Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
41.Benalu?


__ADS_3

Hingga pagi menjelang Kalandra bahkan masih belum mau membukakan kunci gembok yang dia pasang di pintu utama rumahnya.


Dia semakin membuat aku bingung, dia begitu takut aku kabur itu sebenarnya alasannya apa?


"Kala, mana kunci gemboknya?" Tanya Anyelir sambil mendekat kearah Kalandra yang bahkan memilih tidur di sofa ruang tamu agar tidak kecolongan, jika Anyelir dan Kanaya akan kabur.


"Mau kemana kamu? Jangan pernah berharap kamu bisa pergi ke rumah pria itu!"


Tapi kenapa alasannya Sean, bukan karena ingin lanjut balas dendam denganku? Dasar pria aneh bersumbu pendek, gue kerjain aja sekalian, biar makin naik darahnya.


"Pria mana, apa Om Tampan maksud kamu?" Anyelir sengaja menirukan nama panggilan Sean seperti Kanaya.


"Siapa yang kamu bilang Tampan itu!" Kalandra langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Anyelir sambil melotot.


"Sean bukan?" Ucap Anyelir yang pura-pura belum paham, padahal hatinya ingin sekali tertawa.


"Cih... Mata kamu itu sepertinya perlu diperiksa ke Dokter, mungkin itu sudah ada kataraknya, tampangnya biasa aja begitu kok kamu bilang tampan, dari mananya coba!"


Apa dia cemburu? owh.. tidak mungkin, cemburu kan hanya untuk orang yang mencinta, kalau dia kan hanya ada dendam diantara aku dan dia.


"Putri kamu itu yang bilang kok, bahkan Kanaya yang menamai Sean itu Om Tampan, bukannya anak kecil itu tidak pandai berbohong?" Celetuk Anyelir sambil duduk dengan santainya.


Semakin lama dia semakin paham, bahwa menghadapi orang seperti Kalandra ini jangan pakai urat, tapi dibikin santai aja, walau sering membuatnya kesal juga.


"Itu karena Kanaya pasti dipaksa olehnya, dengan iming-imingi imbalan sebuah hadiah!" Jawab Kalandra yang tidak pernah mau mengalah.


"Emm... Tapi sepertinya, aku sependapat dengan Kanaya, kalau dilihat-lihat paras Sean itu memanglah Tampan, hidungnya mancung, badannya tinggi, lengannya kekar, dan yang pasti dia ramah dan murah senyum, itu kenapa Kanaya langsung suka dengannya, padahal baru beberapa kali mereka bertemu."


"ANYELIR!"


Kalandra langsung meninggikan suaranya, merasa tidak terima saat dia memuji pria lain dihadapannya secara langsung.


Eh.. kok malah jadi seru ini, lanjutlah..


"Kenapa? Apa ada yang salah? Sepertinya memang aku perlu periksa mata sedari dulu, karena sudah tertarik denganmu, padahal diluar sana ternyata banyak pria yang lebih segalanya daripada kamu, sayang sekali aku sudah terlambat dan menyia-nyiakan keperawananku kepada orang yang salah." Anyelir seolah menerawang jauh ke masa lalu dengan segala penyesalannya, padahal sebenarnya dia takut juga kalau Kalandra ngamuk nantinya.


"Hei... Jaga bicaramu, kamu sudah bersuami tau nggak!" Mungkin tensi darah Kalandra sudah naik sekarang, karena urat-urat dilehernya sudah terlihat menegang disana.


"Tapi itu hanya sekedar status saja, karena realitanya aku hanya kamu anggap sebagai Benalu saja dihidupmu!" Anyelir langsung membuang pandangannya, tidak berani menatap kedua mata suaminya.

__ADS_1


"APA! hanya status kamu bilang? apa kamu ingin aku menunjukkan kewajibanku sebagai seorang suami sepagi ini denganmu, hah!" Bentak Kalandra sambil berkacak pinggang.


