
Amarah pada diri seseorang itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, dan meladeni orang yang sedang marah adalah hal yang sia-sia, karena hanya akan semakin memperumit sebuah masalah.
Oleh karena itu Adinda dan Alenka memilih pergi meninggalkan Kalandra di kursi ruang tunggu di depan ruang Unit Gawat Darurat.
"Orang kalau pendiam ternyata marahnya ngeri ya gaes?" Adinda langsung bergidik ngeri sendiri saat mengingat wajah Kalandra tadi.
"Hu um, sampai ninju tembok segala, nggak sayang apa sama tangannya, sampai berdarah loh tadi." Alenka pun ikut mengusap lengannya yang sudah meremang.
"Iya, aku pun sampai terkejut, kalau bermain tinju diatas ring dapat duit, lah ini main tinju sama tembok, remuk-remuk dah tu jarinya!" Celoteh Adinda di sepanjang lorong rumah sakit.
"Sudahlah, biarkan saja dia berperang dengan amarahnya, kita pergi ke ruang VVIP saja, siapa tahu Anyelir sudah siuman kan?" Ajak Alenka yang langsung mempercepat langkahnya.
"Iya, daripada kita ikut kena imbasnya ya kan, rugi bandar gue!" Adinda pun langsung menyetujuinya.
Mereka berdua bukannya tidak mau perduli dengan Jenny dan Kalandra, karena keduanya juga adalah teman satu kelas mereka, namun saat ini Anyelir juga pasti sangat membutuhkan mereka berdua.
Ceklek!
Saat Adinda dan Alenka masuk kedalam ruangan Anyelir mereka semua terkejut, ternyata sahabatnya itu sudah sadar. Namun tatapannya kosong, dia hanya terdiam dan menatap langit-langit di ruangan itu.
"Anye? kamu sudah sadar?" Adinda dan Alenka langsung berlari mendekat ke arah ranjang rumah sakit.
"Are you okey, Anye? mana yang sakit, apa kamu perlu sesuatu?" Alenka langsung memeriksa beberapa bagian tubuh Anyelir, adakah luka-luka serius dibagian tubuh sahabatnya.
"Bagaimana kondisi Jenny, apa dia juga sudah sadar?" Tanya Anyelir dengan suaranya yang sedikit gemetar.
"Emm... kata dokter kondisi Jenny sedikit parah, ada beberapa bagian tubuhnya yang terkena benturan keras, jadi masih dalam penanganan Dokter." Dan Adinda langsung nyeletuk begitu saja tentang kondisi Jenny yang sesungguhnya.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Tatapan Anyelir begitu terlihat sendu, kedua matanya bahkan sudah terlihat menggenang dengan air mata.
"Entahlah, kita doakan saja, semoga dia tidak kenapa-kenapa." Alenka mencoba menenangkan keadaan, agar sahabatnya tidak panik.
"Papa dan Mama gue mana? apa mereka tidak datang?" Deru nafas Anyelir tiba-tiba memburu.
"Mereka masih dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi, karena tadi pagi katanya orang tua kamu sedang berpergian keluar daerah, jadi agak lama sampainya." Adinda mengerutkan kedua alisnya, dia sedikit heran dengan reaksi perubahan dari mimik wajah Anyelir.
"Coba kamu hubungi kedua orang tuaku, sampai mana mereka?" Dia bahkan langsung terduduk, bahkan seolah tidak memperdulikan satu tangannya yang masih di perban.
__ADS_1
"Anye, lebih baik tidak perlu, aku takut kedua orang tuamu panik nantinya dan bisa membahayakan perjalanan mereka, sabar ya?" Alenka langsung mengusap bahu sahabatnya, agar dia tidak terlalu risau.
"Suruh mereka berdua cepat datang!" Bahkan kini tangannya mulai ikut gemetaran.
"Anye, kalau kamu butuh sesuatu ada kami berdua, yang akan selalu siap membantumu, apa perlu aku panggilkan dokter saja?" Alenka takut jika terjadi apa-apa dengan Anyelir.
"Aku mau Papa sama Mama, atau bawa aku pulang saja, aku mau pulang!" Pinta Anyelir kembali.
"Anyelir, tenang dulu, sebenarnya apa yang terjadi?"
"AKU MAU PULANG!" Teriak Anyelir semakin menjadi-jadi.
"Alenka, panggil dokter kemari, cepat!" Adinda mencoba menahan tubuh Anyelir yang tiba-tiba menjadi panik, bahkan dia menarik selang infusnya, sampai lengan bekas infus itu mengeluarkan darah.
"Okey!" Alenka langsung ikut panik dan ingin berlari memanggil dokter, tapi saat akan membuka pintu, kedua orang tua Anyelir muncul disana.
