Ketika Aku Memilih Diam

Ketika Aku Memilih Diam
44.Kukira Lugu, ternyata Suhu.


__ADS_3

Jangan pernah menyembunyikan suatu kebohongan, karena kebenaran akan selalu menemukan jalannya, seperti bayangan yang akan selalu menemukan pemiliknya disaat Matahari beranjak pergi.


Dan dengan bantuan dari beberapa orang ahli dalam bidangnya, semua informasi tentang pemilik plat mobil yang Anyelir berikan kepada Adinda, kini sudah berada ditangan mereka.


"Permisi, Anyelir kami datang!" Mereka berdua bahkan meninggalkan pekerjaan mereka demi Anyelir, karena mereka ingin sahabatnya itu keluar dari belenggu kesedihannya setelah beberapa tahun lamanya.


"Ada apa? ngapain jam segini kalian datang?" Ternyata Kalandra yang membukakan pintu itu, karena dia kebetulan sedang ada di lantai bawah.


"Eh... Kalandra ternyata, Anyelirnya ada?" Kedua wanita ini langsung tersenyum dan pura-pura tidak tahu tentang kondisi rumah tangga mereka, karena memang mereka semua teman satu kelas dulu.


"Ada perlu apa kalian kemari?" Tanya Kalandra dengan tampang datarnya.


"Kami ingin ngobrol santai saja, sudah lama sekali kami nggak ketemu secara langsung karena kesibukan masing-masing." Jawab Adinda dengan santainya, padahal jauh didalam hati ingin seklai rasanya dia memukul kepala pria dihadapannya kini.


"Bukannya kalian juga bekerja, seharusnya jam segini kalian bekerja, bukan malah mau ngobrol santai bukan?" Tanya Kalandra sambil memicingkan kedua matanya.


"Perusahaan punya orang tua kami, jadi kalau aku lagi nggak mood bekerja juga nggak akan kena surat peringatan dong?" Jawab Alenka dengan sombongnya, dia bahkan tidak perduli dengan penilaian suami sahabatnya ini.


"Mentang-mentang kalian anak dari pemilik perusahaan, bukan berarti kalian bisa kerja seenaknya bukan?" Dia seolah menjadi penasehat umum sekarang.


"Terserah kami dong, bokap gue aja santai, lagian kamu juga ngapian jam segini masih ada di rumah, kenapa nggak kerja, apalagi kamu sudah jadi kepala keluarga sekarang, hayow?" Alenka kembali membalikkan pertanyaan itu kepada Kalandra.


"Aku lagi cuti kerja."


"Tumben?" Ledek Alenka seketika dengan tersenyum miring.


"Urusan aku lah, kenapa jadi kalian yang ribet." Celetuk Kalandra yang kehabisan kata-kata.


"Anyelir, where are you?" Adinda seolah sudah malas berdebat dengannya, jadi dia langsung berteriak sekencang-kencangnya memanggil Anyelir.


"Nggak usah teriak-teriak, kalian pikir rumahku ini hutan apa?" Kalandra langsung melirik tajam ke arah mereka.


"Habisnya ada tamu bukannya disuruh masuk malah diceramahin, awas dulu kami mau lewat." Alenka merasa kesal sendiri, akhirnya dia menggeser tubuh Kalandra dan nyelonong masuk saja.


"Adinda, Alenka? kapan kalian datang?" Dan saat dia mendengar suara jeritan Adinda, dia langsung turun dari lantai atas.

__ADS_1


"Satu jam yang lalu, tapi ditahan sama laki elu tuh!" Celetuk Adinda dengan kesal.


"Jangan fitnah kalian, satu jam dari mananya, orang baru aja datang kok, kalian ini dari dulu sampai sekarang nggak ada bedanya." Umpat Kalandra yang langsung merasa terdzolimi.


"Bodo amat, itu namanya kami konsisten dong." Jawab Adinda dengan masa bodoh.


"Awas sana Kala, kami mau ngobrol soal wanita, ngapain kamu ikut nimbrung disini?" Alenka lamgsung melotot ke arah Kalandra saat dia membuntuti mereka.


"Kalau mau ngobrol ya ngobrol aja, aku pemilik rumahnya, terserah aku dong mau duduk dimana?" Jawab Kalandra tak kalah angkuhnya.


"Aish... Bapak yang satu ini, memanglah!" Adinda fikir saat jam kerja seperti ini Kalandra tidak dirumah, namun ternyata dia ada dan membuat perbincangan mereka jadi tidak bebas.


"Anyelir aku sudah bawa resep masakan yang kamu pesan, mau langsung praktek di Dapur aja nggak?" Ucap Adinda yang langsung mendekat ke arah Anyelir.


