Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
47.Si Misskuin.


__ADS_3

Setelah Tiga A menunggu beberapa saat disebrang jalan, tak lama kemudian mobil milik mereka bergerak keluar dari halaman rumah itu.


"Itu dia orangnya, mereka sepertinya mau pergi!" Mereka menunggu dijarak yang cukup jauh agar tidak ketahuan.


"Ternyata Tuhan maha baik, momentnya pas sekali, kita ikutin mereka saja!" Adinda kembali menjalankan mobilnya.


Setelah hampir setengah jam mereka mengikuti laju mobil mereka, ternyata mobil itu masuk ke area Hotel mewah nan megah.


"Wow, apa mereka ingin menginap disini?" Ucap Anyelir, dia seolah kembali dibuat takjub oleh seorang Jenny saat ini


"Bisa jadi, atau mungkin mereka ada acara?" Alenka ikut menduga-duga.


"Iya juga ya kan, waduh.. kalau nggak pakai undangan, gimana ini?" Anyelir mulai panik.


"Tenang saja, biar aku urus nanti." Namun Adinda masih tetap terlihat santai, dia punya seribu cara untuk menghadapi hal seperti ini.


"Beneran gaes, mereka minta undangan, pasti ada acara pesta besar didalam sana, gimana ini?"


Karena ternyata ada beberapa petugas keamanan yang menahan setiap mobil yang masuk.


"Maju aja, biar aku yang bicara dengan mereka." Ucap Adinda dengan tingkat kepercayaan diri penuh.


"Permisi pak?"


"Iya Nona, bisa tunjukkan undangan Anda?"


"Begini pak, undangan saya dibawa oleh suamiku di mobil depan tadi." Ucap Adinda yang langsung turun dan mendekati penjaga keamanan di hotel itu.


"Mobil yang mana?"


"Yang depan tadi pak."


"Maaf nona, mobil didepan tadi sudah dengan pasangannya."


"Itu dia masalahnya, sebenarnya saya istri sahnya, tapi wanita didepan tadi menggoda suami saya, jadi saya ingin mencari bukti perselingkuhan mereka."


"Maaf Nona, tapi aturannya jika tidak membawa undangan tidak boleh masuk?" Ucap Petugas itu kembali.


"Tenang saja pak, saya cuma mau cari bukti, tidak mau mencari keributan, jadi tolong biarkan kami masuk ya pak?" Adinda tetap saja ngotot.

__ADS_1


"Nggak bisa Nona, maaf kan saya, karena saya hanya menjalankan prosedur saja." Jawab Pria itu dengan tegas.


"Okey, kalau begitu saya laporkan saja suami saya ke pihak yang berwajib, tapi jangan salahkan saya ketika nanti pihak berwajib menangkap suami saya dan membuat keributan di acara pesta ini." Adinda langsung pura-pura mengeluarkan ponselnya.


"Jangan Nona, nanti saya kena marah." Penjaga keamanan itu mulai panik, kalau sampai kacau acaranya.


"Kalau begitu izinkan kami masuk, kami janji tidak akan membuat keributan."


"Ya sudahlah, silahkan masuk, tapi pegang janji anda, atau jangan salahkan saya jika nanti saya yang akan menangkap anda dengan kekerasan." Penjaga itu mengambil jalan tengahnya.


"Asiap pak, terima kasih."


Akhirnya mobil mereka diizinkan masuk, walau petugas keamanan itu langsung terlihat mengabadikan plat mobil mereka.


Tapi Tiga A tidak terlalu peduli akan hal itu, karena memang mereka tidak berencana untuk membuat keributan.


Untuk sementara mereka bertiga masih memantau dan mencari celah, agar Anyelir bisa ngobrol dengan Pria Bule yang sedari tadi terus berkepit dengan Jenny.


"Aduh, sampai kapan kita ngejogrok disini, acara apa ini, membosankan sekali." Adinda yang paling tidak suka dengan acara formal seperti ini mulai gelisah.


"Mau pake cara licik nggak?" Alenka langsung mengeluarkan ide jahilnya.


"Ckk... kalau cuma nungguin mereka mau sampai kapan, ya kalau mereka ngobrol sendiri-sendiri, kalau kemana-mana selalu berkepit berdua gimana dong?" Alenka pun sedari tadi sudah capek terus mengawasi Jenny dan pasangannya.


