Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
45.Rencana Baru


__ADS_3

Adinda dan Alenka langsung melotot kearah Anyelir, dia tidak habis pikir dengan sahabatnya itu, entah terbuat dari apa hati Anyelir.


"Pokoknya kami tidak setuju, jika kamu hanya diam saja dengan kejadian ini, Anyelir kamu berhak bahagia dan lepas dari belenggu masa lalumu tau nggak!" Adinda seolah langsung naik darah.


"Nggak gitu juga, cuma nggak seru dong kalau si Ikan Pausku hanya melihat di Video, nanti dikira setingan lagi, jadi kita harus mengatur rencana agar dia bisa memergoki buaya betina itu secara langsung." Jawab Anyelir dengan segala rencana barunya.


"Gue nggak nyangka loh sama si Buaya Betina itu, aku kira dia masih Lugu, ternyata dia Suhu." Umpat Adinda sambil geleng kepala, siapa yang percaya, apalagi Jenny sosok pendiam sedari dulu, tidak pernah terlihat neko-neko jika dengan pria, namun sekarang sudah jauh berbeda.


"Jaman sudah berubah Bro, orang pendiam memang banyak rahasianya, bisa jadi dia pendiam saat di sekolah itu karena banyak alasan dan tekanan." Alenka mencoba menebaknya saja.


"Selain pintar dalam study, ternyata dia juga pintar cari strategi pencairan dana." Adinda cukup dibuat terkejut dengan segala tentang Jenny.


"Hidup di kota itu keras gaes, tak ada uang kita tidak bisa bersenang-senang, haha!" Alenka langsung terkekeh karenanya.


"Gue jadi punya ide." Anyelir langsung merapatkan tubuhnya dengan kedua sahabatnya itu.


"Apa itu?" Tanya Adinda penasaran.


"Siapa diantara kalian yang masih Jomblo?" Tanya Anyelir.


"Kenapa emangnya?" Alenka pun ikut mengerutkan kedua alisnya.


"Kita harus cari tahu informasi hubungan mereka dengan pasti, jadi kita harus terjun langsung dengan si Pemeran pria." Ucap Anyelir yang tidak ingin berita ini tercium orang lain, dan malah menjadikan Jenny lepas dari pantauan mereka.


"Dih Ogah gue bekas si buaya betina itu!" Jawab Adinda dengan cepatjya, dia seolah geli sendiri saat mengingatnya.


"Ayolah Din, bantuin gue." Pinta Anyelir.


"Nggak mau gue kalau soal itu, soalnya gue mau dijodohin sama Ustad, masak iya calonnya Ustad tapi godain laki orang, Alenka aja tuh!" Tolak Adinda dengan cepat.


"Apalagi gue, sekarang gue lagi mulai pedekate kembali dengan mantan terindah jaman SMA, mana berani gue macem-macem sama laki orang, bisa sia-sia perjuangan gue nanti!" Begitupun dengan Alenka yang langsung menolaknya.


"Aish... kalian nggak ada yang mau bantuin gue, gitu?"

__ADS_1


"Kenapa nggak elu aja?" Celetuk Adinda kembali.


"Gue sudah menikah gaes, punya anak satu lagi, yang bener aja kalian?"


"Kenapa emangnya, laki Elu juga main dibelakang, lagian Elu juga deketin si Ikan Bule itu nggak pake hati dan cuma mau cari bukti, pandai-pandailah jadi orang!" Nasehat Alenka seperti seorang suhu.


"Tapi---"


Dia sendiri takut melakukannya, karena Kalandra pasti akan selalu mengawasinya.


"Kita pasti akan bantuin Elu, tapi bukan kita yang maju." Jawab Adinda dengan yakin.


"Gue sutradara disini." Ucap Anyelir yang kembali dibuat pusing oleh rencananya sendiri.


"Kenapa emangnya, menjadi sutradara sekaligus pemeran utama bukannya bagus, kamu bisa totalitas dalam membasmi hama Pelakor." Jawab Alenka dengan asal saja.


"Mantep tuh!" Adinda langsung mengacungkan jempol dihadapan Alenka.


"Kenapa, udah bucin itu laki elu, gaya amat!" Ejek Adinda yang seolah tidak percaya.