"Tidak perlu, karena setelah aku melihat kamu bermain dengan Jenny dibelakangku, sejak detik itu juga aku haramkan kamu menyentuh tubuhku kembali." Jawab Anyelir yang memang tidak menyukai sebuah perselingkuhan.


"Hei... Apa hakmu melarangku!" Teriak Kalandra seperti orang yang sedang kesetanan.


"Karena aku tidak pernah mau ada orang ketiga dalam hubungan kita, apalagi Jenny orangnya!" Ucap Anyelir dengan kata-kata penuh penegasan.


Seorang wanita terkadang mampu menahan sakit, lelah, capek hati dan juga pikiran atau bahkan kurang perhatian dari pasangannya, namun sering sekali tidak bisa menahan diri ketika lelakinya menggandeng wanita lain.


"Jangan lagi menyebut namanya!" Lirik Kalandra seolah tidak ingin ada nama Jenny yang keluar dari mulut Anyelir.


"Kenapa? Apa kamu begitu mengagung-agungkan dia? Kalau begitu tunggu apa lagi, silahkan buka gemboknya, kita lakukan kegiatan kita masing-masing hari ini, kamu dengan wanita kesayanganmu itu dan aku dengan apa yang aku mau!" Jawab Anyelir dengan tatapan yang sulit diartikan, karena marahnya orang diam itu memang terkadang lebih menakutkan.


"Jangan mimpi kamu bisa lepas dariku!" Kalandra langsung menarik dagu Anyelir seperti biasanya kalau sudah sangat marah.


"Kalandra, sebenarnya apa maumu!" Anyelir langsung menangkis lengan suaminya itu.


"Aku mau kamu saat ini!" Namun semakin Anyelir berontak, seolah nafsu Kalandra semakin naik karenanya.


"Hmpt! aku nggak mau!" Anyelir langsung berontak saat Kalandra mendorong tubuh Anyelir ke atas sofa dan langsung membungkam mulutnya dengan bibir tebal Kalandra.


"Jangan pernah menolakku Anyelir!" Kalandra langsung menindih tubuh Anyelir dengan paksa bahkan menahan lehernya.


"Aish!"


Jika Kanaya sudah mendekat, Kalandra tidak akan berani bertindak apapun dengan Anyelir, karena sesungguhnya Kalandra sangat menyayangi Kanaya dan tidak ingin putrinya itu takut dengan dirinya.


"Kanaya, Bunda nggak papa kok, apa kamu sudah siap berangkat sekolah?" Seperti biasa, Anyelir akan pura-pura tegar didepan putri kesayangannya.


"Tidak ada yang boleh keluar rumah hari ini, mengerti kalian berdua." Kalandra bahkan tidak berminat pergi ke Kantor hari ini.


"Tapi aku mau sekolah Ayah!" Rengek Kanaya sambil memukul kaki Ayahnya.


"Kamu libur saja hari ini." Jawab Kalandra yang tidak perduli, karena beberapa hari saja tidak masalah pikirnya.


"Nggak mau, aku mau sekolah!" Protes Kanaya sambil berteriak.


"Kanaya, sekarang sarapan dulu sama si Mbak ya, biar Bunda yang ngomong sama Ayah." Dan sebagai Ibu, Anyelir yang akan menjadi penengah diantara mereka.

__ADS_1


"Tapi Kanaya mau sekolah Bun, nanti kalau Kanaya bolos sekolah sering diejekin sama teman-teman Kanaya." Celotehnya dengan bibir yang sudah dia monyong-monyongkan.


"Okey, hari ini Kanaya tetap masuk sekolah, biar Bunda yang bicara sama Ayah dulu, okey?" Walau suasana hatinya kacau, tapi dia mencoba untuk tetap tersenyum didepan Kanaya.


"Okey, makasih Bunda." Kanaya langsung berlari meninggalkan mereka dan mendekat ke arah babysitternya yang hanya berani menatap mereka dari kejauhan.