"Ada apa ini?"
Kedua orang tua Anyelir sampai di ruangan itu dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan, mereka sempat mendengar suara teriakan dari luar juga tadi dan membuat mereka merasa tambah gelisah tak menentu.
"PAPA.. MAMA! aku mau pulang!" Jerit Anyelir begitu melihat kedua orang tuanya.
"Aku mau pulang Pa, Ma, aku nggak mau disini." Rengek Anyelir yang seolah memohon kepada kedua orang tuanya.
"Iya, kalau udah sembuh boleh pulang ya?" Mama Anyelir mencoba memberikan pengertian, tidak biasanya dia melihat putrinya seolah ketakutan seperti ini, karena bukan pertama kalinya Anyelir dirawat di rumah sakit, dulu sewaktu kecil bahkan dia pernah sakit sampai satu minggu menginap di rumah sakit, tapi tidak sehisteris seperti sekarang ini pikirnya.
"Nggak mau, aku mau pergi ke rumah Oma saja." Ucap Anyelir yang membuat kedua orang tuanya terheran-heran.
"Oma?" Tanya Ayah Anyelir yang mencoba memastikan kembali.
"Aku mau lanjut sekolah disana aja." Ucap Anyelir tiba-tiba.
"Oma kamu di luar negri nak, apa kamu lupa?" Tanya Ibu Anyelir kembali, karena Oma mereka sudah bermukim lama disana, Kakek Anyelir asli orang sana, itu kenapa wajah Anyelir blasteran.
"Aku mau kesana, aku nggak mau disini, kirim aku ke luar negri Pa, tolong Pa!" Pinta Anyelir dengan wajah sendunya.
"Alenka, Adinda, sebenarnya ada apa ini, kenapa Anyelir seperti orang ketakutan begini?" Mama Anyelir langsung bangkit dan menarik tangan Adinda dan Alenka ke sudut ruangan.
__ADS_1
"Entahlah Tante, mungkin dia trauma dengan kejadian ini." Jawab Adinda mencoba menyimpulkan sendiri.
"Kalian berdua dimana saat hal itu terjadi, biasanya kalian bertiga tidak terpisahkan bukan?" Walaupun Mama Anyelir sibuk, namun dia tidak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai ibu yang baik bagi anak-anaknya.
"Maaf tante, saat itu pun aku sudah meminta Anyelir untuk menunggu kami, karena kami sedang piket kelas, tapi mereka ingin berbicara berdua saja katanya." Adinda pun sangat menyayangkan akan hal itu.
"Siapa nama teman kalian yang satunya?" Dia belum menerima info yang jelas sepenuhnya, begitu mendapatkan kabar Anyelir masuk rumah sakit dia dan suaminya langsung bergegas pulang.
"Jenny Tante."
"Apa kondisinya begitu parah?" Mama Anyelir punya prasangka lain setelahnya.
"Parah banget Tante, Dokternya sendiri yang bilang kalau kondisi Jenny belum bisa dipastikan, ada beberapa bagian yang terkena benturan keras dan masih dalam penanganan dokter."
"Apa dia tahu?"
"Maaf Tante, tadi kami memberitahukannya, kami tidak tahu kalau dia akan jadi histeris seperti sekarang." Adinda dan Alenka langsung menyesalinya.
Duar!
Mama Anyelir bahkan sampai menyandarkan tubuhnya ke dinding ruangan itu, walau belum pasti, namun Mama Anyelir menduga bahwa ketakutan dari diri Anyelir berasal dari kondisi Jenny yang terluka parah saat ini.
"Permisi, kami mau melakukan pengecekan kepada pasien."
Saat Mama Anyelir masih berperang batin, tiba-tiba ada Dokter jaga yang masuk dan membuyarkan lamunan Mama Anyelir.
"NGGAK MAU, AKU MAU PULANG!" Teriak Anyelir kembali histeris melihat seorang dokter mendekat kearahnya.
"Dokter bagaimana ini?" Papa Anyelir ikut bingung sendiri jadinya.
"Mungkin dia masih trauma, biar saya berikan suntikan obat penenang." Jawab Dokter itu dengan sigap.
"Baik Dokter."
Dokter itu langsung memberikan tindakan, karena Anyelir terlihat panik saat itu, entah apa yang dia pikirkan, entah apa yang dia bayangkan, kenapa dia jadi berubah menjadi histeris seperti itu.
Hadapi masalahmu, jangan pernah lari dari masalah, orang yang lari dari masalah biasanya akan terus lari dari masalah yang lain.
__ADS_1
Thats why they always fail, don't be like that one.