"Entahlah, aku pun tak tahu, dia seperti orang posesif banget sama gue, semenjak gue kerja dan punya asisten bujang bernama Sean, dia benar-benar marah karena itu." Ucap Anyelir yang belum cerita banyak soal Sean kepada kedua sahabatnya.


"Baguslah, tarik ulur saja suamimu itu, kalau perlu ulur sampai panjang, setelah dia lena, hentakkan sekeras mungkin agar dia jatuh tersungkur dibawah kedua kakimu!" Ucap Adinda dengan mantap.


"Ngeri gaes?" Alenka menatap kagum dengan ide Adinda.


"Biarkan saja, salah siapa dia bertindak semena-mena." Adinda bahkan ikut gemas sendiri, andai dia punya jurus ilmu bela diri,mungkin sudah dia patahkan tulang Kalandra saat ini.


"Begini saja, biar kami berdua yang atur semuanya, kamu hanya perlu bersiap dengan segala kemungkinan, okey!" Adinda dan Alenka akan selalu ada dibelakang layar jika sudah menyangkut tentang Anyelir.


"Aku serahkan serial drama hidayah ini kepada kalian berdua." Anyelir langsung memeluk kedua sahabatnya.


"Asiap Besti." Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama.

__ADS_1


"Udah mateng belum masakan kalian? Aku belum sarapan dari tadi."


Karena suara tawa mereka bertiga menggelegar sampai lantai atas, Kalandra kembali turun dan berjalan ke arah dapur.


Boro-boro masak, bahkan kami cuma menggosip saja tadi.


"Bahannya belum komplit, boleh nggak kalau aku belanja sama mereka berdua." Anyelir langsung ingin memulai aksinya, mumpung kedua sahabatnya punya banyak waktu hari ini.


"NGGAK! suruh bibi aja yang pergi!" Tolak Kalandra dengan cepat.


"Cie.. Udah posesif nie ye, cemburu ya kalau wanitanya keluar rumah, udah mulai jadi Bucin ini ceritanya, dulu nolak-nolak, sekarang sudah cinta mati ya." Ledek Adinda yang tahu betul sifat keras Kalandra.


"Apaan sih kalian, apa itu Bucin!" Ucap Kalandra sambil melengos karena merasa diejek.


"Kamulah! sampai-sampai Istri mau belanja kebutuhan dapur saja dilarang-larang, takut ya kecantol sama pria lain?" Alenka pun ikut meledeknya, agar Kalandra malu.


"Haish... Kalian ini, pergilah sana, satu jam cukup kan!"


Benar saja, orang yang menjunjung egonya pantang diejek dan direndahkan begitu saja, apalagi mereka dulu juga adalah temannya yang tahu betul bagaimana kisah mereka jama SMA.


"Pelit amat! Satu jam itu buat nongkrong di WC juga nggak cukup!" Bantah Adinda, karena rumah pria Jenny cukup jauh dari sana pikirnya.


"Pokoknya saat Kanaya pulang nanti, kalian sudah harus ada di rumah, kalau tidak mau tak usah pergi!"


Yes, akhirnya aku bisa keluar dari rumah ini, kedua sahabatku memang sangat luar biasa, tanpa mereka aku tidak tahu akan seperti apa jadinya, terima kasih sahabat, kalian berdua adalah segalanya bagiku.


"Iya, aku tahu." Jawab Anyelir yang tersenyum sambil bersyukur didalam hati.


Kalau bukan karena kedatangan Adinda dan Alenka, sudah pasti Kalandra tidak akan mengizinkan Anyelir pergi, karena Kalandra tidak ingin mereka tahu kehidupan keluarganya, padahal saat ini tidak ada satupun masalah yang sebenarnya disembunyikan oleh Anyelir kepada kedua sahabatnya.


Dia tidak ingin perangainya dalam misi balas dendam itu tercium oleh orang lain, bahkan kedua orang tuanya dan kedua mertuanya saja tidak ada yang tahu, mereka berfikir rumah tangga putra-putrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Hiduplah seperti Bulu Ketiak, walau dia hidup dalam segala tekanan dan himpitan, bahkan sampai dihilangkan, namun dia akan tetap kembali tumbuh subur dengan lebatnya.

__ADS_1


__ADS_2