"Anyelir, kenapa sekarang kamu selalu membangkangku, apa kamu sudah merasa hebat sekarang, hah?" Kalandra kembali berteriak saat mereka hanya tinggal berdua saja.


"Kalandra, sampai kapan kamu mau mengurung kami di rumah, nggak akan ada bedanya, karena sesungguhnya kami tidak ada niatan untuk kabur dari rumah, semua ini terjadi karena ulahmu sendiri!" Anyelir mencoba menurunkan egonya, karena sebuah pertengkaran itu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah rumit masalahnya saja.


"Kamu berani menyalahkan aku, iya?" Senyum licik Kalandra kembali terlukis diwajahnya.


"Sudahlah, aku capek berantem sama kamu, kenapa sih kita nggak melakukan kegiatan seperti biasanya saja, aku akan menutupi semua kelakuan burukmu itu didepan keluarga kita, bahkan didepan semuanya, agar kamu bisa bahagia dengan wanitamu itu, tapi dengan syarat, kamu tidak usah mengusikku dan mengganguku, serta jangan pernah ikut campur dengan urusanku, bisa?" Daripada dia terus dikekang, lebih baik dia membebaskan saja apa yang suaminya itu inginkan, karena dicegah pun tidak akan ada gunanya.


"Jelas nggak bisa, kamu masih istri sahku, apa yang terjadi denganmu itu adalah urusanku!" Jawab Kalandra dengan serakahnya.


"Kalau aku memang istri sah kamu, lalu bagaimana dengan urusanmu dan urusan wanitamu simpananmu itu, bisakah sekarang semua itu juga menjadi urusanku?"


"Anyelir!" Bantah Kalandra dengan emosi yang terpendam.


"Sudahlah, tidak ada gunanya kita berdebat, tolong biarkan Kanaya berangkat sekolah, apa kamu tidak dengar tadi, dia akan di bully teman-temannya kalau bolos sekolah." Ucap Anyelir sambil menyeka kedua matanya yang basah.


Tumben?


"Aku akan mengantarmu!" Ucap Kalandra yang membuat Anyelir lansung terheran-heran.


"Aku bisa berangkat sendiri Kala!" Anyelir sudah pasti akan menolaknya.


"Hari ini, kamu harus selalu berada dalam pengawasanku, kalau kamu menolak, kalian harus tetap tinggal di rumah!" Perintah Kalandra yang seolah tidak terbantahkan.


"Huft, ya sudahlah!"


Anyelir memilih menurut saja, karena dia tidak tega juga dengan putrinya, lagi pula jika dia dirumah saja bisa meledak mungkin otaknya.


Mulai saat ini Anyelir akan bermain cantik, agar dirinya tidak selalu terpuruk dengan permainan suaminya, dia harus pandai-pandai mencari celah untuk tetap bisa keluar dari belenggu kehancuran rumah tangganya.


Dia akan mencoba menyelidiki dimana Jenny berada sekarang, apalagi disaat Kalandra selalu ingin bersamanya karena takut Anyelir membawa putrinya kabur, otimatis Anyelir akan tahu kemana saja Kalandra akan pergi, dan sudah pasti suatu hari nanti dia akan menemui Jenny, dan saat itulah Anyelir akan mulai bergerak mencari tahu segala tentang Jenny.


Sudah saatnya dia bangkit dari keterpurukan setelah lama berdiam diri, dia ingin membuktikan bahwa tragedi jatuhnya dia dan Jenny di sekolah dulu itu bukan hanya kesalahan dirinya seorang, bahkan pemicu kejadian itu yang sesungguhnya adalah Jenny.

__ADS_1


Semakin dewasa kita akan semakin menyadari, bahwa level tertinggi mencintai itu ketika kita berada ditahap menerima dan memaklumi sifatnya.


Bukan lagi mengemis kabar dan juga perhatian darinya, tapi kita sudah paham bagaimana dia memperlakukan kita sebagai Prioritas atau bahkan hanya sekedar Bayangan saja.


__ADS_2