
Raut wajah Kalandra saat ini sangat sulit untuk diartikan, tatapannya terus terarah lurus kedepan dengan warna mata yang sudah memerah, kedua tangannya mengepal, otot-otot dilengannya seolah ingin berontak dan keluar dari kulitnya, dia bahkan tidak mau menoleh saat Jenny berteriak memanggilnya. Kalandra hanya bisa mengumpatnya dalam hati saja.
Beribu rasa kecewa seolah menusuk relung hatiku, ketika wanita yang selama ini aku sayangi, bahkan aku bela mati-matian, hingga aku gadaikan kebahagiaan dimasa depanku hanya untuk melihat dia tersenyum dan tertawa, kini dia telah berhasil membuat aku benar-benar terluka karena kebohongannya.
"Kalandra tunggu! kita bisa bicara sebentar, aku bisa jelaskan semuanya." Jerit Jenny setelah berhasil menarik lengan Kalandra.
"Woah... ternyata jalanmu cepat juga ya, boleh aku tanya satu hal?" Kalandra hanya bisa tersenyum miring karenanya.
"Kalandra, tolong maafkan aku, kita cari tempat buat membicarakan hal ini, okey?" Bujuk Jenny dengan segala rayuan manisnya.
"Jawab dulu pertanyaanku, sejak kapan kamu bisa jalan?" Seolah rasa sedihnya saat melihat Jenny duduk di kursi roda kini terbayar dengan sebuah lelucon belaka.
"Sayang, aku begini karena aku nggak mau kehilangan kamu!" Jenny mengusap dadaa bidang Kalandra agar emosinya menurun, dia memang si paling pandai merayu pria, apalagi Kalandra, yang sudah takhluk dari jaman sekolah menengah dulu.
"Sejak kapan aku pergi meninggalkan kamu Jenny? dari kita masih dibangku sekolah, sampai saat ini, kapan aku pernah menolak jika kamu ingin bertemu denganku, hah!" Teriak Kalandra yang kini sudah tidak mempan lagi dengan perlakuan manis dari Jenny.
"Kala, aku takut kamu akan terpengaruh dengan Anyelir lalu pergi meninggalkan aku begitu saja!" Selalu saja Anyelir yang dia jadikan alasan utamanya.
"Jangan dulu kamu menyalahkan siapapun dalam masalah ini, tapi sejak kapan kamu akhirnya bisa jalan, JAWAB JENNY!" Bentak Kalandra diakhir pertanyaan.
"Se-sejak ti-tiga tahun yang lalu." Jawab Jenny yang bahkan tersentak karena bentakan dari Kalandra yang tidak seperti biasanya.
"Ahahaha... benar kata suami Bulemu itu, kamu memang luar biasa, tapi luar biasa mahir jadi seorang PENIPU!" Kalandra langsung tertawa sumbang karenanya.
"Kalandra, kamu tahu kan bagaimana Anyelir sering nekad dulu, aku pun takut kamu akan terbujuk olehnya, jadi aku juga butuh pendamping hidup, setidaknya untuk menjadi sandaran saat kamu pergi!"
Apapun akan dia jadikan alasan, karena Kalandra merupakan salah satu omzet pemasukan juga baginya, dulu saat Jenny sudah dinyatakan sembuh, Kalandra melakukan pembayaran itu sebenarnya bukan ke pihak rumah sakit, tapi masuk ke nomor rekeningnya Jenny sendiri, makanya mereka tidak pernah pindah rumah sakit karena Jenny sudah mengatur segalanya.
Dia yang sedari lulus sekolah menengah tidak pernah bekerja karena sakit, namun mampu membuatkan rumah mewah untuk orang tuanya di kampung dan juga apartement mewah miliknya sendiri dan itu adalah uang yang dia dapatkan dari hasil menipu Kalandra selama ini, bahkan gaya hidupnya yang dulu serba kekurangan kini mewah bak anak pengusaha kaya raya.
"Sudah aku bilang berapa kali Jenny, aku tidak pernah punya niatan pergi darimu, apa semua yang aku lakukan selama ini masih kurang untukmu!" Kalandra sudah berada di fase lelah, karena merasa kecewa saat pengorbanannya dibalas dengan suatu kebohongan.
