
Sebelum mereka beraksi untuk mencari info tentang Jenny dan lelakinya, Adinda lebih dulu membawa mobilnya menuju ke sebuah Mall terdekat dari rumah si Ikan Bule.
"Ngapain kita ke Mall Din, kalau mau shoping besok aja, kita intai dulu si Jenny, aku takut waktunya nggak cukup nanti." Ucap Anyelir yang seolah sudah tidak sabar ingin beraksi.
"Sabar dong Anye, kalau mau berburu itu harus pakai senjata juga kan, kita perlu persiapan dulu ini." Jawab Adinda sambil memarkirkan mobilnya.
"Persiapan apa sih?" Tanya Anyelir yang masih belum paham.
"Bukannya kamu mau menjalankan misimu untuk mendekati si Bule itu?" Ucap Adinda sambil terus mengajak mereka masuk kedalam Mall.
"Nggak sekarang juga, aku hanya ingin memastikan dulu, apakah mereka benar-benar punya hubungan khusus atau tidak."
"Jangan buang-buang waktu Anyelir, apa bukti dari kami kurang cukup untuk membuktikan itu semua?" Alenka langsung ikut bersuara.
"Cukup sih, tapi aku---" Anyelir menggantungkan ucapannya sendiri.
"Sudahlah, begitu ada waktu, langsung pepet aja itu si Bule, nggak usah banyak cang cing cong, emang kamu nggak bosan apa hidup selalu dalam tekanan Kalandra, kalau gue sih ogah, pengen cepet-cepet keluar dari rumah Neraka itu, diluar sana masih banyak pria yang mengagumi kamu dan menyiapkan surga dunia untukmu, intinya percaya saja." Adinda langsung menjadi penasehat umum seketika.
"Tenang aja, aku bukan lagi Anyelir yang masih labil, dulu aku memilih diam karena aku pikir Jenny benar-benar cacat dan tersiksa karena kejadian itu, aku benar-benar kasihan dan tidak tega, disaat aku bisa tertawa dan menikmati hidup, dia hanya bisa meratapi nasipnya." Memang itulah sebenarnya alasan utama dia bertahan, selain adanya Kanaya juga pastinya, Anyelir seolah hanya ingin menebus dosa-dosanya dengan ikut menanggung luka.
"Cih, tapi kenyataannya kamu yang dikibulin." Ledek Adinda sambil tersenyum miring.
"Tak apa, bukan cuma aku saja, Kalandra pun sama, bahkan dia dikibulin habis-habisan oleh Jenny, entah apa tujuan wanita itu, kenapa dia sampai bisa menjadi jahat sekali." Umpat Anyelir yang tidak habis pikir.
"Aku pun heran, entah titisan dari mana dia, dulu aku sempat prihatin karena keadaan ekonominya yang sulit, tapi ternyata dia seperti manusia rubah yang mengerikan, bahkan mempermainkan dua pria dalam waktu yang sama." Adinda begitu terkejut dengan perubahan Jenny saat ini, padahal dia baru tidak mendengar kabarnya dalam beberapa tahun ini saja.
"Sungguh kejam itu si Buaya Betina." Alenka pun sempat tidak percaya, namun yang namanya sifat manusia memang susah untuk ditebak, jadi jangan pernah melihat seeorang hanya dari cover nya saja.
"Sudahlah, tapi setidaknya aku lega, karena dia selamat tanpa cacat, jadi aku tidak lagi merasa bersalah tentang hal ini." Itu juga salah satu alasan dia untuk bangkit dari keterpurukannya.
__ADS_1
"Kalau begitu lakukan tugasmu, dan jika Kalandra masih tidak percaya dan menindasmu, cepat tinggalkan dia dan lupakan dia dalam hidupmu, mengerti!" Adinda seolah langsung mengultimatum dirinya.
"Nggak gitu juga kali gaes, Kalandra kan sebenarnya juga korban." Ucap Anyelir yang seolah membela suaminya.
"Cih... disaat seperti ini kamu masih saja mau membelanya? heran deh gue!" Umpat Adinda yang gemas sendiri jadinya, ingin sekali rasanya dia membenturkan kepala sahabatnya itu ke tembok agar dia hilang ingatan dan melupakan Kalandra, namun itu tidak mungkin dia lakukan, karena dia tidak mau mencelakai sahabat yang sudah seperti saudara kandung sendiri.
"Iya, kayak nggak ada pria lain aja, jangan bilang kamu begini karena alasan masih cinta?" Alenka langsung menjelingkan kedua matanya ke arah Anyelir, sebenarnya tanpa dia tanya sekalipun, Alenka sudah tau jawabannya.
