Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
9.Gayung Tak Bersambut.


__ADS_3

Tiga hari semenjak tragedi kaki Anyelir terkilir, diakhirnya pulih dan kembali datang ke sekolah dengan ditemani kedua sahabatnya yang selalu berada disamping kanan dan kiri Anyelir, untuk berjaga-jaga jika kaki Anyelir merasa nyeri atau kram lagi.


"Kalandra mana woi, tumben jam segini dia belum datang?" Saat mereka sampai di kelas, kedua mata Anyelir langsung mengitari ruangan kelas karena bangku Kalandra masih terlihat kosong disana.


"Yaelah, baru aja duduk, udah Kalandra aja yang dicariin." Adinda langsung menjitak kepala sahabatnya itu, jika ditanya siapa yang paling kesal dengan keinginan sahabatnya untuk memiliki Kalandra tak lain dan tak bukan orangnya adalah Adinda, bukan karena iri, tapi seolah semua kebaikan sahabatnya itu akan terbuang sia-sia jika cinta mereka hanya sepihak.


Kalandra memang sering memperlakukan Anyelir dengan baik, walaupun Anyelir membuatnya kesal dan risih tapi Kalandra memang selalu memilih diam daripada harus membentaknya, namun itu saja belum cukup sebagai bukti kalau Kalandra itu membalas rasa dari Anyelir, karena dengan semua orang Kalandra memang bersikap seperti itu, siapapun yang perlu bantuan dia pasti akan membantunya.


"Biasanya dia datang awal kan, atau jangan-jangan dia sakit lagi, trus nggak masuk, apa kita bolos aja woi, sekarang kalian anterin aku ke rumah Kalandra untuk menjenguknya." Titah Anyelir yang sudah berpikiran yang tidak-tidak, karena memang tidak biasanya Kalandra datang terakhir daripada siswa-siswa yang lainnya.


"Sakit dari mananya, kemarin dia baik-baik saja kok?" Adinda langsung menyangkalnya, karena selama Anyelir tidak berangkat sekolah, Kalandra tetap masuk seperti biasanya, bahkan sama sekali tidak terlihat khawatir dan menanyakan keadaan Anyelir saat setelahnya.


"Mungkin dia kecapekkan, karena menggendongku cukup jauh tiga hari yang lalu kan, bahkan turun tangga juga loh, kan kasihan Kalandra?" Anyelir sedikit merasa bersalah, walau sebenarnya dia sangat bahagia karena bisa merasakan dekapan hangat dari seorang Kalandra yang mungkin sulit akan dia dapatkan saat ini, jadi dia menganggap hal itu sebagai musibah yang membawa berkah.


"Yang harus dikasihani itu Elu!" Umpat Adinda dengan tatapan jengahnya.


"Kenapa jadi gue?" Anyelir merasa heran, karena kakinya sudah sembuh saat ini.


"Noh.. Orangnya muncul sambil tersenyum-senyum ngobrol sama si Jenny." Alenka langsung memutarkan kepala Anyelir menghadap ke arah pintu masuk kelas mereka.


"Aish... sepertinya gayungmu tidak bersambut Anye, atau mungkin gayungmu hanyut di tengah Lautan lepas?" Ledek Adinda yang memang sudah punya firasat lain dengan kedua teman kelasnya itu.


"Ckk... Si Jenny itu asyik nempelin dia mulu, banyak siswa cowok yang lainnya, kenapa harus Kalandra sih!" Anyelir langsung mencengkeram roknya dengan kesal, kenapa harus ada saingan dalam perjalanan mendapatkan cinta pikirnya.


"Hahaha... Gue juga heran sama Elu, banyak siswa cowok yang lainnya, kenapa juga harus Kalandra yang jadi pilihan Elu coba?" Alenka terkekeh sendiri melihat sahabatnya setelah membalikkan pertanyaan itu kepada dirinya.


"Karena Gue suka ama dia lah!" Umpat Anyelir yang memilih memalingkan wajahnya, seolah dia enggan melihat keakraban mereka berdua.


"Tapi dia nggak ada rasa sama Elu!" Adinda memikih mengeluarkan unek-uneknya, agar nanti sahabatnya itu tidak merasa menyesal karena kekeh memilihnya.


Sebagai sahabat rasa saudara, Adinda hanya ingin mengingatkan Anyelir, itu pun demi kebaikan Anyelir sendiri kedepannya.

__ADS_1


"Kamu lebih belain Jenny dari pada sahabat kamu sendiri! Awas kamu ya!" Namun Anyelir selalu salah dalam menerima saran dari Adinda.


"Sssth... diam kalian, pak Rudi sudah masuk itu!" Dan Alenka langsung menengahi perdebatan mereka saat guru mereka sudah masuk ke dalam kelas, untuk memulai mata pelajaran hari ini.


