tangga, dia tidak punya pengalaman akan hal itu.


"Bener kok jalannya, nanti setelah ini ada traffic light belok kiri, lurus saja." Anyelir mencoba melupakan sejenak kisah pilunya, dia harus kuat demi Kanaya, putri semata wayangnya.


"Okey siap Nye!" Celetuk Sean sambil mempercepat laju mobilnya.


"Ahaha, kirain karena lagi galau Anda jadi lupa dan tidak menghiraukan nama panggilan itu." Sean sengaja memanggilnya seperti itu, agar suasana di mobil itu tidak terlalu suram, jika tidak bisa membantu banyak setidaknya Sean bisa sedikit menghibur hati Anyelir yang terluka.


"Sean, boleh aku minta sesuatu denganmu?" Ucap Anyelir yang kembali ke mode serius.


"Apa itu, katakan saja Anye, aku pasti akan membantu kamu sebisa mungkin." Jawab Sean yang seolah sudah mengabdikan dirinya kepada atasannya.


"Jangan pernah kamu mengatakan kejadian miris hari ini dengan Papaku."


"Kenapa? sebagai seorang Ayah, beliau pasti akan sedih jika putri kesayangannya menyembunyikan suatu masalah dengan dirinya." Ucap Sean seketika, jika sudah menyangkut orang ketiga, masalah yang terjadi itu tidak main-main dan bukan hal yang sepele.


"Aku hanya tidak ingin mereka kecewa dengan pilihannya, apalagi hubungan kami menyangkut dengan banyak hal, jika mereka tahu tentang semuanya, pasti akan ada banyak masalah yang terjadi."

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan bertahan?" Sean seolah tahu bahwa hal ini terlalu berat bagi seorang wanita, apalagi perselingkuhan itu sulit untuk disembuhkan.


"Hiks.. hiks.." Saat ada orang yang perduli dengannya saat dia terpuruk seperti ini, hati Anyelir seolah tersentuh, hingga dadanya terasa begitu sesak dan akhirnya tangisan itu pecah saat itu juga.


"Maaf Anye, jangan nangis dong, aku ikut gemeteran kalau lihat orang nangis." Sean langsung memperlambat laju mobilnya.


"Aish.. apa aku terlalu cengeng?" Anyelir langsung mengusap air matanya, entah mengapa dia begitu rapuh saat ini, padahal biasanya dia selalu bisa menahannya sendiri.


"Tidak, bukan begitu maksudku, sebenarnya menangis itu hal yang wajar, malah bagus daripada harus ditahan, tapi aku yang terlalu lemah jika sudah menyangkut dengan suara tangisan seorang wanita." Jawab Sean dengan jujur, dia memang nggak tegaan orangnya, hatinya seolah tersayat, karena dulu sering melihat Mamanya yang sering menangis karena kepergian adeknya Sean.


"Huft... Beruntung nanti wanita yang menjadi pendamping hidupmu, karena sudah pasti kamu tidak akan membuat istrimu menangis." Anyelir tersenyum kecut saat mengingat suaminya sering membuat dirinya menangis setiap malam.


"Aku kira kamu mau menghujatku tadi." Sean langsung mencoba mengalihkan pembicaran dengan topik kesedihan.


"Untuk apa? didalam rumah tangga itu pasti akan ada perselisihan dan pertengkaran, tapi jika bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa adanya sebuah tangisan dan air mata bukannya lebih bagus?"


Terkadang masalah yang berat itu bisa membuat seseorang menjadi lebih kuat dan tegar, walau kadangkadnag seeing Ambyar.


"Begitu ya? Aku malah jadi takut ingin menikah." Sean memang belum kepikiran untuk menikah, karena dia ingin bisa menaikkan derajat keluarganya dulu, karena uang keluarga mereka sudah habis-habisan untuk membiayai biaya perawatan adeknya dulu di rumah sakit.


"Jika memang belum siap jangan memaksakan diri untuk menikah, apalagi hanya karena faktor cibiran tetangga, karena yang menjalaninya itu kita, mereka hanya tinggal mengibah saja bisanya."


Andai Anyelir bisa memutar waktu, mungkin dia memilih tidak menikah saat itu, biarkan saja dia menjadi pengagum rahasia Kalandra sampai tua, namun setidaknya dia tidak menderita karena luka pikirnya.


To Be Continue..

__ADS_1


__ADS_2