Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
39.Menahan Rindu


__ADS_3

Hari ulang tahun Kanaya akhirnya berlalu dengan tawa bahagia, karena Sean benar-benar terlihat sangat menyayanginya, bahkan memperlakukan Kanaya dengan baik melebihi adek kandungnya sendiri.


Tidak ada kesedihan diwajah Kanaya saat ini, walau Ayahnya benar-benar melupakan hari spesial baginya, apalagi Sean ternyata sudah mempersiapkan kado spesial berupa satu kotak besar, yang berisi beberapa Boneka Princes Doll berukuran besar lengkap beserta pakaiannya.


Dan itu berhasil membuat Sean mendapatkan pelukan dan ciuman dari putri kecil Anyelir, karena Kanaya memang sangat menginginkannya.


"Kanaya, sudah dong mainan Bonekanya, besok lagi ya, sekarang cuci muka, cuci kaki lalu bobok ya?" Anyelir mendekati putrinya yang sedari tadi asyik bermain dengan boneka barunya.


"Sebentar lagi Bun, Naya masih ingin bermain dengan teman baru Naya." Jawab Kanaya dengan wajahnya yang sumringah.


"Kamu suka hadiah dari Om Tampan?" Tanya Anyelir sambil mengusap wajah putrinya yang sangat mirip dengan dirinya diwaktu kecil dulu.


"Suka sekali, ternyata Om Tampan baik banget, besok kalau libur akhir pekan boleh nggak kalau Kanaya main lagi sama Om Tampan?" Pinta Kanaya, dia benar-benar bahagia bisa jalan-jalan puas seharian penuh bersama Sean dan Bundanya, bahkan dengan ayahnya sendiri saja dia tidak pernah diperlakukan sebaik itu, karena Kalandra selalu beralasan sibuk dengan pekerjaannya.


"Boleh dong sayang, asalkan kamu tidak menggangu aktifitas Om Tampan, okey?" Anyelir tidak tega melarangnya, padahal dia juga tidak ingin menggangu privasi Sean diluar jam kerjanya di perusahaan, apalagi akhir pekan karena itu waktunya dia untuk family time atau dengan rekan-rekan Sean yang lainnya, tapi Anyelir juga ingin melihat putrinya terus bisa gembira seperti itu.


"Okey, tapi Om Tampan kemarin bilang kalau mau maen kesana kapan aja boleh kok, kan Naya pacarnya Om Tampan sekarang." Celetuk Kanaya yang membuat Anyelir hanya bisa geleng kepala saja, karena Kanaya memang anak yang rekaman otaknya sangat bagus, apa yang membuat dirinya terkesan akan selalu dia ingat.


"Aish.. Kamu ini, anak kecil nggak boleh pacar-pacaran nak." Anyelir pun bingung harus menjelaskan bagaimana, karena anak seumuran dia belum paham arti pacar yang sebenarnya.


"Kata Om Tampan boleh kok, asalkan pacaran sama dia aja, sama yang lain jangan." Dan racun Sean seolah sudah benar-benar masuk kedalam pikiran putrinya.


"Ahaha... aduhai, putriku sudah dewasa sekarang, sini Bunda peluk dulu!" Dan wajah imut putrinya yang seperti inilah yang selalu bisa menghibur dirinya disaat rasa sedih melanda.


"KANAYA, Ayah pulang nak."


Tiba-tiba terdengar suara Kalandra dari belakang tubuh mereka, dia baru saja pulang setelah malam sudah semakin larut.


"Bunda, Naya mau bobok sekarang, tolong matikan lampu dan tutup pintunya." Kanaya tidak seperti biasanya yang begitu heboh saat bertemu dengan ayahnya, dia malah memilih menarik selimut tebalnya saat Ayahnya datang.


"Hah?" Anyelir pun heran, ternyata kemarahan putrinya masih berlanjut dengan Ayahnya sampai sekarang.


"Hei.. Putri ayah kenapa nih? Ayah datang kok malah cemberut begini, Ayah kangen sama kamu nak." Kalandra langsung ingin memeluk Kanaya, tapi putrinya langsung menghindar dan memilih memeluk boneka-boneka pemberian dari Sean.

__ADS_1


"Ayah bau belum mandi, sekarang sudah malam Naya mau bobok aja." Bahkan Kanaya seolah tidak mau melihat wajah Ayahnya, semakin hari usianya semakin bertambah, dia sudah tahu apa itu arti dari sebuah Janji dan kini Kalandra sudah mengingkarinya.


"Kok gitu, tadi masih asyik mainan boneka, nggak mau Ayah temenin dulu, wah.. Bonekanya baru, bagus banget, dibeliin sama Bunda ya?" Rayu Kalandra sambil ikut baring disamping tubuh putrinya.


"Nggak, sama Om Tampan." Jawab Kanaya dengan jujur.


"Om Tampan siapa!" Kalandra sontak langsung bangun dan melirik ke arah Anyelir.


"Ayah tidak perlu tahu, Naya mau bobok sekarang, Ayah sama Bunda istirahat saja sana!" Kanaya benar-benar masih kesal dengan Ayahnya, dia yang mengajarkan apa itu Janji tapi dia juga yang mengajarkan apa itu ingkar janji.


"Kanaya, Om Tampan itu siapa nak, jangan bermain dengan orang asing, ingat pesan Ayah, mengerti Kanaya!" Ucap Kalandra yang langsung khawatir, bahkan nada suaranya tanpa sadar sudah meninggi.


"Biarkan dia tidur, ini sudah malam, jangan teriak-teriak!" Ucap Anyelir yang hanya bisa menghela nafas panjangnya, sebenarnya bukan hanya Kanaya yang malas melihat Kalandra, tapi dirinya pun sama.