"Sudahlah, untuk sementara jangan bahas itu dulu, kita mau ngapain di salon ini?" Tanya Anyelir saat langkah mereka terhenti disebuah salon kecantikan terbesar di Mall itu.
"Mbak, tolong lakukan perawatan terbaik untuk sahabat saya yang satu ini." Adinda langsung memanggil si Owner dari salon itu.
"Siap Mbak, mau perawatan apa saja?" Tanya Owner salon itu dengan ramah.
"Perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi karena waktu kami tidak banyak, jadi tutup dulu salonmu ini, kerahkan semua tenaga kerjamu untuk memberikan perawatan kepada sahabatku, nanti kami bayar tiga kali lipat, okey?" Kalau hanya masalah uang mereka bertiga tidak pernah ada yang pelit, apalagi saat ini mereka punya gaji sendiri dari pekerjaannya.
Karena jam-jam segitu Mall memang masih sepi, jadi dengan senang hati pemilik salon itu langsung menerima tawaran dari Adinda, apalagi bayarannya tiga kali lipat pikirnya.
Saat Anyelir sedang menjalankan perawatan, Adinda dan Alenka pergi mencari dress terbaik untuk Anyelir gunakan nantinya.
Karena memang Anyelir sudah cantik, jadi pelayan salon itu tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuat Anyelir terlihat sempurna, apalagi ditangani oleh pelayan-pelayan salon yang handal.
"Wow, kamu luar biasa Anyelir." Puji Adinda dan Alenka secara bersamaan, karena Anyelir memang terlihat sempurna setelahnya, apalagi dengan dress yang modis dan elegan, benar-benar membuat kecantikan wajahnya terpancar.
"Aku rasa orang diluar sana tidak akan ada yang percaya kalau kamu sudah punya anak satu, ya kan?" Alenka kagum juga dengan bentuk tubuh sahabatnya walau sudah turun mesin satu kali.
"Kalian ini bisa aja, namanya juga pakai duit, semua pasti bisa berubah dalam sekejab mata." Jawab Anyelir yang malah jadi malu sendiri.
"Mungkin Jenny mendekati dua pria itu juga hanya karena harta, dia dulu kan dari keluarga yang ekonominya sulit, tapi sekarang gayanya terlihat elit." Alenka mengingat saat mereka masih satu kelas dulu.
__ADS_1
"Nggak akan ada habisnya kalau ngomongin kebusukan orang, lebih baik kita kasih pelajaran yang berharga buat mereka!" Umpat Anyelir yang sudah siap melakukan aksinya.
"Cuss... Berangkat!" Teriak Adinda dan Alenka dengan semangat.
"Aku sebenarnya sedikit takut loh gaes, kalau sampai ketahuan." Ucap Anyelir dengan jujur.
"Dibuat santai aja, anggap saja hari ini kamu masih lajang, keluarkan pesona mu yang sudah lama hilang itu!" Adinda langsung memberikan suntikan semangat, dia tahu ini tidak mudah, tapi setidaknya kia sudah mencoba, masalah hasilnya kita serahkan saja dengan sang Pencipta Alam Semesta.
Akhirnya mobil mereka sudah menjauh dari Mall dan tidak perlu menempuh jarak yang jauh dari sana, mereka sudah bisa melihat dengan jelas mobil pria itu yang berjalan masih perlahan.
"Okey, Kanaya maafkan Bunda ya nak!" Anyelir langsung mengingat putri semata wayangnya.
"Dimaafkan Bunda, hehe!" Celetuk Alenka yang langsung menirukan suara Kanaya.
"Kamu bukan Kanaya!" Ledek Anyelir sambil menyentil telinga Alenka.
"Pokoknya hari ini kamu harus semangat godain laki orang!" Celetuk Adinda dengan harapan yang tidak muluk-muluk walau gajinya sudah setumpuk.
"Dosa nggak ya?" Ucap Anyelir yang sebenarnya tidak tegaan orangnya.
"Dosanya biar ditanggung si Buaya Betina itu, dia kan yang memulai sandiwara ini duluan." Alenka tidak ingin semangat sahabatnya kendor, jadi dia mengatakan hal seperti itu.
"Okey deh, nanti sisanya ditanggung kita bertiga ya?" Ucap Anyelir selanjutnya.
"Tenang saja, masih ada lebaran tahun berikutnya, bisa maaf-maafan lagi ya kan, hehe!"
Adinda kembali membuat lelucon, agar obrolan mereka tidak terkesan menegangkan, semua mereka lakukan demi kebaikan Anyelir dan secara langsung membantu Kalandra, agar dia tidak terlalu lama ditipu daya oleh wanita rubah bernama Jenny.
To Be Continue...
__ADS_1