"Tapi Anyelir begitu licik, kamu tahu sendirikan!" Ucap Jenny yang tidak punya alasan lain.
"Sebenarnya, bukan karena Anyelir aku bisa pergi darimu, karena bahkan aku rela menyiksanya hampir lima tahun lebih disisiku, tapi aku tetap denganmu, tapi kelakuan kamu yang seperti ini, malah bisa membuat aku menjauh darimu!" Dia seolah memberikan sebuah ancaman dengan jenny.
"Jangan Kala, tolong jangan pergi dariku!" Dia mulai ketakutan, karena sejak dia berlari meninggalkan suaminya tadi maknanya dia sudah melepas suami sahnya demi harta kekayaan Kalandra, karena dalam segi keuangan Kalandra lebih royal dengannya.
"Beri aku satu alasan, kenapa aku tidak boleh pergi darimu, sedangkan kamu sudah menikah dibelakangku!" Tantang Kalandra dengan wajah yang sudah memerah padam karena menahan amarah.
Dia merasa begitu terluka saat kepercayaannya seolah disepelekan oleh wanita yang selama ini dia anggap penting didalam hidupnya.
"Kala, sungguh aku hanya mencintaimu, dalam tiga tahun ini Ken hanya sekedar menemaniku disaat kamu tidak ada disisiku, untuk menjagaku." Dia maaih membela diri disaat titik terakhir.
"Aku akui, kamu memang hebat Jenny, bisa menyembunyikan hal sebesar ini dariku, Anyelir memang sering melakukan segala cara untuk mendekatiku, namun dia tidak licik sepertimu!"
Dan kini Kalandra baru tersadar, orang yang dia anggap buruk ternyata tidak seburuk orang yang malah dia anggap baik.
"Jangan bilang kamu sudah mencintainya, kenapa kamu sekarang membelanya, mana Kalandra yang dulu, hah!" Jenny seolah tidak terima, karena selama ini Kalandra selalu ada dipihaknya.
__ADS_1
"Kalandra yang dulu yang seperti apa yang kamu maksud? Kalandra yang rela menikah dengan wanita yang benar-benar tulus menyukainya hanya untuk misi balas dendammu? Atau Kalandra yang berhasil kamu tipu bertahun-tahun, atau bahkan Kalandra yang berhasil kamu bodoh-bodohi sampai rela melakukan apapun demi kebahagiaan kamu tanpa mengenal lelah, begitukah Jenny!" Suaranya memang masih dengan nada lembut tapi rasanya seolah menusuk relung hati yang paling dalam.
"Hiks.. Hiks.. Kala maafkan aku!" Jenny mulai mengeluarkan senjata yang selama ini selalu membuat hati Kalandra tersayat saat mendengarnya.
"Fuuh... sebenarnya, apa maksud dan tujuanmu selama ini, kenapa dulu kamu bersikeras dan membujuk aku untuk menikah dengan Anyelir, padahal sudah berulang kali aku mengungkapkan rasa sayangku denganmu, tapi kamu terus memaksaku, hah?" Kalandra merasa menjadi orang terbodoh di dunia, padahal dalam study, dia selalu menjadi nomor satu.
"Kamu tahu kan betapa jahatnya Anyelir dan kamu juga mau membantu aku untuk balas dendam kan waktu itu?" Dia mengingat semua janjinya dulu.
"Jenny, asal kamu tahu saja, aku sadar kalau kamu memang sengaja memperalatku hanya untuk balas dendam, dan aku tidak masalah, asalkan kamu bisa hidup tenang dan tidak bersedih lagi, aku akan melakukan semuanya untukmu, tapi kenapa kamu harus membohongiku san berpura-pura kamu masih cacat, padahal kamu sudah bisa berjalan hampir tiga tahun, kenapa kamu tega, bahkan kamu menikah dengan pria lain tanpa sepengetahuanku!" Disanalah titik kecewa dari seorang Kalandra.