"Apa idemu Alenka, cepat katakan?" Adinda tidak perduli dengan ketakutan Anyelir, daripada dia harus berkarat ditempat itu.


"Aku tunggu kamu dibelakang meja Jenny, nanti aku pura-pura heboh memanggilmu, lalu kamu bawa air sirup, tumpahkan saja dibajunya, nanti dia pasti ke kamar mandi, dan si Bule itu pasti hanya bisa menunggu didepan kamar mandi wanita dan disitulah Anyelir masuk, gimana rencana gue, mantap nggak Bolo?" Alenka langsung berbisik kearah mereka.


"Kamu memang terbaik Bolo, yok.. langsung eksekusi saja!" Tanpa berpikir lagi, Adinda langsung menyetujuinya.


"Tapi Din?" Anyelir kembali ketar-ketir sendiri.


"Sudahlah, Jenny biar kami berdua yang urus, kamu sikat aja si Pria Bule itu!" Alenka langsung mengambil posisi.


"Nanti kalau tiba-tiba Jenny keluar dan mergokin gue gimana?"


"Tenang saja, nanti gue kunciin Jenny didalam kamar mandi, sementara itu kamu gerak cepat, okey Bolo!"


"Okeylah, kalau memang tidak ada cara lain, gaskeun Bolo, jangan lupa pakai masker kalian!" Mau tidak mau Anyelir pun menyetujuinya, karena kalau tekad kedua sahabatnya sudah begini, tidak ada yang bisa menghalangi.

__ADS_1


"Siap."


Pranggg!


Tanpa menunda-nunda waktu lagi, Adinda dan Alenka langsung melaksanakan tugasnya dengan mulus.


"Hei... apa-apaan ini?" Teriak Jenny saat air berwarna merah itu menumpahi baju Jenny yang berwarna putih itu.


"Maaf Nona, saya tidak sengaja, lantainya agak licin tadi." Jawab Adinda dengan suara yang dia buat selugu mungkin.


"Baju aku jadi kotor ini, Darling, what can i do?" Renggek dia dengan pria Bulenya itu.


"Yaelah, tinggal bersihin aja dikamar mandi sana, kalau nggak bisa hilang aku ganti bajumu itu, berapa sih harganya!" Jawab Adinda yang mulai jengah saat mendengar rengekan Jenny yang terkesan sok manja.


"Jaga bicaramu! Bajuku ini mahal tau nggak!" Bentak Jenny dengan sombongnya.


Yaelah, si Misskuin ini sudah berlagak, OKB aja berani nantangin gue!


"Sebutkan nominalnya, jangankan harga bajumu, bahkan HARGA DIRIMU pun bisa gue beli!" Tantang Adinda dengan senyum bengisnya didalam masker, sebenarnya dia ingin menunjukkan siapa dirinya, namun sepertinya belum waktunya.


"Sayang, lihatlah wanita ini!" Jenny kembali mengadu.


"Don't worry Baby, jangan ribut, malu dilihat orang, ayo aku antar ke Toilet, right!" Pria Bule itu terlihat malu karena banyak pasang mata yang menoleh kearah mereka.


"Tapi sayang ini---"


"Come on, let's go Baby." Dan tangan Jenny pun langsung ditarik oleh pria itu untuk segera pergi dati tempat duduk mereka.


"Cuih.. ternyata dia lancar berbahasa indonesia, okey, permainan kita mulai!"


Adinda langsung memberikan tanda kepada Anyelir untuk mengikuti mereka berdua menuju ke kamar mandi wanita.


Dan Anyelir pun mulai beraksi, dia kibaskan rambut panjangnya kebelakang, agar leher jenjangnya terekspose disana, lalu dia berjalan melenggak-lenggokkan tubuh seksinya menuju ke arah kamar mandi dimana sia pria Bule itu berada saat ini.


Sebisa mungkin dia akan menggoda pria Bule itu, setidaknya untuk bisa bertukar nomor ponsel agar mereka bisa janjian berdua disuatu tempat untuk sekedar mengkorek informasi tentang Jenny.


Mau sesempurna apapun kita, setulus apapun kita, dan sebesar apapun effort yang kita berikan, juga sebaik apapun kita memperlakukan seseorang bahkan memberikan segalanya, tetap tidak akan ada artinya, jika seseorang itu tidak pernah bersyukur memiliki kita.


Jadi cukup cintai seseorang dalam hidupmu sewajarnya saja, jangan berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

__ADS_1


__ADS_2