
Jika alasannya tentang Cinta, bagi Anyelir tidak masalah, namun dirinya belum seberani itu untuk menggangap bahwa Kalandra memang benar-benar mencintainya, apalagi karena alasan satu dan lain hal.
"Aish." Anyelir memilih keluar dari ruangan itu untuk menyendiri.
Lain halnya dengan kedua keluarga besar itu, Anyelir merasa semakin bimbang dan ragu. Dia merasa ucapannya sama sekali tidak didengarkan, padahal calon pengantinnya kan dirinya, seharusnya dia juga ikut andil dalam hal ini pikirnya.
Grep!
"Kamu kenapa?"
Disaat Anyelir sedang berdiri menyendiri di luar ruangan, tiba-tiba ada dua lengan kokoh yang sudah melingkar diperutnya.
"Heh, Kala?" Anyelir langsung tersadar dari lamunannya dan segera menoleh untuk melihat siapa pelakunya.
"Hmm.. apa kamu tidak suka pernikahan kita dipercepat?" Tanya Kalandra dengan suara manjanya, dia bahkan menyandarkan dagunya di bahu Anyelir, seolah mencari tempat ternyaman baginya.
"Bukan tidak suka, tapi menurutku ini terlalu mendadak, bukannya sesuatu yang terburu-buru itu tidak bagus?" Ucap Anyelir sambil merasakan hangatnya pelukan Kalandra yang dia rindukan, karena dulu dia pernah pura-pura pingsan hanya demi bisa digendong oleh Kalandra.
"Tapi aku sudah tidak sabar ingin menjadikan kamu milikku selamanya Anyelir." Ucap Kalandra kembali.
Ya Tuhan, apa dia berkata sungguh-sungguh? aku benar-benar menyukainya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Kalandra?" Dan hati Anyelir pun semakin meleleh karenanya, kok bisa dia jadi manis seperti ini dengan dirinya.
"Sebenarnya aku sudah lama menantikan hal ini, aku sering mengintip foto-fotomu di media sosial, dan aku tidak mau kamu dimiliki orang lain selain aku." Ucapnya yang membuat Anyelir kembali terkejut, dia memang sering mengupload foto-foto dirinya saat jalan-jalan dengan kedua sahabatnya disana, walau tidak sering.
"Kamu tahu media sosialku?" Tanya Anyelir dengan senyum yang mengembang, hatinya seolah bergetar, karena ternyata pria idamannya sering mengintip aktifitasnya di dunia maya.
"Setelah ayah ingin menjodohkan aku denganmu, aku sengaja mencari tahu kembali semua tentangmu, disitulah aku mulai menyukaimu." Jawab Kalandra yang masih terus mencoba meyakinkan hati Anyelir.
"Masak sih?"
__ADS_1
Wanita jika sudah dirayu seperti itu, pasti akan mudah luluh, apalagi alasan Kalandra cukup masuk akal, juga mereka dulu memang satu kelas, sedangkan orang yang hanya berkenalan di media sosial saja bisa jatuh cinta walau belum bertemu pikirnya.
"Hmm." Kalandra langsung mengeratkan pelukannya sambil memejamkan kedua matanya.
"Tapi aku masih takut menikah denganmu?" Anyelir mencoba berbicara terbuka dengan Kalandra.
"Apa aku seperti monster yang menakutimu?" Kalandra langsung mendekatkan wajahnya ke hadapan Anyelir.
"Bukan, ini semua tentang masa lalu kita, bukannya dulu kamu membenciku dan menuduhku sebagai pelaku tragedi itu?" Ucap Anyelir yang punya kesempatan, karena mereka hanya berdua saja disini, yang lain sedang asyik menikmati hidangan yang disediakan oleh keluarganya.
"Sudah berapa kali aku bilang, kalau saat itu pemikiranku masih sangat labil, aku masih terlalu muda, emosiku masih berapi-api, jadi kamu tidak perlu mengingat-ingat hal itu lagi." Kalandra sama sekali tidak ingin membahas soal Jenny, dia hanya terus menjelaskan tentang dirinya saja.
"Tapi Kala, aku---" Masih banyak kata tanya yang ingin terucap, namun Kalandra selalu memotongnya jika itu tentang masa lalu mereka terutama tentang Jenny.