"Anyelir, kamu bawa pergi main kemana anak ini, dan siapa yang dia sebut dengan Om Tampan itu, hah!" Dia menarik lengan Anyelir ke sudut ruangan di kamar putri mereka itu.


"SEAN!" Jawab Anyelir sambil menghempaskan lengannya sendiri, karena tangan Kalandra mulai mencengkeramnya dengan erat.


"ANYELIR, kamu benar-benar ya!" Kalandra semakin kesal karena akhir-akhir ini Anyelir sering berontak dengannya dan mulai berani membantah ucapannya.


Anyelir langsung menarik lengan suaminya dan membawanya keluar dari kamar putrinya agar tidak menggangu jam istirahat Kanaya.


"Anyelir, apa telingamu sudah rusak, kenapa kamu membiarkan Kanaya bertemu dengan pria itu, hah!" Saat mereka sudah diluar kamar, Kalandra langsung berkacak pinggang, karena dia memang tidak suka, saat mendengar nama Sean disebut oleh istrinya, apalagi dibangga-banggakan oleh putrinya, seolah harga dirinya terinjak-injak.


"Dia menghibur anakmu!" Jawab Anyelir dengan tatapan kesalnya.


Bukan karena membenci suaminya, tapi karena membenci dirinya sendiri yang masih tetap menyayangi pria itu setelah tau kebusukan Kalandra dibelakangnya.


"Menghibur apa maksudmu, atau kamu yang sengaja menyuruhnya datang, kamu mau coba-coba bermain dengan dia dibelakangku bukan!" Kalandra benar-benar terlihat emosi, bahkan wajahnya terlihat memerah, dia begitu tidak terima saat ada pria lain disekitar istrinya, apalagi Sean berhasil dekat dengan Kanaya.


"LEPAS!" Anyelir kembali berontak saat Kalandra ingin menyudutkan dia ke dinding rumah mereka.


"ANYELIR, kamu berani menaikkan suaramu didepanku sekarang!" Teriak Kalandra yang saat dia semakin dilawan akan semakin menggila.

__ADS_1


"Kalau iya emang kenapa?" Jawab Anyelir tanpa rasa takut sedikitpun.


"Hei, apa kamu sengaja mau minta hukuman dariku lagi, hah?" Dia mulai menarik baju Anyelir dan ingin mengeluarkan jurus andalannya.


"Bukan aku yang bermain dengan Sean dibelakang kamu, tapi kamu yang bermain hati dengan Jenny, DIBELAKANGKU!" Anyelir menjawabnya balik dengan penuh penekanan dan langsung mendorong tubuh suaminya, karena jika suaminya sudah menyentuh aset-aset miliknya, dia pasti akan luluh dan membiarkan suaminya itu bercocok tanam sesuka hatinya.


"Cih... ngomong apa kamu ini!" Kalandra langsung melengos, saat kedoknya mulai tercium oleh istri sahnya.


"Mobilmu kemarin aku tinggal di Bandara, kamu cek saja besok kesana, kalau masih ada ya syukur, kalau sudah hilang ya ikhlaskan saja!" Ucap Anyelir yang sengaja menyindir suaminya dan mempertegas bahwa dia sudah melihat kejadian saat itu.


"ANYELIR!" Dia kembali menaikkan suaranya untuk menutupi segala kesalahannya.


"Kenapa? Apa kamu ingin bilang bahwa kamu baru saja pulang jalan-jalan dengan Jenny?" Sindir Anyelir dengan senyum kecutnya.


"Tahu apa kamu, hah!" Dia kembali menyangkalnya, sampai titik terakhir.


"Aku sudah tahu semuanya, bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu memeluk dan mencium Jenny didepan umum, tanpa ada rasa malu sedikitpun!" Air mata Anyelir sebenarnya sudah ingin keluar, namun sebisa mungkin dia terus menahannya, walau kenyataannya dadanya harus kembali terasa sesak akibat perbuatan suaminya.


"Itu bukan urusanmu!" Ucap Kalandra sambil membuang arah pandangannya, dia sunggih tidak menyangka jika istrinya akan tahu secepat ini.


"Ceraikan aku dulu, baru itu semua bukan lagi menjadi urusanku!" Ucap Anyelir yang membuat kemarahan Kalandra seolah meradang.


"Tutup mulutmu Anyelir!" Dia langsung mencengkeran dagu istrinya, entah mengapa dia begitu tidak terima saat Anyelir kembali meminta cerai darinya.


Nggak tau lagi mau apa, sabar menyakitkan, diam menyiksa dan bicara juga percuma.


"Okey, akan aku tutup rapat-rapat semua aibmu, tapi lepaskan aku, biarkan aku istirahat dulu." Anyelir bukannya takut melawan Kalandra, dia hanya malas saja bergaduh dengan suaminya saat malam-malam begini.


"Anyelir, aku belum selesai bicara!" Teriak Kalandra kembali yang masih menahan Anyelir.


Dan kamu tidak akan tahu bagaimana rasanya menahan sepi dalam hangatnya menahan rindu.


"Mau bicara apa lagi, apa kamu mau pamer denganku tentang kemesraan kamu dengan Jenny kemarin dibelakangku, cukup Kalandra! Aku sudah muak sejak aku melihat semua kelakuan busuk kalian berdua!" Jerit Anyelir dengan semua lukanya dari hatinya.

__ADS_1


Saat ini Anyelir tidak memikirkan apapun, dia hanya ingin sekedar meluapkan segala unek-uneknya, sekaligus ingin tahu seberapa jauh kedekatan suaminya dengan kisah masa lalunya.


To Be Continue...


__ADS_2