"Kalandra, ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan!" Dia benar-benar menyesal mau ikut suaminya hari ini, kalau tidak mungkin semua tidak akan terbongkar begitu saja pikirnya.
"Apa kamu mau bilang kalau suamimu itu hanya cadangan? Lalu apa masuk diakal kalau suami cadangan bisa bertahan selama tiga tahun, bahkan kalian sampai ingin program kehamilan? jangan lagi berbohong denganku Jenny, semua akan percuma walau kamu tutup-tutupi semuanya dariku, karena aku sudah tidak bisa lagi percaya denganmu!" Ucap Kalandra penuh dengan penegasan.
Yang dulu menyuruh Kalandra menikah dengan Anyelir juga Jenny, bahkan yang menyuruh menghamilinya itu pun atas saran Jenny, sebenarnya dia juga menyuruh Kalandra untuk mengabaikan Kanaya putrinya, namun Kalandra tidak sampai hati, karena Kanaya tidak tahu apa-apa soal ini, dia hanya sebuah korban dari misi balas dendam wanitanya.
"Sayang percayalah bukan---" Jenny ingin memeluk tubuh Kalandra untuk kembali merayunya.
"Jangan lagi kamu panggil aku sayang, kalau dihatimu bukan hanya aku seorang!" Namun Kalandra langsung memundurkan langkahnya, dia seolah enggan disentuh oleh Jenny kembali.
"Bukan aku yang menginginkan program kehamilan itu!" Ucap Jenny yang memang tidak ingin hamil dalam waktu dekat ini, sebelum dia merasa puas membalas dendam, dia masih akan tetap seperti itu.
"Karena kamu tidak ingin berpisah dariku?" Tanya Kalandra dengan senyum kecutnya.
"Iya Kala, aku tidak akan pernah mau berpisah darimu!" Jawabnya dengan wajah yang pura-pura memelas.
"Dan juga darinya?" Tanya Kalandra dengan amarah yang semakin menggebu.
"Berarti maknanya kamu hanya ingin mempermainkan aku dan juga pria Bule itu?" Akhirnya otaknya bisa kembali berpikir jernih tentang wanita.
"Apa kamu benar-benar tidak punya rasa dengan Anyelir? Aku lihat kalian sayang-sayangan tadi?" Jenny kembali membalikkan ucapannya.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan, urusan kita berdua belum selesai!" Tegas Kalandra yang malah semakin kesal.
"Aku benci Anyelir, aku sangat membencinya, aku tidak akan pernah membiarkan dia bahagia, SELAMANYA!" Teriak Jenny dengan wajah penuh dengan kebencian.
Dan saat inilah Kalandra baru tersadar, bahwa dia hanya dijadikan bahan obsesi semata atas kebencian Jenny terhadap Anyelir.
"Jenny, apa kakimu sudah benar-benar sehat, apa tidak pernah kambuh atau merasa kesakitan lagi?"
Disaat amarah Jenny mulai terlihat, Kalandra langsung memegang kedua lengan Jenny dan mengamati kedua kakinya yang ternyata mulus tanpa cacat.
"Kalandra?" Jenny menatap sayu di kedua kata Kalandra.
"Tolong belikan aku air mineral di Toko depan sana." Pinta Kalandra dengan tampang yang dia buat semanis mungkin.
"Kenapa Kala, apa kamu haus, kita pergi minum ke Kafe aja yuk?" Ajak Jenny yang mengira Kalandra sudah luluh dengan rayuannya.
"Uhuk.. Aku hanya ingin air putih saja, tenggorokanku benar-benar sakit, aku sudah tidak tahan jika harus pergi ke Kafe." Ucapnya lagi dengan pura-pura tersedak sesuatu.
__ADS_1
"Okey, tunggu sebentar ya, aku belikan air mineral didepan ya." Jenny berpikir Kalandra sudah memaafkannya, dia akan melakukan apapun yang dia minta asalkan Kalandra sudi kembali dengannya.
"Lima menit, sanggupkah kamu membelikannya untukku?" Pinta Kalandra sambil melihat jam dipergelangan tangannya.
"Okey!"