"Kita pikirkan saja masa depan kita nanti, kamu tidak perlu menoleh kebelakang, bukannya menikah lebih cepat lebih baik, agar kita tidak lagi terpisahkan oleh jarak dan waktu?" Dia kembali mengalihkan topik pembicaraan mereka dengan sesuatu yang indah dalam bayangan Anyelir.
"Kalandra?"
"Hmm." Jawab Kalandra sambil membalas tatapan Anyelir yang seolah tajam menusuk kalbu.
"Boleh aku menciummu?" Tanya Anyelir dengan gilanya, entah mengapa saat melihat bibiir tebal dalam jarak terdekat darinya itu, hasratnya seolah menggebu untuk sekedar mencicipi rasa dari bibiir Kalandra yang selalu menghantuinya.
"Hah? owh... tentu saja?" Kalandra langsung mendekatkan pipi miliknya dihadapan bibiir Anyelir dengan raut wajah yang langsung berbeda.
"Bukan disitu." Tolak Anyelir sambil menggelengkan kepalanya, karena kalau cuma kecupan di pipi itu biasa saja menurutnya.
"Ja-jadi?" Kalandra bahkan langsung mengepalkan kedua telapak tangannya dibawah sana.
Anyelir langsung membalikkan tubuhnya, kedua tangannya memegang kedua pipi Kalandra, terasa sekali bahwa kedua rahang Kalandra terasa mengeras.
C
__ADS_1
U
P
Apalagi saat bibiir mereka bertemu, walau Anyelir lah yang menempelkan bibiir ranumnya terlebih dahulu dengan paksa dan karena Kalandra pun tidak menolaknya, jadi Anyelir terus saja mengambil kesempatan itu.
Kenapa bibiirnya bergetar? Apa dia belum pernah melakukannya?
Anyelir langsung memberanikan diri untuk membuka kedua matanya, menurutnya tidak mungkin orang sedewasa Kalandra belum pernah melakukan hal itu.
Kenapa dia seperti orang yang ketakutan dan menahan sesuatu?
Diantara rasa curiganya, namun dengan lihainya Anyelir terus saja memainkan lidahnya di rongga mulut Kalandra yang hanya bisa terdiam terpaku sambil memejamkan kedua matanya.
"Empt.. uhuk-uhuk!"
Setelah beberapa saat, Anyelir langsung menghentikan aksi panasnya melilit-lilitkan lidahnya walau tanpa balasan saat Kalandra terbatuk-batuk karena tidak mengambil nafas.
"Kala, apa kamu terpaksa melakukan itu denganku?" Tanya Anyelir sambil menautkan kening mereka berdua.
"Eherm...bukan terpaksa, tapi karena aku tidak terbiasa melakukannya, emm... sepertinya aku butuh minum, aku ambil minuman didalam dulu ya, aku haus." Kalandra langsung mencengkeram lengan Anyelir sesaat dan kemudian pergi masuk kedalam rumah milik Anyelir dengan langkah terburu-buru.
Ada yang aneh, tapi apa? sudahlah pusing kepalaku memikirkannya, mungkin memang ini semua sudah garis Tuhan, akhirnya aku bisa merasakan bibiir Kalandra yang selalu aku impikan sejak dulu, hehe.
Anyelir merasa masih ada yang janggal, tapi dia merasa lemah tak berdaya jika harus membiarkan hal yang selama ini dia impikan berlalu begitu saja.
Menikah dengan Kalandra memang keinginannya sedari dulu, namun sempat terjeda karena keterpurukan dari tragedi dirinya dengan Jenny, dan kini Anyelir hanya berharap bisa bahagia hidup dengan Kalandra, lagipun ini juga campur tangan dari kedua orang tuanya, mereka juga pasti menginginkan hal yang terbaik untuk dirinya.
Positif thingking-lah yang saat ini hanya bisa Anyelir lakukan, karena mau menolak pernikahan dengan Kalandra pun hatinya tidak sanggup, jadi dia mencoba memantapkan hati dan mempersiapkan diri untuk pernikahan dirinya besok pagi.
Setiap matahari terbenam mengurangi satu hari kehidupan kita. Tetapi, setiap matahari terbit memberikan kita satu hari lagi untuk berharap.
__ADS_1
Rencana Allah itu lebih baik dari rencanamu, jadi tetaplah berjuang dan berdoa hingga kau kan menemukan bahwa ternyata memang Allah memberikan yang terbaik untukmu.