"Resep apa?" Tanya Anyelir dengan sedikit heran.


"Yang kamu minta tadi malam, yang di telpon itu loh!" Adinda langsung mengedipkan satu matanya.


"Owh okey, kalian sudah menemukannya?" Anyelir langsung paham, dia berfikir akan memakan waktu, namun ternyata kedua sahabatnya ini bertindak sangat cepat.


"Kalian terbaik deh, yuk langsung ke Dapur aja!" Ajak Anyelir yang tidak ingin menundanya lagi, karena dia pun sangat penasaran.


"Kalian mau masak apa?" Kalandra masih saja membuntuti langkah mereka sampai di meja dapur.


"Kamu mau ngintilin kami ke Dapur juga?" Alenka langsung berkacak pinggang dihadapan Kalandra.


"Aku jadi curiga, sepertinya dulu waktu kecil kamu pasti suka nimbrung kalau teman wanitamu main masak-masakan ya kan? Atau jangan-jangan kamu juga sering main make up an dan makai rok mereka ya, jujur kamu Kala?" Ucap Adinda dengan tidak ada kata segan darinya.


"Enak saja kalian kalau bicara, sudahlah dimana-mana wanita tidak akan mau mengalah!" Dia langsung jaga image karenanya, padahal dia memang kepo dengan obrolan mereka, dia merasa takut jika Anyelir mereka bawa kabur.


"Gimana resepnya Din, apa memang benar dia kokinya?" Tanya Anyelir saat Kalandra sudah pergi darisana.


"Tepat dugaanmu, sepertinya si buaya betina itu sudah berhubungan lama dengan ikan Bule itu." Jawab Adinda yang paham dengan isyarat Anyelir.


"Owh ya?" Anyelir langsung tersenyum seolah tidak percaya jika rencana dari Tuhan memang penuh dengan sebuah kejutan.

__ADS_1


"Mungkin ini definisi dari siapa yang menyakiti akan tersakiti." Celetuk Alenka yang ikut tersenyum karenanya.


"Biar tahu rasa itu si ikan pausmu, seenak jidatnya aja mau balas dendam tanpa tahu kebenarannya." Adinda pun puas akan hasil penyelidikan dari orang kepercayaannya, walau belum mendetail, karena baru semalam mereka mencari informasi.


"Apa kalian punya bukti nyata?" Tanya Anyelir dengan semangat.


"Tentu saja, kami tidak akan pernah melepas kasus ini sampai titik terakhir." Jawab Adinda sambil mengeluarkan ponselnya.


"Iyalah, kawal sampai kepergok yang halal!" Jawab Alenka ikut menimpali dengan mantap.


"Siapa pemilik mobil itu?" Tanya Anyelir sambil memperhatikan video itu satu pelan-pelan.


"Ikan Bule." Jawab Adinda sambil pura-pura mengeluarkan bahan sayur dari kulkas.


"Lalu dalam video ini rumah siapa?" Tanya Anyelir kembali.


"Ya si Ikan Bule itulah."


"Dan yang bikin gue heran, mereka santai aja masuk kedalam perumahan mewah itu dengan berpelukan, tanpa takut nanti ada yang melihat mereka." Alenka pun sempat nggak percaya, tapi wajah Jenny benar-benar jelas terlihat disana karena tersorot lampu rumah mereka.


"Apa Ikan Paus ku tidak tahu hal ini?" Anyelir sebenarnya merasa kasihan juga, karena ternyata suaminya telah ditipu habis-habisan oleh Jenny.


"Si Ikan Bule ini tidak setiap hari berada di rumah itu, menurut informasi dia bekerja bolak-balik ke luar negri." Jelas Adinda sesuai dengan informasi yang dia dapatkan.


"Fuh... semakin menarik aja ini ceritanya." Jauh didalam lubuk hatinya, Anyelir sangat lega, karena ternyata Jenny baik-baik saja, tidak cacat, jadi perasaan bersalahnya hilang sudah.


"Mau gue kirimin videonya ke nomormu?" Tanya Adinda yang sudah tidak sabar melihat endingnya.


"JANGAN!" Tolak Anyelir seketika.


"Kenapa, kamu tidak mau menunjukkan video ini kepada si Ikan Pausmu itu? Jangan bilang setelah kamu disakiti setiap hari kamu masih punya rasa belas kasihan dengan dia!"


Alenka langsung berkacak pinggang dihadapan sahabatnya itu, dia sebenarnya tidak tega saat Anyelir menjadi sad girl selama bertahun-tahun, tapi mereka berdua pun bisa apa jika keputusan itu adalah pilihan sahabatnya.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2