Jenny langsung melepas sepatu hak tingginya dan berlari tanpa alas kaki menuju toko yang ada didepan rumah sakit itu demi Kalandra.
3
2
1
Kalandra menghitung mundur menit-menit terakhir saat Jenny berlari kearahnya membawa satu botol minuman untuknya.
"Huh.. Hah! Ini air minumnya Kala, cepat diminum agar tidak sakit." Jenny terlihat begitu ngos-ngosan saat menyerahkan air mineral itu dengan Kalandra,dia berfikir Kalandra hanya ingin menghukumnya dengan cara ini, karena dia sudah membohonginya.
"Terima kasih, tapi mungkin kamu yang lebih membutuhkannya." Dan Kalandra langsung membukakan tutup botol itu kepada Jenny yang sudah mandi keringat, apalagi telapak kakinya terlihat memerah, karena dia berlari tanpa alas kaki tadi.
"Hah, maksud kamu gimana sih Kala?" Jenny jadi bingung sendiri.
"Aku hanya ingin memastikan kalau kedua kakimu ini sudah benar-benar bisa dipergunakan dengan baik dan benar." Karena menurutnya jika kaki Jenny sudah bisa berlari bolak-balik dalam waktu lima menit itu sudah terlbilang bagus untuk kaki yang pernah cacat pikirnya.
"Kalandra, aku bahkan mati-matian berlari tadi untuk membeli air ini untukmu!" Jawab Jenny yang kembali dibuat kesal olehnya.
"Ini tidak seberapa dengan tipu dayamu selama tiga tahun ini, aku bahkan ketakutan, merasa iba, merasa dunia ini tidak adil untukmu, karena sudah bertahun-tahun kamu melakukan pengobatan terbaik tapi kamu tak kunjung sembuh, dan ternyata ini hanya akal-akalan kamu saja Jenny, bahkan aku sudah habis biaya banyak untuk itu, kalau dirupiahkan dalam tiga tahun ini, mungkin bisa buat tiga rumah mewah, dan ternyata uang itu hanya terbuang sia-sia begitu saja tanpa guna, kamu pikir mencari uang itu lebih mudah daripada mencari DOSA, hah!"
Dia memang sengaja hanya ingin menguji Jenny tadidan saat dia melihat Jenny melakukannya dengan baik, emosinya kembali naik.
"Maafkan aku Kalandra, tolong maafkan aku!" Bahkan Jenny langsung duduk sambil memeluk kaki Kalandra.
"Aku rasa perjuanganku sudah cukup untukmu Jenny!"
Dan titik terendah bagi seorang laki-laki adalah menyerah.
Duar!
"Nggak Kala, jangan tinggalkan aku Kala, aku mohon!" Rengek Jenny tanpa rasa malu sedikitpun, bahkan dia masih berharap bahwa Kalandra suatu hari nanti akan datang menemuinya.
"Kembalilah dengan suamimu, dia pasti masih menunggumu didalam rumah sakit." Ucap Kalandra yang seolah tanpa rasa cemburu sedikitpun.
"Kala!" Jerit Jenny kembali.
"Jangan pernah lagi mencariku, dan terima kasih atas pengkhianatanmu selama ini, bye!" Kalandra ingin menenangkan dirinya sendiri dan meratapi betapa bodohnya dirinya hanya karena seorang wanita seperti Jenny.
"Aaaaaaaaaa... Kala, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" Jenny langsung menjerit histeris, karena sepertinya investasi masa depannya akan hilang dalam sekejap mata.
Dan Kalandra seolah tidak mau perduli lagi, dia bahkan menghempaskan tangan Jenny saat dia berusaha menahannya, akhirnya karma terbayar sudah, Jenny hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil terduduk dilantai, menikmati balasan dari rasa dendamnya selama ini terhadap Anyelir.
__ADS_1
Ada masa dimana, kamu hanya perlu diam dan memperhatikan apa yang mereka perbuat, meskipun itu menyakitimu, karena membalas dendam dengan cara yang sama, hanya akan membuatmu sama dengan mereka.
Siapa Team yang bersorak hari ini?😆