"Ckk... suruh nanti kek masuknya, calon mertuamu itu kerajinan amat jadi orang!"


Pak Rudi yang tidak ada kena mengena dan sangkut-pautnya akhirnya menjadi tumbal dari kekesalan Anyelir.


"Mau gimana lagi gaes, emang bisa tukar tambah calon mertua?" Celetuk Alenka yang hanya bisa menaikkan kedua bahunya.


"Kamu pikir dia barang?" Ucap Anyelir yang langsung menahan tawanya, kisah percintaan sahabatnya itu pun tidak berjalan mulus, walau yang katanya kekasih Alenka itu sangat mencintainya.


"Bahaha!"


Akhirnya tawa mereka bertiga tanpa sadar menggelegar didalam ruangan kelas mereka dan seperti biasa mereka selalu menjadi pusat perhatian dari teman-teman satu kelasnya, karena ada saja hal yang membuat semua mata tertuju kepada mereka bertiga.


"TIGA A, bisa nggak jangan berisik, pagi-pagi sudah koar-koar, apa kamu pikir ini pasar pagi?" Pak Rudi sebagai wali kelas mereka langsung berbicara dengan tegas, apalagi ini jam mata pelajarannya.


"Lalu apa ini pasar malam Pak wali?" Jawab Anyelir dengan santainya.


Dan teman-teman satu kelasnya akhirnya ikut tertawa karena ucapan dari Anyelir yang memang tidak punya rasa takut sedikitpun.


"DIAM! sekarang keluarkan buku tugas kalian, nanti bapak berikan satu pertanyaan berbeda untuk kalian masing-masing, mengerti!" Dan ketika satu muridnya membuat masalah, sudah pasti satu kelas akan ikut terkena imbasnya.


"Ampun dah calon mertua gue itu, untung anaknya nggak seperti bapaknya, entah nurun dari siapa Yayang gue itu." Alenka hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat Pak Rudi yang sering berubah menjadi killer seperti itu, padahal Rico selalu berkata-kata lembut dengan dirinya, perhatian bahkan tipe cowok yang penyayang dan tidak pernah marah.


"Aku rasa tadi malam dia nggak dapat jatah dari calon ibu mertua elu!" Bisik Anyelir disamping telinga Alenka.


"Emang kalau dikasih jatah beliau jadi jinak?" Tanya Alenka dengan polosnya.


"Ya iyalah, kan udah capek kerja tambah capek ngasih nafkah batin, jadi saat pagi menjelang beliau hemat tenaga." Celetuk Anyelir yang sok tahu.

__ADS_1


"Kalau begitu kelak setiap malam gue mau ngasih jatah double buat Yayang, biar dia jinak terus denganku, ya kan?" Alenka bahkan sudah membayangkan malam-malam mereka kelak saat sudah menikah, padahal umur mereka saja masih belasan tahun.


"Tul, pokoknya gas terus tiap malam, jangan kasih jeda kalau belum sampai ayam berkokok, okey?" Anyelir seolah menyemangati sahabatnya.


"Emang apanya yang digass?" Tanya Alenka kembali, dia pacaran dengan Rico tidak pernah neko-neko, karena Rico juga masih fokus kuliah, jika mereka bertemu mungkin hanya sekedar curhat dan ngobrol tentang kesibukan masing-masing.


"Entahlah, orang-orang dewasa itu sering ngomong gitu, apalagi bibi-bibiku, kalau udah ngomongin jatah malam dari suami, beuh... serunya ngalahin nonton piala dunia babak final!" Terkadang Anyelir sering penasaran, namun saat dia bertanya akan hal itu pasti langsung dilarang oleh bibi-bibi mereka.


"Owh ya? Aku jadi penasaran banget, nantilah aku tanyakan sama Yayang Rico."


"Jangan, nanti kamu dicicil lagi?"


Mereka berdua malah asyik berbisik dan melupakan lirikan ajam dari Pak Rudi didepan sana.


"Enak apa dicicil, nanti pas udah lunas nggak terlalu berat hutangnya ya kan?" Alenka benar polos tentang hal itu.


"Kamu pikir hutang uang apa?" Anyelir langsung menyentil kening sahabatnya.


"Aww... sakit Nye!"


"ANYELIR DAN ALENKA! kalau masih mau ngobrol silahkan keluar dari kelas ini!" Teriak Pak Rudi yang sudah tidak tahan lagi.


"Mampus kalian berdua!" Ledek Adinda dengan senyumannya.


"Tidak pak, kami akan diam sekarang!"


Kedua wanita itu langsung membungkam mulut mereka masing-masing dengan kedua tangannya.


Akhirnya mereka semua terdiam, daripada harus terlebih dulu mendapatkan soal dari Guru Fisika sekaligus Wali kelas mereka.


__ADS_1



To Be Continue...


__ADS_2